Honda Kembali Bicara Irit : Keras Kepala, Tidak Inovatif atau Smart Strategy? (27.08.08)

Honda Kembali Bicara Irit : Keras Kepala, Tidak Inovatif atau Smart Strategy?

 

Sudah lihat iklan Honda akhir-akhir ini? Yap, Iklan mereka yang kembali bicara soal irit. (again?) Yap again!.. Keterangan irit terlihat jelas di footer setiap TVCnya yang sebelumnya tidak ada. Hmmm.. Ini mengingatkan kita pada kampanye Honda dimasa-masa keemasannya dulu. Dimana secara konsisten Honda berhasil membangun asosiasi merk bahwa motor yang berkualitas harus yang irit. Saat itu, strategi ini terbukti sangat powerful mengantarkan Honda menguasai pasar motor begitu lama.

 

Namun jika dilihat 2 tahun terakhir, kondisi berubah drastis seiring dengan suksesnya kampanye yang dibangun oleh Team Yamaha. Dimana mereka menjadi game changer kompetisi melalui kampanye bahwa irit itu sudah milik semua motor dan bahwa motor yang berkualitas adalah yang kencang. Strategi ini sukses mengantarkan Yamaha menyalip dominasi Honda untuk pertama kalinya walau secara total Honda masih menang atas Yamaha.

 

Huff.. Saya sedikit bingung untuk menuliskan opini saya, namun dari semua yang saya pikirkan ada 3 hal yang menjadi pertanyaan atas strategi Honda ini. Keras Kepala?, Tidak Innovatif atau justru ini Smart Strategy?

 

Okay, kita bahas satu persatu.

 

1.      Keras Kepala?

Kira-kira begini, udah tau itu gagal kok masih dipake? Irit itu masa lalu! Semua motor sudah harus irit.. kira-kira begitu kampanye Yamaha. Trus kenapa sekarang malah ngomong irit lagi sih? Kegagalan bereaksi atas perubahan pasar sudah menghasilkan korban dengan perubahan management di AHM. Apakah “pelajaran” itu masih kurang? Dan bukankah itu sebabnya dikeluarkan Revo, City Sport dan Beat? Karena kita sudah mulai pindah kuadran, Irit yang dulunya jadi kompetitif advantage sekarang udah jadi basic requirement. So basic requirement kok masih dikampanyekan?

 

Sama seperti Produsen Handphone (Hp) yang bilang bahwa fitur dari Hp nya adalah punya Camera.. padahal sekarang fitur itu sudah biasa mas.. Hp ya fitur dasarnya adalah Camera! Soal berapa pixel kemampuan kamera itu, sangat tergantung buat apa itu Hp? Karena secara umum bagi consumer yang penting Hp nya punya camera. Karena kalo mereka butuh camera berkualitas, maka mending pilih SLR sekalian hehehehe Dan baru unik kalo Hp anda punya camera sekualitas SLR alias bisa analog zoom bukan cuma digital zoom.

 

2.      Tidak Inovatif?

Nah, ini memang sempat melekat di Image Honda yaitu Honda hanya bisa bikin 1 mesin untuk semua varian. Alias ganti baju doang. Namun Tahun 2008, Honda menjawab tudingan itu dengan meluncurkan City Sport untuk menunjukkan bahwa mereka juga leading dalam hal teknologi. Tapi kenapa kok bukan malah ini yang dikampanyekan? Kok malah irit nya lagi yang diangkat? Secara image, apakah bukannya malah dianggap mundur? atau kemampuan inovasi Honda hanya sebatas Irit? Dan apakah Honda sebagai market leader tidak bisa membuat sebuah Quantum Leap? Atau malah mau nunggu Yamaha yang bikin Quantum Leap seperti Ipod memukul Walkman?

