How to Improve Your Personal Productivity?

Sering ga sih kita merasa ribet dengan kerjaan kita belum lagi kita begitu mobile sehingga sering terlewat dokumen-dokumen entah itu kerjaan atau bahkan yang Pribadi. Atau kita pernah ga sih kesulitan mengelola kegiatan kita baik kerjaan maupun personal?

Keadaan diatas sering berakhir entah itu ribet sendiri, kececer atau kalo menyangkut kerjaan bisa diomelin. Paling kata Pamungkas kita adalah “maklum bos, namanya juga anak lapangan, admin-admin susah bos, ga sempet”. Sialnya, hal begini bisa membuat kita lembur dikantor berjam-jam sampe tidak terasa kita itu sudah bekerja nyaris 18 jam sehari selama seminggu bahkan sebulan atau bahkan setahun tanpa terasa.

Saya juga terkadang ketemu dengan Generasi yang katanya so mobile dan techie sekali. Namun begitu berurusan dengan mereka seringkali teknologi malah tidak terlalu maksimal mereka pake. Sehingga mereka hanya berakhir dengan lokasi Kerja nya saja yang tidak dikantor tapi kegiatan kerjanya masih dominan tradisional nya.

Setahun ini, saya mendorong diri saya untuk paperless, yup paperless! Saya berusaha untuk tidak membawa dan menyimpan kertas-kertas Kerja, termasuk tidak membawa lagi buku catatan alias notebook. Hasilnya? Wah asyik banget! Saya sudah tidak perlu lagi bawa tas gede untuk nyimpen map dokumen. Dimana client-client saya di Opsmarketer juga saya dorong untuk paperless. Dari mulai invoicing, absensi training, perjanjian consulting hingga sharing training document semuanya tanpa kertas yang dicetak alias paperless.

Bagaimana sih memanfaatkan Teknologi untuk produktifitas Pribadi?

  1. Maksimalkan Smartphone

Ditangan anda minimal memiliki 1 unit smartphone bukan? Minimal android deh. Nah disini anda bisa manfaatkan beberapa apps yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan produktifitas.

  1. OneNote, apps ini sangat powerful untuk mengganti buku catatan kita bahkan meningkatkannya menjadi lebih maksimal lagi mengingat tidak hanya berupa catatan dari ketikan kita, namun bisa dikolaborasi dengan video dan audio recording, memasukkan link dari web, youtube, hasil foto camera, document file hingga task management.
  2. OneDrive, apps ini merupakan cloud storage yang menyenangkan. All files bisa disimpan disini. Termasuk bisa di share ke orang lain. Yup! Ini yang bikin saya so paperless, document yang saya terima jika dalam bentuk kertas, saya scan pake apps OfficeLens dan otomatis tersimpan di OneNote dan OneDrive saya. Persis kayak nyelipin kertas di buku catatan, hanya saja ini seperti membawa seluruh bundle document kemana-mana
  3. Outlook, apps ini merupakan email management, dimana kita bisa masukkan dari email personal seperti yahoo, gmail hingga ke email kantor. Sangat mudah digunakan namun sangat powerful
  4. Office, ini masih merupakan apps paling produktif sampai saat ini. Baik itu Word, Excel maupun Power Point nya. Install apps ini bikin kita bisa melakukan editing hingga mobile presentation dimana saja kapan saja. Karena selain bisa dilihat via cloud dengan menggunakan koneksi internet, juga bisa kita download ke smartphone storage kita. Yang menarik adalah di office 2016 terbaru, dengan fitur collaboration nya, kita bisa Kerja bareng secara bersamaan mengedit dan mengerjakan dokumen yang sama dan begitu selesai semua orang sudah dapat the updated version nya.
  5. Skype, apps ini tidak hanya berguna untuk video call, namun juga dari fungsi chatting, video conference hingga transfer document secara langsung.

5 (lima) apps diatas ditambah dengan OfficeLens, sudah bikin smartphone kita jadi sangat powerful bukan? Walau tidak begitu nyaman bekerja di ukuran layar yang kecil, namun smartphone membantu kita disaat-saat mobilitas sangat diperlukan.

