Big Budget vs Low Budget = Power vs Creativity = Will the Impact stay the same if … ? (11.02.08)

Big Budget vs Low Budget = Power vs Creativity = Will the Impact stay the same if … ?

 

Ini adalah pertanyaan ttg sebuah keberhasilan dari sebuah strategi dengan latar belakang ukuran adalah budget yang dimiliki. Semacam afirmasi dari hal-hal yang sekarang (mungkin) kita sedang alami.

Seperti behind of the success story dengan kata tanya “What will happen if.. of How if..”

 

Sebelum ke core, ini adalah dasar saya menganalogikan Power & Creativity.

 

Big Budget = Power,

Kenapa saya sebut demikian, karena banyak duit berarti punya banyak pilihan dan semakin banyak cakupan media yang bisa kita gunakan. Mulai dari Branding (Advertising), Channel Promo and Consumer Promo bahkan jika masih ada juga lebihnya bisa digunakan untuk Social Activity.

So Powerfull indeed?

 

Low Budget = Creativity,

Yap! Kreatifitas adalah sesuatu yang harus dimiliki saat kita menghadapi keterbatasan. Since, we only have limited bullets with a lot of Target to Shoot.

 

Hmm.. Mana yang paling berhasil ya?

Jawabannya so pasti tergantung siapa yang gunakan, dimana trus diindustri mana alias sangat tergantung situasi & kondisi trus bla..bla..bla.. Anyway I am not talking about that..

 

There’s a good quote : Koki yang hebat adalah Koki yang bisa memasak dengan enak dan Lezat dengan bumbu terbatas..

 

Now Let’s see the following stories to check the question Will the Impact Stay the same if…

 

Case Big Budget = Power

Dengan sumber dana yang selalu besar, tak heran salah satu sebuah perusahaan Consumer Goods terbesar di dunia ini selalu berhasil mengangkat dan mengelola brandnya dengan baik. Sebut saja saat mereka membeli Product Kecap Local yang berhasil dipoles secara nasional. Mereka promosi secara masif dimana-mana tanpa mengeyampingkan kekuatan strategi Marketing yang baik, that’s one of the Power of Big Budget.

Pertanyaannya adalah apakah itu akan terjadi jika dengan budget terbatas?

 

Case Low Budget = Creativity

Dan coba lihat perusahaan rokok mild yang baru keluar dan dengan budget yang tidak sebesar sang market leader saat itu, mereka dengan tepat mensponsori sebuah acara di Café yang terkenal dengan I Love Monday nya. Selain factor rasa, cara mereka cukup ampuh untuk menembus dominasi sang Leader. Terbukti mereka jadi rokok mild yang bikin sang leader repot.

Pertanyaanya adalah apakah ide seperti ini akan keluar jika punya budget besar?

 

Hmm.. Agar tidak bias, let’s focus pada 2 Pertanyaan ini.

Apakah keberhasilan dari sebuah product yang menggunakan budget besar bisa dicapai jika dilakukan dengan budget yang terbatas?

Serta Apakah Kreatifitas yang muncul dari keterbatasan budget itu bisa keluar saat kita punya budget besar?

 

So what will the result?

Big Budget vs Low Budget = Power vs Creativity = Will the Impact stay the same if … ?

Price War = Kegagalan Brand? (23.01.08)

Price War = Kegagalan Brand?

 

Sabar-sabar, jangan marah-marah dulu. Statement diatas merupakan pertanyaan yang justru butuh konfirmasi dari kita, para Marketer.

 

Saya ingat saat belajar ttg Marketing waktu kuliah, salah satu dosen saya bilang. “Product akan pindah dari kuadran komoditas begitu sebuah Brand dilekatkan padanya”. Dan menurut beliau Brand jugalah yang membuat kita tidak perlu ikut berlumpur diperang harga dan menjauh dari takdir komoditas.

 

Dia mencontohkan Tepung Terigu Segitiga Biru dari Bogasari yang bisa dijual lebih mahal dari Tepung terigu diwarung-warung. Trus Brand juga yang membuat kita melupakan bahwa modal bikin kopi ga lebih dari 15 ribu rupiah saat minum secangkir kopi di Starbuck. Bahkan Brand bisa membuat orang merogoh kocek hingga puluhan jutaan rupiah untuk membeli Vertu – handphone dengan fitur sederhana.

 

So, what happen now? Apakah preferensi sudah berubah? Apakah teori diatas tidak bisa diterapkan dibeberapa industri? Seperti Telekomunikasi yang sibuk perang harga? Atau ada sebuah kesalahan yang kita buat sebagai Marketer sehingga gagal mempertahankan esensi dari tujuan dasar pembuatan sebuah brand?

 

Brand dibuat tidak hanya sebagai identitas pembeda. Karena Brand yang menentukan perceive value dari sebuah product. Dan Brand juga yang membuat kita bisa terbang jauh dari statisnya fungsi dasar dari produk.

 

Membangun Brand itu butuh konsistensi. Persis seperti hidup, kadang-kadang saat tekanan hidup datang menimpa kita harus tertatih-tatih untuk melangkah. Terjatuh dalam lumpur yang kotor. Namun kita selalu konsisten untuk menjaga Value dari diri kita. Dan itu yang membuat kita bisa menjadi Brand Legendaris/Heritage Brand.

 

Harley tidak tergoda untuk ngomongin irit dan kencang, karena dia adalah Harley bukan sekedar motor. Singapore Airlines tidak tergoda berperang harga melawan Air Asia karena mereka memang beda. Brand mereka lebih kuat dari pengaruh yang ada disekitarnya.

 

Jika Price menjadi faktor utama switching dan jadi strategi utama untuk bertahan hidup, apa bedanya dengan product kita dengan komoditas dipasar? Membangun Brand untuk product yang kita perlakukan sebagai komoditas sama dengan menambah biaya. Lebih baik kasih Brand sekedarnya dan mulailah perang harga itu jauh lebih baik.

 

So? Jika kita melihat ada banyak Brand yang sibuk perang harga apakah itu berarti kegagalan membangun sebuah Brand? Atau memang industri tersebut tidak butuh Brand?

 

Price War = Kegagalan Brand?