Honda apa tidak mau belajar dari kasus walkman Sony yang masih berkutat di design dan minor improvement pada player Walkman disaat mereka sebenarnya punya potensi untuk melakukan quantum leap. Saya pernah tulis bahwa kunci memenangkan kompetisi adalah how good you keeping the gap range. If you failed, and some one setting up the new rule.. Suddenly you will find that you already failed become the leader.

 

Dalam hal ini, Honda harusnya bisa menunjukkan kelas nya sebagai Market Leader dengan bermain diranah yang lebih tinggi yaitu Inovasi, bukan malah bermain di ranah perbaikan. Karena jika memang Honda satu-satunya pabrikan yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan tingkat ke iritan produknya, maka itu harusnya hanya sebagai pendamping dari Inovasi yang lebih tinggi.

 

3.      Smart Strategy?

Eitss mungin Bisa jadi ini adalah Smart Strategy, disaat harga BBM semakin melonjak dan tingkat kemacetan yang merata justru membuat consumer malah berpikir bahwa sebenernya kencang belum menjadi key driver utama saat ini atau bukan their main needs, karena saat ini justru yang dibutuhkan adalah motor yang irit BBM. Motor yang bersahabat secara financial. Wong sering macet kok malah nyari kencang.. wong BBM mahal kok malah cerita kencang..

 

Tentu saja ada Challenge atas asumsi diatas…

 

Okay Honda memang lebih irit. Tapi jika tidak lebih kencang maka itu akan sia-sia. Wong itu logical banget kok. Lebih lambat ya pantes jadi yang lebih irit. Nah strategy ini sebenarnya bisa menjadi sebuah strategy yang powerful jika Honda ternyata bisa membuktikan bahwa klaim yang dilakukan Kompetitor mereka itu tentang perbedaan irit itu cuma beberapa tetes saja adalah tidak benar. Tentu saja disini butuh keberanian Honda dalam melakukan aktivasi event dengan secara langsung menunjukkan bagaimana dalam kecepatan yang sama kencangnya ternyata Honda tetap lebih irit. Karena pada dasarnya kampanye kencang Yamaha itu sangat diuntungkan dengan suksesnya Yamaha secara International yang menjadi Juara Dunia Moto GP mengalahkan the Traditional King Honda. Yang secara tidak langsung merupakan pengakuan dan bukti nyata bahwa mereka memang lebih kencang dari Honda. Masalahnya tidak ada kompetisi dunia adu irit, jadi Honda memang butuh effort yang lebih dari sekedar single test irit apalagi dalam kondisi econo ride. The Real Challenge adalah irit dalam keadaan kencang.

 

Sony memilih focus mengembangkan Walkmannya via Sony Erricsonnya yang sekarang diikuti oleh Ipod dengan Iphone nya. Kenapa Honda tidak melihat potensi yang mereka miliki di pasar mobil? Integrated Holding Company Strategy mungkin akan membuat mereka jauh lebih unggul mengingat Yamaha tidak memproduksi mobil J

 

Again.. If You are Market Leader than act as Market Leader.. we are waiting your innovation not just an enhancement.. Hmm Jadi tidak sabar melihat hasilnya, karena at the end sales will talk J

 

Honda Kembali Bicara Irit : Keras Kepala, Tidak Inovatif atau Smart Strategy?

Perception vs Quality = Who will Win the Battle? (19.08.08)

Perception vs Quality = Who will Win the Battle?

 

Persepsi, Hmm.. Persepsi itu seperti semacam bookmark dipikiran kita atas sesuatu yang kita lihat, rasakan atau pengalaman yang kita terima. Atau secara ilmiah bisa dilihat diwiki ini.

Quality, Nah ini secara arti banyak sekali, namun jika diambil yang sederhananya adalah sebuah kesesuaian antara yang diberikan dengan yang diharapkan. Dam secara ilmiahnya bisa dilihat diwiki ini.

