Indonesia Kekurangan Marketer Hebat? – Kurangnya Kaderisasi atau Ngejar Sukses Instant? (18.07.08)

Indonesia Kekurangan Marketer Hebat? – Kurangnya Kaderisasi atau Ngejar Sukses Instant?

 

Berapa lama sih umur para Marketer bertahan di sebuah perusahaan? 5 Tahun? 4 Tahun? 3 Tahun atau dibawah 1 Tahun?  Kalo yang ngetop dan sukses bikin prestasi kira-kira berapa lama? 1 bulan setelah berita sukses beredar? Hmm Turn Over Marketer cepat sekali ya… Bulan lalu disini, eh bulan depan dah disana. Hari ini bilang Produk A, eh besoknya bilang Produk B…

 

Kemana mereka? Ada yang naik pangkat (which is ini bagus banget karena berarti akan ada jenjang karir yang jalan). Sisanya? Dibajak! Yap! Dibajak! Bisa dengan Industri yang sejenis atau pun yang berbeda sama sekali. Hmm trus apa hubungannya dengan judul diatas ya? Hehehe tentu ada hubungannya, coba lihat dong para Marketer yang wara-wiri dibajak itu.. The Same Circle.. the MVP Circle. Para Top Marketer!

 

Coba Lihat majalah MIX, pada kolom Marketers Career Promotion, mostly the same people atau biasa disebut 4L alias Lu Lagi Lu Lagi. Kenapa ya? Kita kekurangan Marketer Hebat atau hanya mau mengejar Sukses secara Instan?

 

Let’s Chunk it down,

1. Kurangnya Marketer Hebat:

Pertanyaan pertama, jika punya anak buah dikantor, lets say ABM (Assistant Brand Manager). Mana yang lebih sering anda lakukan? Mengirimnya ke Seminar-seminar atau Menjadi Mentor untuk dia? Ukurannya gampang, lihat saja porsi kerjaan mereka banyakan jadi administrasi, PA (personal assistant) atau diberikan project yang membutuhkan asistensi kita selama proses itu berjalan?

Kenapa Mentoring itu Penting? Ilmu bisa dibeli, dipelajari dan dilatih. Tapi Pengalaman, Intuisi dan Wawasan hanya bisa didapatkan dari Jam Terbang dan Sharing yang Intensive.

 

Kalo proses kaderisasi ini tidak berjalan, jangan harap bisa terjadinya Sustainable of Success. Ga heran kalo ada company yang membajak kembali Marketer jagonya setelah dibajak oleh company lain. Tanpa bermaksud menyamakan kondisi dan melupakan aspek-aspek lain, Coba Lihat jika seorang Bos Marketer pindah, biasanya para Key Officernya juga ikut pindah…

 

Hmmm ada ga ya, Kaizen nya Marketing? Alias Continuous Improvement yang sustainable through the system and human resources?

 

2. Mengejar Sukses Instan

Nah ini factor yang bisa disebut factor Causal! Seperti Klub Bola yang hobi bajak Top Player, punya duit banyak? Bajak aja Marketer hebat. Ngapain buang-buang uang dan waktu untuk melatih Marketer from Zero to Hero. Semakin intens kegiatan pembajakan ini, maka semakin rendah loyalitas Marketer ke sebuah perusahaan.

 

Pertanyaannya apa yang menjamin dia akan stay dicompany kita?

 

Sukses itu ga bisa dibangun dengan Instan, tapi dengan fundamental yang kuat. Dan… membangun fundamental yang kuat jelas butuh Konsistensi, Waktu, Dana serta Komitment.

 

So?

Indonesia Kekurangan Marketer Hebat? – Kurangnya Kaderisasi atau Ngejar Sukses Instant?

Tung Desem Waringin & 100 juta = Nyebar Uang itu (lebih) Efektif? (29.05.08)

Tung Desem Waringin & 100 juta = Nyebar Uang itu (lebih) Efektif?

 

Dibawah ini adalah kutipan dari berita di Detik.com hari ini. Dengan Bapak Diki M Sidik, Staf Humas Tung Desem Waringin:

 

“…Diki menjelaskan, aksi Tung itu merupakan perumpamaan dari strategi marketing. Tung hendak menunjukkan banyaknya promosi yang sia-sia untuk memasarkan produknya.
“Banyak terjadi marketing sekarang seperti membuang uang di gunung berapi, tidak berbekas. Kalau orang pasang iklan, tidak bisa diukur berapa hasil dari iklan itu. Seperti baliho misalnya, itu kan buang uang saja,” beber Diki.

Maka, lanjut dia, dibuatlah semacam perumpamaan. Daripada uang dibuang, lebih baik dibagikan saja ke masyarakat..”

 

 

Let’s Discuss it:

First, Sebagaimana dengan case-case sebelumnya, suka atau tidak suka posting email ini mungkin menambah efek WOM dari program Nyebar Uang. Anyway, let’s see from Marketing side.

 

Kutipan diatas belum jelas arahnya, mengingat bukunya juga belum keluar. Namun kata-kata…. “Banyak terjadi marketing sekarang seperti membuang uang di gunung berapi, tidak berbekas. Kalau orang pasang iklan, tidak bisa diukur berapa hasil dari iklan itu. Seperti baliho misalnya, itu kan buang uang saja”… Mungkin bisa menjadi bahan evaluasi kita bersama dan yang menjadi pertanyaan pada subject posting ini.

 

Apakah Nyebar Uang itu (lebih) efektif? Jika dikaitkan dengan ukuran, apakah itu lebih terukur dari pasang iklan? Apakah ada korelasi antara Peningkatan Penjualan Buku dengan Penyebaran Uang? Dan jika dihitung total biaya dibagi total sales buku nanti akan lebih baik ratio cost/unitnya?

 

Semua kegiatan yang besifat spekatakuler, unik, nyeleneh dan out of box mayoritas objectivenya adalah mendapatkan perhatian. Alias berusaha stand out from the crowd secara instant!. Efektif? Yap efektif buat mendapatkan awareness. Pertanyaannya apakah relate to product? Tergantung buat siapa buku itu ditulis? Berapa harga ecerannya? Karena, Semua kegiatan Marketing harus relate dengan STPnya (segmentation, Targeting and Positioning). Jika tidak, maka seperti marketing tanpa arah dan yang pada akhirnya akan menghasilkan ineffective/waste of marketing program.

 

Perhatian atau Awareness itu sendiri, baru merupakan 1 step/proses sebelum sampai ke tahap Engagement alias Beli. Masih ada step-step berikutnya yang harus dilalui. Walau ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan Brand (brand Value&Image). Jika brand nya kuat maka begitu Launch langsung terjadi action beli. Tapi jika tidak? maka paling tidak akan ada phase sebelum itu terjadi, termasuk nungguin cerita orang yang dah beli buku itu.

 

Kegiatan Marketing itu bukan seperti masak Mie Instant, yang tinggal dibuka bungkusnya dan direbus baru dimakan. Kegiatan Marketing itu seperti Memasak Makanan Lengkap. Sebelum dimasak, diingat dulu siapa yang akan makan, sehingga tau apa yang akan dimasak, berapa banyak yang dimasak dan apa saja yang akan dihidangkan sebagai pendamping masakannya. Walau objective akhirnya sama yaitu Makan yang kenyang.

 

So? Apakah menyebar uang itu (lebih) efektif?

 

 

Tung Desem Waringin & 100 juta = Nyebar Uang itu (lebih) Efektif?