More Focus & More Targeted is the Future Marketing Strategy? (31.10.08)

More Focus & More Targeted is the Future Marketing Strategy?

 

Dengan makin padatnya kompetisi di Tradisional Channel dan semakin mahalnya Modern Channel, membuat banyak para marketer melirik new Channel yang lebih murah namun (tentu saja) jauh lebih efektif. Makanya ga heran sekarang kita bisa lihat Powerade, UC 1000 dan beberapa coklat ada di Fitness Center. Atau kita juga bisa ketemu Coca Cola Vending Machine distore-store Timezone. Atau kita juga akan lihat bagaimana SWA Group memberikan harga khusus untuk majalahnya yang dijual dikampus Prasetiya Mulya.

 

New Channel seperti Spa, Kampus, Cinema, Café, Restoran, Speciality Retail Store, bahkan DJ Club menjadi lokasi favorit baru untuk promosi. Area ini sangat focus dan sangat targeted. Lihat bagaimana Iklan Marlboro begitu asik dinikmati dilayar lebar XXI dengan dukungan sound system yang mumpuni. Mulai desiran angin, siulan jingle Marlboro hingga derap langkah kuda bener-bener terasa banget. Diluar itu semua, yang pasti mata, telinga dari para penonton jelas sangat focus dan mendalami nuansa iklan tersebut. Sebuah moment yang boleh dibilang sangat langka didapatkan dari traditional media bukan?

 

Sekarang kita bisa lihat beberapa trend yang menggejala dikalangan para Marketer. dengan makin tingginya kegiatan Activation (Below The Line – BTL) yang dilakukan, bahkan beberapa Marketer mengatakan bahwa suatu saat nanti porsi budget akan berubah dari 70% Above The Line (ATL) dan 30% BTL menjadi 30% ATL dan 70% BTL.

 

Hmm they start to shift their Marketing Strategy..

 

More Focus as The Future Marketing Strategy,

Semua pelajaran ttg Brand Strategy mengajarkan kita untuk focus. Oleh karena itu dikenal Segmentation, Targeted and Positioning atau yang dikenal dengan STP. Kenapa mesti focus? Karena kita sedang berperang memperebutkan mind share alias perception war. Strategi ini merupakan best practice dan sangat jamak dipahami oleh para marketer bahkan seorang pemula seperti saya. Sejalan dengan perkembangan kompetisi yang berjalan, focus dalam hal STP saja ternyata masih belum cukup. Mengingat saat eksekusinya, masih saja tembak kesemua hal. Iklan masih dipasang di TV karena punya awareness yang tinggi. Print Ad masih dipasang dijalan protokol dengan alasan yang sama yaitu soal awareness yang tinggi. Bahkan yang sekarang masih bisa dibilang hits strategy dan merupakan most recommended way dari banyak Marketing Consultant adalah Integrated Marketing Communication (IMC) atau ada juga yang menyebutkan dengan 360 Derajat komunikasi. IMC mengajarkan kita untuk secara konsisten menyampaikan pesan ke consumer dari semua touch point yang tersedia. Mulai dari TV sampai billboard, Print Ad sampai Event Activation, bahkan jika perlu di toilet pun kita pasang brand kita.

 

Namun sekarang makna focus disini mulai semakin dipersempit dengan memilih secara selektif channel komunikasi yang digunakan. Jika kita ngomong Sport Food & Nutrition, maka semua komunikasi kita hanya akan ada di lokasi yang related dengan hal itu. Mulai dari Gym, Spa hingga Event yang berkaitan dengan sport. Kenapa? Lebih nendang hasilnya, karena tempat kita melakukan komunikasi merupakan meeting point dari segmen yang kita bidik. Less Budget with Effective Impact indeed?

 

Hal ini sebenarnya bukanlah hal baru, apalagi untuk beberapa brand yang secara kategori tidak bebas beriklan. Seperti Rokok & Bir. Mereka sangat focus berkomunikasi dengan targetnya via channel yang memang menjadi meeting pointnya. Bahkan kegiatan activation pun dilakukan secara konsisten disana. Hasilnya? Mereka jadi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan menjadi salah satu industri dengan size market yang sangat menggiurkan. Anyway.. walau terjadi karena memang “dipaksa” oleh kebijakan. But we can take it as one of Success Story to learn.

 

Challengenya adalah seberapa berani dan yakin kita untuk meninggalkan media yang penuh dengan limpahan awareness dengan totally rely on Focus Marketing Strategy? Semakin focus semakin efektif.

 

More Targeted as The Future Marketing Strategy,

Hmm sejalan dengan semakin focusnya komunikasi yang dilakukan begitu juga dengan semakin terarahnya segmen dan target yang dituju. Memang sudah banyak yang melakukan Narrow Marketing seperti memilih wanita yang usianya 20-25 tahun dengan SEC A-B. Namun dengan semakin berkembangnya kompetisi tingkat pemecahan target bisa semakin sempit dan semakin terarah.

 

Gejala paling gampang dilihat adalah dibangunnya SPBU dijalan yang sama dengan hanya dipisahkan oleh pembatas jalan. Kenapa? Karena Targetnya semakin terarah, masing-masing SPBU mengincar target market dengan jalur jalan yang searah saja. Atau bisa lihat, Bagaimana Carrefour bisa membuka 2 outlet dalam radius kurang dari 10 KM. Satu di Cempaka Mas dan satu lagi di Mall of Indonesia di Jakarta Utara. Hmm menarik bukan.

 

Kenapa mesti semakin targeted ya? Ini merupakan dukungan untuk berperang share of mind. Selain mempertajam focus komunikasi, mempertajam target merupakan salah satu solusi. Bayangkan jika Brand A sebelumnya dikenal sebagai Susu Kesehatan maka sekarang semakin terarah dengan adanya susu untuk tulang, susu untuk gemukkan badan, susu untuk diet. Kemudian dibuat semakin terarah dengan susu buat tulang buat remaja, susu tulang buat manula. Mungkin suatu saat nanti akan ada tambahan gender seperti susu tulang buat manula wanita dan susu tulang buat manula pria. Alasannya? Karena kebutuhannya mereka berbeda bukan?

 

Namun memang tidak semudah yang kita bayangkan dengan semakin focus dan terarah saja akan bisa semakin tinggi suksesnya. Sekitar 2 tahun lalu ada snack yang memposisikan sebagai snack jam 3 sore. Hasilnya? Hmm failed. Menjadi semakin focus dan semakin targeted punya trade off yang juga pantas buat dipertimbangkan. Menjadi lebih terarah memang menjadi lebih efektif namun juga punya potensi menjadi marginal. Semakin sempit target yang diambil maka semakin sulit berkembang dan semakin tinggi ketergantungan kita. Dimana perkembangan size market akan sangat tergantung dengan perkembangan target dan focus yang ada.

