Emotional Brand = The Ultimate Stage of Brand? (14.02.08)

Emotional Brand = The Ultimate Stage of Brand?

 

Okay, saya tahu ttg life cycle brand dan jika sudah secara emosional terikat dengan brand maka customer kita sudah seperti Evangelis. Ada banyak contoh ttg brand brand yang menjadi heritage dan sudah masuk fase emotional brand. Pertanyaannya apa iya saat Brand sudah menjadi emotional brand maka itu adalah puncak dari stage of brand? Than what? Just maintaining?

 

Hmm, banyak memang factor yang menguntungkan kita saat customer terikat secara emosional dengan brand kita seperti Evangelis, mereka akan menjadi brand advocate kita. Bahkan mereka akan menjadi freelance Promotor untuk brand kita. Tak heran sekarang kita lihat, banyak iklan yang menjurus kesana. Banyak brand sibuk membuat iklan-iklan yang menyentuh emosional pemirsa. Mulai dari ice cream, pembalut, pembersih wajah bahkan pesawat terbang pun melakukan sama.

 

Apakah ada stage diatas Emotional Brand? Tidak ada karena kita tidak tahu? Atau Tidak ada karena kita sudah puas dengan prestasi kita membuat emotional brand? Atau memang kita kurang explore?

 

Let’s check, apakah emotional brand is the ultimate stage? Atau jangan-jangan itu adalah the beginning of the next journey of the brand.

 

Mungkinkah pada tahap Emotional Brand itu ada tahap menjadi Emotional Brand yang menjadi seperti basic product again? Jadi semacam naik level with the same brand stage cycle.

 

Menjadi Emotional Brand dan jika pada fase itu hanya maintaining, persis seperti Klimaks Lomba Lari yang seru saat berlomba dan gembira saat jadi juara dan selebihnya Jadi Juara Lomba menjadi hal yang biasa dan tidak istimewa lagi. Semua penggemar sudah mengasosiasikan Lomba itu dengan kita sebagai sang juara tak terkalahkan. Tapi daya tarik atas lomba itu menjadi berkurang karena sudah yakin siapa yang juara. Is it what we want?

 

Or my be it’s better being a regular brand with non emotional approach with an emotional impact. Simplenya seperti Jam tangan yang ada di tangan kita. That’s a regular thing (standard) but once it’s not there, you will look around the world to find it.

 

Emotional Brand = The Ultimate Stage of Brand?

Big Budget vs Low Budget = Power vs Creativity = Will the Impact stay the same if … ? (11.02.08)

Big Budget vs Low Budget = Power vs Creativity = Will the Impact stay the same if … ?

 

Ini adalah pertanyaan ttg sebuah keberhasilan dari sebuah strategi dengan latar belakang ukuran adalah budget yang dimiliki. Semacam afirmasi dari hal-hal yang sekarang (mungkin) kita sedang alami.

Seperti behind of the success story dengan kata tanya “What will happen if.. of How if..”

 

Sebelum ke core, ini adalah dasar saya menganalogikan Power & Creativity.

 

Big Budget = Power,

Kenapa saya sebut demikian, karena banyak duit berarti punya banyak pilihan dan semakin banyak cakupan media yang bisa kita gunakan. Mulai dari Branding (Advertising), Channel Promo and Consumer Promo bahkan jika masih ada juga lebihnya bisa digunakan untuk Social Activity.

So Powerfull indeed?

 

Low Budget = Creativity,

Yap! Kreatifitas adalah sesuatu yang harus dimiliki saat kita menghadapi keterbatasan. Since, we only have limited bullets with a lot of Target to Shoot.

 

Hmm.. Mana yang paling berhasil ya?

Jawabannya so pasti tergantung siapa yang gunakan, dimana trus diindustri mana alias sangat tergantung situasi & kondisi trus bla..bla..bla.. Anyway I am not talking about that..

 

There’s a good quote : Koki yang hebat adalah Koki yang bisa memasak dengan enak dan Lezat dengan bumbu terbatas..

 

Now Let’s see the following stories to check the question Will the Impact Stay the same if…

 

Case Big Budget = Power

Dengan sumber dana yang selalu besar, tak heran salah satu sebuah perusahaan Consumer Goods terbesar di dunia ini selalu berhasil mengangkat dan mengelola brandnya dengan baik. Sebut saja saat mereka membeli Product Kecap Local yang berhasil dipoles secara nasional. Mereka promosi secara masif dimana-mana tanpa mengeyampingkan kekuatan strategi Marketing yang baik, that’s one of the Power of Big Budget.

Pertanyaannya adalah apakah itu akan terjadi jika dengan budget terbatas?

 

Case Low Budget = Creativity

Dan coba lihat perusahaan rokok mild yang baru keluar dan dengan budget yang tidak sebesar sang market leader saat itu, mereka dengan tepat mensponsori sebuah acara di Café yang terkenal dengan I Love Monday nya. Selain factor rasa, cara mereka cukup ampuh untuk menembus dominasi sang Leader. Terbukti mereka jadi rokok mild yang bikin sang leader repot.

Pertanyaanya adalah apakah ide seperti ini akan keluar jika punya budget besar?

 

Hmm.. Agar tidak bias, let’s focus pada 2 Pertanyaan ini.

Apakah keberhasilan dari sebuah product yang menggunakan budget besar bisa dicapai jika dilakukan dengan budget yang terbatas?

Serta Apakah Kreatifitas yang muncul dari keterbatasan budget itu bisa keluar saat kita punya budget besar?

 

So what will the result?

Big Budget vs Low Budget = Power vs Creativity = Will the Impact stay the same if … ?