Kapan Sih Waktu Yang Tepat Untuk Membangun Brand? (27.08.13)

Kita sering sekali mendengar pertanyaan diatas ya, ” Kapan sih waktu yang tepat untuk membangun Brand?”” Hayoo, kira – kira kapan? Atau mungkin pertanyaannya bisa kita balik dengan “Adakah waktu yang tepat untuk membangun Brand?”

Dalam kegiatan professional dan sebagai Inhouse trainer & Consulting di @Opsmarketer, saya sering mendengar para owner berkata, “wah kita masih perusahaan kecil, jangan dibandingkan dengan google apalagi coca cola”. Trus saya Tanya ke mereka memangnya udah berapa usia perusahaan anda ini? Jawabannya sangat mengejutkan, puluhan tahun!!! Wow saya ampe takjub hahahahahahaha padahal google baru belasan tahun.

Kemana aja pak selama puluhan tahun? Masih belum siap? Pantes masih sibuk kejar cash flow melulu. Hehehehe maaf bukan nyolot ya. Tapi mari anggap sebagai wake up call cuman rada keras volume nya 

Brand itu dibangun tidak instan namun butuh proses, konsistensi, komitment serta usaha yang berkelanjutan. Itu artinya jika sudah berumur puluhan tahun harusnya kita sudah punya strong brand bagi usaha kita. Karena itu waktu selama itu mestinya sudah banyak yang bisa kita buat untuk membangun Brand.

Brand itu sendiri jika dibagi 2 (dua) maka secara umum terbagi atas:
Part You Can See,
Nah ini bagian yang banyak orang lakukan dan pahami kaitannya ke brand. Sayangnya banyak dilakukan parsial. Part You Can See adalah semua hal yang bisa dilihat, disentuh dan dirasakan oleh pelanggan. Seperti Iklan, suasana store, seragam, sales promo, kualitas produk dan keramahan senyum sapa dari karyawan. Ini ibarat rumah adalah bagian atas nya, terlihat oleh semua orang

Bagian ini secara parsial dianggap paling cepat ngasilin duit dan banyak client dan orang yang saya kenal terjebak pada bagian ini terutama cash flow short term nya. Masa bertahun tahun program nya cuman diskon dan diskon melulu??

Part You Can’t See,
Ini bagian yang banyak dianggap sepele, tak berkait bahkan terlupakan. Yaitu supporting area, seperti production, finance accounting, general affair, human resources, IT department, Standard Operating Procedure, Quality Assurance, hingga reporting.

Saking dianggap remeh nya, biasanya bagian ini isinya orang-orang boring, bahkan tidak jarang juga mereka menjadi bagian yang tidak pernah di training selain training motivasi. Sebagai contoh orang Finance bahkan ga paham apa itu brand dimana pada saat yang sama orang marketing bahkan belajar Finance for Non Finance untuk bisa memahami sudut pandang Finance. Tapi jarang denger kan orang Finance belajar Marketing for non Marketer hehehehehe

Ibarat rumah bagian You Can’t See adalah pondasi dasar bangunan mulai dari cerocok sampai ke electrical system yang nempel didinding rumah.

Nah Pertanyaan saya sekarang adalah Kapankah Pondasi dibangun? Saat rumah sudah jadi atau sebelum? Hahaha jawab sendiri ya 

Adakah kata terlambat untuk membangun Brand? Ada tentunya!!! namun bolehkah dilakukan walau sudah terlambat? Tentu saja! karena lebih baik terlambat dari pada tidak. Resikonya? Yaaaa bayangin aja rumah sudah jadi trus pondasi seadanya baru mau pasang kabel dan rapiin. Hasilnya pasti berantakan disana sini, ada tembok yang mesti dirobohin dan jelas so messy. Dan yang parah adalah kalo pondasi tidak dibuat untuk bangunan yang ada seperti pondasi rumah 2 lantai dibangun rumah 7 lantai. Ga herankan banyak berantakannya hanya demi menghemat dan mengulur waktu diawal?

So Kapan sih waktu yang tepat untuk membangun Brand?

Advertisements

Brand Social Media is Brand Social Life not Yours! (19.01.13)

Sekarang dengan semakin tingginya tingkat penetrasi dari smartphones dan internet membuat banyak customer (audience) yang lebih sering menghabiskan waktunya bersama gadget dari pada bersama tradisional media seperti Televisi (TV). Keterbatasan waktu, keinginan akan real Time dan lebih komunikatif merupakan faktor-faktor yang menjadi dorongan audience ini memilih media internet. Bahkan social life pun banyak beralih kedigital seperti ngobrol via skype, we chat, line, kakao, twitter atau people hub Group. Sharing seperti Facebook, Path, Instagram, Pinterest.

Trend ini sudah lama diketahui brand owner dan mereka juga sudah lama terjun mendekati para audience nya dengan membangun kedekatan via social media. Tulisan ini tidak membahas sisi strategi ini namun lebih spesifik pada cara atau perilaku interaksi brand tersebut dengan audience nya.

Apa yang menjadi panduan brand untuk bersosialisasi dengan audience nya? Tentu brand personality nya. Nah personality ini ditentukan sebagai bagian dari brand Identity secara utuh. Yang merupakan cerminan dari target market brand tersebut. Contoh : jika brand ada target audience nya anak-anak usia 3 s/d 5 tahun, tentu personality brand nya akan berbeda dengan target audience nya 17 s/d 21 tahun. Terjemahan ini tidak cuma pada tingkat Design web atau applikasi namun hingga cara berbicara selama berinteraksi dengan mereka. Nah disinilah concern dari tulisan ini yaitu cara berinteraksi brand.

Case dasarnya sering kali ditemui cara interaksi dari brand tersebut lebih cenderung sesuai dengan gaya Brand dan Marketing Manager nya atau yang lebih parah sesuai dengan gaya serta personality dari admin (orang yang bertugas melakukan posting ke social media)! Tidak percaya? Coba lihat pages (di Facebook) atau account twitter brand. Sebuah brand permen W***S pernah mempost foto makanan dengan bentuk seperti orang berpelukan. Tidak ada yang luar biasa, karena ini umum bagi kebanyakan orang namun apakah ini personality brand nya? Atau kejadian sebuah account twitter dari mall P****C P***E , sempat menjadi kontroversi karena saat musibah terjadi di mall nya sebuah twitt yang keluar malah seperti meremehkan kondisi disana. Pertanyaan adalah apakah ini response dari brand tersebut? Tentu tidak, beberapa saat kemudian mereka meminta maaf dan kabarnya Adminnya mendapatkan teguran.

Social media layaknya kehidupan, punya manners dan rules baik yang tertulis maupun tidak. Bagi brand hal ini harus menjadi perhatian. Lets see do’s and dont’s dibawah ini:

Do : Buatlah Identity dan Personality yang jelas seperti as a Contact Service or as a Human? Jika sebagai contact service maka personality tidak terlalu penting. Namun saat di wujudkan sebagai sahabat atau partner maka representasi Human lebih baik dan itu berarti Identitas seperti Gender Male, Female atau Universal, Usia juga diperlukan. Personality seperti Karakter Fun, Dynamic or Geek juga diperlukan. Tujuannya agar interaksi lebih baik dan tidak berjarak.

Dont : Saat sudah diputuskan maka konsistensi itu penting. Sebagai Contact Service, coba menyapa seperti Human dengan “morning tweeps sudah pada sarapan apa?” namun saat diajak ngobrol malah ga pernah jawab.

Do : Hindarkan mengirim updates ke social media secara spontan kecuali meresponse atas pertanyaan atau interaksi. Ingat ini adalah Brand Social Life dan merupakan salah satu media dari Marketing Communication Management yang berarti apa yang akan kita berikan harus terkait dengan thema besar dari Communication dan Brand Plan kita. Buatlah Guidelines dan selalu dokumentasikan apa yang akan dipost ke Social Media. Contoh: Guidelines, Weekdays Promotion Program Amplification dan Weekend Social Life Share. Kemudian, Buatlah minimal 3 variance berbeda atas text yang akan dipost untuk yang sifatnya pengulangan seperti informasi sales program. Ini berguna agar your brand social media tidak terlihat seperti mesin. Kemudian buatlah baik itu Word atau Excel susunan tulisan yang akan di post secara urut. Dengan ini, maka siapapun yang akan post ke social media akan punya karakter dan interaksi yang sama dengan brand kita.

Dont : Membuat Share tanpa dokumentasi, kenapa? Kemungkinan human error tinggi serta pengaruh atas emosional kita saat itu cukup besar. Dan tentu kita tidak bisa melihat tracking apa yang sudah kita share dan apa hasilnya bagi Marketing Communication Strategy kita. Dengan adanya tools seperti Chirpstory (tools untuk rekap tweet) dan Link to other social media maka apa yang kita share selalu didokumentasi siapa saja via internet. Content yang bermutu tentu sangat penting bagi brand kita.

Do : Selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan response atas complain dan feedback yang tidak menyenangkan. Kegagalan berpikir membuat response yang diberikan lebih menggambarkan emosional personal yang melakukan reply dari pada personality brand.

Dont : Membawa emosi pribadi kedalam setiap share dan interaksi di social media. Seperti judulnya Brand Social Media is Brand Social Life not Yours! Jadi stop berinteraksi seperti kita berinteraksi. Jika kita lihat bahwa ini perlu response lebih panjang, kita bisa pindahkan response kita channel yang lebih private seperti email atau phone sehingga Brand Image terjaga serta bisa solve problem nya.

Do : Kenali channel dari Social Media yang digunakan dan maximalkan sesuai dengan karakternya. Twitter untuk fast response interaksi. Facebook, Path untuk Timeline atau Memories interaksi dimana setiap response kita selalu bisa ditanggapi kapan saja dan menjadi New saat ada yang response. BBM, Line, Kakao untuk interaksi yang lebih personal dan tercluster.

Dont : Setiap Channel punya karakter serta rules. Contoh Chatting terlalu panjang di Twitter mengganggu Timeline dari related follower kita. Menuliskan too many updates dalam waktu yang sangat berdekatan di Facebook membuat Timeline dan Memories bagus hilang dengan cepat dari main page.

Diatas adalah beberapa contoh Do’s dan Dont’s dalam Berinteraksi di Social Media bagi Brand. Sehingga Brand Social Life benar-benar menggambarkan Brand dari pada diri si BM, MM atau adminnya. Satu hal yang saya tegaskan adalah Social Media adalah part of Marketing Communication dan Communication part of Marketing Strategy untuk itu selalu pastikan apa yang Brand anda bicarakan selalu punya benang merah yang jelas dengan Thema, Tagline, Personality hingga Indentitas dari Brand.

Brand Social Media is Brand Social Life not Yours Continue reading

The Power of Joint Promotion as Low Activation Cost (16.09.10)

The Power of Joint Promotion as Low Activation Cost

Seringkali kita mendengar cerita tentang Activation Event (AE) yang diselenggarakan oleh brand-brand. Beberapa diantaranya sangat megah sekali ada juga yang punya nafas panjang maklum bikinnya di 24 kota diseluruh Indonesia dengan bejibun artis-artis ternama.

Hmm betapa beruntungnya temen-temen kita yang kerja disana, dimana mereka punya resources yang lebih dari cukup untuk membuat AE seperti diatas. Pertanyaan yang sering muncul adalah Berapa besar budgetnya? Wuaaaa yang jelas seluruh budget diakhiri dengan huruf “M” atau “ratusan juta” ckckckckckck

Okay, nah sekarang kan juga lagi trend dengan yang namanya Low Cost Marketing (LCM). Walau secara definisi bisa ditarik-tarik kemana-mana namun secara umum ukuran LCM ini menjadi dua:

    1. Nominal Low Cost

    Yaitu secara nominal rupiah angka budget marketing spendingnya bernilai kecil. Dimana yang dibandingkan adalah angka nominalnya.

    Contoh:

    Brand A & Brand B sejenis dan berada dalam satu kategori dan segmen market yang sama.

    Brand A spend Rp. 5 juta, Brand B spend Rp. 10 juta.

    Nah ini berarti brand A secara nominal memiliki Lower Marketing Cost

    2. Percentage Low Cost

      Yaitu secara ratio Cost nya bernilai kecil. Dimana yang dibandingkan adalah ratio cost nya. Dan sebagai pembanding umumnya adalah revenue/sales. Namun ada juga yg lebih spesifik yaitu dengan membandingkan Incremental Sales.

      Contoh

      Brand A spend 5 juta dengan sales 10 juta = 5/10×100 = 50%

      Brand B spend 10 juta dengan sales 40 juta = 10/40×100 = 25%

      Nah ini brand B secara percentage memiliki Lower Marketing Cost

      Hmmm seru ya, dari sini kita sudah mulai menyamakan persepsi ya. Nah sekarang kita bahas tentang judul kita yaitu Joint Promotion as Low Activation Cost.

      Tulisan ini merupakan sharing pengalaman tentang bagaimana melakukan activation cost secara maksimal dengan biaya minimal namun dengan mutual benefits jadi bukan ala oknum retailer yang “memeras” para supplier nya untuk bayarin semua biaya promotion costnya ya.

      Saya cerita sedikit tentang salah satu requirement penting sebagai marketer handal yaitu Relationship and Networking (RaN). Requirement ini merupakan asset yang seringkali terlupakan. Bahkan jika ingat pun, kita masih sering mengedepankan ego brand atau company kita dalam berhubungan dengan RaN kita.

      “ma’af bro lu ada budget berapa?” atau “ma’af bro brand gw ga bisa join ama brand lu beda banget, kita maintain image nya” dan masih banyak lagi yang disampaikan…

      Kita tidak bisa salahkan sahabat-sahabat kita itu, karena memang hukum alam, tidak ada kesempatan yang bisa dilihat jika anda tidak butuh dan selama punya resources kenapa harus joint dengan brand lain? Padahal jika kita liat program mereka, semua nya mereka bayar dengan biaya mahal, kenapa tidak dengan kita ya? Huffff….

      Bayangkan jika kita ingin membuat AE disebuah sekolah untuk brand kita. Dan dibawah ini adalah kebutuhan kita untuk event tersebut:

      1. Pengisi Acara
      2. Goody Bag
      3. Booth untuk meramaikan
      4. Hadiah kompetisi

      Secara normal biaya yang kita keluarkan untuk event diatas menjadi lumayan banyak bukan? Nah sekarang bayangkan dengan mulai membuka phone book kita dan start calling:

      1. RaN yang pegang kursus music
      2. RaN yang punya brand Sosis, Permen dan Tissue
      3. RaN yang pegang kursus music, sosis, permen dan tissue tadi diajak buka booth
      4. RaN yang pegang retail tempat bermain atau voucher-voucher dari point 1&2 juga bisa diberikan

      Nah dari hal ini, somehow kita malah bisa spread kita punya activation budget untuk beberapa event bukan? Kenapa bisa begitu? Karena ada 4 brand (kursus music, sosis, perment dan tissue) yang patungan bersama untuk membuat event ini makin ramai dan ramai. Amplifikasinya? Bisa dikali 4 tuh.. maklum hari gini banyak brand yang punya FB, Twitter dan tinggal kompakan untuk amplify barengan bukan?

      Hufff… wow seru ya! Kalo udah begini, kira-kira masuk mana? Nominal or Percentage Low Cost? Atau malah dua-dua nya? Hmm…

      Dibawah ini adalah beberapa Tips untuk ini Joint Promotion adalah:

      1. Mutual Benefits

      Joint bisa terjadi jika kita bisa menemukan titik temu atas kebutuhan bersama. Nah untuk itu lihat kembali kita punya event dan lihat bagian mana yang RaN kita bisa manfaatkan sehingga bisa saling mendapatkan benefits.

      2. Zero Ego

      Eleminasi ego kita, jangan mentang-mentang brand kita multinasional bahkan internasional maka kita bahkan tidak mau berbagi exposure dengan RaN kita. Tekan ego kita dan mari berdiskusi dengan mereka untuk berbagi benefit. Seperti diperbolehkan untuk buka booth di area prime, ada brand exposure dari brand mereka. Tak pelit untuk minta MC sebutkan brand-brand mereka.

      3. Long Term not Short Term Relationship

      Stop berpikir “gw dapet apa” namun mulai berpikir “in the future gw bisa joint apa”. Pikirin ini bisa merubah pendekatan kita dari Short Term yaitu call them di kala butuh menjadi maintain relationship (Long Term). Dengan demikian kita mungkin akan balik bantu mereka saat mereka butuh kita. Atau kita akan rekomen brand mereka ke RaN kita yang lain. Wah wah wah seru kan?

      Konsep ini merupakan esensi dari The Power of Joint Promotion. Relationship and Networking (RaN) harus menjadi pilar kita sebagai marketer dalam beraktifitas. Karena brand itu adalah object dari kegiatan dan kita adalah subject nya. Mari mulai koneksikan diri kita dengan semua RaN kita dan dapatkan extra Power untuk Brand yang kita kelola sekarang.

      Seperti lagu Michael Jackson “You are not Alone”

      Customer for Suspect or for Respect? (080609)

      Customer for Suspect or for Respect?

      98009516_cbdcfa4ad0_oSudah 2 mingguan ini Marketing Club (milis para marketer terbesar dan kredibel diIndonesia ini) membahas tentang kasus Prita vs Omni (saya singkat saja ya agar saya ga dituntut hehehehe – just kidding). Saya tidak akan bahas casenya, biarlah waktu dan hukum yang bercerita lebih detail. Saya akan cerita dari sisi Marketing & Operation Knowledge.

      Apa sih yang kita lihat disini? Terlepas dari motif sebenernya atau fakta yang ada, maka jelas ada api ada asap, ada sebab ada akibat. Ada complain berarti ada yang tak puas. Nah ketidakpuasan adalah gejala yang keluar dari selisih antara apa yang diharapkan dan apa diterima – dari sisi konsumen, atau apa yang dijanjikan dan apa yang diberikan – dari sisi principal.

      Sedikit refresh ttg basic Marketing, Semua kegiatan Marketing ditujukan untuk menciptakan hubungan antara customer dan produk kita via brand. Untuk apa? untuk membuat sebuah permintaan yang bersifat jangka panjang dan terus menerus, sehingga kita tidak lagi hanya bicara tentang produk sebagai pemuas kebutuhan namun sudah bicara sebagai bagian dari kebutuhan itu sendiri.

      Nah agar itu bisa terjadi, kita selalu memberikan apa yang kita janjikan yang biasa kita sebut sebagai Positioning kita yang akan disampaikan dalam bentuk eksekusi via Marketing Mix + USP. Agar semakin terikat maka kita juga menciptakan nilai-nilai dari brand kita untuk bisa mengikat secara holistic, yaitu Pikiran (Segmentasi, Targeting & Positioning), Pasar (Marketing Mix) dan Hati (Value of Brand).

      Kombinasi dari ketiga hal diatas (Pikiran, Pasar dan Hati) akan merubah kebutuhan sesaat menjadi sebuah sikap loyalitas atas brand.

      Hmm.. okay ketemu ya benang merahnya.. semoga bisa lihat keterkaitannya. Jadi kembali keparagraph dua diatas, Komplain itu punya dua sisi, Hate It or Love It. (Saya tidak akan bahas disini, tapi silahkan klik link ini untuk membaca tulisan saya ttg ini). Artinya jika kita sebagai marketer berpegang bahwa tujuan kita adalah untuk membangun Loyalitas, maka Complain harus dilihat dari sisi Love It.

      Okay, let’s move to deeper analysis. Syarat agar ada loyalitas, maka Brand itu harus punya Perceived Value yang tinggi. Kenapa Perceived Value? Karena itu adalah nilai ratio dari apa yang kita berikan dengan apa yang diterima oleh Customer. Kepuasan konsumen dilihat dari nilai itu bukan? Nilai kepuasan datang dari semua aktifitas brand atau dari semua titik hubungan brand dengan customer.

      Brand itu sendiri jika kita lihat secara holistic terdiri dari Apa yang Kita Lihat seperti Logo, Toko, Iklan dan semua hal yang berinteraksi langsung dengan customer termasuk karyawan toko dan SPG, sedangkan satu lagi adalah Apa yang Kita Tidak Lihat yaitu semua hal yang menjadi pendukung dari semua interaksi tersebut mulai dari Orang Pabrik, Accounting, Mesin, HR Departemen, Laboratorium hingga semua proses yang mengiringinya.