 

Buat Small Company yang punya satu Brand, strategy ini bisa menjadi solusi utama. Buat company yang memiliki segudang Brand dan dana, maka mereka bisa melakukan ekstensifikasi ke arah ini. Mereka bisa memiliki beberapa Brand dalam kategori yang sama dengan segmen yang berbeda-beda.

 

Ada pepatah mengatakan “lebih baik jadi Paus dikolam kecil dibanding jadi Teri disamudra”. Lebih baik jadi penguasa pasar disize terarah dari pada berperang terbuka kesemua orang tanpa arah dan tanpa batas.

 

More Focus & More Targeted is the Future Marketing Strategy?

Advertisements

What is The Powerful Marketing Driver? Innovation? Consumer? Or Trend? (22.10.08)

What is The Powerful Marketing Driver? Innovation? Consumer? Or Trend?

 

Marketer A     : Mau bikin program apa lu taon ini?

Marketer B     : Gw liat sekarang lagi jamannya Healthy Life, jadi gw mau bikin Coklat yang ga bikin gemuk..

Marketer A     : Udah Riset belum lo?

Marketer B     : Ga pake riset-riset bro, liat aja semua orang udah cinta ama yang sehat-sehat kok. Lagian Steve Jobs aja bilang, ga usah Tanya consumer kalo mau bikin produk.. ga bakal ada quantum leap ntar!

 

Hehehhe.. emang gitu ya dalam pemilihan Driver untuk bikin program Marketing. Ada yang memulainya dari sebuah Riset ke consumer yang sangat mendalam. Hingga bisa ada berkali-kali survey. Ada yang juga lebih percaya dengan hasil R&D dimana sebuah penemuan baru merupakan decision factor. Namun percaya ga percaya banyak juga yang sangat tergantung dengan Trend apa yang sedang “in” sekarang.

 

Hmm.. Kira-kira mana yang lebih powerful ya? Let’s go details!

 

Innovation?

Untuk yang satu ini, kita punya si Legendaris Steve Jobs. Dimana dia percaya bahwa consumer itu seringkali tidak tahu apa yang dia mau. Oleh karena itu, dibanding bertanya dengan consumer, lebih baik menciptakan sesuatu. Hasilnya? Ipod adalah bukti nyatanya. Menggila dimana-mana bahkan jadi generik label buat pemutar MP3 (format music digital). Sebuah penemuan yang spektakuler karena tidak hanya merubah industri elektronik juga merubah industri musik secara umumnya. Bahkan efek multipliernya juga menjadi generator online music store.

 

Memang benar argument yang disampaikan Steve Job, jika kita ditanya ttg sebuah produk. Maka kita akan menilainya dari “database experience” yang ada dikepala kita. Artinya kita melihat historical experience bukan membayangkan sesuatu yang belum ada. Artinya, kita bisa saja sudah puas dengan pelayanan atau produk yang sekarang namun saat sebuah inovasi dikeluarkan kita baru sadar bahwa yang kayak gini neh yang kita mau.

 

Namun ini juga bukan tanpa resiko, Lihat saja bagaimana PS3 geberan Sony kalah saing dengan Nintendo Wii. Padahal udah dikasih blue ray yang lebih keren secara gambar dan banyak hal. Namun teknologi itu sepertinya kecepetan alias far beyond the customer expectation. Hasilnya, orang masih beli tapi mereka masih belum dapat bedanya. Gimana bisa dapet, wong maen PS3 nya masih pake TV biasa hahahaha (mestinya pake full HD dong). Atau bisa juga lihat bagaimana Apple kerepotan dengan Iphone nya. Saat dimana mereka masih belum bisa menemukan Quantum Leap yang baru dan masih berkutat dengan upgrade-upgrade minor saja. Hasilnya saham mereka malah masih ga keangkat.

 

Hmm that’s Innovation, let’s move on..

 

Consumer?

Banyak yang bisa jadi contoh untuk hal ini. Mayoritas marketer masih menggunakan pendekatan consumer. Apalagi pada Multi National Company (MNC) mereka masih bergantung dengan hasil-hasil riset baik kuantitatif maupun kualitatif. Secara regular mereka melakukan penggalian yang lebih dalam ttg Need & Wants nya para consumer. Baik melalui Behavioral survey ataupun via Focus Group Discussion. Hasilnya akan menjadi acuan dalam setiap peluncuran program ataupun peluncuran produk baru. Hmm mungkin bisa dibilang can’t live without it hehehehehe

 

Banyak metode-metode survey yang bisa menggali Need dan Wants para consumer. Bahkan metode yang paling anyar yaitu metaphoria melakukan pendekatan dengan menggunakan symbol-simbol. Dengan bertanya ke Consumer, kita jadi tau bahwa susu yang mereka minum itu harusnya jangan bikin mules. Atau consumer ternyata butuh kemasan yang anti tumpah. Atau ternyata mereka ingin kadar gula coklat kita dibikin zero agar tidak mengganggu program hidup sehat yang sedang mereka canangkan.

 

Mengabulkan apa yang diharapkan consumer tentu saja membuat mereka semakin cinta dengan produknya. Dan bagi brand, tentu ini part of retention program. Itulah kenapa tiap company sampai membuat department yang bernama Customer Relation Management atau di retail disebut dengan Loyalty and Retention Management. Namun tetap itu juga punya resiko. Ingat dong dengan Walkman, yap consumer mana saja yang ditanya ttg apa yang mereka harapkan dari Walkman yang baru akan bicara seputar semakin tipis, semakin ringan, semakin berwarna namun mungkin tak satupun diantara mereka yang akan minta Walkmannya bisa buat muter dan nyimpen 10.000 lagu bukan? Wong waktu itu believe yang ada masih seputar CD dan DVD.

 

Wuhhh makin seru ya.. kita maju lagi ya..

 

Trend?

Online Marketing itu lagi trend sekarang. Lu kalo bikin program pastikan via web. Liat aja semua orang sudah pake internet trus anak-anak kecil aja udah pake henpon. Cara lama udah mati guys, sekarang eranya Online! Hasilnya, banyak yang tiba-tiba bikin web, ikutan di facebook trus bikin pages dan kompetisi online. Hmmm memang hasilnya sangat signifikan, bayangkan ada web yang dalam sehari punya 10.000 klik atau kompetisi online yang diramaikan para blogger. Bahkan ada banyak orang yang join ke fans page dari sebuah brand di facebook.

