Another Perspective About UKM (24.09.13)

Banyak diskusi terkait dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan akhir-akhir ini semakin hangat dan banyak action nyata yang dilakukan untuk mereka. Tulisan ini merupakan perspektif lain dalam melihat tantangan yang dihadapi pada pengusaha UKM, bukan sebagai pembenaran atau penolakan atas pendapat yang lainnya.

Mari kita samakan basic perspektif kita ya. UKM tidak terbatas hanya sekedar warteg, pengerajin, peternak, tukang jahit namun juga semua usaha yang skalanya masuk ke menengah dan kecil. Mengutip dari blog bang Yuswohadi www.yuswohadi.com

“Yang dimaksud usaha mikro adalah perusahaan yang memiliki omset maksimal Rp.300 juta dan Asset maksimal Rp.50 juta setahun. Usaha kecil memiliki omset Rp.300 juta sampai Rp.2,5 miliar dan Asset antara Rp.50-500 juta. Usaha menengah memiliki omset Rp.2,5 miliar sampai 50 miliar dan Asset Rp.500 juta sampai 10 miliar”

Dari definisi ini maka batasan UKM adalah di besaran Asset dan omzet bukan bidang usaha. Jadi Kursus, Salon, Learning Center, Advertising Agency hingga Retail Store juga termasuk UKM jika memenuhi kategori diatas.

1. UKM tidak Bankable karena kesalahan Pemerintah?

Kemampuan modal adalah salah satu hambatan terbesar bagi UKM untuk berkembang. Selain banyak yang tidak berbadan hukum ada juga yang tidak memiliki Asset yang bisa dijaminkan sebagai salah satu syarat meminjam uang di bank. Namun ada lagi factor dasar selain soal ini, yaitu Tata Kelola. Tak jarang saya temui UKM yang tidak memiliki Tata Kelola yang baik. Seperti menggunakan rekening pribadi sebagai rekening perusahaan, tidak memiliki laporan keuangan yang auditable hingga tidak memiliki NPWP padahal company tersebut sudah berbadan hukum.

Ini adalah salah satu factor UKM menjadi tidak bankable. Dan ini harusnya bisa diperbaiki dengan menerapkan Tata Kelola management yang benar. Kekurangan pengetahuan dan ketidak mauan untuk menerapkan factor Tata Kelola ini. Untuk konsep dasar Tata Kelola bisa lihat pada article yang ditulis oleh @Opsmarketer ini. Jika ini diterapkan maka sumber pendanaan modal tidak lagi bergantung dengan pemerintah dan bank tapi juga meluas ke Investor yang lebih ringan secara persyaratan.

Jadi UKM Tidak Bankable karena kesalahan Pemerintah tidaklah sepenuhnya tepat karena pengusaha itu sendiri adalah orang yang paling bertanggung jawab atas Tata Kelola perusahaannya.

2. UKM identik dengan barang Local?

Brand asing sering dianggap biang hancur nya UKM. Namun jika dilihat lebih dalam agak mengejutkan, seringkali menemukan bahwa UKM malah menjadi importir atas barang-barang yang dijualnya. Hal ini terutama di fashion industry seperti baju, sepatu, aksesoris. Sedangkan Brand asing seperti Zara, Nike malah membeli barangnya dari industry local. Agak ironis ya?

Kenapa bisa terjadi, beberapa pengusaha UKM cenderung focus ke short term sehingga pilihan mereka terhadap kompetisi adalah Pricing. Sayang sekali Pricing ini tidak hadir sebagai hasil dari Operation Management yang baik namun dari penekanan biaya termasuk dengan melakukan import. Ini bukan karena mereka sangat tradisional namun lebih karena mereka dikelola dengan pola pikir tradisional. Sementara Brand Asing melakukan kompetisi dengan mengandalkan kekuatan dari Brand nya sehingga sering sekali membuat mereka terhindar dari jebakan price war jangka pendek.

Nah ini perlunya dibantu bahwa mengejar cash flow semata akan berjalan tanpa akhir tanpa sadar puluhan tahun sudah terlewati. Nah dengan mulai disiplin membangun Brand, maka perusahaan tidak hanya bisa mendapatkan manfaat jangka pendek yaitu cash flow namun juga bisa memberikan perkembangan value added keseluruh stake holder dari supplier hingga ke customer.

Jadi UKM identik dengan barang local untuk beberapa hal seringkali meleset dan ini perlu dibantu untuk dibenahi.

3. Mall membunuh UKM?

Apapun usaha dibangun untuk berkembang, jadi yang saat ini kecil suatu saat akan berkembang membesar. Setiap usaha juga memiliki target market sendiri, ada yang mengincar segment bawah dan ada juga yang premium. Selain itu preference customer juga berkembang seiring dengan perkembangan jaman, sehingga needs boleh sama namun wants nya berbeda. Itu mengapa UKM sendiri sangatlah luas ada yang memang buka dipasar becek namun ada yang harus buka di Mall yang rapi dan modern.

Mall adalah salah satu Pusat Perbelanjaan, mulai dari pasar yang tradisional, pasar modern, plaza hingga Mall. Setiap Pusat Perbelanjaan dibangun untuk melayani segmentasi tersendiri. Dimana cerminannya terlihat dari penataan para penyewa (Tenant Mix) nya. Ada juga Pusat Perbelanjaan yang bisa dimiliki yang dikenal dengan Trade Center dengan bentuk Strata Title dimana setiap unitnya tidak disewakan tapi dibeli. Fungsi Pusat Perbelanjaan adalah membantu menarik pengunjung yang datang melalui fasilitas dan Tenant Mix yang dimiliki.

Nah UKM bisa memilih lokasi mereka berkembang dari sekedar didepan rumah hingga masuk kedalam Mall. Dimana tentu ada konsekuensinya seperti besaran nilai sewa. Dimana besarannya tergantung lokasi sewa didalam Mall, luasan serta jenis Mallnya itu sendiri.  Setiap Tenant didalam Mall mengambil target market dari orang yang datang kedalam Mall tersebut. Dengan makin menjamurnya Pusat Perbelanjaan modern maka semakin besar kemungkinan pilihan UKM berkembang.

Rantai supply chain melihat bahwa semakin besar maka semakin banyak barang yang akan dibeli. Selama itu beli dari local (baik itu Brand asing maupun local) maka akan mendorong perkembangan UKM yang menjadi supplier mereka.

