Mie Sedaap vs Indomie : Warung Sedaap vs Warung Indomie (26.05.08)

Mie Sedaap vs Indomie : Warung Sedaap vs Warung Indomie

 

Hmm.. kalo yang jarang makan Indomie diwarung, bakal ga ngeliat agresivitas Mie Sedaap dalam menjalankan akuisisi terhadap warung-warung penjual Indomie J Ini keuntungannya jadi anak kost hehehhehe..

 

Anyway Warung Indomie, adalah strategi Indomie untuk lebih mendekatkan diri ke para konsumennya. Saat itu para warung diajarkan untuk membuat Indomie, mensupport warung-warung mereka dengan spanduk dan memonitor ketersediaannya. Tahun 2006 saat masih tinggal di Jogja, saya masih menemukan warung-warung dengan sisa spanduk yang kumuh bertuliskan “Warung Indomie”. Dan saat berbicara dengan pemilik warung, dengan bangganya mereka mengatakan betapa bagusnya support Indomie saat itu.

 

Sabtu tanggal 24 May 2008, saat makan diwarung Indomie langganan saya, Saya melihat dia mulai menjual Mie Sedaap. Walau hanya beberapa bungkus. Dan saya juga melihat spanduk biru yang bututnya sudah diganti dengan Spanduk Warung Sedaap yang bagus dan kinclong.. Hmm… sebuah aktivitas akuisisi sedang berlangsung.

 

Sedikit Tanya-tanya dengan penjual :

Yg Nanya       : Wah dah mulai jualan Mie Sedaap neh?

Penjual          : Iya bang

Yang Nanya   : Emang Laku bang? Kok ada spanduknya? Dikontrak neh?

Penjual          : Ya, kalo laku syukur, kalo ga juga gpp. Dikontrak bang, perbulan dikasih   50 ribu. Tapi kalo ga laku juga gpp.

 

Kegiatan Trade Marketing yang agresif memang menjadi ciri khas Wings dalam mempenetrasi pasar. Strategi ini sangat sukses membuat Mie Sedaap beredar dan memakan share Indomie. Setelah menyerang kemana-mana, tampaknya Mie Sedaap mulai melirik “sarang” Indomie yang belum tersentuh oleh mereka. Yap! Penjual Indomie. Saking identiknya dengan Indomie, sehingga saat memesan pun orang akan bilang “bang pesan indomie rebus satu”.

 

Kegiatan mengkuisisi secara langsung traditional outlet mengingatkan saya saat menembus dominasi sebuah rokok mild dengan rokok putih yang sekarang malah jadi satu perusahaan. Yap! Strategi Mengkuisisi langsung sarangnya! Incar di kedai kopi-kedai kopi, hajar dikampus-kampus bahkan disarang yang penuh rokok itupun dimana saja akan dilabrak walau ada didalam kantin perkebunan sawit sekalipun!. Hasilnya? Walau keteteran dalam follow up distribusi, namun berhasil membuat mereka melakukan repeat order saat datang lagi.

 

Mengincar kesarang? Sebuah strategi yang beresiko tinggi but nothing to lose. Berhasil Hebat! Gagal, ya ga malu-malu amat. Lihat, dengan modal 50ribu, mereka sudah bisa menembus “Penjaga Sarang”, sekarang hanya tinggal bagaimana menembus selera para pelanggan dan merubah image ttg Jual Mie dan beli Mie Instant harus Indomie.

 

Indomie memiliki perceived value yang tinggi buat customer, hingga dulu, jangan coba-coba jual supermie dengan harga jual yang sama dengan Indomie, bisa dianggap mau cepet kaya ntar heheheheh. Tapi itu mungkin dulu, sekarang, apakah ada pelanggan yang protes? Nah peluang ini yang coba di eksplor oleh Mie Sedaap. Strategi apakah yang akan dipakai oleh Mie Sedaap? Apakah Price? Dengan mengajarkan para penjual menjual lebih murah? Atau dengan mengandalkan Rasa?

 

Semoga kali ini Indomie tidak tutup mata dan terlambat bertindak. Kecepatan beraksi dan ketepatan bertindak adalah cara jitu memukul market Leader. Let’s see how the competition will go..

 

Mie Sedaap vs Indomie : Warung Sedaap vs Warung Indomie

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader! (23.11.07)

Tahun 2007 ini ada trend yang sekarang seru dipasaran. Sebuah Habit yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader!

 

Hmm coba kita flash back beberapa persaingan keras dalam tahun ini :

Yamaha vs Honda, Kuku Bima vs Extra Joss, Astro vs Indovision, Mie Sedap vs Indomie..

 

So many.. baik yang satu kategori ataupun lintas kategori.. sebut saja persaingan ‘panas’ Coca Cola vs Sosro, Esia vs Para Leader Operator Selular baik GSM maupun CDMA.. Lets talk about the Marketing Strategy rather than focus to certain Brand.

 

Perang Terbuka! Yap itu gambaran yang bisa saya simpulkan, mereka ga lagi pake strategi “Desa Mengepung Kota” atau Bangun Fondasi yang kuat baru menyerang. Lihat, mereka menggunakan budget yang kurang lebih sama besar. Mereka bahkan membangun Asset yang langsung menggurita (ingat case 3 yang langsung memiliki BTS banyak di Jakarta dan Bali), membuka distribusi yang luas. Mereka tidak hanya berani Perang Harga, Tapi juga Perang Sumber Daya! Psst… beberapa bahkan berhasil mengganti Rule Of War. Irit ke Kencang, Pulsa ke Talk Time. Huff..

 

Keberanian mereka Head to Head langsung dengan para Raja benar-benar Amazing, Hard Ball alias Hancurkan the strongest point of competitor benar-benar dilakukan. Hasilnya? Beberapa dari mereka sempat menjadi Market Leader, membuat kalang kabut sang market leader, kembali ke tag line lama pun dilakoni sang Raja demi me-reminder orang-orang kalo dia masih jadi sang Raja.

 

What Happening Now? Kenapa Tekad para Challenger ini adalah menggusur sang Market Leader secepat mungkin? Apakah para Leader yang mulai kelihatan melemah dan kegemukan sehingga terduduk? Atau memang para Challenger lebih paham kepada pasar?

 

Memakai Pesan Bang Napi, “Ingat Kemenangan itu tidak hanya terjadi karena Niat dari si Challenger, Tapi juga karena Kesempatan yang dibuka oleh sang Leader”..

 

Udah dengar pesan TVC “Mau Minum Obat Masuk Angin aja kok mesti Pinter?” wuff jelas-jelas nantang si Market Leader yang punya tag line “ Orang Pintar Minum Tolak Angin”…

 

The Follower now Become the Challenger!, The Question is : Does the Leader still could be a Leader or will become the Follower? Waspadalah..Waspadalah..

 

New Brand Don’t Want Just To Be a Follower, But A Challenger to Beat The Leader!