 

Trend memang seringkali menggoda. Dalam banyak kesempatan trend memang sesuatu yang menggiurkan dan sayang jika dilewatkan. Jika kita ikut trend maka kita baik sebagai marketer maupun secara produk akan dianggap modern dan up to date. Sekaligus tentu saja mendapatkan target market yang sedang ikut trend itu sendiri. Trend muncul dari sebuah hal baru yang dengan cepat menjadi new indentity bagi consumer kita. Mereka jadi New Behavior dan New Life. Namun patut diingat ini masih bersifat temporary alias bisa jadi semakin berkembang namun bisa jadi hanya sesaat saja. Artinya pendekatannya bisa berubah dan masih perlu dukungan traditional way.

 

Saat Trend strategy Integrated Marketing Communication dicetuskan, semua orang pake ini. Bikin apa-apa maunya 360 derajat. Dari TVC ampe Toilet pun dihajar. Hasilnya Sukses! Namun dari situ muncul lagi Targeted Communication, dimana trend para marketer hanya berkomunikasi via channel tertentu saja sesuai dengan target marketnya. Jadi kalo memang buying decisionnya banyakkan di channel maka mendingan focus ke Outlet promotion. Ngapain sibuk bikin di TV. Nah sekarang malah mulai pindah lagi dengan ke dunia maya. Dari hanya via Web trus makin segmented ke blog trus melebar lagi ke Community web.

 

Trend itu bagus asal jangan latah aja jadi suka generalisasi saja dan tetap inget dengan segmentesi sendiri. Kata-kata men-generalisasi harus dihindarkan, seperti kata-kata : semua orang, atau sekarang itu jamannya bla-bla atau semua consumer itu maunya bla-bla… padahal kenyataanya adalah baru beberapa kota besar yang punya kemampuan 3G sehingga kalo mau pake web 2.0 format secara mobile itu susah wong buka emailnya pake GRPS hehehehehehe.

 

Hmm seru ya… secara umum, tiap Driver factor diatas itu punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Ada yang cocok buat industri A dan ga cocok buat B begitu juga sebaliknya. Serta ada yang cocok buat objektif D dan ga cocok untuk objective C.

 

Terlalu fanatic atas satu factor saja akan jadi boomerang dikemudian hari. Be flexible! bukan caranya yang utama tapi tujuannya yang utama. Cara bisa apa aja tapi tujuan tetap satu bukan? Kalo tujuan ampe ga konsisten itu baru masalah!

 

What is The Powerful Marketing Driver? Innovation? Consumer? Or Trend?

National Brand vs Local Brand, Who Win the Competition and Dominate the Market? (16.10.08)

National Brand vs Local Brand, Who Win the Competition and Dominate the Market?

 

Tulisan ini dimulai dari ingatan atas pengalaman melihat bagaimana merk-merk rokok kecil ternyata sangat mendominasi pasaran. Gentong, 138, Cap Nona, White Horse dan masih banyak lagi. Saat itu saya masih bekerja disebuah perusahaan rokok terbesar didunia dengan Brand rokok yang sangat “nancap” dikepala banyak orang dimana saja dan siapa saja. Ketika itu saya masih mengira bahwa mereka hanyalah ancaman kecil, karena kalo dilihat secara volume, emang seberapa besar sih. Actually, itu jika kita melihat mereka secara parsial, dimana Brand-brand kecil tersebut sebagai sebuah brand mandiri atau terpisah, maka memang mereka hanya akan terlihat seperti onggokan api kecil. Namun jika kita petakan produk kecil itu di competitor mapping kita, maka ditemukan bahwa ternyata mereka secara total adalah informal Market Leader dengan size yang mungkin bisa mencapai 2x lipat dari pasar kita sebagai formal Market Leader.

 

Tiap beberapa bulan sekali, department saya mengumpulkan data competitor dari seluruh area store. Dan saat melakukan rekapitulasi, kita masih tersenyum bahwa tidak ada satu company pun yang bisa mencapai ½ dari market size kita. Namun saat saya mentotalkan seluruhnya. Wow, Ternyata size market terbesar dipegang oleh provider yang saya sebut dengan “others provider”. Ini setelah dikurangi 15 big competitor loh. Hmm.. ternyata we are actually not absolute leader hehehehe…

 

Wait..wait.. so apa masalahnya? Jangan bandingkan semua lawan satu dong. Itu kan tidak apple to apple. Ups.. tulisan ini bukan soal brand by brand. Tapi soal kenyataan bahwa diluar sana ada mahkluk yang bernama “others” yang secara merata menguasai pasar dengan ribuan brand nya. Challengenya adalah jika ada yang bisa mengkoordinasi mereka dibawah 1 brand, maka suddenly we are become the challenger. Atau jika kita mau lihat secara parsial dalam radius penguasaan area yang spesifik, mungkin kita bisa temukan bahwa brand kita ternyata bukan Leader di gang tersebut. Atau malah ga dijual di warung rombong mang kumis karena ga ada yang minta. Hmm…

 

Who Win The Competition?

Bicara kompetisi, kita bicara ttg kemampuan sebuah brand memenangkan pilihan consumer saat berada dipasaran. Secara teoritis, consumer memilih sebuah brand atas dasar believe yang tertanam dipersepsi mereka. Dimana secara ideal, setiap consumer sudah memiliki pilihan atas setiap barang yang dibutuhkan.

 

Jika bicara persepsi, maka kita bisa bilang Nasional Brand adalah pemenangnya. Lah siapa yang ga kenal Fanta bukan? Tapi kalo Fentasia ada yang tau? Itu adalah minuman yang secara kemasan, warna dan model tulisan dibuat semirip mungkin dengan Fanta. Nah kalo disuruh memilih, secara sadar consumer pasti cenderung akan memilih Fanta dari pada Fentasia. Namun akan berbeda kalo disuruh beli. Karena ini akan bicara ttg Marketing Mix yang lain, yaitu harga J

 

Jika kita bicara Top of Mind (TOM), mungkin kita semua sepakat KOMPAS adalah leader Koran. Namun jika bicara realita di jalanan, maka Warta Kota, Lampu Merah mungkin adalah leadernya. Pembelinya hanya kelas CD? Coba lihat kembali.. duduklah ditrotar jalan dan tungguin yang beli Koran tersebut. You will surprise guys! AB pun merupakan pelanggan nya.

 

Disini letak serunya kompetisi ini, dengan High Marketing Cost, Nasional Brand dengan mudah memenangkan kompetisi merebut area persepsi si consumer. Namun Local Brand dengan Low Marketing Cost nya berhasil menguasai alternative produk saat consumer sudah mulai bicara selain Brand. So, Who Win the Competition?

 

Okay kita lihat yang lain, Who Dominate the Market?

Coba pergi keluar Jawa, banyak brand yang katanya Nasional ternyata rontok didaerah. Cara melihatnya jangan datang ke Hypermarket dong mas. Liatnya dirombong-rombong atau warung-warung kecil. Lihat berapa banyak Nasional brand anda terlihat disana? Ini bisa jadi ukuran simple actual dan valid. Logikanya, warung rombong hanya akan menjual barang yang putarannya tinggi. Kenapa? Karena modal terbatas jadi modal harus liquid. Anda akan melihat banyak produk yang non nasional brand yang beredar disana.

 

Hmm atau mungkin cara simplenya adalah kita bisa mulai dengan pertanyaan, apakah distribusi anda menyentuh seluruh area? Jika tidak berarti sisa dari area yang tidak dicover secara simple bisa dibilang area mereka bukan? Nah sekarang audit jumlah produk anda di daerah yang anda kuasai. Jangan lihat dari pembelian Hypermarket. Tapi lihat dari actualnya. Audit satu jalan besar lihat seluruh rombong. Berapa banyak yang menyatakan (tidak hanya mendisplay) barang anda laku? Kemudian berapa banyak yang menyatakan akan melakukan repeat order? Bandingkan dengan produk-produk sejenis yang non nasional brand.

 

Namun jika kita bicara mengenai lokasi dimana dibeli, maka Nasional Brand hampir bisa dipastikan adalah penguasa Modern Channel. Kenapa? Karena mereka punya uang buat bayar Listing Fee. Dan Local Brand hampir bisa dipastikan adalah penguasa di Traditional Market yang luas dan tersebar bebas itu. Pertanyaannya secara size Market baik secara cakupan ke seluruh area dan besarnya pasar, jelas Traditional Market lebih besar dibanding Modern Market bukan?

 

Pertarungan antara Nasional Brand dan Local Nasional brand akan berkisar ttg :

1.      Kemampuan Finansial

Finansial akan menyangkut kemampuan membangun Brand dan menciptakan persepsi di benak Consumer. Dan secara jangka panjang akan membantu menjaga kelangsungan Brand ditengah ketatnya kompetisi. Disini para National Brand bisa bicara banyak. Dibanding para Local brand

 

2.      Kemampuan Distribusi

Besaran Coverage menentukan penguasaan pasar. Namun semakin besar coverage akan berbanding lurus dengan besar biaya distribusi. Disini para Local Brand bisa dibilang punya kekuatan, dimana banyak produk mereka beredar atas bantuan para Trader atau freelance Canvasser sehingga mereka masih bisa mencapai area coverage yang luas tanpa harus pusing memikirkan biaya distribusinya.

 

3.      Perceived Value

Ini adalah factor kualitas berdasarkan persepsi consumer. Dimana selama nilai harga dianggap sebanding dengan kualitas yang diterima maka bisa dibilang itulah brand yang berkualitas menurut consumer. Pada Faktor ini, segmentasi yang akan bicara. Dan segmentasi juga yang akan membatasi ruang gerak brand menjelajah pasar.

 

Nasional Brand dengan kekuatan Finansialnya berhasil menguasai pasar via Brand Eksposure dan Akses Modern Channelnya, Non Nasional Brand berhasil menguasai pasar dengan actual sales di Tradisional Market.

National Brand vs Local Brand, Who Win the Competition and Dominate the Market?

Promosi Kelewat Sukses = Gagal? (04.10.08)

Promosi Kelewat Sukses = Gagal?

 

Pernah kepikir ga pas bikin sales & promotion plan, gimana kalo programnya kelewat sukses? Yap! Consumer sampe screaming buat dateng ke event kita, saking banyaknya ampe target 1000 orang jebol hingga 5000 orang. Akibatnya mulai dari goody bag yang ga ada, kewalahan ngurusin mereka, tempat menjadi sesak, trus produk abis, hingga (mungkin) panggung jebol! Hasilnya? Komplain disana-sini! Wow.. disaster..

 

Hmm.. secara realita kejadian diatas sering sekali terjadi. Contoh lain bisa lihat kualitas sinyal GSM yang sekarang “bolot”. Akibat dari apa? Hasil kesuksesan mereka dalam berpromosi. Mulai tarif sms gratis hingga nelpon gratis. Orang berbondong-bondong menggunakannya. Dan.. traffic overload, jaringan down. Hasilnya? Menuai komplain dimana-mana, mulai dari komplain langsung ke customer service hingga di media baik Koran maupun internet.

 

You know.. the brutal fact is Banyak Marketer yang melupakan kemungkinan ini saat membuat programnya. Terkadang mereka terlalu pesimis programnya bisa meledak begitu dan terkadang mereka memang juga sama sekali cuek. “yah kalo ampe traffic jebol, itu resiko namanya”. Yang namanya kemungkinan, harusnya tidak Cuma dilihat dari yang terjelek namun juga dari sisi jika kelewat sukses. Kenapa? Karena jika kita bicara terjelek artinya hasil program jauh dibawah kapasitas program dan jika terlalu sukses berarti juga melebihi kapasitas. Dan melebihi kapasitas = tidak terlayani bukan?

 

Okay.. kita bahas yuk!

 

Gagal?

Kenapa sih kok bisa dibilang gagal?

1. Quality Degradation

Penurunan kualitas dari tingkat sebelum promosi dan saat promosi dijalankan. Sebagai gambaran, Coba kita bahas contoh yang ada diatas. GSM A bikin promos sms dan telp gratis. Consumer banyak yang subscribe, trus mereka menggunakannya. Namun karena program ini kelewat berhasil maka yang terjadi adalah sms yang mereka kirim pending, pas nelpon call drop mulu atau malah tiap 21 menit 34 detik maka telp pasti otomatis putus. Dari sisi Marketer, maka program ini bisa dianggap sangat berhasil karena menaikkan jumlah active user hingga 500%. Namun dari sisi consumer, mereka tidak mendapatkan benefit yang seharusnya. Lah wong kualitasnya jadi turun kok. Malah mungkin ada yang nyeletuk, “mending ga usah ada promosi kali ya…” nah loh!

 

2. Product Availability Degradation

Kejadian ini sering terjadi pada fast moving consumer goods (FMCG). Dimana produk menjadi langka saat sebuah program berjalan dengan sukses. Kita bisa melihat pada contoh kejadian ini, Perusahaan rokok A launch New White Cigarette. SPG diajak jalan keliling seluruh kedai kopi dan meeting point untuk adult smoker. Nah pas produknya enak dan harga cocok, maka banyak terjadi switching saat itu alias promosi sukses. Kejadiannya adalah demand atas rokok tersebut meningkat drastis, bahkan pabrik overload. Hasilnya.. kekosongan produk terjadi dimana-mana, hingga saat competitor bikin black campaign, promotion team tidak sanggup membuat counter attack. Hasilnya itu produk sekarang udah di close ama pabriknya.. padahal iklannya saja sempet ngetop banget. Buat konsumen, ini seperti bermain-main dengan mereka. Lah wong sempat pindah rokok kok malah ga diurus. Mau beli aja susah gimana kita bisa disuruh loyal?. Sebenernya niat jualan ga sih mas?