      Banyak Marketer sukses membangun sisi Apa yang Kita Lihat (Front) dan menghadapi banyak komplain di lapangan karena lupa ttg Apa yang Kita Tidak Lihat (Back). Kejadian yang dialami oleh Prita diawali oleh masalah sisi Back yang kemudian berkembang pada response yang kurang baik dari sisi Front. Hasilnya? 2 Mingguan ini semua media membahas kejadian ini. Apa yang didapat? Emang kalo menang dapat apa? Kebanggaan karena kita berhasil membuktikan bahwa kita benar dan tidak salah serta Customer tersebut pantas dipenjara atas sebuah pemicu dari Back side kita?

      Huff… calm down, let’s continue the Marketing Side..

      Pernah nonton Flight Plan? Yup you should watch that movie. Film itu bercerita ttg bagaimana satu orang menghadapi public dengan semua fakta yang justru menghakiminya. Bukan maen effort yang dibutuhkannya, mungkin mustahil itu bisa berakhir happy ending jika bukan di film. Begitu juga kita sebagai Marketer, kita bisa berkelit dengan semua hal yang mendukung kita untuk membuat customer kita sebagai Suspect. Namun pertanyaan yang kita harus jawab adalah Apa itu yang kita mau? Apa itu Nilai yang terkandung dalam brand kita?

      Menempatkan Customer dalam posisi Suspect membuat kita selalu berusaha bersikap defensive atas semua feed back yang mereka berikan. Kita berpikir bahwa semua proses kita adalah yang paling benar dan sempurna. Dan jika pun demikian, sikap defensive akan membuat kita kembali ke zaman dulu dimana kita membuat produk tanpa perduli apa feed back dari customer kita.

      Harus diingat bahwa kita sedang berhadapan dengan dunia Persepsi, dunia dimana kita bermain dengan apa yang ada dikepala. Persepsi itu sifatnya variable, berbeda tiap orang. Dan ini kita buktikan sebagai Marketer, dimana kita bisa membuat sebuah produk yang sama persis dipersepsikan berbeda dengan strategy Positioning. Pada bagian ini, harusnya kita sudah paham bahwa persepsi itu multitafsir dan multidimensi sehingga kita harusnya akan berhati-hati bertindak. Kita boleh memenangkan mayoritas persepsi dari target market kita dengan membuktikan bahwa customer kita tersebut adalah seorang teroris dan penipu, namun tidak ada yang bisa memastikan bahwa semua customer kita akan memiliki persepsi yang sama.

      So, kalo begitu apa untungnya menjadikan customer kita sebagai Suspect?

      Dibawah ini adalah beberapa efek jika kita menjadikan customer sebagai Suspect dan menempatkan kita sebagai Saint alias Malaikat tanpa kesalahan atau disalahkan.

      1. Paranoid Marketer

      Yup, Paranoid Marketer. Semua kegiatan dibuat dengan banyak exit clause atau yang saya sebut dengan escape clause. Hehehehe iya, pintu buat melarikan diri dengan alasan yang didukung secara hukum. Kita bisa melihat marketer tipe ini dengan melihat pada bagian aturan yang sangat detail untuk melindungi dirinya dan kalo itu semua belum cukup maka ditambah dengan sebuah * (bintang) diiringi tulisan “Peraturan bisa berubah sewaktu-waktu”.

      Kenapa begitu? Karena kita takut kita salah dan kita takut akan kesalahan itu sehingga kita bikin begitu banyak cara agar si customer itu sendiri yang menjadi Tersangka atau Suspect dari kekurangan atau akibat dari kita. Masa meminta tarif parkir tapi tidak mau tanggung jawab atas mobil yang diparkir. Atau masa mau memperbaiki Handphone yang kita produksi tapi dengan menyuruh customer bertanggung jawab atas semua kemungkinan kerusakan yang terjadi akibat dari (katanya) Authorized Service Center kita?

      2. Cold Blood Marketer

      Nah ini lebih serem, kita berubah menjadi Marketer yang berdarah dingin dimana dengan santainya kita membuat program apa adanya tanpa ada dukungan fundamental yang kuat baik secara Back ataupun Front. Karena kita bisa berlindung dengan tenang dibalik tanda bintang ajaib kita tersebut.

      So kita tidak peduli betapa sengsaranya customer kita mengantri berjam-jam bahkan berhari-hari demi sepasang sandal yang turun 70%. Bahkan kita tidak peduli betapa kecewanya customer kita yang rela naik 4 kali angkot demi membeli Selected Item dengan tulisan Persediaan Terbatas yang dibandrol 50% dijamin lebih murah.

      Yang lebih parah, kita malah mengukur kesuksesan kita dengan seberapa menderitanya customer kita untuk mendapatkan brand kita. Award pun diberikan untuk itu. Kebanggaan atas penderitaan dari orang yang membayar gaji kita. Aneh bin ajaib.. apa ini yang diajarkan oleh semua consultant, kampus dan suhu-suhu marketer kita?

      3. Angry Marketer

      angry-guypreview1Huff.. yap kita jadi sangat reaktif atas semua feed back yang diberikan oleh customer. Kalo bisa dituntut dan diseret kepenjara maka akan kita lakukan, kalo perlu suruh bayar denda ratusan juta. Atau kasarnya, siapa yang berani protes gw bikin mampus lu!

      Gile, ini Marketer??? Huff… Tidak pernah ada yang berjalan baik dimasa depan dari sebuah atau banyak kemarahan. Walau marah itu perlu, tapi penyelesaian masalah dengan amarah hanya menghasilkan win – lose solution.

      Okay.. itu beberapa akibat jika menjadikan customer sebagai Suspect. Dibawah ini adalah benefit jika kita menjadikan Customer for Respect.

      1. Open Mind Marketer

      Pertama-tama Tanda bintang itu kita buang jauh-jauh. Jika ada kesalahan dalam kegiatan kita maka dengarkanlah feed back dari customer kita. Lihat sisi baiknya, dia membantu kita untuk membuat kegiatan Marketing kita menjadi lebih baik lagi. Dia Bantu kita untuk menutup celah kesalahan dimasa mendatang.

      Buka lah pikiran kita, komplain itu sehat. Itu proses harmonisasi yang akan menentukan tujuan kita dimasa mendatang, yup…. Loyalitas. Buka mata, buka mulut, buka telinga dan buka hati kita. Buka semua akses agar mereka bisa menyalurkan kekecewaannya kita. Dan pastikan mereka tau bahwa kita tidak Cuma basa-basi mendengarkan keluhannya tapi mereka benar-benar tau bahwa berguna untuk menyampaikan ke kita karena kita adalah Open Mind Marketer.

      2. Caring Marketer

      Nah ini dia Marketer sejati, kita sudah pikirkan apa yang akan terjadi atas promosi ini. Bukan ttg kita saja, tapi juga ttg apa yang akan dialami oleh customer kita. Kalo sudah tau bahwa barangnya sedikit, so? jangan panas-panasin mereka dong. Berikan saja dengan system Lucky Dip atau Undian. Atau kalo perlu berikan pada top loyal customer kita sebagai tanda terima kasih.

      Menyayangi customer kita berarti kita menyayangi masa depan dari Brand kita bukan? Jangan anggap remeh 1 orang, karena jumlah bukanlah penentu tapi apa yang dia bisa lakukan adalah kekuatannya. Lagi pula jika dia tak berarti kenapa kita tidak berusaha membuat mereka lebih berarti? Remember, Perception is capital for Brand Image.

      3. Relationship Marketer

      ccp_kiersAda complain? Ajak diskusi, cari tau kenapa dan follow up. Sebagai mana open mind marketer, menjadi Relationship Marketer (RM) membuat kita sebagai sahabat bagi customer. Tidak seperti menangani complain biasa yang hanya sebagai pemadam kebakaran, tapi membangun hubungan yang lebih erat dari hanya sebagai customer.

      Nah ini yang akan menjadi action dari konsep marketing masa depan yang melibatkan customer dalam pengembangan produk kita. Orang yang mengkritik kita berarti orang yang bisa melihat kekurangan kita. Nah orang-orang yang bisa melihat kekurangan kita adalah orang – orang yang kita butuhkan untuk menjadi bagian dari perjalanan perkembangan produk kita dimasa mendatang.

      Begitu ada yang komplain, dengarkan dan ajak diskusi untuk membuat perbaikan. Seberapa konyolpun yang mereka katakan, hargai itu sebagai masukan. Karena jika competitor anda yang melakukan maka percayalah andalah yang akan terlihat konyol.

      So? Which one are u guys? Customer for Suspect or for Respect?

      2009, Time for Operation Marketer? (21.02.09)

      2009, Time for Operation Marketer?

      productivityWah.. istilah apa pulak ini? Hehehehe bukan latah bikin istilah ya.. hanya pemikiran setelah membaca sebuah posting dari salah satu Marketer di milis Marketing Club. Yup.. saat budget semakin shrinking, what should we do? Masih mau pake strategi yang lama atau mau ganti strategi?

      Secara umum, saat sales (Top Line) semakin susah akibat dari daya beli yang menurun, kompetisi yang semakin ketat serta semakin tumbuhnya para new challenger, maka pilihan berikutnya adalah bertahan dan perlahan berkembang. Pada periode ini, Profit (Bottom Line) jadi jauh lebih penting dari sekedar peningkatan Top Line. Apalagi jika peningkatan itu disertai peningkatan Cost (Middle Line) yang significant.

      Nah jika sudah begini, apakah program pengembangan Brand harus berhenti? Apakah seluruh kegiatan harus directly menghasilkan sales? Apakah event-event jadi terlihat mahal sekali?

      Konsep Operating Excellent (OE) sebenernya bisa diimplementasikan sebagai Marketing Excellent (ME). OE menekan kan pada peningkatan value added dengan menghilangkan non value added activity (waste), mengurangi kerusakan (defect), serta meningkatkan produktifitas. Banyak strategy yang mereka lakukan dalam kerangka strategy besar – Total Quality Management (TQM).

      TQM sendiri terdiri dari banyak tools, mulai dari Lean, Six Sigma, Balance Score Card hingga Gugus Kendali Mutu (GKM). Pertanyaanya, mungkin ga sih kita adopsi strategi ini dalam strategi Marketing? Yah kira-kira hasil perkawinan ini menjadikan kita sebagai Operation Marketer lah hehehehhe

      Kita bahas yuk!

      Eliminate Waste,

      colored-waste-watcher-canAda ga sih non value added activity dalam kegiatan marketing? Nah Loh.. coba lihat lagi, kegiatan yang dianggap waste, seperti:

      Rework, alias mengerjakan ulang. Ini bisa akibat salah brief, salah design atau salah order. Hmm terlihat sepele memang, padahal implikasi rework ini bisa sangat significant. Rework atas printing full colour ukuran A4 misalnya.. kalo Cuma 1 design ya mungkin tak begitu terasa, tapi pernah ga hitung jumlah dan nilainya jika ditotal selama 30 hari x jumlah yang di rework? Ini baru berupa bahan printing, lah kalo berupa banner? Kalo berupa merchandise? Kalo berupa cetakan voucher?

      Kegiatan rework itu meningkatkan biaya dan memperlama waktu. Kebayang dong multiplier effect nya jika rework tersebut menyebabkan semua deadline jadi mepet? Mulai dari transportation cost, lembur hingga tenaga bisa habis buat itu semua. Emang jadi marketer hebat artinya ga tidur saat event? Aduh udah kuno kali ya mas hehehhe

      Eliminate Superfluous Phase,

      Dalam keadaan sebelumnya, melakukan beberapa system dan strategy yang kita miliki merupakan tindakan yang sangat disarankan. Hal ini karena menyangkut tingkat keberhasilan dari program itu sendiri. Namun disaat semuanya terbatas, maka hal diatas malah terlihat berlebih-lebihan (superfluous).

      Mungkin sudah saatnya memetakan kembali titik pemasangan display kita di outlet, terutama yang perlu bayar dan harus di maintain. Too Many Wobblers there or may be you need re organize your SPG team in Modern Market. Baik secara jumlah dan tugas tanggung jawabnya.

      Kegiatan-kegiatan ini akan lebih terlihat mengutamakan yang punya direct relation ke tujuan kita dengan mengurangi atau menghapuskan “aksesoris” dari proses tersebut. Dalam hal ini, semua hal dilihat dari Produktifitasnya bukan dari Completeness of Process.

      Create, Implement and Establish Standard Operating Procedure from all Our Marketing Activity…

      Yap! Beberapa mungkin alergi dengar kata SOP. Hehehhe come on, semuanya punya step bukan? Beberapa tips:

      1. Kenali Flow Process

      Lihat sequence dari setiap process, sebelum launch itu kita harus lakukan apa? Bikin standardnya, bikin policy nya dan buat measurementnya. Ini akan membantu mengeleminasi waste. Sehingga bisa mengurangi rework akibat kelalaian manusia. System akan lebih menjaga konsistensi hasil dari pada bergantung sepenuhnya kepada manusia.

      2. Standarisasi semua dokumen dan activity

      sop_bookcoverRole Out Model kata temen saya. Jadi jika next time ada mau buat acara lagi. Kita tinggal buka manualnya. So semuanya lebih terarah dan lebih cepat hasilnya. Mulailah punya dokumen atas standard kegiatan ini. Jangan alergi dengan beginian. Ini akan mempermudah kita dimasa mendatang.

      So Jika sudah berhasil mengenali Flow Processnya, maka tulislah dokumentasinya. Setiap Arus aktifitasnya, pastikan anda mengenali juga arus balik dokumen nya.

      At all, as Operation Marketer mulailah berpikir atas produktifitas. Pedulilah dengan besaran ratio biaya dengan hasil. Jika anda sebelumnya punya budget 50 milyar dan menghasilkan sales 700 milyar.. sekarang challengenya adalah bagaimana dengan sales tetap 700 milyar tapi costnya jadi sisa 40 milyar. Atau sebaliknya cost tetap 50 milyar tapi salesnya jadi 900 milyar. Dan jika Sales akan turun, maka pastikan bahwa penurunan biaya jauh lebih besar dari penurunan Sales.

      Okay memang ada biaya fix, tapi juga punya biaya variable bukan? Mulai dari yang paling mudah dikontrol sampai dengan yang paling sulit. Tetap mengacu ke objective sambil mengedepankan Productivitas. Improves the Result with less Effort.

      Marketer, Let’s start the engine!

      2009, Time for Operation Marketer?

      Convenience: The 7 Customer’s Main Parameter? (15.12.08)

      Convenience: The 7 Customer’s Main Parameter?

      credit-card-rewardsSaya ingin sekali punya 1 kartu untuk semua, bisa buat kartu kredit, bisa buat debit, bisa buat kartu diskon, bisa untuk member airline, bisa untuk member fitness dan bisa untuk instant cash.. Kenapa? Karena jika semua itu ada dalam 1 kartu, aduh betapa tipisnya dompet ini, ga perlu banyak kartu yang malah seringnya banyakan patah atau lupa pin dan yang pasti banyak kartu bikin banyak biaya! Yupe… 100% right! ituloh iuran tahunan hehehehehe. Anyway, temen saya ada yang tiap ngajak kumpul selalu maunya didaerah Kuningan, kalo ga Oakwood, bisa Pacific Place atau malah mal Ambassador. Usut punya usut..ternyata, dia tinggal didaerah Kuningan, trus kantornya juga disana.. kenapa doi ga mau keluar jauh?? “lha wong yang sekarang ini deket kosan ku udah lengkap semua kok dan ga macet lama lagi”

      Hmm.. akhir-akhir ini kita juga banyak melihat mall yang buka deketan bahkan radiusnya kurang dari 5 KM. Lihat di daerah Senayan, kita ada Plasa Senayan, Senayan City dan yang gress ada si FX. Trus kalo lihat di Kelapa Gading, kita akan ketemu Kelapa Gading Mall yang sekarang udah terdiri dari 4 mall, trus ada Hypermall, Artha Gading, hingga yang paling gress adalah Mall of Indonesia. Dan semuanya tetep rame! dan bisa dibilang, isi mallnya juga hampir sama tidak ada perbedaan yang terlalu significant.

      Ada apa ya? Secara pribadi, alasan saya pengen punya kartu untuk semua adalah Convenience, dan jika kita simpulkan dari keinginan teman saya yang dikuningan itu juga sama, Convenience. Untuk mall-mall itu juga sama, Convenience. Sekarang, kalo masuk daerah Senayan di malam minggu, salah masuk jalur maka pilihan kita adalah kalo terlalu ke kiri maka masuk Plasa Senayan, kalo terlalu ke kanan masuk Senayan City.. still in the same road loh hehehe dan kalo susah masuk Senayan dari Sudirman, yah udah masuk FX aja J

      Begitu banyaknya barrier yang menghinggapi para customer kita, membuat mereka sangat memperhitungkannya dan menjadikannya parameter utama jika akan membeli, berpergian ataupun sekedar ingin informasi. Barrier itu mengakibatkan tergerusnya waktu atau bertambahnya biaya atas sebuah pemenuhan needs dan wants. Contoh case kasus Plasa Senayan (PS) dan Senayan City (Senci), bayangkan mall yang hanya dipisahkan oleh jalan ternyata bisa bikin mereka tidak saling pindah. Pada malam minggu buat mindahin mobil dari PS ke Senci bisa butuh waktu lebih dari 30 menit!!! Padahal nyebrang jalan aja Cuma butuh 5 menitan hehehehehe.

      Sebuah survey dari lembaga riset terkenal (ma’af karena confidential jadi ga bisa disebutkan nama lembaganya – maklum ada perjanjian exclusivity hehehhe) 73% orang memilih datang ke mall karena Proximity! Sisanya dibagi untuk driver seperti Ambiance, Awareness, Mall Promotion dan Incompleteness. Mungkin ini salah satu penyebab yang membuat Minimarket di Indonesia tumbuh sangat-sangat pesat. Disebuah kompleks perumahan sekelas Harapan Indah – Bekasi, hanya dijalan koridor saja ada Alfamart dan Indomaret. Dan jika jalan disepanjang Boulevard Raya Kelapa Gading, anda akan ketemu 4 Circle K saja dan beberapa lagi convenient store lainnya.

      Okay.. let’s see the 7 Convenience Parameter:

      1. Convenience = Complete!

      No more 1 product for one purpose only. Kalo bisa supersmartphone, gabungan dari Iphone + BB + Omnia + Xperia + Dual sim card (kalo bisa 4 juga mantap). So ga perlu bawa dompet Hp dengan 4 restleting itu. Atau kalo beli Shampoo yang bisa melembutkan, menghilangkan ketombe, mengatasi rambut rontok, wangi dan menghitamkan rambut. Trus ada pembersih muka yang bisa memutihkan, melembutkan, dan menghilangkan noda.

      Yup, mungkin jadi kembali ke trend awal dulu.. yang ngetop dengan 7 in 1, 2 in 1 atau Complete Care. Kayak slogan Ombudsman “kalo bisa mudah kenapa dipersusah?” hehehehehe

      Challengenya gimana caranya memuaskan mereka dengan 1 product untuk needs yang berkaitan. Jika mungkin belum bisa, maka mungkin bisa dikurangi atau dipermudah agar bisa bikin mereka nyaman namun tanpa mengurangi kualitas tentunya. Atau satu tempat yang serba ada, minimal sesuai interest atau needs J

      2. Convenience = Proximity!

      Wah.. aku ampe pilih ngekos di kelapa gading, since everything ada disini kecuali Embassy & Hugo’s (Bang Ali, Bang Budi dan Bang Jaya.. buka dong disini hahahaha). Ga perlu repot kalo butuh apa-apa tinggal datang dan beli. Semakin dekat semakin bagus. Since kebutuhan kan sering mendadak dan kalo nyetok barang banyak kosan sempit dong. Atau kalo rumah tangga harian, mungkin pas belanja bulanan ada yang lupa atau sejenisnya.. so semakin dekat bisa semakin baik.

      Challengenya buat retail, ya pemilihan lokasi yang semakin dekat. Atau membuka dengan semakin rapat outletnya. Untuk Consumer goods, ini menyangkut kemampuan distribusi yang rapat dan terus menerus. Serta tidak hanya mampu menembus modern market namun juga traditional market alias warung-warung.

      3. Convenience = Understand Me!

      understandPunya tempat favorite yang sering didatangin ga? Kenapa suka kesana? Hmm mereka sudah tau yang kita mau? Begitu kita nyampe kesana, maka tanpa sibuk dan banyak bicara, makanan sudah datang lengkap dengan sayuran banyak dan nasi setengah serta teh tawar hangat kesukaan kita… Hmm bukan main ya! Senangnya kalo punya banyak tempat seperti itu.

