Brand Social Media is Brand Social Life not Yours! (19.01.13)

Sekarang dengan semakin tingginya tingkat penetrasi dari smartphones dan internet membuat banyak customer (audience) yang lebih sering menghabiskan waktunya bersama gadget dari pada bersama tradisional media seperti Televisi (TV). Keterbatasan waktu, keinginan akan real Time dan lebih komunikatif merupakan faktor-faktor yang menjadi dorongan audience ini memilih media internet. Bahkan social life pun banyak beralih kedigital seperti ngobrol via skype, we chat, line, kakao, twitter atau people hub Group. Sharing seperti Facebook, Path, Instagram, Pinterest.

Trend ini sudah lama diketahui brand owner dan mereka juga sudah lama terjun mendekati para audience nya dengan membangun kedekatan via social media. Tulisan ini tidak membahas sisi strategi ini namun lebih spesifik pada cara atau perilaku interaksi brand tersebut dengan audience nya.

Apa yang menjadi panduan brand untuk bersosialisasi dengan audience nya? Tentu brand personality nya. Nah personality ini ditentukan sebagai bagian dari brand Identity secara utuh. Yang merupakan cerminan dari target market brand tersebut. Contoh : jika brand ada target audience nya anak-anak usia 3 s/d 5 tahun, tentu personality brand nya akan berbeda dengan target audience nya 17 s/d 21 tahun. Terjemahan ini tidak cuma pada tingkat Design web atau applikasi namun hingga cara berbicara selama berinteraksi dengan mereka. Nah disinilah concern dari tulisan ini yaitu cara berinteraksi brand.

Case dasarnya sering kali ditemui cara interaksi dari brand tersebut lebih cenderung sesuai dengan gaya Brand dan Marketing Manager nya atau yang lebih parah sesuai dengan gaya serta personality dari admin (orang yang bertugas melakukan posting ke social media)! Tidak percaya? Coba lihat pages (di Facebook) atau account twitter brand. Sebuah brand permen W***S pernah mempost foto makanan dengan bentuk seperti orang berpelukan. Tidak ada yang luar biasa, karena ini umum bagi kebanyakan orang namun apakah ini personality brand nya? Atau kejadian sebuah account twitter dari mall P****C P***E , sempat menjadi kontroversi karena saat musibah terjadi di mall nya sebuah twitt yang keluar malah seperti meremehkan kondisi disana. Pertanyaan adalah apakah ini response dari brand tersebut? Tentu tidak, beberapa saat kemudian mereka meminta maaf dan kabarnya Adminnya mendapatkan teguran.

Social media layaknya kehidupan, punya manners dan rules baik yang tertulis maupun tidak. Bagi brand hal ini harus menjadi perhatian. Lets see do’s and dont’s dibawah ini:

Do : Buatlah Identity dan Personality yang jelas seperti as a Contact Service or as a Human? Jika sebagai contact service maka personality tidak terlalu penting. Namun saat di wujudkan sebagai sahabat atau partner maka representasi Human lebih baik dan itu berarti Identitas seperti Gender Male, Female atau Universal, Usia juga diperlukan. Personality seperti Karakter Fun, Dynamic or Geek juga diperlukan. Tujuannya agar interaksi lebih baik dan tidak berjarak.

Dont : Saat sudah diputuskan maka konsistensi itu penting. Sebagai Contact Service, coba menyapa seperti Human dengan “morning tweeps sudah pada sarapan apa?” namun saat diajak ngobrol malah ga pernah jawab.

Do : Hindarkan mengirim updates ke social media secara spontan kecuali meresponse atas pertanyaan atau interaksi. Ingat ini adalah Brand Social Life dan merupakan salah satu media dari Marketing Communication Management yang berarti apa yang akan kita berikan harus terkait dengan thema besar dari Communication dan Brand Plan kita. Buatlah Guidelines dan selalu dokumentasikan apa yang akan dipost ke Social Media. Contoh: Guidelines, Weekdays Promotion Program Amplification dan Weekend Social Life Share. Kemudian, Buatlah minimal 3 variance berbeda atas text yang akan dipost untuk yang sifatnya pengulangan seperti informasi sales program. Ini berguna agar your brand social media tidak terlihat seperti mesin. Kemudian buatlah baik itu Word atau Excel susunan tulisan yang akan di post secara urut. Dengan ini, maka siapapun yang akan post ke social media akan punya karakter dan interaksi yang sama dengan brand kita.

Dont : Membuat Share tanpa dokumentasi, kenapa? Kemungkinan human error tinggi serta pengaruh atas emosional kita saat itu cukup besar. Dan tentu kita tidak bisa melihat tracking apa yang sudah kita share dan apa hasilnya bagi Marketing Communication Strategy kita. Dengan adanya tools seperti Chirpstory (tools untuk rekap tweet) dan Link to other social media maka apa yang kita share selalu didokumentasi siapa saja via internet. Content yang bermutu tentu sangat penting bagi brand kita.

Do : Selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan response atas complain dan feedback yang tidak menyenangkan. Kegagalan berpikir membuat response yang diberikan lebih menggambarkan emosional personal yang melakukan reply dari pada personality brand.

Dont : Membawa emosi pribadi kedalam setiap share dan interaksi di social media. Seperti judulnya Brand Social Media is Brand Social Life not Yours! Jadi stop berinteraksi seperti kita berinteraksi. Jika kita lihat bahwa ini perlu response lebih panjang, kita bisa pindahkan response kita channel yang lebih private seperti email atau phone sehingga Brand Image terjaga serta bisa solve problem nya.

Do : Kenali channel dari Social Media yang digunakan dan maximalkan sesuai dengan karakternya. Twitter untuk fast response interaksi. Facebook, Path untuk Timeline atau Memories interaksi dimana setiap response kita selalu bisa ditanggapi kapan saja dan menjadi New saat ada yang response. BBM, Line, Kakao untuk interaksi yang lebih personal dan tercluster.

Dont : Setiap Channel punya karakter serta rules. Contoh Chatting terlalu panjang di Twitter mengganggu Timeline dari related follower kita. Menuliskan too many updates dalam waktu yang sangat berdekatan di Facebook membuat Timeline dan Memories bagus hilang dengan cepat dari main page.

Diatas adalah beberapa contoh Do’s dan Dont’s dalam Berinteraksi di Social Media bagi Brand. Sehingga Brand Social Life benar-benar menggambarkan Brand dari pada diri si BM, MM atau adminnya. Satu hal yang saya tegaskan adalah Social Media adalah part of Marketing Communication dan Communication part of Marketing Strategy untuk itu selalu pastikan apa yang Brand anda bicarakan selalu punya benang merah yang jelas dengan Thema, Tagline, Personality hingga Indentitas dari Brand.

Brand Social Media is Brand Social Life not Yours Continue reading

2009, Time for Operation Marketer? (21.02.09)

2009, Time for Operation Marketer?

productivityWah.. istilah apa pulak ini? Hehehehe bukan latah bikin istilah ya.. hanya pemikiran setelah membaca sebuah posting dari salah satu Marketer di milis Marketing Club. Yup.. saat budget semakin shrinking, what should we do? Masih mau pake strategi yang lama atau mau ganti strategi?

Secara umum, saat sales (Top Line) semakin susah akibat dari daya beli yang menurun, kompetisi yang semakin ketat serta semakin tumbuhnya para new challenger, maka pilihan berikutnya adalah bertahan dan perlahan berkembang. Pada periode ini, Profit (Bottom Line) jadi jauh lebih penting dari sekedar peningkatan Top Line. Apalagi jika peningkatan itu disertai peningkatan Cost (Middle Line) yang significant.

Nah jika sudah begini, apakah program pengembangan Brand harus berhenti? Apakah seluruh kegiatan harus directly menghasilkan sales? Apakah event-event jadi terlihat mahal sekali?

Konsep Operating Excellent (OE) sebenernya bisa diimplementasikan sebagai Marketing Excellent (ME). OE menekan kan pada peningkatan value added dengan menghilangkan non value added activity (waste), mengurangi kerusakan (defect), serta meningkatkan produktifitas. Banyak strategy yang mereka lakukan dalam kerangka strategy besar – Total Quality Management (TQM).

TQM sendiri terdiri dari banyak tools, mulai dari Lean, Six Sigma, Balance Score Card hingga Gugus Kendali Mutu (GKM). Pertanyaanya, mungkin ga sih kita adopsi strategi ini dalam strategi Marketing? Yah kira-kira hasil perkawinan ini menjadikan kita sebagai Operation Marketer lah hehehehhe

Kita bahas yuk!

Eliminate Waste,

colored-waste-watcher-canAda ga sih non value added activity dalam kegiatan marketing? Nah Loh.. coba lihat lagi, kegiatan yang dianggap waste, seperti:

Rework, alias mengerjakan ulang. Ini bisa akibat salah brief, salah design atau salah order. Hmm terlihat sepele memang, padahal implikasi rework ini bisa sangat significant. Rework atas printing full colour ukuran A4 misalnya.. kalo Cuma 1 design ya mungkin tak begitu terasa, tapi pernah ga hitung jumlah dan nilainya jika ditotal selama 30 hari x jumlah yang di rework? Ini baru berupa bahan printing, lah kalo berupa banner? Kalo berupa merchandise? Kalo berupa cetakan voucher?

Kegiatan rework itu meningkatkan biaya dan memperlama waktu. Kebayang dong multiplier effect nya jika rework tersebut menyebabkan semua deadline jadi mepet? Mulai dari transportation cost, lembur hingga tenaga bisa habis buat itu semua. Emang jadi marketer hebat artinya ga tidur saat event? Aduh udah kuno kali ya mas hehehhe

Eliminate Superfluous Phase,

Dalam keadaan sebelumnya, melakukan beberapa system dan strategy yang kita miliki merupakan tindakan yang sangat disarankan. Hal ini karena menyangkut tingkat keberhasilan dari program itu sendiri. Namun disaat semuanya terbatas, maka hal diatas malah terlihat berlebih-lebihan (superfluous).

Mungkin sudah saatnya memetakan kembali titik pemasangan display kita di outlet, terutama yang perlu bayar dan harus di maintain. Too Many Wobblers there or may be you need re organize your SPG team in Modern Market. Baik secara jumlah dan tugas tanggung jawabnya.

Kegiatan-kegiatan ini akan lebih terlihat mengutamakan yang punya direct relation ke tujuan kita dengan mengurangi atau menghapuskan “aksesoris” dari proses tersebut. Dalam hal ini, semua hal dilihat dari Produktifitasnya bukan dari Completeness of Process.

Create, Implement and Establish Standard Operating Procedure from all Our Marketing Activity…

Yap! Beberapa mungkin alergi dengar kata SOP. Hehehhe come on, semuanya punya step bukan? Beberapa tips:

1. Kenali Flow Process

Lihat sequence dari setiap process, sebelum launch itu kita harus lakukan apa? Bikin standardnya, bikin policy nya dan buat measurementnya. Ini akan membantu mengeleminasi waste. Sehingga bisa mengurangi rework akibat kelalaian manusia. System akan lebih menjaga konsistensi hasil dari pada bergantung sepenuhnya kepada manusia.

2. Standarisasi semua dokumen dan activity

sop_bookcoverRole Out Model kata temen saya. Jadi jika next time ada mau buat acara lagi. Kita tinggal buka manualnya. So semuanya lebih terarah dan lebih cepat hasilnya. Mulailah punya dokumen atas standard kegiatan ini. Jangan alergi dengan beginian. Ini akan mempermudah kita dimasa mendatang.

So Jika sudah berhasil mengenali Flow Processnya, maka tulislah dokumentasinya. Setiap Arus aktifitasnya, pastikan anda mengenali juga arus balik dokumen nya.

At all, as Operation Marketer mulailah berpikir atas produktifitas. Pedulilah dengan besaran ratio biaya dengan hasil. Jika anda sebelumnya punya budget 50 milyar dan menghasilkan sales 700 milyar.. sekarang challengenya adalah bagaimana dengan sales tetap 700 milyar tapi costnya jadi sisa 40 milyar. Atau sebaliknya cost tetap 50 milyar tapi salesnya jadi 900 milyar. Dan jika Sales akan turun, maka pastikan bahwa penurunan biaya jauh lebih besar dari penurunan Sales.

Okay memang ada biaya fix, tapi juga punya biaya variable bukan? Mulai dari yang paling mudah dikontrol sampai dengan yang paling sulit. Tetap mengacu ke objective sambil mengedepankan Productivitas. Improves the Result with less Effort.

Marketer, Let’s start the engine!

2009, Time for Operation Marketer?