 

3. Satisfaction Degradation

Ini adalah efek pucak bagi consumer dan merupakan multiplier efek dari kedua hal diatas. Ukuran berhasil atau tidaknya sebuah program selain ditentukan oleh parameter angka baik sales target ataupun profit, harusnya juga dilihat dari apa yang dirasakan oleh consumer sebagai objek dari kegiatan promosi tersebut. Kenapa? Sebagai objek dari kegiatan promosi, maka kepuasan sipelanggan adalah hal yang utama. Jika mereka tidak puas, maka angka-angka keberhasilan baik sales dan crowdnya menjadi sia-sia. Karena hanya menggambarkan pada satu sisi saja yaitu sisi jangka pendek, sedangkan kepuasan adalah sisi jangka panjang.

 

4. Trust Degradation

Gimana mau percaya.. wong consumernya kecewa kok. Tulisan Iklannya bisa Nelpon Gratis Sepuasnya.. lah dibatasi oleh jaringan kok. Jadinya drop mulu hehehhe. Kepercayaan Consumer adalah hal yang utama bukan? Kepercayaan itu muncul dari apa yang dikatakan sama dengan apa yang dilakukan atau biasa disebut dengan Integrity. Buat apa bilang punya 58 juta pelanggan kalo semua nelpon jadi tulalit? Membangun kepercayaan itu mahal bro.. dan itu bukan kerja semalam..

 

5. Brand Image Degradation

Pada stage ini merupakan efek puncak bagi Brand atau Marketer, jika sudah tidak puas maka tidak percaya hasilnya Brand Image akan menurun. Ini sudah otomatis. Kalo pun masih pada pake, itu lebih karena tidak punya pilihan atau switching costnya lumayan tinggi. So mereka lebih pilih bertahan sambil sibuk mencari the better offering.

 

Pada dua contoh kasus diatas kita bisa lihat bahwa efek yang melekat secara jangka panjang adalah experience yang dirasakan oleh consumer. Sebagai objek mereka akan selalu mengingat apa yang pernah mereka rasakan. Nah perasaan mereka itulah yang menjadi believe filter mereka saat melihat dan menemui hal baru lagi. Keberhasilan yang menghasilkan bad experience bagi consumernya merupakan sebuah kegagalan jangka panjang. Brand anda bukan brand sekali pakai bukan?. Bahkan seorang pedagang kaki lima di pasar tradisional saja tidak sembarangan dengan consumernya. Mereka sangat menjaga citra baik dari kualitas produk maupun dari tingkat kepuasaan consumernya.

 

Memasukkan unsur Over Succeed dalam promotion plan seharusnya merupakan agenda wajib sebagaimana memasukkan unsur Failure. Mempertimbangkan resources, consumer response, emergency plan saat hal itu terjadi akan sangat membantu saat menghadapi situasi ini. Ingat, kami sebagai consumer menginginkan hal yang lebih baik dari yang sekarang ada. Bukan malah bikin repot seperti sekarang. Atau istilah kerennya “biar tekor asal nyohor” hehehehehe

 

Selagi masih punya waktu untuk mereview atau bikin perbaikan maka segera lakukan. Karena jika masih dalam tahap Quality atau Product Avalibility, itu masih bisa kita benerin dengan cepat tanpa harus kehilangan banyak. Namun jika sudah masuk ke Satisfaction atau Brand Image Degradation, itu sama dengan ulang dari awal lagi. Review and Fix it As Soon As Possible.. Learn bro!

 

So what do think?

 

Promosi Kelewat Sukses = Gagal?

Harga itu Milik Siapa? Consumer atau Prinsipal? (30.09.08)

Harga itu Milik Siapa? Consumer atau Prinsipal?

 

Temen saya sewot saat tau baju yang dia beli minggu lalu seharga Rp.450.000,- , sekarang Cuma dihargai 50%nya saat bekunjung kembali ke store tempat dia beli. Saat ditanya ke supervisor storenya, mereka dengan enteng bilang “wah.. ma’af pak, ini sudah programnya” sebuah pernyataan yang secara tidak langsung bilang “itu adalah DL alias Derita Lu!”. Atau bisa lihat habit beberapa Ibu-ibu yang mulai berubah menjadi “pialang saham” alias pemantau harga barang. Kalo ditanya, kok belum belanja? “wah jangan, kita mesti liat Koran.. suka ada diskon gede mendadak. Lumayan.. bisa hemat. Abis kalo ga ditahan, bisa rugi ntar. Wong harganya suka berubah-berubah kok..”

 

Belum lagi kalo kita bicara tariff GSM yang berubahnya mungkin sudah masuk dalam tahap “seenak jidatnya!” Gimana nggak sewot, wong pas beli kemaren tuh kartu gara-gara dia bilang “telp 2 menit pertama dan gratis untuk 10 menit dimuka” eh sekarang berubah menjadi “telp 3 menit pertama dan gratis 15 menit dimuka” sekilas terlihat biasa saja dan terlihat konsumen diuntungkan. Namun pertanyaan basicnya adalah, saya kemarin beli kartu itu karena promosi yang pertama! Nah kalo saya ga suka dengan promosinya yang terbaru, apa saya harus ganti provider lain??

 

Harga memang salah satu dari komponen basic Marketing Mix (produk, place & promotion). Sebagai sebuah komponen strategi, maka Harga seringkali menjadi hot tools yang sering digunakan dalam Strategi Marketing. Kenapa? Selain memang cara yang termudah alias gampang, efeknya pun bisa dilihat seketika. Harga itu seperti bahasa universal, mudah dimengerti oleh Marketer, Top Management, Retailer, Distributor hingga (tentu saja) konsumen. Selain itu Harga juga menjadi semacam emergency plan jika Marketing Program tidak memuaskan atau jauh dari apa yang saya sebut dengan “salesman screaming!” yaitu paniknya orang sales mengisi stock akibat kampanye Marketing yang sangat berhasil.

 

Realitanya, soal harga memang sangat-sangat sensitive. Bagi Prinsipal ini menyangkut besaran net profit. Bagi consumer ini menyangkut besaran Cost. Dan hubungan bagi keduanya secara umum berbanding terbalik, walau tentu ada titik equilibrium yang bisa mengakomodasi kepentingan keduanya. Nah mengingat sensifitas harga, pertanyaannya adalah Harga itu Milik Siapa sih? Consumer atau Prinsipal?

 

Zoom in yuk!

 

Milik Prinsipal?