      So far ini banyak terjadi dibidang jasa, seperti Hotel, rental mobil, premium restoran. Namun yang mengejutkan, ternyata hal ini secara Nyata sering terjadi pada warung-warung kelas warteg, tempat cucian mobil kelas pinggir jalan serta tukang cukur rambut kelas 7000an. Apa karena mereka lebih peduli atau karena yang modern yang lebih menjauh?

      Challengenya adalah bagaimana cara mengerti mereka bukan cuma sebatas tahu atau mengenal mereka tapi mengerti! Semakin mengerti akan semakin baik bukan?

      4. Convenience = Up To Me!

      Customize, yap! Ini udah jadi trend deh. Apapun yang kita punya kita pengen bisa lebih menggambarkan kita. Mulai casing bisa diganti atau modifikasi yang bebas tanpa bakal nabrak atau ngerusak parah desain aslinya. Bahkan kalo perlu really up to me!

      Dell melakukannya saat kita memesan PC, kita bisa pesan apa saja yang kita mau untuk jeroan komputer kita. So begitu dikirim already customized dengan package price yang sama. Kegiatan ini dikenal dengan mass customize. Atau bisa juga lihat dibeberapa restoran dan di otomotif walau masih secara terbatas.

      Challengenya adalah how to implement it to our product? Pada bagian mana? Pada awal pembuatan? Setelah diproduksi atau Setelah dijual?

      5. Convenience = Simple & Easy (Entertain Me)!

      Pasti pernah ngerasain ketemu program belanja yang ngasih kupon undian? Yupe! Belanja Rp.50.000,- mendapatkan 1 lembar kupon undian dan berlaku kelipatan. Kupon harus diisi oleh data-data seperti : Nama Lengkap, Alamat, No Hp, No KTP dan No Member Club. Hmm terlihat simple emang dan buat kita sebagai brand, itu bisa menjadi verifikasi saat undian dilaksanakan. Tapi coba bayangkan kalo mereka belanja sampai dengan 1 juta rupiah, huufff bakal ngisi pake pulpen 20 lembar kupon dengan 5 pertanyaan per kupon???

      Ini kenapa kita lihat, trend pemberian hadiah langsung dengan scratch & win lebih diminati oleh consumer sekarang. Selain karena instant reward, juga karena kita tidak perlu lagi repot ngisi-ngisi formulir berkali-kali. Walau lebih sering ketemu “Coba Lagi” dari pada “100 juta”nya hehehehe. Pengalaman pribadi ama tutup botol dari produsen green tea hahahahhaha.

      Challengenya, Kalo kita bisa bikin yang gampang, kenapa mesti repot. Semakin mudah dan gampang program promosi yang dibuat akan semakin menyenangkan. Bullshit!!! Kalo bilang customer kita itu senang dibikin pengalaman mendapatkan hadiah dengan membuat kupon yang ribet yang harus diisi dengan detail. Kalo mau kasih pengalaman ya jangan kasih syarat-syarat yang ribet atau suruh consumer ngapalin kapan kirim sms 8 buah biar dapet hadiah free sms ke seluruh operator. Mostly some terms and condition are really suck!. Entertain us bro!

      6. Convenience = Faster! (Don’t let me wait for it!)

      Ini bisa menyangkut pelayanan atau informasi. Ini salah satu alasan kenapa internet menjadi hal yang sangat utama untuk banyak kalangan terutama dikota besar di Indonesia. Karena, bicara soal barrier yang begitu banyak, waktu menjadi sebuah hal yang sangat berharga. Mau beli smartphone, akan search dulu di gsm arena baru datang ke toko dan langsung beli. Waktu juga yang membuat kita mencari pelayanan yang cepat. Apa saja.. mulai dari gunting rambut hingga diskusi project via YM atau Skype yang lebih cepat dari pada harus arrange meeting di Hotel.

      Semakin tinggi barrier akan jarak dan sulitnya aksesibilitas, maka akan semakin pendek waktu yang diinginkan (cepat) oleh customer.

      Challengenya adalah bagaimana mengoptimalkan sumberdaya yang ada untuk membuat delivery yang cepat, baik produk maupun informasi (komunikasi) ke customer.

      7. Convenience = Satisfy Me!

      customersatisfy2Hmm overall, semua yang diatas tidak akan ada artinya kalo customer tidak puas. Tidak ada gunanya Complete kalo kualitasnya jeblok!, atau Tidak ada gunanya Dekat kalo yang dicari ga ada, atau Ga ada gunanya cepat, simple & easy, understand me and up to me kalo semuanya ga bisa menghasilkan kepuasan. Apapun yang dibikin harus bisa menghasilkan kepuasan. Minimal meet their expectation than try to exceed their expectation and some day surprise them!

      Meminjam slogan keren dari Sosro: Apapun Caranya, Ujungnya tetap Puas!! Hehehe

      So what do you think guys?

      Convenience: The 7 Customer’s Main Parameter?

      Building Brand vs Building Trust = Product Brand vs Company Brand ? (01.12.08)

      Building Brand vs Building Trust = Product Brand vs Company Brand ?

      company-brand-image2Hmm saya hari ini “sedikit” berdebat seru dengan temen saya, seorang traditional trader. Sedikit cerita ttg backgroundnya, beliau adalah penjual air minum isi ulang yang sempet juga unofficially “pegang” traditional night venuenya Sosro dan Coca Cola di Pekanbaru Riau. Coverage jualannya adalah tetangga-tetangganya disekitar rumah dengan radius kurang lebih 5 kilometeran untuk air minum isi ulang dan sekitar 15 kilometeran untuk night traditional venue seperti tukang nasi goreng, warung nasi dan kedai-kedai kopi malam.

      Okay, here the story..

      “kamu tau ga nald, para marketer itu sibuk building brand untuk jualan kesiapa sih? Consumer bukan?” ….. “jika consumer yang menjadi target mereka kenapa mereka perlu building brand?” …… “supaya bisa diingat karena banyaknya produk sejenis dilapangan bukan?”…….”hmm yang sebenernya, mereka itu berusaha untuk langsung mendapatkan kepercayaan dari semua consumer secara instant!”…. “cara termudah ya building brand”……….”aku lebih percaya dengan yang namanya trust!”………”no matter the brand is if I trust them than I will buy it!”. Butuh waktu lama memang, tapi hasilnya jauh lebih praktis dari pada saya Cuma bangun product brand saja.

      Hmm sepertinya dia punya kepercayaan yang berbeda antara Product Brand dan Company Brand, Menarik bukan? “I believe the Company! Than the product’s brand” ups.. hmm Why? “The Trusty company will only deliver the trusty product!”. Contoh.. “aku jualan air sudah hampir 5 tahunan, dan selama itu aku sudah mengganti lebih dari 3 kali brand air minum isi ulang yang kujual dengan pelanggan yang terus bertambah, kenapa mereka tetap mau jadi pelanggan ku walau aku ganti-ganti brand air minumnya? Alasannya? Yap! Karena mereka percaya dengan ku! My Company Brand bikin semua brand produk yang kubawa jadi terpercaya. Mereka akan tetap percaya, walau brand air minum yang kubawa tidak jelas dan tidak pernah didengar, mereka tahu bahwa itu adalah air minum yang memenuhi standar kualitas ku.. yang mana mereka percaya dengan standar kualitas yang ku pilih”…… “so dari pada keluarkan uang untuk building product brand secara satu persatu, lebih baik building trust via company brand yang berkualitas”

      Huff… Tenang… ini kalo mau didebat ga akan habisnya seperti telor dan ayam, mencari mana yang duluan. Hasilnya akan ada yang bilang telor dan ada juga yang akan bilang ayam. Tapi wise man said, No matter which one the first, the benefit is always be the first.

      Company Brand = Trust?

      Menganalisa cerita temen saya itu emang banyak benernya juga jika dilihat dari persepsi netral. Saya jadi ingat cerita senior saya, seorang Head of Marketing dari perusahaan kacang terbesar di Indonesia sekarang. Dimana dia cerita bagaimana banyak company sekarang sedang berusaha melakukan Company brand building. Oleh karena itu kita sering lihat iklan produknya yang selalu mencantumkan logo companynya secara jelas di tiap TVCnya. Konsepnya sama, jika company nya aja ga jelas bagaimana bisa percaya kalo produknya jelas? Hehehehe

      Katanya, salah satu yang bikin suksesnya Activia adalah karena ada Brand Danone dibelakangnya, since di product yogurt, Activia bukanlah yang pertama, tapi yogurt yang ini punya Danone. Di Real estate, kita juga lihat Company Brand Agung Podomoro dan Summarecon. Rumahnya walau jauh, mahal dan macetnya minta ampun, tetap aja punya nilai lebih. Yaitu Trust! That’s why kita lihat Ms Evelyn – Marketing Director nya terus tampil di TV buat building the Company Brand (baca:Trust).

      Pada sisi distribusi, kita bisa lihat bagaimana dengan mudahnya brand rokok baru menembus belantara tradisional market dengan mudah. Walau ada kemungkinan tekanan trade term, namun banyak hal dibantu nama besar si produsen yang sudah terbukti memiliki product-product berkualitas dan laris. Dalam banyak hal, company brand bener-bener sangat membantu kinerja para Salesman dilapangan. Jika Tanya kemereka, mungkin akan keluar jawaban yang hampir sama dengan rekan saya itu.

      Challengenya jika benar Company Brand itu sama dengan Trust, lalu kenapa lebih sering kita melihat Company membangun Product Brand nya?

      Hmm.. Yup, Kalo productnya belum ada, trus Company Brand nya dibangun pake apa? Hehehhee most of you will say like that. But it’s true, Lah kalo ga ada productnya apanya yang mau dipercaya? So sebenernya gimana sih proses Company Brand ini?

      1. Lahir dan Berkembang bersama Product Brand

      sampoerna1Ini yang umum terjadi, saat 234 dibangun oleh HM Sampoerna, ikut membawa nama HM Sampoerna menjadi brand yang tangguh. Sebegitu kuatnya Company Brand ini, hingga kegagalan Millenium, A International dan Exclusive pun tidak begitu dianggap oleh konsumen. Apalagi kesuksesan A-Mild yang fenomenal membuat Company Brand HM Sampoerna dihargai tinggi oleh Philip Moris Indonesia (PMI).

      Kelahiran sebuah produk jelas akan mempunyai korelasi dengan si produsen. Dengan melihat kualitas produk maka kita akan mudah menggambarkan kualitas Companynya. Sehingga saat Brand Product tersebut dibangun dengan kuat otomatis Company Brandnya akan ikut menjadi kuat. Jadi pada saat ini kelahiran Company Brand bersamaan dengan Product Brand nya.

      2. Company Brand Lahir duluan baru kemudian Product Brandnya

      htc-logo1Tau Orginal Equipment Manufacturing (OEM)? Yap, produsen yang membuat product atas pesanan brand lain. High Tech Computer (HTC) sempat terkenal dikalangan produsen Smart Phone & PDA Phone hingga mereka mempercayakannya sebagai OEM, sebut saja seperti HP, Dell, Palm hingga Microsoft Pocket PC. Per July 2007 HTC resmi mengakuisisi Dopod dan focus mengembangkan product brandnya yang sekaligus company brandnya HTC.

      Pada Case ini, brand HTC sebagai Company Brand sudah lebih dulu eksis dan dianggap sangat paham dalam membuat smart phone dan PDA berkualitas. Konsumen yang puas dengan kualitas Palm akan paham bahwa HTC adalah produsennya. Sehingga saat HTC me-launch their own product with their own brand, maka dengan mudah menembus belantara pasar smart phone dan PDA yang sudah lebih dulu dikuasai oleh Jawara sekelas Dell, HP hingga Palm.

      3. Product Brand Lahir duluan baru kemudian Company Brandnya

      garuda-food1Yap ini sekarang banyak sekali terjadi, seperti Garuda Food yang semakin rajin membangun Company Brandnya setelah product mereka tidak hanya Kacang namun juga sudah merambah ke Food dan Beverages. Mayora yang sampai sekarang masih terus konsisten membangun Company Brandnya dengan tagline “Satu Lagi dari Mayora”. Di Telekomunikasi kita bisa lihat bagaimana Telkomsel dengan “dari Telkomsel” dan Indosat dengan “Punya Indosat” terus menerus dikembangkan dan dijalankan komunikasinya bersamaan dengan komunikasi product brand nya.

      Hmm.. semakin agresifnya para produsen membangun company brand memang diperlukan, mengingat ada banyak benefit yang mereka dapatkan, diantaranya:

      1. Certification of Credibility = Loyalitas

      Kekuatan Company Brand mendorong terciptanya persepsi dikonsumen bahwa product yang dia konsumsi merupakan product yang memiliki kualitas si produsen. Seperti yang teman saya bilang diatas, if u have credibility, maka mereka akan loyal dengan kita bukan dengan brand kita.

      2. Penetration Lubricant = Trust

      Sebagai pelumas dalam setiap langkah penetrasi yang dilakukan oleh siprodusen. Para distributor, reseller hingga traditional outlet punya kepercayaan bahwa brand apa saja dari produsen ini, akan mudah dijual oleh mereka. Ini tentu sangat memudahkan bukan?

      3. Powerful Company Brand = Partnership

      Semakin kuat company brandnya akan membuka pintu partnership yang lebar baik untuk new supplier, new area hingga new government. Secara umum ini akan membantu menurunkan biaya kelevel Efficient dan Effective serta mempertinggi entry barrier saat new competitor mau masuk ke category ini.

      So What do you think guys?

      Building Brand vs Building Trust = Product Brand vs Company Brand?