Jadi apakah ada kemungkinan UKM yang mati? Tergantung jenis usaha dan target market nya dan setiap usaha perlu memperkuat fundamental kedalam sehingga saat berkembang tidak mudah goyang dan jatuh. Sebagaimana Manusia, Tua itu sudah pasti namun Kedewasaan adalah pilihan. Dan bagi UKM umur pasti bertambah namun membangun Brand adalah pilihan!

Ada banyak komunitas dan gerakan untuk belajar mulai dari @MarketerClubber @MemberiID hingga Learning Center yang memang focus untuk jasa pendidikan seperti @Opsmarketer . Yang penting adalah perlunya untuk menambah pengetahuan dan wawasan sehingga UKM tidak lagi seperti orang tertinggal tapi memang selalu bisa beradaptasi dengan kemajuan. Ingat ga harus jadi segalanya untuk memenangkan persaingan yang perlu adalah menjadi Unik adalah kunci utama. 7 (tujuh) P : Product, Price, Place, Promotion, People, Process dan Physical Evidence bisa diulik dalam menemukan yang terbaik untuk menjadi pilihan utama Target Market nya.

Hmm gimana? Gpp kalo ada pendapat yang beda, ga harus setuju sehingga ga perlu protes dan marah-marah. Just share your opinion and lets have a very good diversity of thought

Advertisements

Indonesia Tidak Kekurangan Pengusaha & Kampus Tidak Salah Didik (02.09.13)

Disaat ekonomi Indonesia mengalami krisis, banyak pakar mengatakan Indonesia langka pengusaha. Ada juga yang bilang kampus-kampus kita tidak mendidik seseorang menjadi pengusaha. Kampus penuh dengan teori dan jauh dari praktek lapangan. Pertanyaan saya separah itukah Indonesia?

Jika setiap perempatan ada pedagang asongan, setiap masalah di sebuah kota adalah PKL, setiap jalanan penuh ruko, setiap perumahan mulai menulis “Dilarang dijadikan tempat berjualan” , setiap Broadcast BBM, Notifikasi FB Path hingga Instagram dipenuhi dengan online store, setiap perempatan ada restoran padang, pertanyaannya Pengusaha seperti apa sih yang kita krisis?

Terus apa kampus ga boleh didik karyawan? Apa seluruh mahasiswa harus jadi pengusaha? Jika tidak, perbandingan seperti apa yang disebut ideal? Kenapa pengusaha selalu dianggap lebih baik dari karyawan? Karena menciptakan lapangan kerja? Buat siapa? Pengusaha baru atau Karyawan juga? Apa Karena banyak pengangguran? Ini pengangguran karena lapangan kerja sedikit atau karena pengusahanya cenderung seneng import dari pada bikin di Indonesia? Nah Loh!

How about me? Saat menulis tulisan ini saya masih hunting job! Dan sambil hunting saya lagi bangun mimpi saya untuk punya learning center dan sekarang masih dirintis namanya @Opsmarketer . Kok bisa saya bikin usaha? Pertama karena saya sekolah disekolah umum terus kuliah di fakultas ekonomi trus dapat kerja, beberapa kali tour of duty dan move ke beberapa perusahaan trus ambil kuliah S2 dan here I am. Ilmu yang saya punya membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan, dimana saya jadi bisa mendapatkan dua hal : pengalaman kerja dan uang untuk hidup dan untuk sekolah lagi. Nah karena pernah sekolah dan kerja akhirnya saya bisa punya kredibilitas dan kemampuan untuk memulai mimpi saya membuka learning center walau masih tahap awal. Kalo ga gimana saya bisa ngajar kalo ga pernah sekolah atau ga pernah kerja?

Nah balik lagi pertanyaannya apa bener Indonesia kekurangan pengusaha? Atau itu karena “kesalahan” pendidikan? Atau karena Pemerintah kita yang ga becus? ß ini kambing hitam yang selalu dipake atas seluruh kegagalan di negeri ini. Karena buat saya itu ungkapan yang terlalu pengecut buat bilang salah saya!

Ini pendapat saya, tentu saja boleh setuju dan boleh tidak. Dan untuk ke tidaksetujuan atas pendapat saya, ga perlu maksa dan berdebat sama siapapun supaya setuju. Karena itu juga ga penting buat saya. Jadi silahkan ya kalo mau ungkapkan pendapat yang penting ga perlu maki-maki orang karena siapapun ga lebih pinter dari siapapun.

Indonesia ga kekurangan pengusaha & Kampus juga tidak salah didik.

Saya bahas ya..

Indonesia Tidak Kekurangan Pengusaha

Jika membuka sebuah usaha disebut pengusaha maka Indonesia sama sekali tidak kekurangan pengusaha. Namun jika pengusaha diukur dari kemampuan mengembangkan stake holdernya tidak hanya share holdernya maka saya bisa bilang masih banyak yang jadi pedagang.

Itu kenapa setiap pelatihan pengusaha yang dilatih adalah buka usaha tanpa modal, cenderung pake trust dan mendorong jadi trader atau makelar. Trus, mental oportunis dan pragmatis jadi idola, itu mengapa Franchise jadi berantakan malah Business Oportunity yang banyak diraih karena mau langsung gede tanpa effort besar. Atau malas usaha untuk membangun rantai supply yang comprehensive dan memilih import.

Bahkan lebih suka price war dari pada perang added values, karena maunya cepat jual cepat cuan. Soal bagaimana bisa murah itu urusan China termasuk ngemplang pajak, nyeludupin barang, nginjek tenaga kerja dan lain lain.

Nah ini pendapat saya perlu diberikan diskusi yang baik tanpa merendahkan juga tanpa menyudutkan karena bisa jadi semua dilakukan karena tidak tahu bagaimana sebetulnya membangun usaha yang baik untuk seluruh stake holder bukan hanya share holder.

Komunitas seperti Marketing Club, Tangan Diatas serta komunitas Memberi bisa jadi corong untuk membangun virus ini keseluruh orang. Mengingat isinya adalah orang-orang yang punya credibilitas untuk memberikan masukan serta pandangan.

Pertanyaannya pada mau dukung atau tidak?

Kampus Tidak Salah Didik

Kampus menghasilkan karyawan bukan pengusaha. Pendapat saya itu tidak benar. Karena menjadi pengusaha itu pilihan bukan pekerjaan. Kampus memberikan ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha dan menjadi karyawan yang mumpuni. Trus kalo ada yang bilang banyak ilmunya yang ga kepake dilapangan, saya malah balik Tanya, itu ga kepake karena ga ngerti cara pakenya, ga mau make nya atau karena emang ilmunya yang salah???

Mayoritas  pendapat saya di bagian ga ngerti dan ga mau. Lihat aja ajaran buat buka usaha “buka aja dulu soal berhasil apa nggak itu urusan nasib” atau “ga usah banyak dianalisa, konglomerat A dulu ga sekolah ga pake mikir juga jadi kaya raya” atau “ahh..teori mas..dilapangan ga gitu” dan banyak lagi.

Coba kalo mau duduk sebentar trus lihat apa yang akan dibuat trus apa yang ada di market trus apa yang akan kita offering. Nah itu sudah make ilmu dikampus! Trus bikin laporan keuangan, itu juga ilmu dikampus. Mana ilmu yang ga ada dikampus? Ilmu ngeles? Ilmu ngemplang pajak? Ilmu makelar? Ilmu mana?

Dari saya yang perlu kampus lakukan adalah mengajak yang mau bikin usaha, pengusaha dan karyawan datang kekampusnya sehingga ilmu yang dimiliki bisa diakses sama para mahasiswa ini. Dengan cara apa? Memberikan ruangan atau fasilitas yang mereka bisa gunakan untuk berkumpul. Modalnya murah kok, kasih wifi yang kenceng, listrik dan bangku. Makan minum mereka akan beli. Syaratnya satu, setiap yang mau pake wajib sharing memberikan gambaran usahanya atau pekerjaannya. Nah dari sini, para mahasiswa akan melihat usaha apa saja yang didunia usaha dan dosen memberikan tips bagaimana ilmu itu digunakan didunia usaha.

Community Hub seperti ini yang perlu dibangun. Campus Community Hub! Jika dilakukan dibanyak kampus maka banyak ilmu yang bisa diakses serta banyak case study yang bisa didapatkan. Kampus tidak rugi sama sekali, karena paling tidak kampus jadi punya Database dan awareness atas nama lembaga dan programnya. Bahkan bisa “jual” workshop untuk mereka agar makin bisa menjalani usahanya.

So that’s my opinion.. what do you think guys?

Conflict Coming from Disorganization, Do You Realize It? (29.08.13)

Pernah ngerasa, kok kayaknya kita saling berkompetisi antar department? Atau merasa kita dijegal, dihambat dan dipersulit oleh department lain? Rasanya gimana? Bingung ya, kok satu team malah saling sikut dan saling berantem padahal diluar sana kita punya kompetisi untuk dihadapi. Kenapa ya kok bisa hal ini bisa terjadi? Secara umum conflict ini sering disebut karena masalah Visi yang belum align tapi apakah ini hanya soal visi?

Kegagalan mengorganisasikan perusahaan atau disebut dengan Disorganization bisa menjadi salah satu penyebab umum conflict dalam organisasi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Job Desc yang tidak clear
  2. Tidak adanya Pembagian Wewenang atau Tidak Tegas dan Jelas
  3. Kesalahan dalam membuat parameter ukuran Key Performance Indicator (KPI)

Yuk kita bahas sedikit ya, saya share dari pengalaman yang pernah saya temui baik saat menjadi professional maupun sebagai inhouse trainer & consultant.

Job Description (Job Desc)

Ini terlihat simple, namun ini fundamental sekali. Kenapa? Job Desc hanya bisa dibuat jika sebuah perusahaan punya struktur organisasi yang jelas. Dan struktur organisasi yang jelas hanya bisa dibuat jika perusahaan punya fundamental visi dan misi yang jelas. Kenapa? Karena struktur organisasi adalah tools yang kita butuhkan untuk mencapai visi dan misi perusahaan.

Job Desc akan mempengaruhi bagaimana setiap orang didalam organisasi kerja berinteraksi serta melakukan proses kerja. Proses kerja atau yang lebih dikenal dengan Standard Operating Procedure hanya bisa dibuat jika sebuah struktur organisasi punya Job Desc yang jelas.

Nah kebayangkan apa akibatnya jika tidak punya Job Desc?

Wewenang

Sebuah proses kerja membutuhkan sebuah keputusan untuk melanjutkan ke proses berikutnya. Untuk itu setiap posisi dalam struktur organisasi selain memiliki Job Desc juga harus dilengkapi oleh wewenang. Karena didalam Job Desc untuk mengerjakan tanggung jawab yang diberikan maka diperlukan wewenang untuk melaksanakannya.

Dengan berbagai alasan banyak perusahaan yang tidak melengkapi wewenang kepada setiap orang di organisasinya. Bahkan yang paling miris adalah level managerial pun tidak punya wewenang apapun dan sering juga ditemui seluruh wewenang berada di tangan owner.  Trus buat apa punya manager level kalo tugasnya hanya rekomendasi? Pengalaman saya, sering bertemu dengan para manager diperusahaan ini yang hanya tau mengerjakan tanpa paham kenapa atau malah ga mau tau kenapa. Bila ditanya jawabannya “itu bapak yang minta..” , “..ini ibu yang suruh..” atau “..biasanya begini..” ga heran organisasi ini ga kemana mana dan pengetahuan mereka jauh dari berkembang.

Wewenang diperlukan agar dalam proses interaksi dan proses kerja bisa berjalan efektif dan efisien. Dengan kewenangan yang tegas dan jelas maka potensi konflik bisa terhindarkan karena setiap wewenang punya resiko untuk dipertanggung jawabkan.

Key Performance Indicator (KPI)

Kalo soal target kerja saya yakin 100% ini sudah keahlian para owner dalam membuatnya. Itu bagus sekali karena kerja tanpa target sama dengan tidak punya ukuran dan yang berarti tidak tau apa yang harus dilakukan untuk berkembang atau untuk memperbaiki.

Pertanyaannya adalah apakah KPI nya sudah dibuat dengan benar? Kesalahan membuat ukuran maka akan berakibat atas proses mendapatkannya dimana proses mendapatkan akan menentukan masa depan kinerja perusahaan.

Contoh:

KPI hanya berorientasi hasil sales tanpa melihat circumstances dan prosesnya seperti hanya memberikan Target Sales tanpa membebankan proses salesnya tau konsekuensi ikutannya seperti Conversion Rate atau Cost of Sales.

Kenapa? Karena Team sales hanya akan focus to achieve target dan sales more regardless caranya mau itu dengan begging ke customer hingga mendorong more cost dengan more discount. Soal dimasa depan company taunya barang itu laku karena memang bisa dijual bukan ngemis atau biaya membengkak itu bukan menjadi concern nya.

Nah kalo case begini, ga herankan kalo team sales bisa tereakin team marketing kalo ga bikin program short term sales? Atau mereka males kerjain program engagement dari marketing karena wasting their time?

Atau KPI Finance yang hanya concern pada Ratio Profit dan Cash Flow tanpa melihat ukuran sustainability atau proses mendapatkannya. Maka tak heran untuk mendapatkan profit cara paling mudah yang dilakukan oleh seluruh short term thinker finance adalah Cutting Cost! Yup just that simple. Dan semua hal yang tidak punya kaitan atas cash flow jangka pendek either dipersulit ya ditolak!

Hal-hal penting diatas selalu dianggap remeh dan ga penting, jika ada yang menjelaskan tentang pentingnya hal diatas, response yang paling sering disebut dengan “ah teori..” atau “..ini udah puluhan tahun kami jalankan dan berhasil..” atau “..you don’t have entrepreneur skill..” .

Every result has process and each process will determined the next process, so Think again and if you really have time re-think again, before the trial error gone bad. Gimana bisa bangun Strong Brand jika bangun strong organization saja tidak paham. Jika sampai sekarang organisasi nya masih jalan, coba lihat isi karyawannya. Jangan-jangan mayoritas sudah puluhan tahun dan bahkan mau pension. Trus kira-kira regenerasinya gimana? Knowledge yang mau diajarkan apa? Patuh sama senior dan ikuti semua perintah? Karena itu yang akan dilakukan oleh semua newbie yang masuk ke organisasi seperti ini. Play Safe or Face the Conflict!

Conflict Coming from Disorganization, Do You Realize It? Check Your organization again please…

Kapan Sih Waktu Yang Tepat Untuk Membangun Brand? (27.08.13)

Kita sering sekali mendengar pertanyaan diatas ya, ” Kapan sih waktu yang tepat untuk membangun Brand?”” Hayoo, kira – kira kapan? Atau mungkin pertanyaannya bisa kita balik dengan “Adakah waktu yang tepat untuk membangun Brand?”

Dalam kegiatan professional dan sebagai Inhouse trainer & Consulting di @Opsmarketer, saya sering mendengar para owner berkata, “wah kita masih perusahaan kecil, jangan dibandingkan dengan google apalagi coca cola”. Trus saya Tanya ke mereka memangnya udah berapa usia perusahaan anda ini? Jawabannya sangat mengejutkan, puluhan tahun!!! Wow saya ampe takjub hahahahahahaha padahal google baru belasan tahun.

Kemana aja pak selama puluhan tahun? Masih belum siap? Pantes masih sibuk kejar cash flow melulu. Hehehehe maaf bukan nyolot ya. Tapi mari anggap sebagai wake up call cuman rada keras volume nya 

Brand itu dibangun tidak instan namun butuh proses, konsistensi, komitment serta usaha yang berkelanjutan. Itu artinya jika sudah berumur puluhan tahun harusnya kita sudah punya strong brand bagi usaha kita. Karena itu waktu selama itu mestinya sudah banyak yang bisa kita buat untuk membangun Brand.

Brand itu sendiri jika dibagi 2 (dua) maka secara umum terbagi atas:
Part You Can See,
Nah ini bagian yang banyak orang lakukan dan pahami kaitannya ke brand. Sayangnya banyak dilakukan parsial. Part You Can See adalah semua hal yang bisa dilihat, disentuh dan dirasakan oleh pelanggan. Seperti Iklan, suasana store, seragam, sales promo, kualitas produk dan keramahan senyum sapa dari karyawan. Ini ibarat rumah adalah bagian atas nya, terlihat oleh semua orang

Bagian ini secara parsial dianggap paling cepat ngasilin duit dan banyak client dan orang yang saya kenal terjebak pada bagian ini terutama cash flow short term nya. Masa bertahun tahun program nya cuman diskon dan diskon melulu??

Part You Can’t See,
Ini bagian yang banyak dianggap sepele, tak berkait bahkan terlupakan. Yaitu supporting area, seperti production, finance accounting, general affair, human resources, IT department, Standard Operating Procedure, Quality Assurance, hingga reporting.

Saking dianggap remeh nya, biasanya bagian ini isinya orang-orang boring, bahkan tidak jarang juga mereka menjadi bagian yang tidak pernah di training selain training motivasi. Sebagai contoh orang Finance bahkan ga paham apa itu brand dimana pada saat yang sama orang marketing bahkan belajar Finance for Non Finance untuk bisa memahami sudut pandang Finance. Tapi jarang denger kan orang Finance belajar Marketing for non Marketer hehehehehe

Ibarat rumah bagian You Can’t See adalah pondasi dasar bangunan mulai dari cerocok sampai ke electrical system yang nempel didinding rumah.

Nah Pertanyaan saya sekarang adalah Kapankah Pondasi dibangun? Saat rumah sudah jadi atau sebelum? Hahaha jawab sendiri ya 

Adakah kata terlambat untuk membangun Brand? Ada tentunya!!! namun bolehkah dilakukan walau sudah terlambat? Tentu saja! karena lebih baik terlambat dari pada tidak. Resikonya? Yaaaa bayangin aja rumah sudah jadi trus pondasi seadanya baru mau pasang kabel dan rapiin. Hasilnya pasti berantakan disana sini, ada tembok yang mesti dirobohin dan jelas so messy. Dan yang parah adalah kalo pondasi tidak dibuat untuk bangunan yang ada seperti pondasi rumah 2 lantai dibangun rumah 7 lantai. Ga herankan banyak berantakannya hanya demi menghemat dan mengulur waktu diawal?

So Kapan sih waktu yang tepat untuk membangun Brand?

Brand Social Media is Brand Social Life not Yours! (19.01.13)

Sekarang dengan semakin tingginya tingkat penetrasi dari smartphones dan internet membuat banyak customer (audience) yang lebih sering menghabiskan waktunya bersama gadget dari pada bersama tradisional media seperti Televisi (TV). Keterbatasan waktu, keinginan akan real Time dan lebih komunikatif merupakan faktor-faktor yang menjadi dorongan audience ini memilih media internet. Bahkan social life pun banyak beralih kedigital seperti ngobrol via skype, we chat, line, kakao, twitter atau people hub Group. Sharing seperti Facebook, Path, Instagram, Pinterest.

Trend ini sudah lama diketahui brand owner dan mereka juga sudah lama terjun mendekati para audience nya dengan membangun kedekatan via social media. Tulisan ini tidak membahas sisi strategi ini namun lebih spesifik pada cara atau perilaku interaksi brand tersebut dengan audience nya.

