More Focus & More Targeted is the Future Marketing Strategy? (31.10.08)

More Focus & More Targeted is the Future Marketing Strategy?

 

Dengan makin padatnya kompetisi di Tradisional Channel dan semakin mahalnya Modern Channel, membuat banyak para marketer melirik new Channel yang lebih murah namun (tentu saja) jauh lebih efektif. Makanya ga heran sekarang kita bisa lihat Powerade, UC 1000 dan beberapa coklat ada di Fitness Center. Atau kita juga bisa ketemu Coca Cola Vending Machine distore-store Timezone. Atau kita juga akan lihat bagaimana SWA Group memberikan harga khusus untuk majalahnya yang dijual dikampus Prasetiya Mulya.

 

New Channel seperti Spa, Kampus, Cinema, Café, Restoran, Speciality Retail Store, bahkan DJ Club menjadi lokasi favorit baru untuk promosi. Area ini sangat focus dan sangat targeted. Lihat bagaimana Iklan Marlboro begitu asik dinikmati dilayar lebar XXI dengan dukungan sound system yang mumpuni. Mulai desiran angin, siulan jingle Marlboro hingga derap langkah kuda bener-bener terasa banget. Diluar itu semua, yang pasti mata, telinga dari para penonton jelas sangat focus dan mendalami nuansa iklan tersebut. Sebuah moment yang boleh dibilang sangat langka didapatkan dari traditional media bukan?

 

Sekarang kita bisa lihat beberapa trend yang menggejala dikalangan para Marketer. dengan makin tingginya kegiatan Activation (Below The Line – BTL) yang dilakukan, bahkan beberapa Marketer mengatakan bahwa suatu saat nanti porsi budget akan berubah dari 70% Above The Line (ATL) dan 30% BTL menjadi 30% ATL dan 70% BTL.

 

Hmm they start to shift their Marketing Strategy..

 

More Focus as The Future Marketing Strategy,

Semua pelajaran ttg Brand Strategy mengajarkan kita untuk focus. Oleh karena itu dikenal Segmentation, Targeted and Positioning atau yang dikenal dengan STP. Kenapa mesti focus? Karena kita sedang berperang memperebutkan mind share alias perception war. Strategi ini merupakan best practice dan sangat jamak dipahami oleh para marketer bahkan seorang pemula seperti saya. Sejalan dengan perkembangan kompetisi yang berjalan, focus dalam hal STP saja ternyata masih belum cukup. Mengingat saat eksekusinya, masih saja tembak kesemua hal. Iklan masih dipasang di TV karena punya awareness yang tinggi. Print Ad masih dipasang dijalan protokol dengan alasan yang sama yaitu soal awareness yang tinggi. Bahkan yang sekarang masih bisa dibilang hits strategy dan merupakan most recommended way dari banyak Marketing Consultant adalah Integrated Marketing Communication (IMC) atau ada juga yang menyebutkan dengan 360 Derajat komunikasi. IMC mengajarkan kita untuk secara konsisten menyampaikan pesan ke consumer dari semua touch point yang tersedia. Mulai dari TV sampai billboard, Print Ad sampai Event Activation, bahkan jika perlu di toilet pun kita pasang brand kita.

 

Namun sekarang makna focus disini mulai semakin dipersempit dengan memilih secara selektif channel komunikasi yang digunakan. Jika kita ngomong Sport Food & Nutrition, maka semua komunikasi kita hanya akan ada di lokasi yang related dengan hal itu. Mulai dari Gym, Spa hingga Event yang berkaitan dengan sport. Kenapa? Lebih nendang hasilnya, karena tempat kita melakukan komunikasi merupakan meeting point dari segmen yang kita bidik. Less Budget with Effective Impact indeed?