Yah..udah pasti milik principal dong nald. Wong mereka yang punya produk, gimana sih! hehehehe anyway let’s check this out. Bagi principal, harga itu merupakan:

1. Komponen Produksi

Basically, Harga merupakan komponen produksi. Dimana Harga menjadi representasi dari biaya produksi, biaya biaya distribusi hingga profit yang diinginkan perusahaan. Sebagai komponen Produksi, maka harga selalu bersifat positif ke Biaya dan Margin. Artinya, Harga tidak mungkin lebih rendah dari total biaya dan Margin karena jika lebih rendah artinya rugi hehehehhe.. Perubahan Harga hanya didasarkan atas perubahan komponen dasarnya, yaitu jika biaya produksi berubah, maka Harga juga berubah. Sehingga Harga sebagai komponen produksi cenderung stabil dan bersifat jangka panjang.

 

2. Komponen Pasar

Harga sebagai komponen Pasar. Pada bagian ini, sifat harga jadi sangat flexible. Dimana harga bisa meningkat dan turun tanpa harus dipengaruhi atau melihat factor-faktor biaya produksi. Artinya, harga bisa naik jauh lebih tinggi dari biaya produksi dan bisa juga turun lebih rendah dari biaya produksi. Loh kok bisa?? Iya karena pada bagian ini yang menentukan harga bukan lagi biaya produksi tapi Permitaan dan Penawaran barang tersebut. Karena pada tahap ini Harga merupakan komoditas dimana harga barang ditentukan atas hukum pasar yaitu Permintaan dan Penawaran. Saat permintaan tinggi dari consumer dan penawaran rendah, maka harga akan melambung tinggi. Begitu juga saat permintaan rendah dan penawaran tinggi, maka harga akan jatuh bebas hehehe. Ini bisa dilihat di komoditas seperti minyak, gula, beras.

 

3. Komponen Marketing

Pada bagian ini Harga sangat dipengaruhi oleh strategi Marketing. Dimana turun naiknya harga bukan semata-mata ditentukan oleh Produksi atau Pasar tapi ditentukan oleh si Marketer sebagai pembuat strategi. Sehingga harga bisa ditentukan jauh lebih rendah dari biaya produksi walaupun permintaan tinggi ataupun jauh lebih tinggi dari biaya produksi walaupun permintaan rendah. Loh kok bisa? Ya bisa karena disini Harga hanya merupakan bagian dari sebuah strategi Marketing. Perubahan Harga jadi hanya didasarkan oleh persaingan dengan objective utama untuk merebut pasar seluas mungkin.

 

Dari 3 komponen diatas, kita bisa melihat bagaimana luasnya dominasi principal atas harga. Dimana secara tidak langsung maupun langsung, atas nama salah satu dari 3 kepentingan diatas, Prinsipal bisa merubah harga sesuka hati tanpa harus meminta persetujuan dari consumer. Lihat saja, malah ada yang nulis “harga berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan” weleh..weleh..

 

Milik Consumer?

Secara umum dari sisi consumer sifat harga itu dibagi dua:

1. Harga Produk itu sendiri (Single Price)

Ini adalah harga yang melekat dibarang, dimana sebuah produk langsung punya nilai tanpa melihat after sales servicenya. Contoh: Harga Televisi adalah harga yang terpisah dengan harga service nya. Atau harga Wafer yang langsung merupakan harga produk tersebut. Disini, Consumer langsung membeli produk sesuai dengan harga yang tertera. Dan manfaat yang diterima consumer hanya terbatas pada produk nya.

 

2. Harga Keseluruhan (Bundling Price)

Disini, Harga merupakan salah satu factor dalam produk. Saat mereka membeli sebuah produk sudah termasuk dengan jasa, harga dan manfaat lainnya. Contoh: membeli sebuah starter pack provider GSM. Maka consumer itu membeli jaringan, fitur dan fasilitas termasuk dengan tariff. Karena sifatnya satu kesatuan dan saling mempengaruhi maka ini disebut dengan bundling produk.

 

Nah, untuk point yang pertama (single price), perubahan atas harga memang sangat berpengaruh untuk consumer namun Karena tidak punya switching cost, maka bagi consumer ini tidak terlalu masalah. Pendek kata, kalo tidak suka ya tinggal ganti yang lain aja. Simple bukan.

 

Namun untuk Point yang kedua (bundling price), ini yang sekarang bener-bener menjadi masalah. Bayangkan kalo salah satu bagian dari produk tersebut berubah, apakah masih merupakan produk yang sama yang dibeli consumer? Okay agar tidak terlalu kecepatan membahasnya, kita mundur dikit. Contoh: Ketika kita membeli paket TV berbayar, maka kita membeli kualitas siaran, jenis siaran yang ada didalamnya. Nah seperti kasus Astro, dimana banyak consumer subscribe karena ada EPL (English premier league) di Astro. Nah kalo sekarang tidak ada? Masa consumer disuruh berhenti begitu saja? Atau bisa juga dilihat pada kasus provider GSM sekarang. Dimana mereka gencar berganti tariff sesering mungkin. Contoh: Saya join ke Provider A karena mereka punya jaringan yang bagus serta tariff perdetik. Namun, tiba-tiba mereka mengganti tariff dengan program “sesukamu” . Nah saya tidak suka dengan tariff baru ini, apa yang harus saya lakukan? Ganti provider? Wong nomer saya sudah dimana-mana…

 

Nah terlepas dari banyak factor alasan yang bisa kemukakan dan dicari-cari, Kepemilikan Harga itu sebenernya kesiapa sih? Fair ga sih kita merubah harga sesuka hati kita tanpa bicara ke konsumen kita? Apalagi untuk produk-produk yang bersifat bundling price. Kompetisi harusnya membuat sebuah industri semakin efesien dan efektif dan untuk consumer kompetisi membuat perceived value dari sebuah produk yang dibelinya semakin tinggi. Bukan malah bermain dengan garis price tolerance dari consumer hingga ke melebihi batas tertingginya.

 

Yang sekarang berkembang adalah para principal sepertinya berusaha “mengkandangkan” consumer dan kemudian “memerahnya” dengan tanpa melihat apa yang dirasakan oleh consumer. Ini bisa dilihat dengan praktik mempertinggi tingkat Switching Cost melalui berbagai retention program, kemudian bermain dengan harga sesuka hati. Idealnya, a Big sustainability Brand born from a crowd of Big and sustainability Consumer.

 

Harga itu Milik Siapa? Consumer atau Prinsipal?

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih? (21.09.08)

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih?