Apa yang menjadi panduan brand untuk bersosialisasi dengan audience nya? Tentu brand personality nya. Nah personality ini ditentukan sebagai bagian dari brand Identity secara utuh. Yang merupakan cerminan dari target market brand tersebut. Contoh : jika brand ada target audience nya anak-anak usia 3 s/d 5 tahun, tentu personality brand nya akan berbeda dengan target audience nya 17 s/d 21 tahun. Terjemahan ini tidak cuma pada tingkat Design web atau applikasi namun hingga cara berbicara selama berinteraksi dengan mereka. Nah disinilah concern dari tulisan ini yaitu cara berinteraksi brand.

Case dasarnya sering kali ditemui cara interaksi dari brand tersebut lebih cenderung sesuai dengan gaya Brand dan Marketing Manager nya atau yang lebih parah sesuai dengan gaya serta personality dari admin (orang yang bertugas melakukan posting ke social media)! Tidak percaya? Coba lihat pages (di Facebook) atau account twitter brand. Sebuah brand permen W***S pernah mempost foto makanan dengan bentuk seperti orang berpelukan. Tidak ada yang luar biasa, karena ini umum bagi kebanyakan orang namun apakah ini personality brand nya? Atau kejadian sebuah account twitter dari mall P****C P***E , sempat menjadi kontroversi karena saat musibah terjadi di mall nya sebuah twitt yang keluar malah seperti meremehkan kondisi disana. Pertanyaan adalah apakah ini response dari brand tersebut? Tentu tidak, beberapa saat kemudian mereka meminta maaf dan kabarnya Adminnya mendapatkan teguran.

Social media layaknya kehidupan, punya manners dan rules baik yang tertulis maupun tidak. Bagi brand hal ini harus menjadi perhatian. Lets see do’s and dont’s dibawah ini:

Do : Buatlah Identity dan Personality yang jelas seperti as a Contact Service or as a Human? Jika sebagai contact service maka personality tidak terlalu penting. Namun saat di wujudkan sebagai sahabat atau partner maka representasi Human lebih baik dan itu berarti Identitas seperti Gender Male, Female atau Universal, Usia juga diperlukan. Personality seperti Karakter Fun, Dynamic or Geek juga diperlukan. Tujuannya agar interaksi lebih baik dan tidak berjarak.

Dont : Saat sudah diputuskan maka konsistensi itu penting. Sebagai Contact Service, coba menyapa seperti Human dengan “morning tweeps sudah pada sarapan apa?” namun saat diajak ngobrol malah ga pernah jawab.

Do : Hindarkan mengirim updates ke social media secara spontan kecuali meresponse atas pertanyaan atau interaksi. Ingat ini adalah Brand Social Life dan merupakan salah satu media dari Marketing Communication Management yang berarti apa yang akan kita berikan harus terkait dengan thema besar dari Communication dan Brand Plan kita. Buatlah Guidelines dan selalu dokumentasikan apa yang akan dipost ke Social Media. Contoh: Guidelines, Weekdays Promotion Program Amplification dan Weekend Social Life Share. Kemudian, Buatlah minimal 3 variance berbeda atas text yang akan dipost untuk yang sifatnya pengulangan seperti informasi sales program. Ini berguna agar your brand social media tidak terlihat seperti mesin. Kemudian buatlah baik itu Word atau Excel susunan tulisan yang akan di post secara urut. Dengan ini, maka siapapun yang akan post ke social media akan punya karakter dan interaksi yang sama dengan brand kita.

Dont : Membuat Share tanpa dokumentasi, kenapa? Kemungkinan human error tinggi serta pengaruh atas emosional kita saat itu cukup besar. Dan tentu kita tidak bisa melihat tracking apa yang sudah kita share dan apa hasilnya bagi Marketing Communication Strategy kita. Dengan adanya tools seperti Chirpstory (tools untuk rekap tweet) dan Link to other social media maka apa yang kita share selalu didokumentasi siapa saja via internet. Content yang bermutu tentu sangat penting bagi brand kita.

Do : Selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan response atas complain dan feedback yang tidak menyenangkan. Kegagalan berpikir membuat response yang diberikan lebih menggambarkan emosional personal yang melakukan reply dari pada personality brand.

Dont : Membawa emosi pribadi kedalam setiap share dan interaksi di social media. Seperti judulnya Brand Social Media is Brand Social Life not Yours! Jadi stop berinteraksi seperti kita berinteraksi. Jika kita lihat bahwa ini perlu response lebih panjang, kita bisa pindahkan response kita channel yang lebih private seperti email atau phone sehingga Brand Image terjaga serta bisa solve problem nya.

Do : Kenali channel dari Social Media yang digunakan dan maximalkan sesuai dengan karakternya. Twitter untuk fast response interaksi. Facebook, Path untuk Timeline atau Memories interaksi dimana setiap response kita selalu bisa ditanggapi kapan saja dan menjadi New saat ada yang response. BBM, Line, Kakao untuk interaksi yang lebih personal dan tercluster.

Dont : Setiap Channel punya karakter serta rules. Contoh Chatting terlalu panjang di Twitter mengganggu Timeline dari related follower kita. Menuliskan too many updates dalam waktu yang sangat berdekatan di Facebook membuat Timeline dan Memories bagus hilang dengan cepat dari main page.

Diatas adalah beberapa contoh Do’s dan Dont’s dalam Berinteraksi di Social Media bagi Brand. Sehingga Brand Social Life benar-benar menggambarkan Brand dari pada diri si BM, MM atau adminnya. Satu hal yang saya tegaskan adalah Social Media adalah part of Marketing Communication dan Communication part of Marketing Strategy untuk itu selalu pastikan apa yang Brand anda bicarakan selalu punya benang merah yang jelas dengan Thema, Tagline, Personality hingga Indentitas dari Brand.

Brand Social Media is Brand Social Life not Yours Continue reading

Tony Jack’s Indonesia : (Not) Better Than That One (09.11.09)

Tony Jack’s Indonesia : (Not) Better Than That One

ToniJack'sRabu, 1 Oktober 2009 tepat pada pukul 00:00, 13 toko Mc Donalds (MD) berubah menjadi Tony Jack’s Indonesia (TJI). Perubahan ini terjadi sebagai akibat dari pemutusan lisensi Mc Donalds yang dipegang oleh Bambang Rachmadi dari International Development Services (IDS) yang bekerja sama dengan Mc D Corp.

TJI memperkenalkan sebuah tagline “Better Than That One” sebagai cara untuk masuk ke benak customernya. Selain itu, TJI juga memperkenalkan menu-menu baru sebagai pengganti menu sebelumnya dari MD.

Secara umum, toko-toko TJI sekarang masih cukup ramai didatangi orang. Selain rasa ingin tau dari para customer lamanya juga karena memang secara posisi toko TJI berada diposisi yang sudah sangat diingat dibenak customernya. Sebagai contoh toko TJI yang berada di Sarinah atau yang ada di Kelapa Gading.

TJI belum melakukan perubahan significant atas toko-tokonya yang sekarang, selain perubahan minor pada warna dan seragam. Logo MD yang besar juga masih hanya ditutup dengan kain warna hitam yang ada logo TJI.

Nah disini sebenarnya letak dari masalah yang menjadi sorotan saya pada review ini.

Bagaimana caranya mendeliver “Better Than That One”  jika apa yang dirasakan konsumen sekarang justru sebaliknya?

Saya melakukan pencarian ke di google tentang TJI, dan mendapatkan beberapa komentar yang justru berpotensi negatif karena bisa menjadi viral kemana-mana. Sebagai contoh ada customer yang merasa kecewa karena rasa burger yang dikatakan lebih baik ternyata tidak jauh berbeda dengan MD terdahulu. Atau kita bisa lihat secara lebih sederhana ke bungkus dari makanannya. Mereka masih menggunakan strefoam yang polos dengan stiker kecil bertuliskan jenis makanannya.SNC00149

Belum lagi tentang, behaviour dari karyawannya yang mungkin masih MD banget mengingat TJI berusaha beroperasi tanpa melakukan perubahan secara keseluruhan.

Okay, dibawah ini, adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh TJI sebelum membuka kembali tokonya. Saya menganggapnya sebagai Rejuvenate Brand (RB) walau sebenarnya merupakan New Product Launch (NPL). Hanya saja bedanya NPL belum punya previous target market sedangkan RB memiliki target market sebelumnya (keterikatan customer ke toko ini masih lekat sekali).

A. Pre Lauch Program

Action: Tutup 13 Toko secara serentak untuk sementara.

Komunikasi yang disampaikan adalah menutup semua toko dengan warna hitam dan tulisan putih “Better Than That One” – Your Lovely Store is Rejuvinating Now! Untuk memancing rasa ingin tahu dan agar ada crowd saat pembukaan, maka disediakan box untuk mengisi data untuk mendapatkan souvenir atau sejenisnya dalam jumlah terbatas.

Secara Plan, fase ini adalah fase evaluasi, dimana seharusnya mulai kembali dari tahap pengindetifikasian value yang akan diberikan ke customer. Tahap ini sangat penting sekali karena akan menjadi jiwa dalam setiap aktivitas TJI. Mulai dari yang tangible seperti seragam, packaging, menu, rasa, suasana toko, logo, perilaku staff dll hingga yang intagible seperti tagline, tipe pelayanan hingga cara berkomunikasi.

Menutup toko sementara juga membuat ruang dibenak customer untuk TJI. Sehingga mereka tidak membandingkan secara langsung MD dan TJI tanpa ada persiapan yang mumpuni dari TJI sendiri.

Jadi pada stage pre launch hal-hal major yang harus dilakukan adalah:

1. Redefining Value – Segmentasi, Targeting dan Positioning

2. Creating the Value

  • Product, rasa, packaging dan variasi produk
  • Price, penentuan harga baik secara satuan maupun secara paket-paket termasuk pemilihan menu-menu yang akan menjadi unggulan
  • Place, perubahan lay out, suasana serta pemasangan identity brand untuk menghapus suasana MD dan memperkenalkan suasana yang benar-benar baru bagi customer
  • Promotion, pemilihan template dari media komunikasi di toko seperti banner, hanging poster, flight change, neon box, road sign serta persiapan untuk channel komunikasi yang terpilih

3.Persiapan hal-hal Operasional

  • ReTraining, mengenalkan value baru ke seluruh staff mulai dari CEO hingga ke Cleaning Service.
  • ReShaping the Operational Manual, ini untuk memastikan standarisasi setiap toko sudah sama dan berjalan sesuai dengan koridor yang diinginkan.

4.Membangun Head Office (HO) dan New Structure

  • HO merupakan jantung dari Retail. Karena ini adalah pusat koordinasi serta dirigen yang mengelola semua aspek pendukung operasional toko. Membuat HO yang tangguh baik secara administrasi dan support akan membuat toko-toko bisa memberikan value yang diinginkan ke customer.
  • New Structure, ini termasuk dalam penggantian penyebutan jabatan terutama dalam lingkup store. Ini diperlukan untuk memastikan agar semua karyawan memang sudah masuk ke value yang baru tanpa ada beban dari yang lama

Pada intinya fase ini adalah fase pembangunan infrastructure untuk menghadapi masa puncak saat launch.

B. Launch

Nah ini adalah saat-saat yang dinantikan. Pada tahap ini, kegiatan yang lebih banyak dilakukan berada pada posisi Delivering Value dan Communicating the Value.

Program Integrated Communication sangat berperan sekali. Terutama hal-hal yang bersifat gebyar atau memancing perhatian baik dari customer dan media. Ingat untuk bisa memiliki kapling di kepala customer yang padat maka harus ada moment yang sangat berkesan dan membekas. Untuk tahap pertama maka program-program gebyar seperti buka toko serentak, dan crowd yang muncul dari hasil pengumpulan data serta sejenisnya akan sangat kuat sekali untuk membangun kapling di kepala customer.

Masa launch adalah masa Delivering Value, jika fundamental yang dipersiapkan pada masa pre-launch well prepare, maka kegagalan penyampaian value akan semakin berkurang atau kecil atau tidak fatal. Berbeda dengan FMCG yang bisa dilaunch secara terbatas, retail store tidak mengenal itu. Saat toko sudah dibuka artinya sudah ready 100% untuk semua yang dijanjikan.

C. Post Launch

Pada periode ini, sudah langsung ke masa Maintaining Value. Feed back yang terjadi pada masa Launch harus segera diresponse dan ditanggapi dengan baik. Monitoring atas viral response baik secara personal complain maupun via media harus dipantau.

Inilah perlunya HO yang sudah siap. Karena hal ini akan dimonitoring oleh HO sebagai supporting. Sedangkan store akan menjadi garis depan dalam menghadapi resiko yang terjadi.

Kondisi seperti sekarang yang langsung opening dengan apa adanya menjadikan image yang buruk untuk TJI. Apakah customer anda membeli produk anda dengan apa adanya? Apakah apa adanya ini merupakan delivering value dari tag line TJI “ Better Than That One”? Ma’af letak betternya dimana?

Retail adalah service industry dan service itu berkaitan erat dengan pengalaman. Semua pengalaman yang buruk diingat lebih lama daripada pengalaman yang baik. Jika ini sudah tertanam di benak mereka, jika mereka sudah kecewa dengan apa yang ditawarkan, jika mereka sudah memutuskan untuk tidak membeli kembali produk kita dan jika mereka sudah mengajak teman-teman mereka untuk tidak membeli produk kita, apalah artinya tutup 3 – 6 bulan dibanding tutup selamanya?

To be the Better One require Better Marketing Plan.

Customer for Suspect or for Respect? (080609)

Customer for Suspect or for Respect?

98009516_cbdcfa4ad0_oSudah 2 mingguan ini Marketing Club (milis para marketer terbesar dan kredibel diIndonesia ini) membahas tentang kasus Prita vs Omni (saya singkat saja ya agar saya ga dituntut hehehehe – just kidding). Saya tidak akan bahas casenya, biarlah waktu dan hukum yang bercerita lebih detail. Saya akan cerita dari sisi Marketing & Operation Knowledge.

Apa sih yang kita lihat disini? Terlepas dari motif sebenernya atau fakta yang ada, maka jelas ada api ada asap, ada sebab ada akibat. Ada complain berarti ada yang tak puas. Nah ketidakpuasan adalah gejala yang keluar dari selisih antara apa yang diharapkan dan apa diterima – dari sisi konsumen, atau apa yang dijanjikan dan apa yang diberikan – dari sisi principal.

Sedikit refresh ttg basic Marketing, Semua kegiatan Marketing ditujukan untuk menciptakan hubungan antara customer dan produk kita via brand. Untuk apa? untuk membuat sebuah permintaan yang bersifat jangka panjang dan terus menerus, sehingga kita tidak lagi hanya bicara tentang produk sebagai pemuas kebutuhan namun sudah bicara sebagai bagian dari kebutuhan itu sendiri.

Nah agar itu bisa terjadi, kita selalu memberikan apa yang kita janjikan yang biasa kita sebut sebagai Positioning kita yang akan disampaikan dalam bentuk eksekusi via Marketing Mix + USP. Agar semakin terikat maka kita juga menciptakan nilai-nilai dari brand kita untuk bisa mengikat secara holistic, yaitu Pikiran (Segmentasi, Targeting & Positioning), Pasar (Marketing Mix) dan Hati (Value of Brand).

Kombinasi dari ketiga hal diatas (Pikiran, Pasar dan Hati) akan merubah kebutuhan sesaat menjadi sebuah sikap loyalitas atas brand.

Hmm.. okay ketemu ya benang merahnya.. semoga bisa lihat keterkaitannya. Jadi kembali keparagraph dua diatas, Komplain itu punya dua sisi, Hate It or Love It. (Saya tidak akan bahas disini, tapi silahkan klik link ini untuk membaca tulisan saya ttg ini). Artinya jika kita sebagai marketer berpegang bahwa tujuan kita adalah untuk membangun Loyalitas, maka Complain harus dilihat dari sisi Love It.

Okay, let’s move to deeper analysis. Syarat agar ada loyalitas, maka Brand itu harus punya Perceived Value yang tinggi. Kenapa Perceived Value? Karena itu adalah nilai ratio dari apa yang kita berikan dengan apa yang diterima oleh Customer. Kepuasan konsumen dilihat dari nilai itu bukan? Nilai kepuasan datang dari semua aktifitas brand atau dari semua titik hubungan brand dengan customer.

Brand itu sendiri jika kita lihat secara holistic terdiri dari Apa yang Kita Lihat seperti Logo, Toko, Iklan dan semua hal yang berinteraksi langsung dengan customer termasuk karyawan toko dan SPG, sedangkan satu lagi adalah Apa yang Kita Tidak Lihat yaitu semua hal yang menjadi pendukung dari semua interaksi tersebut mulai dari Orang Pabrik, Accounting, Mesin, HR Departemen, Laboratorium hingga semua proses yang mengiringinya.

Banyak Marketer sukses membangun sisi Apa yang Kita Lihat (Front) dan menghadapi banyak komplain di lapangan karena lupa ttg Apa yang Kita Tidak Lihat (Back). Kejadian yang dialami oleh Prita diawali oleh masalah sisi Back yang kemudian berkembang pada response yang kurang baik dari sisi Front. Hasilnya? 2 Mingguan ini semua media membahas kejadian ini. Apa yang didapat? Emang kalo menang dapat apa? Kebanggaan karena kita berhasil membuktikan bahwa kita benar dan tidak salah serta Customer tersebut pantas dipenjara atas sebuah pemicu dari Back side kita?

Huff… calm down, let’s continue the Marketing Side..

Pernah nonton Flight Plan? Yup you should watch that movie. Film itu bercerita ttg bagaimana satu orang menghadapi public dengan semua fakta yang justru menghakiminya. Bukan maen effort yang dibutuhkannya, mungkin mustahil itu bisa berakhir happy ending jika bukan di film. Begitu juga kita sebagai Marketer, kita bisa berkelit dengan semua hal yang mendukung kita untuk membuat customer kita sebagai Suspect. Namun pertanyaan yang kita harus jawab adalah Apa itu yang kita mau? Apa itu Nilai yang terkandung dalam brand kita?

Menempatkan Customer dalam posisi Suspect membuat kita selalu berusaha bersikap defensive atas semua feed back yang mereka berikan. Kita berpikir bahwa semua proses kita adalah yang paling benar dan sempurna. Dan jika pun demikian, sikap defensive akan membuat kita kembali ke zaman dulu dimana kita membuat produk tanpa perduli apa feed back dari customer kita.

Harus diingat bahwa kita sedang berhadapan dengan dunia Persepsi, dunia dimana kita bermain dengan apa yang ada dikepala. Persepsi itu sifatnya variable, berbeda tiap orang. Dan ini kita buktikan sebagai Marketer, dimana kita bisa membuat sebuah produk yang sama persis dipersepsikan berbeda dengan strategy Positioning. Pada bagian ini, harusnya kita sudah paham bahwa persepsi itu multitafsir dan multidimensi sehingga kita harusnya akan berhati-hati bertindak. Kita boleh memenangkan mayoritas persepsi dari target market kita dengan membuktikan bahwa customer kita tersebut adalah seorang teroris dan penipu, namun tidak ada yang bisa memastikan bahwa semua customer kita akan memiliki persepsi yang sama.