  1. Maksimalkan Tablet, Laptop atau Surface anda

Jika ada memiliki rejeki lebih, maka tools ini sangat disarankan untuk anda beli sebagai tools untuk membantu meningkatkan produktifitas anda. Dan jika sudah disediakan oleh kantor maka mari gunakan lebih maksimal lagi.

Untuk Tablet, maka pastikan anda install apps diatas, sedangkan untuk Laptop dan Surface, maka anda bisa install program versi desktop nya atau jika karena merupakan laptop kantor sehingga ada larangan install, maka bisa gunakan versi web nya.

Hal yang menyenangkan dari apps diatas adalah semuanya free kecuali Office, dimana untuk advance fitur anda harus subscribe ke Office 365. Namun saya rekomendasikan anda untuk subscribe minimal yang personal package. Dan ini akan memaksimalkan seluruh fitur diatas termasuk mendapatkan versi desktop dari Office 2016 terbaru secara gratis.

Setelah semuanya di install, mulailah dengan membuat catatan di OneNote, sharing file di OneDrive, working on Office, manage email via Outlook sambil mengerjakan document secara kolaborasi via Office dan Skype.

Enjoy the technology guys!

Indonesia Tidak Kekurangan Pengusaha & Kampus Tidak Salah Didik (02.09.13)

Disaat ekonomi Indonesia mengalami krisis, banyak pakar mengatakan Indonesia langka pengusaha. Ada juga yang bilang kampus-kampus kita tidak mendidik seseorang menjadi pengusaha. Kampus penuh dengan teori dan jauh dari praktek lapangan. Pertanyaan saya separah itukah Indonesia?

Jika setiap perempatan ada pedagang asongan, setiap masalah di sebuah kota adalah PKL, setiap jalanan penuh ruko, setiap perumahan mulai menulis “Dilarang dijadikan tempat berjualan” , setiap Broadcast BBM, Notifikasi FB Path hingga Instagram dipenuhi dengan online store, setiap perempatan ada restoran padang, pertanyaannya Pengusaha seperti apa sih yang kita krisis?

Terus apa kampus ga boleh didik karyawan? Apa seluruh mahasiswa harus jadi pengusaha? Jika tidak, perbandingan seperti apa yang disebut ideal? Kenapa pengusaha selalu dianggap lebih baik dari karyawan? Karena menciptakan lapangan kerja? Buat siapa? Pengusaha baru atau Karyawan juga? Apa Karena banyak pengangguran? Ini pengangguran karena lapangan kerja sedikit atau karena pengusahanya cenderung seneng import dari pada bikin di Indonesia? Nah Loh!

How about me? Saat menulis tulisan ini saya masih hunting job! Dan sambil hunting saya lagi bangun mimpi saya untuk punya learning center dan sekarang masih dirintis namanya @Opsmarketer . Kok bisa saya bikin usaha? Pertama karena saya sekolah disekolah umum terus kuliah di fakultas ekonomi trus dapat kerja, beberapa kali tour of duty dan move ke beberapa perusahaan trus ambil kuliah S2 dan here I am. Ilmu yang saya punya membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan, dimana saya jadi bisa mendapatkan dua hal : pengalaman kerja dan uang untuk hidup dan untuk sekolah lagi. Nah karena pernah sekolah dan kerja akhirnya saya bisa punya kredibilitas dan kemampuan untuk memulai mimpi saya membuka learning center walau masih tahap awal. Kalo ga gimana saya bisa ngajar kalo ga pernah sekolah atau ga pernah kerja?

Nah balik lagi pertanyaannya apa bener Indonesia kekurangan pengusaha? Atau itu karena “kesalahan” pendidikan? Atau karena Pemerintah kita yang ga becus? ß ini kambing hitam yang selalu dipake atas seluruh kegagalan di negeri ini. Karena buat saya itu ungkapan yang terlalu pengecut buat bilang salah saya!

Ini pendapat saya, tentu saja boleh setuju dan boleh tidak. Dan untuk ke tidaksetujuan atas pendapat saya, ga perlu maksa dan berdebat sama siapapun supaya setuju. Karena itu juga ga penting buat saya. Jadi silahkan ya kalo mau ungkapkan pendapat yang penting ga perlu maki-maki orang karena siapapun ga lebih pinter dari siapapun.