 

Hal ini sebenarnya bukanlah hal baru, apalagi untuk beberapa brand yang secara kategori tidak bebas beriklan. Seperti Rokok & Bir. Mereka sangat focus berkomunikasi dengan targetnya via channel yang memang menjadi meeting pointnya. Bahkan kegiatan activation pun dilakukan secara konsisten disana. Hasilnya? Mereka jadi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan menjadi salah satu industri dengan size market yang sangat menggiurkan. Anyway.. walau terjadi karena memang “dipaksa” oleh kebijakan. But we can take it as one of Success Story to learn.

 

Challengenya adalah seberapa berani dan yakin kita untuk meninggalkan media yang penuh dengan limpahan awareness dengan totally rely on Focus Marketing Strategy? Semakin focus semakin efektif.

 

More Targeted as The Future Marketing Strategy,

Hmm sejalan dengan semakin focusnya komunikasi yang dilakukan begitu juga dengan semakin terarahnya segmen dan target yang dituju. Memang sudah banyak yang melakukan Narrow Marketing seperti memilih wanita yang usianya 20-25 tahun dengan SEC A-B. Namun dengan semakin berkembangnya kompetisi tingkat pemecahan target bisa semakin sempit dan semakin terarah.

 

Gejala paling gampang dilihat adalah dibangunnya SPBU dijalan yang sama dengan hanya dipisahkan oleh pembatas jalan. Kenapa? Karena Targetnya semakin terarah, masing-masing SPBU mengincar target market dengan jalur jalan yang searah saja. Atau bisa lihat, Bagaimana Carrefour bisa membuka 2 outlet dalam radius kurang dari 10 KM. Satu di Cempaka Mas dan satu lagi di Mall of Indonesia di Jakarta Utara. Hmm menarik bukan.

 

Kenapa mesti semakin targeted ya? Ini merupakan dukungan untuk berperang share of mind. Selain mempertajam focus komunikasi, mempertajam target merupakan salah satu solusi. Bayangkan jika Brand A sebelumnya dikenal sebagai Susu Kesehatan maka sekarang semakin terarah dengan adanya susu untuk tulang, susu untuk gemukkan badan, susu untuk diet. Kemudian dibuat semakin terarah dengan susu buat tulang buat remaja, susu tulang buat manula. Mungkin suatu saat nanti akan ada tambahan gender seperti susu tulang buat manula wanita dan susu tulang buat manula pria. Alasannya? Karena kebutuhannya mereka berbeda bukan?

 

Namun memang tidak semudah yang kita bayangkan dengan semakin focus dan terarah saja akan bisa semakin tinggi suksesnya. Sekitar 2 tahun lalu ada snack yang memposisikan sebagai snack jam 3 sore. Hasilnya? Hmm failed. Menjadi semakin focus dan semakin targeted punya trade off yang juga pantas buat dipertimbangkan. Menjadi lebih terarah memang menjadi lebih efektif namun juga punya potensi menjadi marginal. Semakin sempit target yang diambil maka semakin sulit berkembang dan semakin tinggi ketergantungan kita. Dimana perkembangan size market akan sangat tergantung dengan perkembangan target dan focus yang ada.

 

Buat Small Company yang punya satu Brand, strategy ini bisa menjadi solusi utama. Buat company yang memiliki segudang Brand dan dana, maka mereka bisa melakukan ekstensifikasi ke arah ini. Mereka bisa memiliki beberapa Brand dalam kategori yang sama dengan segmen yang berbeda-beda.

 

Ada pepatah mengatakan “lebih baik jadi Paus dikolam kecil dibanding jadi Teri disamudra”. Lebih baik jadi penguasa pasar disize terarah dari pada berperang terbuka kesemua orang tanpa arah dan tanpa batas.

 

More Focus & More Targeted is the Future Marketing Strategy?

What is The Powerful Marketing Driver? Innovation? Consumer? Or Trend? (22.10.08)

What is The Powerful Marketing Driver? Innovation? Consumer? Or Trend?

 

Marketer A     : Mau bikin program apa lu taon ini?

Marketer B     : Gw liat sekarang lagi jamannya Healthy Life, jadi gw mau bikin Coklat yang ga bikin gemuk..

Marketer A     : Udah Riset belum lo?

Marketer B     : Ga pake riset-riset bro, liat aja semua orang udah cinta ama yang sehat-sehat kok. Lagian Steve Jobs aja bilang, ga usah Tanya consumer kalo mau bikin produk.. ga bakal ada quantum leap ntar!

 

Hehehhe.. emang gitu ya dalam pemilihan Driver untuk bikin program Marketing. Ada yang memulainya dari sebuah Riset ke consumer yang sangat mendalam. Hingga bisa ada berkali-kali survey. Ada yang juga lebih percaya dengan hasil R&D dimana sebuah penemuan baru merupakan decision factor. Namun percaya ga percaya banyak juga yang sangat tergantung dengan Trend apa yang sedang “in” sekarang.

 

Hmm.. Kira-kira mana yang lebih powerful ya? Let’s go details!

 

Innovation?

Untuk yang satu ini, kita punya si Legendaris Steve Jobs. Dimana dia percaya bahwa consumer itu seringkali tidak tahu apa yang dia mau. Oleh karena itu, dibanding bertanya dengan consumer, lebih baik menciptakan sesuatu. Hasilnya? Ipod adalah bukti nyatanya. Menggila dimana-mana bahkan jadi generik label buat pemutar MP3 (format music digital). Sebuah penemuan yang spektakuler karena tidak hanya merubah industri elektronik juga merubah industri musik secara umumnya. Bahkan efek multipliernya juga menjadi generator online music store.

 

Memang benar argument yang disampaikan Steve Job, jika kita ditanya ttg sebuah produk. Maka kita akan menilainya dari “database experience” yang ada dikepala kita. Artinya kita melihat historical experience bukan membayangkan sesuatu yang belum ada. Artinya, kita bisa saja sudah puas dengan pelayanan atau produk yang sekarang namun saat sebuah inovasi dikeluarkan kita baru sadar bahwa yang kayak gini neh yang kita mau.

 

Namun ini juga bukan tanpa resiko, Lihat saja bagaimana PS3 geberan Sony kalah saing dengan Nintendo Wii. Padahal udah dikasih blue ray yang lebih keren secara gambar dan banyak hal. Namun teknologi itu sepertinya kecepetan alias far beyond the customer expectation. Hasilnya, orang masih beli tapi mereka masih belum dapat bedanya. Gimana bisa dapet, wong maen PS3 nya masih pake TV biasa hahahaha (mestinya pake full HD dong). Atau bisa juga lihat bagaimana Apple kerepotan dengan Iphone nya. Saat dimana mereka masih belum bisa menemukan Quantum Leap yang baru dan masih berkutat dengan upgrade-upgrade minor saja. Hasilnya saham mereka malah masih ga keangkat.

 

Hmm that’s Innovation, let’s move on..

 

Consumer?

Banyak yang bisa jadi contoh untuk hal ini. Mayoritas marketer masih menggunakan pendekatan consumer. Apalagi pada Multi National Company (MNC) mereka masih bergantung dengan hasil-hasil riset baik kuantitatif maupun kualitatif. Secara regular mereka melakukan penggalian yang lebih dalam ttg Need & Wants nya para consumer. Baik melalui Behavioral survey ataupun via Focus Group Discussion. Hasilnya akan menjadi acuan dalam setiap peluncuran program ataupun peluncuran produk baru. Hmm mungkin bisa dibilang can’t live without it hehehehehe

 

Banyak metode-metode survey yang bisa menggali Need dan Wants para consumer. Bahkan metode yang paling anyar yaitu metaphoria melakukan pendekatan dengan menggunakan symbol-simbol. Dengan bertanya ke Consumer, kita jadi tau bahwa susu yang mereka minum itu harusnya jangan bikin mules. Atau consumer ternyata butuh kemasan yang anti tumpah. Atau ternyata mereka ingin kadar gula coklat kita dibikin zero agar tidak mengganggu program hidup sehat yang sedang mereka canangkan.

 

Mengabulkan apa yang diharapkan consumer tentu saja membuat mereka semakin cinta dengan produknya. Dan bagi brand, tentu ini part of retention program. Itulah kenapa tiap company sampai membuat department yang bernama Customer Relation Management atau di retail disebut dengan Loyalty and Retention Management. Namun tetap itu juga punya resiko. Ingat dong dengan Walkman, yap consumer mana saja yang ditanya ttg apa yang mereka harapkan dari Walkman yang baru akan bicara seputar semakin tipis, semakin ringan, semakin berwarna namun mungkin tak satupun diantara mereka yang akan minta Walkmannya bisa buat muter dan nyimpen 10.000 lagu bukan? Wong waktu itu believe yang ada masih seputar CD dan DVD.

 

Wuhhh makin seru ya.. kita maju lagi ya..

 

Trend?

Online Marketing itu lagi trend sekarang. Lu kalo bikin program pastikan via web. Liat aja semua orang sudah pake internet trus anak-anak kecil aja udah pake henpon. Cara lama udah mati guys, sekarang eranya Online! Hasilnya, banyak yang tiba-tiba bikin web, ikutan di facebook trus bikin pages dan kompetisi online. Hmmm memang hasilnya sangat signifikan, bayangkan ada web yang dalam sehari punya 10.000 klik atau kompetisi online yang diramaikan para blogger. Bahkan ada banyak orang yang join ke fans page dari sebuah brand di facebook.

 

Trend memang seringkali menggoda. Dalam banyak kesempatan trend memang sesuatu yang menggiurkan dan sayang jika dilewatkan. Jika kita ikut trend maka kita baik sebagai marketer maupun secara produk akan dianggap modern dan up to date. Sekaligus tentu saja mendapatkan target market yang sedang ikut trend itu sendiri. Trend muncul dari sebuah hal baru yang dengan cepat menjadi new indentity bagi consumer kita. Mereka jadi New Behavior dan New Life. Namun patut diingat ini masih bersifat temporary alias bisa jadi semakin berkembang namun bisa jadi hanya sesaat saja. Artinya pendekatannya bisa berubah dan masih perlu dukungan traditional way.

 

Saat Trend strategy Integrated Marketing Communication dicetuskan, semua orang pake ini. Bikin apa-apa maunya 360 derajat. Dari TVC ampe Toilet pun dihajar. Hasilnya Sukses! Namun dari situ muncul lagi Targeted Communication, dimana trend para marketer hanya berkomunikasi via channel tertentu saja sesuai dengan target marketnya. Jadi kalo memang buying decisionnya banyakkan di channel maka mendingan focus ke Outlet promotion. Ngapain sibuk bikin di TV. Nah sekarang malah mulai pindah lagi dengan ke dunia maya. Dari hanya via Web trus makin segmented ke blog trus melebar lagi ke Community web.

 

Trend itu bagus asal jangan latah aja jadi suka generalisasi saja dan tetap inget dengan segmentesi sendiri. Kata-kata men-generalisasi harus dihindarkan, seperti kata-kata : semua orang, atau sekarang itu jamannya bla-bla atau semua consumer itu maunya bla-bla… padahal kenyataanya adalah baru beberapa kota besar yang punya kemampuan 3G sehingga kalo mau pake web 2.0 format secara mobile itu susah wong buka emailnya pake GRPS hehehehehehe.

 

Hmm seru ya… secara umum, tiap Driver factor diatas itu punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Ada yang cocok buat industri A dan ga cocok buat B begitu juga sebaliknya. Serta ada yang cocok buat objektif D dan ga cocok untuk objective C.

 

Terlalu fanatic atas satu factor saja akan jadi boomerang dikemudian hari. Be flexible! bukan caranya yang utama tapi tujuannya yang utama. Cara bisa apa aja tapi tujuan tetap satu bukan? Kalo tujuan ampe ga konsisten itu baru masalah!

 

What is The Powerful Marketing Driver? Innovation? Consumer? Or Trend?