 

Akhir-akhir ini marak promosi dengan model seperti ini : “Tarif Rp 0*” atau “Diskon 70%*” atau “Gunakan Kartu Kredit XXX anda dan dapatkan tambahan diskon 20%*”… Jangan pikir tanda bintang yang ada disamping angka itu adalah hiasan! Itu adalah tanda asterisk yang berarti bahwa promosi tersebut harus mengikuti Syarat dan Ketentuan (S&K) yang berlaku. Ups.. liat syaratnya dimana? Hahahaha ini lagi yang lebih seru. Yang namanya S&K itu ga pernah ada yang pendek jadi ga pernah ditulis. Ada yang terdiri dari beberapa paragraph hingga bisa setebal buku! Dan yang lebih seru lagi, ada yang mencantumkan no telp customer service mereka. Artinya, kalo mau tau S&K nya, ya telp kesini Tanya! Huff…

 

Ngurut dada emang liat tipe promosi begini. Pengalaman saya paling terbaru berkaitan dengan masalah S&K ini adalah saat bersama-sama memutuskan untuk berbuka puasa di sebuah restoran seafood yang terkenal di Ancol hanya karena tergoda dengan iklan di Billboard mereka “diskon 50%”. Hasilnya? Kecele abis, wong ternyata itu hanya berlaku Senin s/d Kamis aja. Padahal kita datang di hari Jum’at! Atau kalo anda masih kurang percaya ttg testimoni saya, bisa coba klik disini kemudian masukkan key word “syarat dan ketentuan berlaku” pada kolom cari. Hmm bukan main.. ada lebih dari 100 komplain yang berkaitan dengan S&K. Ini belum termasuk mereka yang menuliskan dimajalah atau Koran serta yang hanya diam dan tidak bicara atas kekecewaan yang mereka terima.

 

Ini ada apa sih? Bikin Promosi ini sebenernya buat siapa sih? Kalo buat consumer kenapa justru mereka menjadi pihak yang paling kecewa?

 

Hmmm bahas dikit yuk!

 

Niat Nyenengin Consumer ga sih?

Basically, fungsi Marketing adalah membangun sustainability dari profit via kepuasan consumer. Oleh karena itu apapun kegiatan brand harusnya bisa memuaskan para consumer.  Kita bikin event activation dengan gerak jalan, hasilnya? Consumer senang karena bisa berinteraksi dengan brand nya, hingga mereka berkomitmen untuk terus menggunakan brand kita. Pernahkah para Marketer mempertimbangkan efek yang dirasakan consumer saat mereka merasa “tertipu” dengan iklan promosi yang disampaikan?

 

Dengan dalih estetika iklan, maka banyak tulisan dan keterangan yang di skip alias di ignore. “Loh bang, tujuan iklan adalah membuat orang tertarik. Lah kalo iklannya aja njelimet trus siapa yang mau tertarik”. “You know nald, billboard itu Cuma dilihat kurang dari 10 detik, trus siapa yang punya waktu untuk ngeliatin semua tulisannya??” atau “Nald, kan ga mungkin kami bikin iklan secara detail ttg apa yang boleh dan yang tidak boleh, masa kami mesti tulis seluruh syarat-syaratnya…” atau “jelek lah iklannya kalo penuh dengan tulisan, itu kan ga atraktif..” atau “gpp sejauh ini gw bikin begitu, consumer gw fine-fine aja, buktinya malah gw punya share naik sampai dengan 5 juta user!”

 

Ck..ck..ck.. Be honest bro! don’t play a tricky ad to them, if you don’t respect your consumer bagaimana mungkin lu bisa mengharapkan mereka untuk mencintai produk lu sampe kapan pun. Banyak hal yang membuat para consumer menerima “penipuan” ini. Mulai dari emang ga punya pilihan, sampai dengan emang udah terlanjur beli atau datang.

 

Coba Lihat, Beberapa promosi memang terlihat memaksakan diri, seperti hanya punya limited produk namun iklan yang dibuat serasa punya produk yang melimpah. Hasilnya pas consumer datang, langsung kecele! Kenapa sih mesti memaksakan diri? Kenapa sih ga jujur aja? Atau memang value perusahaan anda tertulis “Dapatkan profit dengan menghalalkan segala cara”??? Come on guys.. kita paham tekanan share holder seringkali bikin kita lupa bahwa, share holder adalah salah satu stake holder dari brand kita. Selain mereka masih ada lagi yang disebut dengan Consumer atau Customer!.

 

Back to Very Basic Question, Buat siapa sih promosi yang lu buat sebenernya bro? Jangan-jangan hanya buat nyenengin lu doang neh? Consumer yang datang banyak, sales jadi meningkat dan target tercapai.. lu seneng, owner juga seneng. Naik Pangkat deh! Bukan main prestasi lu bro! That’s what your objective bro? Anyway.. Kalo lu emang punya keterbatasan, kenapa ga akalin saja keterbatasan kita dengan cara yang lebih elegan dg tidak mengorbankan para consumer tercinta kita?

 

Secara umum ada beberapa solusi yang bisa dilakukan saat kita ingin bikin promosi namun kita punya keterbatasan-keterbatasan.

 

1. Be genuine honest, Put The Limitation as Your Program Name

Kalo memang hanya berlaku senin s/d kamis, bikin nama package yang menggambarkan program itu, seperti Monday to Thursday Fiesta. Atau jika hanya berlaku untuk article tertentu, maka bisa ditulis Seafood Discount Festival. Atau jika dibatasi oleh waktu tertentu, maka bisa ditulis Midnight Caller Special Program – Free Talk & Free Sms. Dengan demikian keterbatasan kita berubah menjadi kekuatan dari promosi kita.

 

2. Support the program with Leaflet or Proper Poster

Punya syarat dan ketentuan yang njelimet? Ga masalah, anda hanya perlu menambah tools Leaflet dan Poster yang menjelaskan cara kerja program tersebut. Dan Wajib diberikan pada semua orang yang masuk ke toko anda atau tulis dikemasan anda. Jika kemasan tak memungkinkan, maka pastikan anda meletakkan penjelasan tersebut pada wobbler, standing frame atau kalo perlu bikin dikoran dengan jelas. Bukankah semakin paham mereka dengan program yang anda buat maka semakin baik?

 

3. Put The Participating Product in Your Ad!

Nah ini biasa dilakukan oleh para Hypermarket, dengan langsung menuliskan harga dan foto dari produk yang berpartisipasi. Wah.. mahal dong bos! Yap! Oleh karena itu pemilihan produk sangat kritikal. Namun hasilnya brand anda jadi terpercaya bukan? Wong jujur kok!

 

4. Explore All the Resources & Keep It Simple!

Dan yang paling akhir, coba lihat seluruh resources yang ada. Find out apa yang kita bisa berikan sebagai trade off atas limitation dari promosi kita? Masih punya voucher free service? Punya staff yang bisa melakukan free training? Ada fasilitas free delivery? Atau mungkin jika hanya On Net, berikan tambahan extra sms yang hanya makan kurang dari 1KB per kirim. Anything! That’s make your consumer happy without killing your self. Dan pastikan semua promosi yang anda buat simple dan sederhana hingga tidak perlu professor ahli matematika terlibat hanya untuk menghitung tarif promosi anda.