Indonesia ga kekurangan pengusaha & Kampus juga tidak salah didik.

Saya bahas ya..

Indonesia Tidak Kekurangan Pengusaha

Jika membuka sebuah usaha disebut pengusaha maka Indonesia sama sekali tidak kekurangan pengusaha. Namun jika pengusaha diukur dari kemampuan mengembangkan stake holdernya tidak hanya share holdernya maka saya bisa bilang masih banyak yang jadi pedagang.

Itu kenapa setiap pelatihan pengusaha yang dilatih adalah buka usaha tanpa modal, cenderung pake trust dan mendorong jadi trader atau makelar. Trus, mental oportunis dan pragmatis jadi idola, itu mengapa Franchise jadi berantakan malah Business Oportunity yang banyak diraih karena mau langsung gede tanpa effort besar. Atau malas usaha untuk membangun rantai supply yang comprehensive dan memilih import.

Bahkan lebih suka price war dari pada perang added values, karena maunya cepat jual cepat cuan. Soal bagaimana bisa murah itu urusan China termasuk ngemplang pajak, nyeludupin barang, nginjek tenaga kerja dan lain lain.

Nah ini pendapat saya perlu diberikan diskusi yang baik tanpa merendahkan juga tanpa menyudutkan karena bisa jadi semua dilakukan karena tidak tahu bagaimana sebetulnya membangun usaha yang baik untuk seluruh stake holder bukan hanya share holder.

Komunitas seperti Marketing Club, Tangan Diatas serta komunitas Memberi bisa jadi corong untuk membangun virus ini keseluruh orang. Mengingat isinya adalah orang-orang yang punya credibilitas untuk memberikan masukan serta pandangan.

Pertanyaannya pada mau dukung atau tidak?

Kampus Tidak Salah Didik

Kampus menghasilkan karyawan bukan pengusaha. Pendapat saya itu tidak benar. Karena menjadi pengusaha itu pilihan bukan pekerjaan. Kampus memberikan ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha dan menjadi karyawan yang mumpuni. Trus kalo ada yang bilang banyak ilmunya yang ga kepake dilapangan, saya malah balik Tanya, itu ga kepake karena ga ngerti cara pakenya, ga mau make nya atau karena emang ilmunya yang salah???

Mayoritas  pendapat saya di bagian ga ngerti dan ga mau. Lihat aja ajaran buat buka usaha “buka aja dulu soal berhasil apa nggak itu urusan nasib” atau “ga usah banyak dianalisa, konglomerat A dulu ga sekolah ga pake mikir juga jadi kaya raya” atau “ahh..teori mas..dilapangan ga gitu” dan banyak lagi.

Coba kalo mau duduk sebentar trus lihat apa yang akan dibuat trus apa yang ada di market trus apa yang akan kita offering. Nah itu sudah make ilmu dikampus! Trus bikin laporan keuangan, itu juga ilmu dikampus. Mana ilmu yang ga ada dikampus? Ilmu ngeles? Ilmu ngemplang pajak? Ilmu makelar? Ilmu mana?

Dari saya yang perlu kampus lakukan adalah mengajak yang mau bikin usaha, pengusaha dan karyawan datang kekampusnya sehingga ilmu yang dimiliki bisa diakses sama para mahasiswa ini. Dengan cara apa? Memberikan ruangan atau fasilitas yang mereka bisa gunakan untuk berkumpul. Modalnya murah kok, kasih wifi yang kenceng, listrik dan bangku. Makan minum mereka akan beli. Syaratnya satu, setiap yang mau pake wajib sharing memberikan gambaran usahanya atau pekerjaannya. Nah dari sini, para mahasiswa akan melihat usaha apa saja yang didunia usaha dan dosen memberikan tips bagaimana ilmu itu digunakan didunia usaha.

Community Hub seperti ini yang perlu dibangun. Campus Community Hub! Jika dilakukan dibanyak kampus maka banyak ilmu yang bisa diakses serta banyak case study yang bisa didapatkan. Kampus tidak rugi sama sekali, karena paling tidak kampus jadi punya Database dan awareness atas nama lembaga dan programnya. Bahkan bisa “jual” workshop untuk mereka agar makin bisa menjalani usahanya.

So that’s my opinion.. what do you think guys?