 

Secara ideal, sebuah produk yang memiliki Kualitas yang bagus harusnya memiliki Persepsi yang bagus juga oleh consumer, begitu juga sebaliknya. Kenapa? Karena jika mereka puas dengan kualitas tersebut maka secara otomatis otak akan mem-bookmark pengalaman ini dengan produk tersebut. Namun ternyata secara realita tidak demikian. Kita bisa menemukan produk yang biasa-biasa saja tapi dipersepsi lebih berkualitas oleh consumer. Wow, Kenapa bisa begitu ya?

 

Okay kita coba lihat beberapa kejadian dibawah ini:

Saat awal-awal adanya tawaran untuk iklan komersial di TV, TVRI dengan “alasan” agar TV-TV swasta bisa hidup dengan baik, memilih tidak mengambil iklan namun mengambil iuran dari mereka. Kenapa TVRI bisa bicara seperti itu? Karena secara kualitas siaran, TVRI memiliki kualitas penerimaan yang baik dan jelas, kemudian secara coverage, TVRI meraih seluruh hampir seluruh pelosok Indonesia. Jadi diatas kertas, para pengiklan sudah pasti akan memilih TVRI untuk tempat beriklan. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Iklan lebih banyak berada di TV swasta yang punya banyak keterbatasan saat itu, mulai harus pasang decoder, penerimaan masih jelek hingga terbatasnya coverage sinyal. Aneh ya? (again) kenapa bisa begitu? Ternyata consumer mempersepsikan kualitas siaran TV Swasta lebih baik dari pada kualitas siaran TVRI. Hmmm…

 

Sekarang Kita lihat lagi case berikutnya, Aqua adalah brand air minum dalam kemasan pertama. Saat dilaunch pertama kali, hambatan terbesar mereka adalah harga sebotol Aqua hampir setara dengan 1 liter bensin. Dan saat itu kualitas air dirumah masih dipersepsi bagus oleh consumer serta terlebih lagi gratis untuk mendapatkannya. Apa yang dilakukan Aqua? Dia melakukan pembentukan persepsi yang baru akan kualitas air dengan membuktikan bahwa kualitas air Aqua itu sehat dan telah teruji secara klinis. Hasilnya? Orang mulai mempersepsikan kualitas Aqua = kualitas air sehat. Kalo mau minum sehat ya jangan masak air dirumah tapi beli Aqua.

 

Menarik bukan? Okay sekarang mari kita lihat lagi case ke 3 ini, Honda terkenal dengan Irit dan harga jualnya yang tinggi. Consumer mempersepsikan bahwa motor yang berkualitas seharusnya seperti Honda. Irit dan Harga Jualnya tinggi. Tak heran semua keluaran Honda di”lahap” abis oleh para rider. Namun, datanglah Yamaha yang mulai membangun persepsi bahwa motor berkualitas itu ga Cuma irit dan harga jual saja, tapi juga harus kencang. Moment ini didukung juga dengan prestasi global Yamaha yang sukses menjadi Juara Dunia GP 500 via Valentino Rossi. Ambassador ini memperkuat persepsi bahwa Yamaha itu kencang, dan irit itu semua motor sama, paling bedanya Cuma beberapa tetes J

 

What happening ya? Hmmm Ternyata persepsi Consumer akan kualitas itu sangat-sangat berbeda. Seperti defenisi diatas dimana kualitas itu tergantung apa yang menjadi Harapan yang diinginkan oleh customer.

 

Dalam Case TVRI, consumer mengharapkan bahwa TV yang berkualitas itu adalah yang punya Content siaran seperti yang mereka mau, sehingga walaupun secara technical quality TVRI itu diatas semuanya namun secara content perception, ternyata TVRI tidak berhasil memenuhi Harapan consumer. Resultnya Kualitas bagi Consumer adalah Persepsi atas content dari siaran.

 

Pada case Aqua, kualitas secara absolute berasal dari kualitas air itu sendiri. Dimana Aqua sukses membuktikan bahwa mayoritas air tanah itu tidak sebaik kualitas Aqua. Dan itu terbukti dari hasil klinis Aqua yang jernih dan tidak berbau. Secara technical, Kualitas air yang ditawarkan oleh Aqua mengalahkan persepsi yang menjadi kepercayaan masyarakat atas air tanah mereka.

 

Lain lagi kasus Honda vs Yamaha, Kemampuan Valentino Rossi yang berhasil menaklukkan kedigjayaan Honda di kancah GP 500, menjadi referensi bagi Consumer, sehingga saat Yamaha menjalankan Kampanye ttg motor itu harus kencang dan irit itu sudah semua motor punya. Kekuatan image dari Ambassador dan minimnya pembuktian secara nyata atas perbedaan tingkat ke iritan membuat persepsi kualitas consumer akan motor berubah dari hanya irit pindah pada factor kecepatan yang walau secara realita belum tentu hasilnya sama jika Rossi sudah tidak Yamaha lagi. Mungkinkah Yamaha masih bisa mengalahkan Honda?

 

Hmm.. Kualitas yang nyata ternyata belum tentu menjadi factor utama untuk menang dan Kekuatan akan persepsi yang sudah lama ternyata juga bisa digeser oleh kualitas yang nyata.

 

Challengenya adalah bagaimana meleverage Kualitas dan Persepsi sehingga bisa memenangkan persaingan. Pilih mana? Kualitas, Persepsi atau kedua-duanya?

 

Perception vs Quality = Who will Win the Battle?

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader! (23.11.07)

Tahun 2007 ini ada trend yang sekarang seru dipasaran. Sebuah Habit yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader!

 

Hmm coba kita flash back beberapa persaingan keras dalam tahun ini :

Yamaha vs Honda, Kuku Bima vs Extra Joss, Astro vs Indovision, Mie Sedap vs Indomie..

 

So many.. baik yang satu kategori ataupun lintas kategori.. sebut saja persaingan ‘panas’ Coca Cola vs Sosro, Esia vs Para Leader Operator Selular baik GSM maupun CDMA.. Lets talk about the Marketing Strategy rather than focus to certain Brand.

 

Perang Terbuka! Yap itu gambaran yang bisa saya simpulkan, mereka ga lagi pake strategi “Desa Mengepung Kota” atau Bangun Fondasi yang kuat baru menyerang. Lihat, mereka menggunakan budget yang kurang lebih sama besar. Mereka bahkan membangun Asset yang langsung menggurita (ingat case 3 yang langsung memiliki BTS banyak di Jakarta dan Bali), membuka distribusi yang luas. Mereka tidak hanya berani Perang Harga, Tapi juga Perang Sumber Daya! Psst… beberapa bahkan berhasil mengganti Rule Of War. Irit ke Kencang, Pulsa ke Talk Time. Huff..

 

Keberanian mereka Head to Head langsung dengan para Raja benar-benar Amazing, Hard Ball alias Hancurkan the strongest point of competitor benar-benar dilakukan. Hasilnya? Beberapa dari mereka sempat menjadi Market Leader, membuat kalang kabut sang market leader, kembali ke tag line lama pun dilakoni sang Raja demi me-reminder orang-orang kalo dia masih jadi sang Raja.

 

What Happening Now? Kenapa Tekad para Challenger ini adalah menggusur sang Market Leader secepat mungkin? Apakah para Leader yang mulai kelihatan melemah dan kegemukan sehingga terduduk? Atau memang para Challenger lebih paham kepada pasar?

 

Memakai Pesan Bang Napi, “Ingat Kemenangan itu tidak hanya terjadi karena Niat dari si Challenger, Tapi juga karena Kesempatan yang dibuka oleh sang Leader”..

 

Udah dengar pesan TVC “Mau Minum Obat Masuk Angin aja kok mesti Pinter?” wuff jelas-jelas nantang si Market Leader yang punya tag line “ Orang Pintar Minum Tolak Angin”…

 

The Follower now Become the Challenger!, The Question is : Does the Leader still could be a Leader or will become the Follower? Waspadalah..Waspadalah..

 

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader!