Indonesia Tidak Kekurangan Pengusaha & Kampus Tidak Salah Didik (02.09.13)

Disaat ekonomi Indonesia mengalami krisis, banyak pakar mengatakan Indonesia langka pengusaha. Ada juga yang bilang kampus-kampus kita tidak mendidik seseorang menjadi pengusaha. Kampus penuh dengan teori dan jauh dari praktek lapangan. Pertanyaan saya separah itukah Indonesia?

Jika setiap perempatan ada pedagang asongan, setiap masalah di sebuah kota adalah PKL, setiap jalanan penuh ruko, setiap perumahan mulai menulis “Dilarang dijadikan tempat berjualan” , setiap Broadcast BBM, Notifikasi FB Path hingga Instagram dipenuhi dengan online store, setiap perempatan ada restoran padang, pertanyaannya Pengusaha seperti apa sih yang kita krisis?

Terus apa kampus ga boleh didik karyawan? Apa seluruh mahasiswa harus jadi pengusaha? Jika tidak, perbandingan seperti apa yang disebut ideal? Kenapa pengusaha selalu dianggap lebih baik dari karyawan? Karena menciptakan lapangan kerja? Buat siapa? Pengusaha baru atau Karyawan juga? Apa Karena banyak pengangguran? Ini pengangguran karena lapangan kerja sedikit atau karena pengusahanya cenderung seneng import dari pada bikin di Indonesia? Nah Loh!

How about me? Saat menulis tulisan ini saya masih hunting job! Dan sambil hunting saya lagi bangun mimpi saya untuk punya learning center dan sekarang masih dirintis namanya @Opsmarketer . Kok bisa saya bikin usaha? Pertama karena saya sekolah disekolah umum terus kuliah di fakultas ekonomi trus dapat kerja, beberapa kali tour of duty dan move ke beberapa perusahaan trus ambil kuliah S2 dan here I am. Ilmu yang saya punya membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan, dimana saya jadi bisa mendapatkan dua hal : pengalaman kerja dan uang untuk hidup dan untuk sekolah lagi. Nah karena pernah sekolah dan kerja akhirnya saya bisa punya kredibilitas dan kemampuan untuk memulai mimpi saya membuka learning center walau masih tahap awal. Kalo ga gimana saya bisa ngajar kalo ga pernah sekolah atau ga pernah kerja?

Nah balik lagi pertanyaannya apa bener Indonesia kekurangan pengusaha? Atau itu karena “kesalahan” pendidikan? Atau karena Pemerintah kita yang ga becus? ß ini kambing hitam yang selalu dipake atas seluruh kegagalan di negeri ini. Karena buat saya itu ungkapan yang terlalu pengecut buat bilang salah saya!

Ini pendapat saya, tentu saja boleh setuju dan boleh tidak. Dan untuk ke tidaksetujuan atas pendapat saya, ga perlu maksa dan berdebat sama siapapun supaya setuju. Karena itu juga ga penting buat saya. Jadi silahkan ya kalo mau ungkapkan pendapat yang penting ga perlu maki-maki orang karena siapapun ga lebih pinter dari siapapun.

Indonesia ga kekurangan pengusaha & Kampus juga tidak salah didik.

Saya bahas ya..

Indonesia Tidak Kekurangan Pengusaha

Jika membuka sebuah usaha disebut pengusaha maka Indonesia sama sekali tidak kekurangan pengusaha. Namun jika pengusaha diukur dari kemampuan mengembangkan stake holdernya tidak hanya share holdernya maka saya bisa bilang masih banyak yang jadi pedagang.

Itu kenapa setiap pelatihan pengusaha yang dilatih adalah buka usaha tanpa modal, cenderung pake trust dan mendorong jadi trader atau makelar. Trus, mental oportunis dan pragmatis jadi idola, itu mengapa Franchise jadi berantakan malah Business Oportunity yang banyak diraih karena mau langsung gede tanpa effort besar. Atau malas usaha untuk membangun rantai supply yang comprehensive dan memilih import.

Bahkan lebih suka price war dari pada perang added values, karena maunya cepat jual cepat cuan. Soal bagaimana bisa murah itu urusan China termasuk ngemplang pajak, nyeludupin barang, nginjek tenaga kerja dan lain lain.

Nah ini pendapat saya perlu diberikan diskusi yang baik tanpa merendahkan juga tanpa menyudutkan karena bisa jadi semua dilakukan karena tidak tahu bagaimana sebetulnya membangun usaha yang baik untuk seluruh stake holder bukan hanya share holder.

Komunitas seperti Marketing Club, Tangan Diatas serta komunitas Memberi bisa jadi corong untuk membangun virus ini keseluruh orang. Mengingat isinya adalah orang-orang yang punya credibilitas untuk memberikan masukan serta pandangan.

Pertanyaannya pada mau dukung atau tidak?

Kampus Tidak Salah Didik

Kampus menghasilkan karyawan bukan pengusaha. Pendapat saya itu tidak benar. Karena menjadi pengusaha itu pilihan bukan pekerjaan. Kampus memberikan ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha dan menjadi karyawan yang mumpuni. Trus kalo ada yang bilang banyak ilmunya yang ga kepake dilapangan, saya malah balik Tanya, itu ga kepake karena ga ngerti cara pakenya, ga mau make nya atau karena emang ilmunya yang salah???

Mayoritas  pendapat saya di bagian ga ngerti dan ga mau. Lihat aja ajaran buat buka usaha “buka aja dulu soal berhasil apa nggak itu urusan nasib” atau “ga usah banyak dianalisa, konglomerat A dulu ga sekolah ga pake mikir juga jadi kaya raya” atau “ahh..teori mas..dilapangan ga gitu” dan banyak lagi.

Coba kalo mau duduk sebentar trus lihat apa yang akan dibuat trus apa yang ada di market trus apa yang akan kita offering. Nah itu sudah make ilmu dikampus! Trus bikin laporan keuangan, itu juga ilmu dikampus. Mana ilmu yang ga ada dikampus? Ilmu ngeles? Ilmu ngemplang pajak? Ilmu makelar? Ilmu mana?

Dari saya yang perlu kampus lakukan adalah mengajak yang mau bikin usaha, pengusaha dan karyawan datang kekampusnya sehingga ilmu yang dimiliki bisa diakses sama para mahasiswa ini. Dengan cara apa? Memberikan ruangan atau fasilitas yang mereka bisa gunakan untuk berkumpul. Modalnya murah kok, kasih wifi yang kenceng, listrik dan bangku. Makan minum mereka akan beli. Syaratnya satu, setiap yang mau pake wajib sharing memberikan gambaran usahanya atau pekerjaannya. Nah dari sini, para mahasiswa akan melihat usaha apa saja yang didunia usaha dan dosen memberikan tips bagaimana ilmu itu digunakan didunia usaha.

Community Hub seperti ini yang perlu dibangun. Campus Community Hub! Jika dilakukan dibanyak kampus maka banyak ilmu yang bisa diakses serta banyak case study yang bisa didapatkan. Kampus tidak rugi sama sekali, karena paling tidak kampus jadi punya Database dan awareness atas nama lembaga dan programnya. Bahkan bisa “jual” workshop untuk mereka agar makin bisa menjalani usahanya.

So that’s my opinion.. what do you think guys?

Advertisements

Conflict Coming from Disorganization, Do You Realize It? (29.08.13)

Pernah ngerasa, kok kayaknya kita saling berkompetisi antar department? Atau merasa kita dijegal, dihambat dan dipersulit oleh department lain? Rasanya gimana? Bingung ya, kok satu team malah saling sikut dan saling berantem padahal diluar sana kita punya kompetisi untuk dihadapi. Kenapa ya kok bisa hal ini bisa terjadi? Secara umum conflict ini sering disebut karena masalah Visi yang belum align tapi apakah ini hanya soal visi?

