New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader! (23.11.07)

Tahun 2007 ini ada trend yang sekarang seru dipasaran. Sebuah Habit yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader!

 

Hmm coba kita flash back beberapa persaingan keras dalam tahun ini :

Yamaha vs Honda, Kuku Bima vs Extra Joss, Astro vs Indovision, Mie Sedap vs Indomie..

 

So many.. baik yang satu kategori ataupun lintas kategori.. sebut saja persaingan ‘panas’ Coca Cola vs Sosro, Esia vs Para Leader Operator Selular baik GSM maupun CDMA.. Lets talk about the Marketing Strategy rather than focus to certain Brand.

 

Perang Terbuka! Yap itu gambaran yang bisa saya simpulkan, mereka ga lagi pake strategi “Desa Mengepung Kota” atau Bangun Fondasi yang kuat baru menyerang. Lihat, mereka menggunakan budget yang kurang lebih sama besar. Mereka bahkan membangun Asset yang langsung menggurita (ingat case 3 yang langsung memiliki BTS banyak di Jakarta dan Bali), membuka distribusi yang luas. Mereka tidak hanya berani Perang Harga, Tapi juga Perang Sumber Daya! Psst… beberapa bahkan berhasil mengganti Rule Of War. Irit ke Kencang, Pulsa ke Talk Time. Huff..

 

Keberanian mereka Head to Head langsung dengan para Raja benar-benar Amazing, Hard Ball alias Hancurkan the strongest point of competitor benar-benar dilakukan. Hasilnya? Beberapa dari mereka sempat menjadi Market Leader, membuat kalang kabut sang market leader, kembali ke tag line lama pun dilakoni sang Raja demi me-reminder orang-orang kalo dia masih jadi sang Raja.

 

What Happening Now? Kenapa Tekad para Challenger ini adalah menggusur sang Market Leader secepat mungkin? Apakah para Leader yang mulai kelihatan melemah dan kegemukan sehingga terduduk? Atau memang para Challenger lebih paham kepada pasar?

 

Memakai Pesan Bang Napi, “Ingat Kemenangan itu tidak hanya terjadi karena Niat dari si Challenger, Tapi juga karena Kesempatan yang dibuka oleh sang Leader”..

 

Udah dengar pesan TVC “Mau Minum Obat Masuk Angin aja kok mesti Pinter?” wuff jelas-jelas nantang si Market Leader yang punya tag line “ Orang Pintar Minum Tolak Angin”…

 

The Follower now Become the Challenger!, The Question is : Does the Leader still could be a Leader or will become the Follower? Waspadalah..Waspadalah..

 

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader!

Amild, Kembali Tagline Lama? Romantisme Masa Lalu, Take Back atau Desperate? (21.11.07)

Ngebahas ttg Amild semakin seru,

Kembali ke Tagline lama? Romantisme Masa Lalu, Take Back or Desperate??

 

Kenapa saya beropini 3 hal diatas? Karena menurut saya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

 

Romantisme Masa Lalu? Hmm Others Can Only Follow adalah masa jayanya Amild yang saat itu baru punya lawan Bentoel Mild, Starmild serta LA Lights. Sukses buat affirmasi sebagai market leader. Cara ini sebenarnya tidaklah salah ataupun merusak brand. Sometimes to be a Retro just like Dejavu. Remind us about our memories, trigger kembali masa-masa Indah bersama.. Pertanyaannya adalah this is a right time?

 

Take Back? Saat Kompetisi semakin keras dan semakin ketat. Follower (bisa dibaca sebagai challenger) mulai membangun New Rule of Game. Positioning semakin Blur. Enjoy Aja adalah kembalikan dari Kritisnya Tanya Kenapa. Amild yang identik dengan Musik dan Fun sekarang mulai “digerus” dengan Ekspresikan Aksimu yang lebih ringan untuk target market 18 s/d 25 alias para mahasiswa. Belum lagi competitor lawasnya juga mulai ngetop dengan Apa Obsesi mu yang bisa dibilang “lebih anak muda”. Secara Level Brand Amild mungkin bisa menganggap dirinya pada Emotional Branding. Pioneer, Market Leader dan Punya Loyal Smoker.

 

Namun satu hal yang mesti diingat New Smoker selalu tumbuh, fase Emotional ada pada para senior yang udah lama ngerokok Amild. That’s why Brand Legendaris kayak Djisamsoe harus rejuvinasi Brandnya ke lebih muda. Atau Bentoel biru menjadi “Sejati” dari pada I love the blue of Indonesia.

 

Opini Pribadi, Tanya Kenapa seperti sekolah S2, Keren, Hebat, Looks Smart and Prestisius but Ekslusif. Enjoy Aja, Apa Obsesi Muda dan Ekspresikan Aksimu lebih Ringan alias lebih S1 dan merakyat (jangan kaitkan dengan S2 dan S1 sebenarnya ya.. Cuma kiasan – Ma’af kalo ada yang tersinggung)

The Question is who is your biggest Market?

 

Dengan kembali ke Tag line lama harapannya adalah mengaffirmasi kembali brand pada perception war di smoker. Seperti ajakan atau himbauan untuk Stay with Amild and Love your Amild.

 

Desperate? Hmm ini mestinya relasional dengan keadaan trend sales sekarang. Apakah Turun atau tidak. Jika Tidak Turun dan cenderung naik maka tidak bisa dibilang Desperate tetapi lebih kepada Romantisme atau jika mulai terganggu berarti pada stage Take Back.

 

Pernah mungkin kita dikritik dengan kata-kata “..dulu ga perlu ada begini atau begitu sales kita bagus banget, kita adalah Market Leader tapi begitu mulai ganti ini dan itu kita jadi mulai berantakan..” Jika semua usaha kita mulai gagal dan bahkan semakin jelek, maka aksi seperti ini bisa jadi pilihan terdesak. Karena dipaksa oleh Para Orang Lama atau Karena pengen buktikan kalo itu juga ga efek dengan sales.

 

Kondisi kembali ke tagline lama pada fase ini sama dengan berjudi (jika tidak mau dibilang bunuh diri) karena Masa Lalu adalah masa lalu. Masa kini adalah Masa kini. Masa Depan adalah Masa Depan. Situasi dan Kondisinya ga sama

 

Anyway.. Lets see what happen, kita pernah belajar dari Amild dengan strateginya mengganti-ganti Tagline sebagai bagian penyesuaian diri.

 

Kembali Tagline Lama? Romantisme Masa Lalu, Take Back atau Desperate?