Another Perspective About UKM (24.09.13)

Banyak diskusi terkait dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan akhir-akhir ini semakin hangat dan banyak action nyata yang dilakukan untuk mereka. Tulisan ini merupakan perspektif lain dalam melihat tantangan yang dihadapi pada pengusaha UKM, bukan sebagai pembenaran atau penolakan atas pendapat yang lainnya.

Mari kita samakan basic perspektif kita ya. UKM tidak terbatas hanya sekedar warteg, pengerajin, peternak, tukang jahit namun juga semua usaha yang skalanya masuk ke menengah dan kecil. Mengutip dari blog bang Yuswohadi www.yuswohadi.com

“Yang dimaksud usaha mikro adalah perusahaan yang memiliki omset maksimal Rp.300 juta dan Asset maksimal Rp.50 juta setahun. Usaha kecil memiliki omset Rp.300 juta sampai Rp.2,5 miliar dan Asset antara Rp.50-500 juta. Usaha menengah memiliki omset Rp.2,5 miliar sampai 50 miliar dan Asset Rp.500 juta sampai 10 miliar”

Dari definisi ini maka batasan UKM adalah di besaran Asset dan omzet bukan bidang usaha. Jadi Kursus, Salon, Learning Center, Advertising Agency hingga Retail Store juga termasuk UKM jika memenuhi kategori diatas.

1. UKM tidak Bankable karena kesalahan Pemerintah?

Kemampuan modal adalah salah satu hambatan terbesar bagi UKM untuk berkembang. Selain banyak yang tidak berbadan hukum ada juga yang tidak memiliki Asset yang bisa dijaminkan sebagai salah satu syarat meminjam uang di bank. Namun ada lagi factor dasar selain soal ini, yaitu Tata Kelola. Tak jarang saya temui UKM yang tidak memiliki Tata Kelola yang baik. Seperti menggunakan rekening pribadi sebagai rekening perusahaan, tidak memiliki laporan keuangan yang auditable hingga tidak memiliki NPWP padahal company tersebut sudah berbadan hukum.

Ini adalah salah satu factor UKM menjadi tidak bankable. Dan ini harusnya bisa diperbaiki dengan menerapkan Tata Kelola management yang benar. Kekurangan pengetahuan dan ketidak mauan untuk menerapkan factor Tata Kelola ini. Untuk konsep dasar Tata Kelola bisa lihat pada article yang ditulis oleh @Opsmarketer ini. Jika ini diterapkan maka sumber pendanaan modal tidak lagi bergantung dengan pemerintah dan bank tapi juga meluas ke Investor yang lebih ringan secara persyaratan.

Jadi UKM Tidak Bankable karena kesalahan Pemerintah tidaklah sepenuhnya tepat karena pengusaha itu sendiri adalah orang yang paling bertanggung jawab atas Tata Kelola perusahaannya.

2. UKM identik dengan barang Local?

Brand asing sering dianggap biang hancur nya UKM. Namun jika dilihat lebih dalam agak mengejutkan, seringkali menemukan bahwa UKM malah menjadi importir atas barang-barang yang dijualnya. Hal ini terutama di fashion industry seperti baju, sepatu, aksesoris. Sedangkan Brand asing seperti Zara, Nike malah membeli barangnya dari industry local. Agak ironis ya?

Kenapa bisa terjadi, beberapa pengusaha UKM cenderung focus ke short term sehingga pilihan mereka terhadap kompetisi adalah Pricing. Sayang sekali Pricing ini tidak hadir sebagai hasil dari Operation Management yang baik namun dari penekanan biaya termasuk dengan melakukan import. Ini bukan karena mereka sangat tradisional namun lebih karena mereka dikelola dengan pola pikir tradisional. Sementara Brand Asing melakukan kompetisi dengan mengandalkan kekuatan dari Brand nya sehingga sering sekali membuat mereka terhindar dari jebakan price war jangka pendek.

Nah ini perlunya dibantu bahwa mengejar cash flow semata akan berjalan tanpa akhir tanpa sadar puluhan tahun sudah terlewati. Nah dengan mulai disiplin membangun Brand, maka perusahaan tidak hanya bisa mendapatkan manfaat jangka pendek yaitu cash flow namun juga bisa memberikan perkembangan value added keseluruh stake holder dari supplier hingga ke customer.

Jadi UKM identik dengan barang local untuk beberapa hal seringkali meleset dan ini perlu dibantu untuk dibenahi.

3. Mall membunuh UKM?

Apapun usaha dibangun untuk berkembang, jadi yang saat ini kecil suatu saat akan berkembang membesar. Setiap usaha juga memiliki target market sendiri, ada yang mengincar segment bawah dan ada juga yang premium. Selain itu preference customer juga berkembang seiring dengan perkembangan jaman, sehingga needs boleh sama namun wants nya berbeda. Itu mengapa UKM sendiri sangatlah luas ada yang memang buka dipasar becek namun ada yang harus buka di Mall yang rapi dan modern.

Mall adalah salah satu Pusat Perbelanjaan, mulai dari pasar yang tradisional, pasar modern, plaza hingga Mall. Setiap Pusat Perbelanjaan dibangun untuk melayani segmentasi tersendiri. Dimana cerminannya terlihat dari penataan para penyewa (Tenant Mix) nya. Ada juga Pusat Perbelanjaan yang bisa dimiliki yang dikenal dengan Trade Center dengan bentuk Strata Title dimana setiap unitnya tidak disewakan tapi dibeli. Fungsi Pusat Perbelanjaan adalah membantu menarik pengunjung yang datang melalui fasilitas dan Tenant Mix yang dimiliki.

Nah UKM bisa memilih lokasi mereka berkembang dari sekedar didepan rumah hingga masuk kedalam Mall. Dimana tentu ada konsekuensinya seperti besaran nilai sewa. Dimana besarannya tergantung lokasi sewa didalam Mall, luasan serta jenis Mallnya itu sendiri.  Setiap Tenant didalam Mall mengambil target market dari orang yang datang kedalam Mall tersebut. Dengan makin menjamurnya Pusat Perbelanjaan modern maka semakin besar kemungkinan pilihan UKM berkembang.

Rantai supply chain melihat bahwa semakin besar maka semakin banyak barang yang akan dibeli. Selama itu beli dari local (baik itu Brand asing maupun local) maka akan mendorong perkembangan UKM yang menjadi supplier mereka.

Jadi apakah ada kemungkinan UKM yang mati? Tergantung jenis usaha dan target market nya dan setiap usaha perlu memperkuat fundamental kedalam sehingga saat berkembang tidak mudah goyang dan jatuh. Sebagaimana Manusia, Tua itu sudah pasti namun Kedewasaan adalah pilihan. Dan bagi UKM umur pasti bertambah namun membangun Brand adalah pilihan!

Ada banyak komunitas dan gerakan untuk belajar mulai dari @MarketerClubber @MemberiID hingga Learning Center yang memang focus untuk jasa pendidikan seperti @Opsmarketer . Yang penting adalah perlunya untuk menambah pengetahuan dan wawasan sehingga UKM tidak lagi seperti orang tertinggal tapi memang selalu bisa beradaptasi dengan kemajuan. Ingat ga harus jadi segalanya untuk memenangkan persaingan yang perlu adalah menjadi Unik adalah kunci utama. 7 (tujuh) P : Product, Price, Place, Promotion, People, Process dan Physical Evidence bisa diulik dalam menemukan yang terbaik untuk menjadi pilihan utama Target Market nya.

Hmm gimana? Gpp kalo ada pendapat yang beda, ga harus setuju sehingga ga perlu protes dan marah-marah. Just share your opinion and lets have a very good diversity of thought

Advertisements

The Power of Joint Promotion as Low Activation Cost (16.09.10)

The Power of Joint Promotion as Low Activation Cost

Seringkali kita mendengar cerita tentang Activation Event (AE) yang diselenggarakan oleh brand-brand. Beberapa diantaranya sangat megah sekali ada juga yang punya nafas panjang maklum bikinnya di 24 kota diseluruh Indonesia dengan bejibun artis-artis ternama.

Hmm betapa beruntungnya temen-temen kita yang kerja disana, dimana mereka punya resources yang lebih dari cukup untuk membuat AE seperti diatas. Pertanyaan yang sering muncul adalah Berapa besar budgetnya? Wuaaaa yang jelas seluruh budget diakhiri dengan huruf “M” atau “ratusan juta” ckckckckckck

Okay, nah sekarang kan juga lagi trend dengan yang namanya Low Cost Marketing (LCM). Walau secara definisi bisa ditarik-tarik kemana-mana namun secara umum ukuran LCM ini menjadi dua:

    1. Nominal Low Cost

    Yaitu secara nominal rupiah angka budget marketing spendingnya bernilai kecil. Dimana yang dibandingkan adalah angka nominalnya.

    Contoh:

    Brand A & Brand B sejenis dan berada dalam satu kategori dan segmen market yang sama.

    Brand A spend Rp. 5 juta, Brand B spend Rp. 10 juta.

    Nah ini berarti brand A secara nominal memiliki Lower Marketing Cost

    2. Percentage Low Cost

      Yaitu secara ratio Cost nya bernilai kecil. Dimana yang dibandingkan adalah ratio cost nya. Dan sebagai pembanding umumnya adalah revenue/sales. Namun ada juga yg lebih spesifik yaitu dengan membandingkan Incremental Sales.

      Contoh

      Brand A spend 5 juta dengan sales 10 juta = 5/10×100 = 50%

      Brand B spend 10 juta dengan sales 40 juta = 10/40×100 = 25%

      Nah ini brand B secara percentage memiliki Lower Marketing Cost

      Hmmm seru ya, dari sini kita sudah mulai menyamakan persepsi ya. Nah sekarang kita bahas tentang judul kita yaitu Joint Promotion as Low Activation Cost.

      Tulisan ini merupakan sharing pengalaman tentang bagaimana melakukan activation cost secara maksimal dengan biaya minimal namun dengan mutual benefits jadi bukan ala oknum retailer yang “memeras” para supplier nya untuk bayarin semua biaya promotion costnya ya.

      Saya cerita sedikit tentang salah satu requirement penting sebagai marketer handal yaitu Relationship and Networking (RaN). Requirement ini merupakan asset yang seringkali terlupakan. Bahkan jika ingat pun, kita masih sering mengedepankan ego brand atau company kita dalam berhubungan dengan RaN kita.

      “ma’af bro lu ada budget berapa?” atau “ma’af bro brand gw ga bisa join ama brand lu beda banget, kita maintain image nya” dan masih banyak lagi yang disampaikan…

      Kita tidak bisa salahkan sahabat-sahabat kita itu, karena memang hukum alam, tidak ada kesempatan yang bisa dilihat jika anda tidak butuh dan selama punya resources kenapa harus joint dengan brand lain? Padahal jika kita liat program mereka, semua nya mereka bayar dengan biaya mahal, kenapa tidak dengan kita ya? Huffff….

      Bayangkan jika kita ingin membuat AE disebuah sekolah untuk brand kita. Dan dibawah ini adalah kebutuhan kita untuk event tersebut:

      1. Pengisi Acara
      2. Goody Bag
      3. Booth untuk meramaikan
      4. Hadiah kompetisi

      Secara normal biaya yang kita keluarkan untuk event diatas menjadi lumayan banyak bukan? Nah sekarang bayangkan dengan mulai membuka phone book kita dan start calling:

      1. RaN yang pegang kursus music
      2. RaN yang punya brand Sosis, Permen dan Tissue
      3. RaN yang pegang kursus music, sosis, permen dan tissue tadi diajak buka booth
      4. RaN yang pegang retail tempat bermain atau voucher-voucher dari point 1&2 juga bisa diberikan

      Nah dari hal ini, somehow kita malah bisa spread kita punya activation budget untuk beberapa event bukan? Kenapa bisa begitu? Karena ada 4 brand (kursus music, sosis, perment dan tissue) yang patungan bersama untuk membuat event ini makin ramai dan ramai. Amplifikasinya? Bisa dikali 4 tuh.. maklum hari gini banyak brand yang punya FB, Twitter dan tinggal kompakan untuk amplify barengan bukan?

      Hufff… wow seru ya! Kalo udah begini, kira-kira masuk mana? Nominal or Percentage Low Cost? Atau malah dua-dua nya? Hmm…

      Dibawah ini adalah beberapa Tips untuk ini Joint Promotion adalah:

      1. Mutual Benefits

      Joint bisa terjadi jika kita bisa menemukan titik temu atas kebutuhan bersama. Nah untuk itu lihat kembali kita punya event dan lihat bagian mana yang RaN kita bisa manfaatkan sehingga bisa saling mendapatkan benefits.

      2. Zero Ego

      Eleminasi ego kita, jangan mentang-mentang brand kita multinasional bahkan internasional maka kita bahkan tidak mau berbagi exposure dengan RaN kita. Tekan ego kita dan mari berdiskusi dengan mereka untuk berbagi benefit. Seperti diperbolehkan untuk buka booth di area prime, ada brand exposure dari brand mereka. Tak pelit untuk minta MC sebutkan brand-brand mereka.

      3. Long Term not Short Term Relationship

      Stop berpikir “gw dapet apa” namun mulai berpikir “in the future gw bisa joint apa”. Pikirin ini bisa merubah pendekatan kita dari Short Term yaitu call them di kala butuh menjadi maintain relationship (Long Term). Dengan demikian kita mungkin akan balik bantu mereka saat mereka butuh kita. Atau kita akan rekomen brand mereka ke RaN kita yang lain. Wah wah wah seru kan?

      Konsep ini merupakan esensi dari The Power of Joint Promotion. Relationship and Networking (RaN) harus menjadi pilar kita sebagai marketer dalam beraktifitas. Karena brand itu adalah object dari kegiatan dan kita adalah subject nya. Mari mulai koneksikan diri kita dengan semua RaN kita dan dapatkan extra Power untuk Brand yang kita kelola sekarang.

      Seperti lagu Michael Jackson “You are not Alone”

      2009, Time for Operation Marketer? (21.02.09)

      2009, Time for Operation Marketer?

      productivityWah.. istilah apa pulak ini? Hehehehe bukan latah bikin istilah ya.. hanya pemikiran setelah membaca sebuah posting dari salah satu Marketer di milis Marketing Club. Yup.. saat budget semakin shrinking, what should we do? Masih mau pake strategi yang lama atau mau ganti strategi?

      Secara umum, saat sales (Top Line) semakin susah akibat dari daya beli yang menurun, kompetisi yang semakin ketat serta semakin tumbuhnya para new challenger, maka pilihan berikutnya adalah bertahan dan perlahan berkembang. Pada periode ini, Profit (Bottom Line) jadi jauh lebih penting dari sekedar peningkatan Top Line. Apalagi jika peningkatan itu disertai peningkatan Cost (Middle Line) yang significant.

      Nah jika sudah begini, apakah program pengembangan Brand harus berhenti? Apakah seluruh kegiatan harus directly menghasilkan sales? Apakah event-event jadi terlihat mahal sekali?

      Konsep Operating Excellent (OE) sebenernya bisa diimplementasikan sebagai Marketing Excellent (ME). OE menekan kan pada peningkatan value added dengan menghilangkan non value added activity (waste), mengurangi kerusakan (defect), serta meningkatkan produktifitas. Banyak strategy yang mereka lakukan dalam kerangka strategy besar – Total Quality Management (TQM).

      TQM sendiri terdiri dari banyak tools, mulai dari Lean, Six Sigma, Balance Score Card hingga Gugus Kendali Mutu (GKM). Pertanyaanya, mungkin ga sih kita adopsi strategi ini dalam strategi Marketing? Yah kira-kira hasil perkawinan ini menjadikan kita sebagai Operation Marketer lah hehehehhe

      Kita bahas yuk!

      Eliminate Waste,

      colored-waste-watcher-canAda ga sih non value added activity dalam kegiatan marketing? Nah Loh.. coba lihat lagi, kegiatan yang dianggap waste, seperti:

      Rework, alias mengerjakan ulang. Ini bisa akibat salah brief, salah design atau salah order. Hmm terlihat sepele memang, padahal implikasi rework ini bisa sangat significant. Rework atas printing full colour ukuran A4 misalnya.. kalo Cuma 1 design ya mungkin tak begitu terasa, tapi pernah ga hitung jumlah dan nilainya jika ditotal selama 30 hari x jumlah yang di rework? Ini baru berupa bahan printing, lah kalo berupa banner? Kalo berupa merchandise? Kalo berupa cetakan voucher?

      Kegiatan rework itu meningkatkan biaya dan memperlama waktu. Kebayang dong multiplier effect nya jika rework tersebut menyebabkan semua deadline jadi mepet? Mulai dari transportation cost, lembur hingga tenaga bisa habis buat itu semua. Emang jadi marketer hebat artinya ga tidur saat event? Aduh udah kuno kali ya mas hehehhe

      Eliminate Superfluous Phase,

      Dalam keadaan sebelumnya, melakukan beberapa system dan strategy yang kita miliki merupakan tindakan yang sangat disarankan. Hal ini karena menyangkut tingkat keberhasilan dari program itu sendiri. Namun disaat semuanya terbatas, maka hal diatas malah terlihat berlebih-lebihan (superfluous).

      Mungkin sudah saatnya memetakan kembali titik pemasangan display kita di outlet, terutama yang perlu bayar dan harus di maintain. Too Many Wobblers there or may be you need re organize your SPG team in Modern Market. Baik secara jumlah dan tugas tanggung jawabnya.

      Kegiatan-kegiatan ini akan lebih terlihat mengutamakan yang punya direct relation ke tujuan kita dengan mengurangi atau menghapuskan “aksesoris” dari proses tersebut. Dalam hal ini, semua hal dilihat dari Produktifitasnya bukan dari Completeness of Process.

      Create, Implement and Establish Standard Operating Procedure from all Our Marketing Activity…

      Yap! Beberapa mungkin alergi dengar kata SOP. Hehehhe come on, semuanya punya step bukan? Beberapa tips:

      1. Kenali Flow Process

      Lihat sequence dari setiap process, sebelum launch itu kita harus lakukan apa? Bikin standardnya, bikin policy nya dan buat measurementnya. Ini akan membantu mengeleminasi waste. Sehingga bisa mengurangi rework akibat kelalaian manusia. System akan lebih menjaga konsistensi hasil dari pada bergantung sepenuhnya kepada manusia.

      2. Standarisasi semua dokumen dan activity

      sop_bookcoverRole Out Model kata temen saya. Jadi jika next time ada mau buat acara lagi. Kita tinggal buka manualnya. So semuanya lebih terarah dan lebih cepat hasilnya. Mulailah punya dokumen atas standard kegiatan ini. Jangan alergi dengan beginian. Ini akan mempermudah kita dimasa mendatang.

      So Jika sudah berhasil mengenali Flow Processnya, maka tulislah dokumentasinya. Setiap Arus aktifitasnya, pastikan anda mengenali juga arus balik dokumen nya.

      At all, as Operation Marketer mulailah berpikir atas produktifitas. Pedulilah dengan besaran ratio biaya dengan hasil. Jika anda sebelumnya punya budget 50 milyar dan menghasilkan sales 700 milyar.. sekarang challengenya adalah bagaimana dengan sales tetap 700 milyar tapi costnya jadi sisa 40 milyar. Atau sebaliknya cost tetap 50 milyar tapi salesnya jadi 900 milyar. Dan jika Sales akan turun, maka pastikan bahwa penurunan biaya jauh lebih besar dari penurunan Sales.

      Okay memang ada biaya fix, tapi juga punya biaya variable bukan? Mulai dari yang paling mudah dikontrol sampai dengan yang paling sulit. Tetap mengacu ke objective sambil mengedepankan Productivitas. Improves the Result with less Effort.

      Marketer, Let’s start the engine!

      2009, Time for Operation Marketer?