So, kalo begitu apa untungnya menjadikan customer kita sebagai Suspect?

Dibawah ini adalah beberapa efek jika kita menjadikan customer sebagai Suspect dan menempatkan kita sebagai Saint alias Malaikat tanpa kesalahan atau disalahkan.

1. Paranoid Marketer

Yup, Paranoid Marketer. Semua kegiatan dibuat dengan banyak exit clause atau yang saya sebut dengan escape clause. Hehehehe iya, pintu buat melarikan diri dengan alasan yang didukung secara hukum. Kita bisa melihat marketer tipe ini dengan melihat pada bagian aturan yang sangat detail untuk melindungi dirinya dan kalo itu semua belum cukup maka ditambah dengan sebuah * (bintang) diiringi tulisan “Peraturan bisa berubah sewaktu-waktu”.

Kenapa begitu? Karena kita takut kita salah dan kita takut akan kesalahan itu sehingga kita bikin begitu banyak cara agar si customer itu sendiri yang menjadi Tersangka atau Suspect dari kekurangan atau akibat dari kita. Masa meminta tarif parkir tapi tidak mau tanggung jawab atas mobil yang diparkir. Atau masa mau memperbaiki Handphone yang kita produksi tapi dengan menyuruh customer bertanggung jawab atas semua kemungkinan kerusakan yang terjadi akibat dari (katanya) Authorized Service Center kita?

2. Cold Blood Marketer

Nah ini lebih serem, kita berubah menjadi Marketer yang berdarah dingin dimana dengan santainya kita membuat program apa adanya tanpa ada dukungan fundamental yang kuat baik secara Back ataupun Front. Karena kita bisa berlindung dengan tenang dibalik tanda bintang ajaib kita tersebut.

So kita tidak peduli betapa sengsaranya customer kita mengantri berjam-jam bahkan berhari-hari demi sepasang sandal yang turun 70%. Bahkan kita tidak peduli betapa kecewanya customer kita yang rela naik 4 kali angkot demi membeli Selected Item dengan tulisan Persediaan Terbatas yang dibandrol 50% dijamin lebih murah.

Yang lebih parah, kita malah mengukur kesuksesan kita dengan seberapa menderitanya customer kita untuk mendapatkan brand kita. Award pun diberikan untuk itu. Kebanggaan atas penderitaan dari orang yang membayar gaji kita. Aneh bin ajaib.. apa ini yang diajarkan oleh semua consultant, kampus dan suhu-suhu marketer kita?

3. Angry Marketer

angry-guypreview1Huff.. yap kita jadi sangat reaktif atas semua feed back yang diberikan oleh customer. Kalo bisa dituntut dan diseret kepenjara maka akan kita lakukan, kalo perlu suruh bayar denda ratusan juta. Atau kasarnya, siapa yang berani protes gw bikin mampus lu!

Gile, ini Marketer??? Huff… Tidak pernah ada yang berjalan baik dimasa depan dari sebuah atau banyak kemarahan. Walau marah itu perlu, tapi penyelesaian masalah dengan amarah hanya menghasilkan win – lose solution.

Okay.. itu beberapa akibat jika menjadikan customer sebagai Suspect. Dibawah ini adalah benefit jika kita menjadikan Customer for Respect.

1. Open Mind Marketer

Pertama-tama Tanda bintang itu kita buang jauh-jauh. Jika ada kesalahan dalam kegiatan kita maka dengarkanlah feed back dari customer kita. Lihat sisi baiknya, dia membantu kita untuk membuat kegiatan Marketing kita menjadi lebih baik lagi. Dia Bantu kita untuk menutup celah kesalahan dimasa mendatang.

Buka lah pikiran kita, komplain itu sehat. Itu proses harmonisasi yang akan menentukan tujuan kita dimasa mendatang, yup…. Loyalitas. Buka mata, buka mulut, buka telinga dan buka hati kita. Buka semua akses agar mereka bisa menyalurkan kekecewaannya kita. Dan pastikan mereka tau bahwa kita tidak Cuma basa-basi mendengarkan keluhannya tapi mereka benar-benar tau bahwa berguna untuk menyampaikan ke kita karena kita adalah Open Mind Marketer.

2. Caring Marketer

Nah ini dia Marketer sejati, kita sudah pikirkan apa yang akan terjadi atas promosi ini. Bukan ttg kita saja, tapi juga ttg apa yang akan dialami oleh customer kita. Kalo sudah tau bahwa barangnya sedikit, so? jangan panas-panasin mereka dong. Berikan saja dengan system Lucky Dip atau Undian. Atau kalo perlu berikan pada top loyal customer kita sebagai tanda terima kasih.

Menyayangi customer kita berarti kita menyayangi masa depan dari Brand kita bukan? Jangan anggap remeh 1 orang, karena jumlah bukanlah penentu tapi apa yang dia bisa lakukan adalah kekuatannya. Lagi pula jika dia tak berarti kenapa kita tidak berusaha membuat mereka lebih berarti? Remember, Perception is capital for Brand Image.

3. Relationship Marketer

ccp_kiersAda complain? Ajak diskusi, cari tau kenapa dan follow up. Sebagai mana open mind marketer, menjadi Relationship Marketer (RM) membuat kita sebagai sahabat bagi customer. Tidak seperti menangani complain biasa yang hanya sebagai pemadam kebakaran, tapi membangun hubungan yang lebih erat dari hanya sebagai customer.

Nah ini yang akan menjadi action dari konsep marketing masa depan yang melibatkan customer dalam pengembangan produk kita. Orang yang mengkritik kita berarti orang yang bisa melihat kekurangan kita. Nah orang-orang yang bisa melihat kekurangan kita adalah orang – orang yang kita butuhkan untuk menjadi bagian dari perjalanan perkembangan produk kita dimasa mendatang.

Begitu ada yang komplain, dengarkan dan ajak diskusi untuk membuat perbaikan. Seberapa konyolpun yang mereka katakan, hargai itu sebagai masukan. Karena jika competitor anda yang melakukan maka percayalah andalah yang akan terlihat konyol.

So? Which one are u guys? Customer for Suspect or for Respect?