Perception vs Quality = Who will Win the Battle? (19.08.08)

Perception vs Quality = Who will Win the Battle?

 

Persepsi, Hmm.. Persepsi itu seperti semacam bookmark dipikiran kita atas sesuatu yang kita lihat, rasakan atau pengalaman yang kita terima. Atau secara ilmiah bisa dilihat diwiki ini.

Quality, Nah ini secara arti banyak sekali, namun jika diambil yang sederhananya adalah sebuah kesesuaian antara yang diberikan dengan yang diharapkan. Dam secara ilmiahnya bisa dilihat diwiki ini.

 

Secara ideal, sebuah produk yang memiliki Kualitas yang bagus harusnya memiliki Persepsi yang bagus juga oleh consumer, begitu juga sebaliknya. Kenapa? Karena jika mereka puas dengan kualitas tersebut maka secara otomatis otak akan mem-bookmark pengalaman ini dengan produk tersebut. Namun ternyata secara realita tidak demikian. Kita bisa menemukan produk yang biasa-biasa saja tapi dipersepsi lebih berkualitas oleh consumer. Wow, Kenapa bisa begitu ya?

 

Okay kita coba lihat beberapa kejadian dibawah ini:

Saat awal-awal adanya tawaran untuk iklan komersial di TV, TVRI dengan “alasan” agar TV-TV swasta bisa hidup dengan baik, memilih tidak mengambil iklan namun mengambil iuran dari mereka. Kenapa TVRI bisa bicara seperti itu? Karena secara kualitas siaran, TVRI memiliki kualitas penerimaan yang baik dan jelas, kemudian secara coverage, TVRI meraih seluruh hampir seluruh pelosok Indonesia. Jadi diatas kertas, para pengiklan sudah pasti akan memilih TVRI untuk tempat beriklan. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Iklan lebih banyak berada di TV swasta yang punya banyak keterbatasan saat itu, mulai harus pasang decoder, penerimaan masih jelek hingga terbatasnya coverage sinyal. Aneh ya? (again) kenapa bisa begitu? Ternyata consumer mempersepsikan kualitas siaran TV Swasta lebih baik dari pada kualitas siaran TVRI. Hmmm…

 

Sekarang Kita lihat lagi case berikutnya, Aqua adalah brand air minum dalam kemasan pertama. Saat dilaunch pertama kali, hambatan terbesar mereka adalah harga sebotol Aqua hampir setara dengan 1 liter bensin. Dan saat itu kualitas air dirumah masih dipersepsi bagus oleh consumer serta terlebih lagi gratis untuk mendapatkannya. Apa yang dilakukan Aqua? Dia melakukan pembentukan persepsi yang baru akan kualitas air dengan membuktikan bahwa kualitas air Aqua itu sehat dan telah teruji secara klinis. Hasilnya? Orang mulai mempersepsikan kualitas Aqua = kualitas air sehat. Kalo mau minum sehat ya jangan masak air dirumah tapi beli Aqua.

 

Menarik bukan? Okay sekarang mari kita lihat lagi case ke 3 ini, Honda terkenal dengan Irit dan harga jualnya yang tinggi. Consumer mempersepsikan bahwa motor yang berkualitas seharusnya seperti Honda. Irit dan Harga Jualnya tinggi. Tak heran semua keluaran Honda di”lahap” abis oleh para rider. Namun, datanglah Yamaha yang mulai membangun persepsi bahwa motor berkualitas itu ga Cuma irit dan harga jual saja, tapi juga harus kencang. Moment ini didukung juga dengan prestasi global Yamaha yang sukses menjadi Juara Dunia GP 500 via Valentino Rossi. Ambassador ini memperkuat persepsi bahwa Yamaha itu kencang, dan irit itu semua motor sama, paling bedanya Cuma beberapa tetes J

 

What happening ya? Hmmm Ternyata persepsi Consumer akan kualitas itu sangat-sangat berbeda. Seperti defenisi diatas dimana kualitas itu tergantung apa yang menjadi Harapan yang diinginkan oleh customer.

 

Dalam Case TVRI, consumer mengharapkan bahwa TV yang berkualitas itu adalah yang punya Content siaran seperti yang mereka mau, sehingga walaupun secara technical quality TVRI itu diatas semuanya namun secara content perception, ternyata TVRI tidak berhasil memenuhi Harapan consumer. Resultnya Kualitas bagi Consumer adalah Persepsi atas content dari siaran.

 

Pada case Aqua, kualitas secara absolute berasal dari kualitas air itu sendiri. Dimana Aqua sukses membuktikan bahwa mayoritas air tanah itu tidak sebaik kualitas Aqua. Dan itu terbukti dari hasil klinis Aqua yang jernih dan tidak berbau. Secara technical, Kualitas air yang ditawarkan oleh Aqua mengalahkan persepsi yang menjadi kepercayaan masyarakat atas air tanah mereka.

 

Lain lagi kasus Honda vs Yamaha, Kemampuan Valentino Rossi yang berhasil menaklukkan kedigjayaan Honda di kancah GP 500, menjadi referensi bagi Consumer, sehingga saat Yamaha menjalankan Kampanye ttg motor itu harus kencang dan irit itu sudah semua motor punya. Kekuatan image dari Ambassador dan minimnya pembuktian secara nyata atas perbedaan tingkat ke iritan membuat persepsi kualitas consumer akan motor berubah dari hanya irit pindah pada factor kecepatan yang walau secara realita belum tentu hasilnya sama jika Rossi sudah tidak Yamaha lagi. Mungkinkah Yamaha masih bisa mengalahkan Honda?

 

Hmm.. Kualitas yang nyata ternyata belum tentu menjadi factor utama untuk menang dan Kekuatan akan persepsi yang sudah lama ternyata juga bisa digeser oleh kualitas yang nyata.

 

Challengenya adalah bagaimana meleverage Kualitas dan Persepsi sehingga bisa memenangkan persaingan. Pilih mana? Kualitas, Persepsi atau kedua-duanya?

 

Perception vs Quality = Who will Win the Battle?

MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat? (14.08.08)

MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat?

 

Coba lihat rekan-rekan dikantor kita terutama para wanitanya. Mereka sangat familiar dengan provider MLM seperti Oriflame, Sophie Martin dll.. Katalognya pun beredar dari satu orang ke orang lain. Bahkan seringkali saat melakukan pemilihan ini mereka saling bercerita ttg kualitas produknya dan tentu saja mereka membandingkan dengan brand-brand top non MLM yang ada di TV. Wah..wah..wah.. ini yang disebut dengan High Quality WOM! Disampaikan langsung oleh pengguna yang sudah mencobanya. Hmm..

 

So apa hubungannya dengan kita para Marketer? Beda bisnis kok, kita not MLM industri. Hmm.. Anyway, coba dilihat pada sisi target market. Para Karyawan kantor itu adalah para target market kita bukan? Jika target marketnya sama, kategori produknya sama, so they are part of our competitor indeed?

 

Let’s see a glance of our Competitor, ada beberapa pemain besar dalam industri ini. CNI – (F&B, Medical, Toiletries, Cosmetic), Amway – (F&B, Medical, Cosmetic), Oriflame – (Cosmetic) dan Sophie Martin – (Fashion apparel, Cosmetic). Secara Value Size Omzet mereka mencapai ratusan milyar rupiah per tahun. Jika ditotal mungkin size industrinya mencapai angka Triliun rupiah juga. Wow! ini sebuah angka yang sangat besar!. Dan dari mana mereka dapatkan sales ini? Yap! Dari Target Market yang sama dengan yang kita incar juga.

 

Let’s See their Competitive Advantages:

1. Direct Selling

Sistem penjualan mereka adalah Direct Selling, ini adalah Power Driver mereka yang paling utama. Hanya dengan memberikan system bonus & reward yang menarik, maka para Direct Seller mereka akan jauh lebih militant dari pada pada salesman kita atau para SPG kita channel.

 

2. Personal Relationship

Siapakah yang menjadi Direct Seller mereka? Our Friend, Our Family, Our Lover.. Yap! Mereka adalah orang-orang yang punya kemampuan Influencer yang kuat secara personal Relationship. Artinya? Ya kita akan membeli dengan berbagai alasan, bisa karena percaya dengan testimoninya (Credibility) dan bisa juga karena kita tidak ingin merusak hubungan. But at the end yang penting adalah telah terjadinya Trial. Dan jelas, saat trial itu terjadi maka mereka bisa jadi akan mengurangi atau malah tidak membeli produk sejenis yang biasa mereka gunakan. Wah kalo itu terjadi, ini sudah setengah jalan untuk proses akuisisi, hanya tinggal kualitas produk yang bicara. Jika Kualitas & Pricenya sesuai dengan expectasi si pembeli.. than bye-bye your product J

 

3. Active WOM

Alat komunikasi apa sih yang paling efektif di periode jam kerja? TV ga ada, radio ga semua punya dikantor, billboard, kalo makan didalam gedung ya berarti juga minim. Padahal pekerja kantor itu bisa spend waktu hingga 10 jam kerja dengan asumsi berangkat & pulang kerja butuh 1 jam. Sampai rumah? Ya.. kalo sempat nonton TV, kalo nggak, ya berarti full day ga liat iklan. Disinilah the power of WOM yang bicara. Dengan bantuan katalog yang keliling, kita akan sering dengar “..Produk A ini bagus loh, aku udah coba trus dia juga udah coba loh..” hmm sebuah media iklan yang efektif dan active serta yang pasti adalah Terpercaya oleh si konsumen.

 

4. Convenience

Gimana gak nyaman, wong tinggal tunjuk aja produknya trus barangnya dibawain besok atau lusanya. Trus, Tinggal pake, aman deh. Layanan ini memang sangat membantu buat para karyawan yang punya waktu sedikit untuk berbelanja ke mall. Bagi mereka, MLM ini terlihat praktis dan sangat menghemat waktu.

 

5. Affordable Price

Nah, ini salah satu Power Driver mereka membeli. Harganya terjangkau buat kocek mereka. Rata-rata harga produk dibandrol antara puluhan ribu s/d dibawah 300 ribuan per itemnya. Dan jika dibandingkan dengan produk sejenis dipasaran, let’s say untuk Dompet, di MLM hanya sekitar 70 ribuan dan di Retailer bisa mencapai sekitar 100 ribuan keatas. Untuk Kualitas? Silahkan diadu, untuk brand medium kayaknya kualitasnya ga jauh berbeda. Kecuali untuk brand premium yang secara bahan juga beda banget.

Selain itu, mereka hanya mengandalkan Para Direct Seller mereka, ini tentu saja jauh lebih murah secara Biaya Produksi karena biaya tenaga kerjanya tidak akan semahal Public Company yang punya jenjang organisasi panjang. Diluar biaya-biaya brand building dan sejenisnya.

 

6. Term of Payment

Faktor ini memang bukan factor resmi dari para MLM. Namun ini sudah seperti basic service dari para Direct Seller. “… ambil aja yang lu suka dikatalog ini, bayarnya gampanglah, pas gajian aja. lumayan hemat duit cash..” . Saat gajian biasanya si agen sudah keliling “ngutipin” duit nya. Untuk item-item yang mahal mereka malah berani kasih 2 s/d 3 kali bayar! Realita loh nih bang, soalnya dikantor ada juga yang begitu hehehehe

 

Melihat 6 keunggulan diatas, rasanya pantas mereka menjadi challenger buat kita. Mungkin mereka tidak menjadikan itu brand utama mereka. Jika mereka menjadikan sebagai second brand saja, itu sudah berarti mengurangi frekuensi usage dan ujung-ujungnya menurunkan tingkat pembelian produk kita.

 

Ga pake iklan, ga pake heboh, mereka bergerak secara militan dan active. Beware and Becare bro!

 

MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat?