Citibank : Being The First But Failed Being the Leader? (29.07.08)

Citibank : Being The First But Failed Being the Leader?

 

Masih ingat dengan program Discount 20% yang menghebohkan antara Citibank dan Carrefour? Kira-kira sekitar bulan July tahun 2006 lalu dan tentu saja sempat meramaikan milis Marketing Club. Kemudian, Tentu masih ingat dong dengan program Nomat nya Clear Card dari Citibank hasil kerja bareng dengan Cinema 21? Yap! Yang setiap hari rabu itu loh J, tahunnya lupa kapan pertama kali, mungkin sekitar tahun 1999 – 2000 (CMIIW). Dan yang pasti kedua program ini sangat booming dan bikin orang pengen punya tuh kartu hehehhehe..

 

Tapi sudah pada tau juga dong, kalo BCA pada tahun 2008 ini mengambil alih Kartu Belanja nya Carrefour dari GE dan Tahun ini juga, tanggal 2 Juni 2008, Bank Mandiri & Hypermart berkolaborasi bikin Kartu Hypermart. Serta sekarang Buy 1 Get 1 itu identik dengan Kartu Kredit BCA. Ehm.. Beberapa orang dikantor saya iseng ditanyain, Kalo ingat nomat, ingat siapa? BCA! Hehehehehe (ini survey ga valid ya hehehe).

 

Anyway, hanya bingung dengan strateginya Citibank,They Become the First, They Set the New Field of War but they Don’t Maintain It or They can’t maintain it? Lihat program 20% Discount yang sangat berhasil dijalankan, sampai dengan sekarang pun masih ada aja yang melakukannya. Atau lihat soal buy 1 get 1 nya Clear Card, Kesuksesan BCA mempersepsikan buy 1 get 1 nya di Cinema 21 juga diikuti oleh HSBC yang bekerjasama dengan Blitz. Sedangkan Citibank? So far, yang signifikan hanyalah tinggal Garuda – Citibank Platinum, most esmud (eksekutif muda) looking for this card, especially the traveler one. Hmm Eazy Pay saja secara brand sudah tersaingi dengan cicilan BCA. Diskon Makan diresto-resto enak juga udah hampir dikuasai oleh Mandiri, ANZ dan Bank Mega. Bahkan Fasilitas free lounge pun sudah dicabut dari Gold. Hmmm…. Mau apa lagi neh?

 

Secara historical, para first comer always become the leader. And they are identically become the name of their category. Seperti, Aqua dengan air minum dalam kemasan (AMDK), Teh Botol Sosro, Apple dengan Ipod dan masih banyak lagi. Sebagai first comer, kita punya kesempatan untuk “memiliki kategori” tersebut. Walau tentu saja kemampuan kita berinovasi sangat menentukan seberapa lama kita bisa “memiliki” category tersebut.

 

Kenapa kita bisa memiliki kategori tersebut sebagai 1st comer? Let’s review some of the reasons:

 1. Perception

Yap! Kita akan bisa menguasai persepsi. Sebelum kita ada, maka category tersebut tidak ada. Saat kita ada maka kita secara tidak sadar akan mempersepsikan kategori tersebut dengan produk yang pertama kali ada. Contoh:

Aqua, sebelumnya belum ada air minum dalam kemasan. Nah secara tidak sadar orang mempersepsikan minuman dalam kemasan dengan nama Aqua.

 

Dan ingat, sangatlah penting menguasai persepsi consumer. Karena preference mereka dalam memilih produk akan ditentukan oleh persepsi mereka. Yang namanya Mp3 player yang bagus ya Ipod! Walau Brand lain secara fungsional lebih lengkap dari Ipod itu sendiri yang masih berkutat dengan Video, Foto dan Musik.

 

2. No Competitor

Nah ini juga serunya jadi 1st Comer, ga ada lawan bo! Artinya kita bisa leluasa bergerak tanpa takut ada saingan yang mengincar.

Lihat saat Aqua masuk, mereka dengan leluasa menguasai pasar tanpa hambatan. Serta membangun infrastruktur dengan baik. Hingga saat Competitor masuk, mereka kewalahan mengejar posisi Aqua.

 

3. The First Comer will Setup The Rule of War

Kenapa begitu? Ya karena kita sendirian dimedan perang hehehehhe. Jadi kita bisa sesuka hati kita menentukan standard dari kategori yang kita bikin sendiri ini. Lihat bagaimana Ipod membuat standard bahwa yang namanya Mp3 player itu mesti compact dan Style. So, semua competitor datang dengan style dan compact bukan?

 

Tapi harap diingat, bahwa the key to winning the competition is how good you keeping the gap range. If you failed, and some one setting up the new rule.. Suddenly you will find that you already failed become the leader J

 

Citibank : Being The First But Failed Being the Leader?

Banking Catalog: Big Market, Low Player? (24.07.08)

Banking Catalog: Big Market, Low Player?

 

Yang punya Credit Card tentu familiar dengan tools Loyalti dari Provider kartu kredit yang satu ini, yap! Katalog produk. Biasanya dikirim dan diupdate setiap bulan beserta dengan tagihan pemakaian kartu kredit kita.

 

Melihat jenis Item yang ditawarkan, variasinya dimulai dari Hp, Elektronik sampai dengan yang paling gress Harley Davidson! Hmm menakjubkan bukan? Dan Harga yang ditawarkan didalam Katalog memang tidak terlalu tinggi disparitasnya dengan harga yang ada dipasaran. Biasanya hanya berkisar antara 50 ribu hingga 150 ribuan untuk HP. Kalopun ada ke istimewaannya, ya jelas soal fasilitas kemudahan pembayarannya. Bisa dicicil tetap dengan bunga atau ada juga yang 0% bunga.

 

Berapa sih jumlah pemakai kartu kredit sekarang di Indonesia? Menurut Koran Surya tanggal 22 July 2008, pemegang kartu kredit sekitar 4,5 Juta card holder, dengan Jumlah Kartu yang diterbitkan mencapai 10 juta kartu dan nilai transaksi belanja bulanan per Mei 2008 mencapai 8,05 Trilliun!!! Wow!! Really-really Amazing! Really-really Very Big Market!

 

Ehm.. tapi kira-kira berapa banyak dari kita para Marketing & Brand Manager yang sudah mulai merambah pasar gemuk ini? Atau kita malah masih sibuk berperang harga di Channel kita? hmm.. Saya kebetulan adalah pemegang 2 kartu dari 2 provider yang berbeda yaitu BNI dan BCA. Rata-rata kalo saya lihat dikatalog saya, penguasa katalog masih dipegang oleh Handphone (HP), Elektronik – Kamera dan Handycam, Tour Travel serta Jam Tangan. Secara Brand juga hampir semua produknya berasal dari Merk yang sama, ada Nokia, Sony Ericsson, Kodak, Sony, Bonia. Hanya ada selisih harga sedikit. Jika dibandingkan antara mereka berdua, ada yang lebih murah di harga dan ada juga yang lebih enak di fasilitas.

 

Anyway, Let’s see this Hidden Treasure deeper..

 

Katalog itu dibaca oleh paling tidak ada 4,5 juta orang. Let’s say hanya 10% nya yang punya potensi membeli, maka itu akan berkisar 450 ribuan potential consumer to reach. Dan anggap dari 450 ribu potential itu hanya 1 % yang membeli produk kita dengan nilai Rp.500 ribu/produk maka akan ada transaksi kira-kira senilai 2,250 Milyar perbulan!! Hmm.. itu baru 1% yah.. tapi kalaupun hanya 0,5% saja nilainya masih diatas 1 milyar!

 

It’s Really Big Potential Market, New Channel to Explore indeed?

 

Secara Promotion Strategy, ini termasuk segmented dan targeted media. Artinya tingkat akurasi penyampaian pesan ke target market sangat tinggi. Dan Jika dilihat sebagai Channel, (Jika digarap serius) Ada banyak potensi yang bisa digali disini. Saya kurang tau apakah bank melakukan beli putus atau konsinyasi. Namun jika melihat mereka suka mengobral barang katalog setelah tidak laku, sepertinya masih beli putus. Artinya terbuka sekali kesempatan untuk bermain TOP (term of payment) disini. Bank diuntungkan dengan rendahnya nilai inventory level dan principal diuntungkan dengan adanya targeted media yang menawarkan produknya secara langsung dengan memberikan kemudahan pembayaran ke 4,5 juta pelanggan.

 

Meanings, Secara Promotion Oke trus Secara Potensi Trade Strategy juga Oke, So? What are you waiting for? Hmmm.. waiting until it become famous than your entry barrier become higher? Remember Fast Action on the Right Time is the key to drive market.

 

Banking Catalog: Big Market, Low Player?