MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat? (14.08.08)

MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat?

 

Coba lihat rekan-rekan dikantor kita terutama para wanitanya. Mereka sangat familiar dengan provider MLM seperti Oriflame, Sophie Martin dll.. Katalognya pun beredar dari satu orang ke orang lain. Bahkan seringkali saat melakukan pemilihan ini mereka saling bercerita ttg kualitas produknya dan tentu saja mereka membandingkan dengan brand-brand top non MLM yang ada di TV. Wah..wah..wah.. ini yang disebut dengan High Quality WOM! Disampaikan langsung oleh pengguna yang sudah mencobanya. Hmm..

 

So apa hubungannya dengan kita para Marketer? Beda bisnis kok, kita not MLM industri. Hmm.. Anyway, coba dilihat pada sisi target market. Para Karyawan kantor itu adalah para target market kita bukan? Jika target marketnya sama, kategori produknya sama, so they are part of our competitor indeed?

 

Let’s see a glance of our Competitor, ada beberapa pemain besar dalam industri ini. CNI – (F&B, Medical, Toiletries, Cosmetic), Amway – (F&B, Medical, Cosmetic), Oriflame – (Cosmetic) dan Sophie Martin – (Fashion apparel, Cosmetic). Secara Value Size Omzet mereka mencapai ratusan milyar rupiah per tahun. Jika ditotal mungkin size industrinya mencapai angka Triliun rupiah juga. Wow! ini sebuah angka yang sangat besar!. Dan dari mana mereka dapatkan sales ini? Yap! Dari Target Market yang sama dengan yang kita incar juga.

 

Let’s See their Competitive Advantages:

1. Direct Selling

Sistem penjualan mereka adalah Direct Selling, ini adalah Power Driver mereka yang paling utama. Hanya dengan memberikan system bonus & reward yang menarik, maka para Direct Seller mereka akan jauh lebih militant dari pada pada salesman kita atau para SPG kita channel.

 

2. Personal Relationship

Siapakah yang menjadi Direct Seller mereka? Our Friend, Our Family, Our Lover.. Yap! Mereka adalah orang-orang yang punya kemampuan Influencer yang kuat secara personal Relationship. Artinya? Ya kita akan membeli dengan berbagai alasan, bisa karena percaya dengan testimoninya (Credibility) dan bisa juga karena kita tidak ingin merusak hubungan. But at the end yang penting adalah telah terjadinya Trial. Dan jelas, saat trial itu terjadi maka mereka bisa jadi akan mengurangi atau malah tidak membeli produk sejenis yang biasa mereka gunakan. Wah kalo itu terjadi, ini sudah setengah jalan untuk proses akuisisi, hanya tinggal kualitas produk yang bicara. Jika Kualitas & Pricenya sesuai dengan expectasi si pembeli.. than bye-bye your product J

 

3. Active WOM

Alat komunikasi apa sih yang paling efektif di periode jam kerja? TV ga ada, radio ga semua punya dikantor, billboard, kalo makan didalam gedung ya berarti juga minim. Padahal pekerja kantor itu bisa spend waktu hingga 10 jam kerja dengan asumsi berangkat & pulang kerja butuh 1 jam. Sampai rumah? Ya.. kalo sempat nonton TV, kalo nggak, ya berarti full day ga liat iklan. Disinilah the power of WOM yang bicara. Dengan bantuan katalog yang keliling, kita akan sering dengar “..Produk A ini bagus loh, aku udah coba trus dia juga udah coba loh..” hmm sebuah media iklan yang efektif dan active serta yang pasti adalah Terpercaya oleh si konsumen.

 

4. Convenience

Gimana gak nyaman, wong tinggal tunjuk aja produknya trus barangnya dibawain besok atau lusanya. Trus, Tinggal pake, aman deh. Layanan ini memang sangat membantu buat para karyawan yang punya waktu sedikit untuk berbelanja ke mall. Bagi mereka, MLM ini terlihat praktis dan sangat menghemat waktu.

 

5. Affordable Price

Nah, ini salah satu Power Driver mereka membeli. Harganya terjangkau buat kocek mereka. Rata-rata harga produk dibandrol antara puluhan ribu s/d dibawah 300 ribuan per itemnya. Dan jika dibandingkan dengan produk sejenis dipasaran, let’s say untuk Dompet, di MLM hanya sekitar 70 ribuan dan di Retailer bisa mencapai sekitar 100 ribuan keatas. Untuk Kualitas? Silahkan diadu, untuk brand medium kayaknya kualitasnya ga jauh berbeda. Kecuali untuk brand premium yang secara bahan juga beda banget.

Selain itu, mereka hanya mengandalkan Para Direct Seller mereka, ini tentu saja jauh lebih murah secara Biaya Produksi karena biaya tenaga kerjanya tidak akan semahal Public Company yang punya jenjang organisasi panjang. Diluar biaya-biaya brand building dan sejenisnya.

 

6. Term of Payment

Faktor ini memang bukan factor resmi dari para MLM. Namun ini sudah seperti basic service dari para Direct Seller. “… ambil aja yang lu suka dikatalog ini, bayarnya gampanglah, pas gajian aja. lumayan hemat duit cash..” . Saat gajian biasanya si agen sudah keliling “ngutipin” duit nya. Untuk item-item yang mahal mereka malah berani kasih 2 s/d 3 kali bayar! Realita loh nih bang, soalnya dikantor ada juga yang begitu hehehehe

 

Melihat 6 keunggulan diatas, rasanya pantas mereka menjadi challenger buat kita. Mungkin mereka tidak menjadikan itu brand utama mereka. Jika mereka menjadikan sebagai second brand saja, itu sudah berarti mengurangi frekuensi usage dan ujung-ujungnya menurunkan tingkat pembelian produk kita.

 

Ga pake iklan, ga pake heboh, mereka bergerak secara militan dan active. Beware and Becare bro!

 

MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat?

Advertisements

3 comments on “MLM The Silent Challenger = Low Profile, Big Threat? (14.08.08)

  1. mey says:

    hummm……………. kadang ga terpikir [karena ga mengalami] btapa tangguhnya para MLM…. menjual itu mudah tapi mempengaruhi orang buat jadi member itu cukup,,,yah rumit?

  2. fear month says:

    Ga setuju. Ga bisa dibilang bahwa bisnis mereka beda sama kita.
    MLM adalah “cara” memasarkan. Produk bisa sama. Price bisa sama. Yang beda mungkin Promo dan Place-nya.
    So, it’s just a way of marketing a product.

    Kita jualan suplemen. Mereka juga bisa.
    Kita jualan parfum. So do they.
    Kita jualan kosmetik. Mereka juga.

    Yang membedakan “cara” mereka dan cara kita adalah :
    * Pola membership (member get member). Bahkan ada MLM yang lebih giat cari downline dan bikin seminar seminar motivasi daripada jualan produk. Untuk MLM kayak gitu sih sebenernya mereka me-marketing-kan membership, bukan produk. Yang kayak gitu mendingan dihindari
    * Pola pembagian keuntungan. Biasanya seorang upline akan kecipratan sekian persen dari profit downline-nya.
    * Pola organisasi. Yang ini berkaitan dengan pola rekrutmen dan pola pembagian keuntungan.
    * Target penjualan. Biasanya MLM tidak memberi target sales. Semuanya adalah target pribadi.

  3. Abdul Adhim says:

    Seeep, coba gabung aja dengan komunitas bisnis Smartnet, dan temukan jawabannya bagaimana kita bisa menghasilkan profit dari dirrect selling dan bonus rekrut Terima kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s