Kegagalan mengorganisasikan perusahaan atau disebut dengan Disorganization bisa menjadi salah satu penyebab umum conflict dalam organisasi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Job Desc yang tidak clear
  2. Tidak adanya Pembagian Wewenang atau Tidak Tegas dan Jelas
  3. Kesalahan dalam membuat parameter ukuran Key Performance Indicator (KPI)

Yuk kita bahas sedikit ya, saya share dari pengalaman yang pernah saya temui baik saat menjadi professional maupun sebagai inhouse trainer & consultant.

Job Description (Job Desc)

Ini terlihat simple, namun ini fundamental sekali. Kenapa? Job Desc hanya bisa dibuat jika sebuah perusahaan punya struktur organisasi yang jelas. Dan struktur organisasi yang jelas hanya bisa dibuat jika perusahaan punya fundamental visi dan misi yang jelas. Kenapa? Karena struktur organisasi adalah tools yang kita butuhkan untuk mencapai visi dan misi perusahaan.

Job Desc akan mempengaruhi bagaimana setiap orang didalam organisasi kerja berinteraksi serta melakukan proses kerja. Proses kerja atau yang lebih dikenal dengan Standard Operating Procedure hanya bisa dibuat jika sebuah struktur organisasi punya Job Desc yang jelas.

Nah kebayangkan apa akibatnya jika tidak punya Job Desc?

Wewenang

Sebuah proses kerja membutuhkan sebuah keputusan untuk melanjutkan ke proses berikutnya. Untuk itu setiap posisi dalam struktur organisasi selain memiliki Job Desc juga harus dilengkapi oleh wewenang. Karena didalam Job Desc untuk mengerjakan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan wewenang untuk melaksanakannya.

Dengan berbagai alasan banyak perusahaan yang tidak melengkapi wewenang kepada setiap orang di organisasinya. Bahkan yang paling miris adalah level managerial pun tidak punya wewenang apapun dan sering juga ditemui seluruh wewenang berada di tangan owner.  Trus buat apa punya manager level kalo tugasnya hanya rekomendasi? Pengalaman saya, sering bertemu dengan para manager diperusahaan ini yang hanya tau mengerjakan tanpa paham kenapa atau malah ga mau tau kenapa. Bila ditanya jawabannya “itu bapak yang minta..” , “..ini ibu yang suruh..” atau “..biasanya begini..” ga heran organisasi ini ga kemana mana dan pengetahuan mereka jauh dari berkembang.

Wewenang diperlukan agar dalam proses interaksi dan proses kerja bisa berjalan efektif dan efisien. Dengan kewenangan yang tegas dan jelas maka potensi konflik bisa terhindarkan karena setiap wewenang punya resiko untuk dipertanggung jawabkan.

Key Performance Indicator (KPI)

Kalo soal target kerja saya yakin 100% ini sudah keahlian para owner dalam membuatnya. Itu bagus sekali karena kerja tanpa target sama dengan tidak punya ukuran dan yang berarti tidak tau apa yang harus dilakukan untuk berkembang atau untuk memperbaiki.

Pertanyaannya adalah apakah KPI nya sudah dibuat dengan benar? Kesalahan membuat ukuran maka akan berakibat atas proses mendapatkannya dimana proses mendapatkan akan menentukan masa depan kinerja perusahaan.

Contoh:

KPI hanya berorientasi hasil sales tanpa melihat circumstances dan prosesnya seperti hanya memberikan Target Sales tanpa membebankan proses salesnya tau konsekuensi ikutannya seperti Conversion Rate atau Cost of Sales.

Kenapa? Karena Team sales hanya akan focus to achieve target dan sales more regardless caranya mau itu dengan begging ke customer hingga mendorong more cost dengan more discount. Soal dimasa depan company taunya barang itu laku karena memang bisa dijual bukan ngemis atau biaya membengkak itu bukan menjadi concern nya.

Nah kalo case begini, ga herankan kalo team sales bisa tereakin team marketing kalo ga bikin program short term sales? Atau mereka males kerjain program engagement dari marketing karena wasting their time?

Atau KPI Finance yang hanya concern pada Ratio Profit dan Cash Flow tanpa melihat ukuran sustainability atau proses mendapatkannya. Maka tak heran untuk mendapatkan profit cara paling mudah yang dilakukan oleh seluruh short term thinker finance adalah Cutting Cost! Yup just that simple. Dan semua hal yang tidak punya kaitan atas cash flow jangka pendek either dipersulit ya ditolak!

Hal-hal penting diatas selalu dianggap remeh dan ga penting, jika ada yang menjelaskan tentang pentingnya hal diatas, response yang paling sering disebut dengan “ah teori..” atau “..ini udah puluhan tahun kami jalankan dan berhasil..” atau “..you don’t have entrepreneur skill..” .

Every result has process and each process will determined the next process, so Think again and if you really have time re-think again, before the trial error gone bad. Gimana bisa bangun Strong Brand jika bangun strong organization saja tidak paham. Jika sampai sekarang organisasi nya masih jalan, coba lihat isi karyawannya. Jangan-jangan mayoritas sudah puluhan tahun dan bahkan mau pension. Trus kira-kira regenerasinya gimana? Knowledge yang mau diajarkan apa? Patuh sama senior dan ikuti semua perintah? Karena itu yang akan dilakukan oleh semua newbie yang masuk ke organisasi seperti ini. Play Safe or Face the Conflict!

Conflict Coming from Disorganization, Do You Realize It? Check Your organization again please…

Perception vs Quality = Who will Win the Battle? (19.08.08)

Perception vs Quality = Who will Win the Battle?

 

Persepsi, Hmm.. Persepsi itu seperti semacam bookmark dipikiran kita atas sesuatu yang kita lihat, rasakan atau pengalaman yang kita terima. Atau secara ilmiah bisa dilihat diwiki ini.

Quality, Nah ini secara arti banyak sekali, namun jika diambil yang sederhananya adalah sebuah kesesuaian antara yang diberikan dengan yang diharapkan. Dam secara ilmiahnya bisa dilihat diwiki ini.

 

Secara ideal, sebuah produk yang memiliki Kualitas yang bagus harusnya memiliki Persepsi yang bagus juga oleh consumer, begitu juga sebaliknya. Kenapa? Karena jika mereka puas dengan kualitas tersebut maka secara otomatis otak akan mem-bookmark pengalaman ini dengan produk tersebut. Namun ternyata secara realita tidak demikian. Kita bisa menemukan produk yang biasa-biasa saja tapi dipersepsi lebih berkualitas oleh consumer. Wow, Kenapa bisa begitu ya?

 

Okay kita coba lihat beberapa kejadian dibawah ini:

Saat awal-awal adanya tawaran untuk iklan komersial di TV, TVRI dengan “alasan” agar TV-TV swasta bisa hidup dengan baik, memilih tidak mengambil iklan namun mengambil iuran dari mereka. Kenapa TVRI bisa bicara seperti itu? Karena secara kualitas siaran, TVRI memiliki kualitas penerimaan yang baik dan jelas, kemudian secara coverage, TVRI meraih seluruh hampir seluruh pelosok Indonesia. Jadi diatas kertas, para pengiklan sudah pasti akan memilih TVRI untuk tempat beriklan. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Iklan lebih banyak berada di TV swasta yang punya banyak keterbatasan saat itu, mulai harus pasang decoder, penerimaan masih jelek hingga terbatasnya coverage sinyal. Aneh ya? (again) kenapa bisa begitu? Ternyata consumer mempersepsikan kualitas siaran TV Swasta lebih baik dari pada kualitas siaran TVRI. Hmmm…

 

Sekarang Kita lihat lagi case berikutnya, Aqua adalah brand air minum dalam kemasan pertama. Saat dilaunch pertama kali, hambatan terbesar mereka adalah harga sebotol Aqua hampir setara dengan 1 liter bensin. Dan saat itu kualitas air dirumah masih dipersepsi bagus oleh consumer serta terlebih lagi gratis untuk mendapatkannya. Apa yang dilakukan Aqua? Dia melakukan pembentukan persepsi yang baru akan kualitas air dengan membuktikan bahwa kualitas air Aqua itu sehat dan telah teruji secara klinis. Hasilnya? Orang mulai mempersepsikan kualitas Aqua = kualitas air sehat. Kalo mau minum sehat ya jangan masak air dirumah tapi beli Aqua.

 

Menarik bukan? Okay sekarang mari kita lihat lagi case ke 3 ini, Honda terkenal dengan Irit dan harga jualnya yang tinggi. Consumer mempersepsikan bahwa motor yang berkualitas seharusnya seperti Honda. Irit dan Harga Jualnya tinggi. Tak heran semua keluaran Honda di”lahap” abis oleh para rider. Namun, datanglah Yamaha yang mulai membangun persepsi bahwa motor berkualitas itu ga Cuma irit dan harga jual saja, tapi juga harus kencang. Moment ini didukung juga dengan prestasi global Yamaha yang sukses menjadi Juara Dunia GP 500 via Valentino Rossi. Ambassador ini memperkuat persepsi bahwa Yamaha itu kencang, dan irit itu semua motor sama, paling bedanya Cuma beberapa tetes J

 

What happening ya? Hmmm Ternyata persepsi Consumer akan kualitas itu sangat-sangat berbeda. Seperti defenisi diatas dimana kualitas itu tergantung apa yang menjadi Harapan yang diinginkan oleh customer.

 

Dalam Case TVRI, consumer mengharapkan bahwa TV yang berkualitas itu adalah yang punya Content siaran seperti yang mereka mau, sehingga walaupun secara technical quality TVRI itu diatas semuanya namun secara content perception, ternyata TVRI tidak berhasil memenuhi Harapan consumer. Resultnya Kualitas bagi Consumer adalah Persepsi atas content dari siaran.

 

Pada case Aqua, kualitas secara absolute berasal dari kualitas air itu sendiri. Dimana Aqua sukses membuktikan bahwa mayoritas air tanah itu tidak sebaik kualitas Aqua. Dan itu terbukti dari hasil klinis Aqua yang jernih dan tidak berbau. Secara technical, Kualitas air yang ditawarkan oleh Aqua mengalahkan persepsi yang menjadi kepercayaan masyarakat atas air tanah mereka.

 

Lain lagi kasus Honda vs Yamaha, Kemampuan Valentino Rossi yang berhasil menaklukkan kedigjayaan Honda di kancah GP 500, menjadi referensi bagi Consumer, sehingga saat Yamaha menjalankan Kampanye ttg motor itu harus kencang dan irit itu sudah semua motor punya. Kekuatan image dari Ambassador dan minimnya pembuktian secara nyata atas perbedaan tingkat ke iritan membuat persepsi kualitas consumer akan motor berubah dari hanya irit pindah pada factor kecepatan yang walau secara realita belum tentu hasilnya sama jika Rossi sudah tidak Yamaha lagi. Mungkinkah Yamaha masih bisa mengalahkan Honda?

 

Hmm.. Kualitas yang nyata ternyata belum tentu menjadi factor utama untuk menang dan Kekuatan akan persepsi yang sudah lama ternyata juga bisa digeser oleh kualitas yang nyata.

 

Challengenya adalah bagaimana meleverage Kualitas dan Persepsi sehingga bisa memenangkan persaingan. Pilih mana? Kualitas, Persepsi atau kedua-duanya?

 

Perception vs Quality = Who will Win the Battle?

WOM : Quality vs Sensation, Which One will Sustain? (21.07.08)

WOM : Quality vs Sensation, Which One will Sustain?

 

Ngomongin WOM (Word of Mouth) alias Berita dari Mulut ke Mulut adalah sesuatu yang sangat menantang. Bayangkan bagaimana senangnya kita jika produk kita menjadi WOM.. hmm kita punya brand lover yang akan cerita ttg produk kita kesiapa saja dan kemana saja. Dan mereka juga akan jadi Evangelist Brand kita. Yang akan membela bahkan menjadi Ambassador bagi Brand kita. Of course dengan sukarela!!!

 

Beberapa brand sukses besar dengan WOM, Apple salah satunya. Namun banyak juga yang dihancurkan oleh WOM. Yang sukses punya komunitas-komunitas baik yang resmi maupun yang non resmi, baik yang disupport oleh principal maupun yang tidak sama sekali. Media nya? Banyak sekali! Mulai dari Tradisional WOM yaitu emang dari mulut ke mulut, trus blog ke blog, milis ke milis, facebook ke facebook dan banyak lagi.

 

Ada WOM yang memang sengaja dibuat atau diciptakan, seperti Liburan Bersama Kijang”. Dan banyak juga yang memang dibangun dari akar rumput penggemar. Ini banyak sekali di Facebook, Friendster dan provider-provider blog.

 

Melihat dari cara munculnya, WOM bisa timbul atas Sensasi, yaitu bikin kegiatan atau event yang memancing perhatian orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Tung Desem Waringin (TDW). Sensasi dibikin seheboh mungkin sehingga bisa memancing lahirnya WOM. Namun ada juga yang karena Produk itu sendiri yang akhirnya menciptakan WOM. Contoh WOM yang dibikin bukan oleh sensasi juga banyak sekali, mau contoh? Mulai dari Warteg enak yang ada didalam gang-gang kecil sampai dengan Tempat Service mobil yang ramah dan cepat. Ini disebut WOM yang lahir dari Quality.

 

Apa bedanya? Sensasi dengan Quality?

 

Sensasi, berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh produk itu sendiri atau pun event yang mendukung produk itu dengan tujuan agar produk itu mendapatkan ekspose yang besar (menarik perhatian) dari orang-orang. Sensasi bisa dilakukan baik dengan biaya murah (dengan bikin blog atau facebook) atau bisa juga dengan menggelontorkan uang yang besar (dengan nabur uang 100 juta). Pendek kata, sensasi secara sengaja dan direncanakan untuk memancing terjadinya WOM.

 

Quality, umumnya berasal dari produk atau layanan itu sendiri. Dimana setiap customer dan consumer mendapatkan perceived value yang lebih dari yang diharapkan. Dalam hal ini bisa dari Quality dari Produk atau Layanan Produk itu sendiri. Quality itu sendiri ukurannya berbeda-beda, namun secara umum, Quality adalah mendapatkan performa atau hasil atau manfaat minimal sama dengan harapan dari sipembeli atau pelanggan.

 

Sensasi vs Quality, Kalo melihat dari 2 faktor ini kira-kira mana ya yang akan sustainable?

 

Harap diingat WOM yang dihasilkan oleh Sensasi adalah tahap awal, yaitu tahap diomongkan atau tahap awareness. Apakah mereka akan membeli, mencoba atau merekomendasikan setelah Sensasi adalah hal yang berbeda. Artinya WOM disini baru sebatas “Iklan Viral” belum menyentuh tahap Trial. Lihat pasca penyebaran Undangan free Seminar TDW, entah berhubungan atau tidak, tiba-tiba kita dikirimin penawaran penjualan tiket seminar dengan setengah harga (CMIIW).

 

Sedangkan WOM yang dihasilkan oleh Quality of Product, cenderung sudah merupakan rekomendasi atau minimal merupakan pengalaman mencoba dari si pengantar WOM. Artinya apa yang disampaikan minimal sudah dibuktikan oleh sipengantar WOM itu sendiri. Dalam hal ini WOM menjadi punya Kredibilitas.

 

So? What do you think guys? Which one will you choose? Use the Quality? Or just the Sensation?

 

WOM : Quality vs Sensation, Which One will Sustain?