 

Sesuatu yang biasa menurut kita sebagai Marketer, seringkali masih merupakan hal yang luar biasa bagi Consumer kita. Suhu Marketing saya, bang Sumardy pernah bilang, “sebenernya Nald, lu yang bosen dengan programnya atau consumer lu yang bosen?” hehehhe sebuah ocehan sepele yang mengingatkan bahwa customer itu tetap berada dipiramida paling puncak. Jangan dianggap nomer dua apalagi disepelekan dengan promosi yang menjebak dan seperti menguji intelektualitas mereka.

 

So? Masih ingin menjadikan consumer anda seneng atau still wanna play?

 

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih?

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools? (10.09.08)

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools?

 

Sekarang lagi demam Online Activity loh! Termasuk saya hehehe.. Lihat, apa aja sekarang dibawa online. Mulai foto lagi bengong ampe video presentasinya bill gates pas lagi kejakarta bisa dilihat secara online. Trus pada Rame-rame punya blog, social online page dan personal Web. Hmm… yap! ini yang disebut dengan Generasi Online! They Can’t live without internet. Apalagi sekarang habit ini didukung dengan infrastruktur Internet yang semakin merata dan murah.

 

Banyak situs-situs yang ngetop mulai dari facebook yang menyediakan social page hingga Ning yang menyediakan Social Web. Dari situs flickr yang berisi foto-foto hingga youtube yang terkenal sebagai video posting web. Belum lagi situs-situs yang bersifat forum bebas seperti kaskus hingga detik yang penuh dengan berita-berita actual yang diupdate secara hampir real time.

 

Ternyata fenomena diatas sangat dimanfaatkan dengan baik oleh para Marketer dengan menjadikannya sebagai media berkomunikasi dan berinteraksi via internet yang dikenal dengan Online Marketing (OM). Hasilnya? Wow ternyata sangat sukses sekali bahkan beberapa bisa dibilang sangat fenomenal! Hingga sang Guru Marketing dari Indonesia menyebutnya sebagai New Wave of Marketing. Hmm seru ya..

 

Ada 2 Pertanyaan yang coba kita explore..

 

1. Apakah Online Marketing adalah the Ultimate Strategy?

Pertanyaan ini muncul ketika beberapa praktisi begitu menggembor-gemborkan ttg OM ini hingga kita mendengar kata-kata “hari gini belum OM?”. Yap! Segitu bersemangatnya mereka menggaungkan ttg the power of Online Marketing (OM). Namun memang pernyataan mereka sendiri bukanlah tanpa dasar. Mereka adalah para praktisi dan consultant yang sudah membuktikan bagaimana Internet itu sangat powerful dalam mengangkat sebuah brand dan juga sangat dahsyat untuk menghancurkan sebuah brand.

 

Apalagi argument yang disampaikan sangat didukung dengan fakta bahwa generasi sekarang sudah mulai internet minded. Artinya mereka menjadikan virtual life itu menjadi aktifitas utama mereka. Dan jelas perubahan ini merupakan potensi besar buat para marketer. Bayangkan cukup bikin 1 web yang interaktif dengan modal sekitar 7jutaan sudah bisa mendatangkan traffic sampai dengan puluhan ribu dalam hitungan hari dan tentu saja setiap hari terus bertambah. Wow!!

 

Internet itu punya banyak sekali kelebihan, mulai dari jaringan tanpa batas, real time, interaktif, hingga audio visual communication. Tapi apakah dari semua fakta diatas kita bisa bilang OM adalah Ultimate Strategy? Trus Bagaimana dengan batasan interaksi yang disebut dengan real experience? Seperti experience mengendara motor (test drive), sentuhan tekstur kain hingga jabatan erat tangan antara customer service officer dengan pelanggan? Apakah ini bisa ditemukan atau digantikan pada OM?

 

Dan tidak semua produk juga bisa bergantung penuh dengan OM bukan?

Hmm Okay Let’s see the other question

 

2. Apakah Online Marketing adalah New Marketing Tools?

Secara umum saya berpendapat bahwa OM adalah salah satu channel komunikasi marketing. Seperti TV, Radio, Billboard, Spanduk, Koran, Majalah, eksebisi hingga Retail Store. Dimana setiap channel punya kelebihan dan punya kekurangan. Dan setiap channel ada yang cocok 100% untuk industri tertentu dan ada juga yang hanya berguna untuk media promosi saja. Dan tentu saja setiap channel tidak bisa berdiri sendiri tapi butuh support aktivitas promosi yang lain.

 

Jika kita melihat OM sebagai New Marketing Tools, artinya OM itu harus tetap didukung dengan strategi ATL & BTL yang lain. Kita tidak bisa menggantungkan seluruh strategi komunikasi kita hanya pada OM saja. Sebagai tambahan new perspektif bahwa komunikasi via internet masih belum 100% mandiri, coba pas pulang kerja nanti lewat jalan Rasuna Said, anda akan melihat Banner dari KapanLagi.com . Loh kok Online Web masih bikin Iklan? Hmm seru bukan? Karena memang, walau kita lihat di 5 kota besar yang namanya online generation itu sudah jamak, namun tetap masih banyak orang yang belum internet minded dan masih banyak juga yang hanya menjadikan internet sebagai salah satu alternative untuk mencari informasi.

 

Secara produk sendiri, ada produk atau industri yang produknya bersifat massal (FMCG) yang punya kecenderungan dibeli karena impulse buying. Mereka ini mungkin akan menjadikan OM hanya sebagai salah satu media untuk membangun brand, persepsi atau juga mereka gunakan untuk membangun database. Hingga pada kenyataanya mereka ternyata masih tetap membuat wobblers, gondola hingga BTL event. Kenapa? Karena impulse buying itu dipengaruhi oleh apa yang menarik dishelf saat consumer melakukan shooping.

 

Yap!, kita harus tetap mempertimbangkan factor customer behavior dan buying factor yang merupakan personality dari target market kita. Dimana jika kita back to basic, factor orang membeli itu sangat dipengaruhi oleh 4P (price, product, place and promotion) nah jika OM merupakan salah satu tools promosi maka kita bisa melakukan kegiatan yang lebih bervariasi dan lebih flexible tergantung dengan target market dan objective yang kita kejar. Dengan kata lain The Power of OM dipadukan dengan tool-tool marketing yang lain akan menjelma menjadi kekuatan komunikasi yang holistic dan integrated.

 

Hmm sebagai closing, Ingat selalu untuk menyesuaikan Strategi Promosi anda dengan Segmentasi, Target dan Positioning produk/brand anda. Agar bisa menghasilkan Strategi Marketing yang Efektif dan tentu saja yang Efesien.

 

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools?