Harga Pulsa & Starterpack Mahal = Kegagalan Telco dlm Trade Marketing? (10.06.08)

Harga Pulsa & Starterpack Mahal = Kegagalan Telco dlm Trade Marketing?

 

Hmm, 3 hari yang lalu saya membeli starterpack Esia di warung pulsa. Dipacknya tertulis, harga Rp.15.000 dan mendapatkan benefit senilai Rp.25.000,-. Kenyataanya sipenjual mematok harga starterpacknya Rp.25.000,- itu juga karena nomernya ga cantik. kalo yang nomer cantik malah dipatok Rp.50.000 s/d Rp.100.000,-

Lalu, saya juga ada beberapa kali membeli pulsa Simpati 50.000,-. Nah ini fluktuasi harganya dari 51.000 s/d 55.000. Sekali lagi ada deviasi yang cukup besar.

 

Why??

 

Kita coba lihat Rokok, dalam case ini malah dijual dibawah harga bandrol. Trus, Snack, hanya beda Rp.1.000 ama supermarket. dan yang pasti, para canvasser nya benar-benar fokus untuk mengontrol harga eceran tertingginya. Rokok misalnya, mereka bahkan memasang stiker, berapa harga per batang nya. Atau kita juga bisa lihat ke RTD seperti Coca Cola, Teh Botol Sosro, Aqua. Harga eceran benar-benar dikontrol.

 

Saat ini, semua telco perang harga. Tapi kenapa mereka “melupakan” Entry Barrier Customer untuk Switch ya?

Gimana bisa pindah nomer langsung, kalo beli starterpack aja mahal. Trus, gimana Marketernya bisa eksekusi dan evaluasi program dengan bener, lah kalo harga eceran dengan harga pack berbeda? Dalam case ini kita ambil contoh Esia yang saya beli. Benefit yang dijanjikan pada pack nya (beli Rp.15.000 dapet 25.000) tidak bisa saya nikmati. Karena saya beli 25.000 yah wajar kalo dapat 25.000 juga. Memang bukan salah Esia, tapi apakah ini salah pengecer?

Ini tidak hanya terjadi pada Esia tapi oleh hampir semua brand telco.

 

Dimanakah letak kesalahan ini? ups sebentar, sebelum saya bilang ini kesalahan, pertanyaan pertama adalah apakah ini sudah tepat? Apakah memang starterpack dan pulsa itu tergantung pengecer? alias lepas bebas dipasar? Jika iya, ga perlu dong ditulis harga dipack nya. Dan yang pasti ini jelas bikin pelanggan merasa dirugikan. hmm, sebentar, Tapi jika tidak, kenapa sampai sekarang masih tetap begini ya? apakah tidak ada yang urusin ini? Kemana Trade Marketing nya? Dimana Canvasser nya? yang jelas, Apa Action dari para Marketing Manager nya?

 

Brand Image itu dinilai atau diperoleh dari akumulasi semua titik pertemuan antara brand dengan pelanggan. Mulai dari saat dilihat, didengar, dibeli, digunakan hingga saat after sales. Jika ada masalah disalah satu titik, jelas akan mengurangi image dari Brand tersebut. Hmm atau mungkin akan ada komentar, “Murah dipake Mahal dibeli?”

 

Let’s improve on this.. Manage your channel than you could Manage your Customer.

 

 

Harga Pulsa & Starterpack Mahal = Kegagalan Telco dlm Trade Marketing?

Mie Sedaap vs Indomie : Warung Sedaap vs Warung Indomie (26.05.08)

Mie Sedaap vs Indomie : Warung Sedaap vs Warung Indomie

 

Hmm.. kalo yang jarang makan Indomie diwarung, bakal ga ngeliat agresivitas Mie Sedaap dalam menjalankan akuisisi terhadap warung-warung penjual Indomie J Ini keuntungannya jadi anak kost hehehhehe..

 

Anyway Warung Indomie, adalah strategi Indomie untuk lebih mendekatkan diri ke para konsumennya. Saat itu para warung diajarkan untuk membuat Indomie, mensupport warung-warung mereka dengan spanduk dan memonitor ketersediaannya. Tahun 2006 saat masih tinggal di Jogja, saya masih menemukan warung-warung dengan sisa spanduk yang kumuh bertuliskan “Warung Indomie”. Dan saat berbicara dengan pemilik warung, dengan bangganya mereka mengatakan betapa bagusnya support Indomie saat itu.

 

Sabtu tanggal 24 May 2008, saat makan diwarung Indomie langganan saya, Saya melihat dia mulai menjual Mie Sedaap. Walau hanya beberapa bungkus. Dan saya juga melihat spanduk biru yang bututnya sudah diganti dengan Spanduk Warung Sedaap yang bagus dan kinclong.. Hmm… sebuah aktivitas akuisisi sedang berlangsung.

 

Sedikit Tanya-tanya dengan penjual :

Yg Nanya       : Wah dah mulai jualan Mie Sedaap neh?

Penjual          : Iya bang

Yang Nanya   : Emang Laku bang? Kok ada spanduknya? Dikontrak neh?

Penjual          : Ya, kalo laku syukur, kalo ga juga gpp. Dikontrak bang, perbulan dikasih   50 ribu. Tapi kalo ga laku juga gpp.

 

Kegiatan Trade Marketing yang agresif memang menjadi ciri khas Wings dalam mempenetrasi pasar. Strategi ini sangat sukses membuat Mie Sedaap beredar dan memakan share Indomie. Setelah menyerang kemana-mana, tampaknya Mie Sedaap mulai melirik “sarang” Indomie yang belum tersentuh oleh mereka. Yap! Penjual Indomie. Saking identiknya dengan Indomie, sehingga saat memesan pun orang akan bilang “bang pesan indomie rebus satu”.

 

Kegiatan mengkuisisi secara langsung traditional outlet mengingatkan saya saat menembus dominasi sebuah rokok mild dengan rokok putih yang sekarang malah jadi satu perusahaan. Yap! Strategi Mengkuisisi langsung sarangnya! Incar di kedai kopi-kedai kopi, hajar dikampus-kampus bahkan disarang yang penuh rokok itupun dimana saja akan dilabrak walau ada didalam kantin perkebunan sawit sekalipun!. Hasilnya? Walau keteteran dalam follow up distribusi, namun berhasil membuat mereka melakukan repeat order saat datang lagi.

 

Mengincar kesarang? Sebuah strategi yang beresiko tinggi but nothing to lose. Berhasil Hebat! Gagal, ya ga malu-malu amat. Lihat, dengan modal 50ribu, mereka sudah bisa menembus “Penjaga Sarang”, sekarang hanya tinggal bagaimana menembus selera para pelanggan dan merubah image ttg Jual Mie dan beli Mie Instant harus Indomie.

 

Indomie memiliki perceived value yang tinggi buat customer, hingga dulu, jangan coba-coba jual supermie dengan harga jual yang sama dengan Indomie, bisa dianggap mau cepet kaya ntar heheheheh. Tapi itu mungkin dulu, sekarang, apakah ada pelanggan yang protes? Nah peluang ini yang coba di eksplor oleh Mie Sedaap. Strategi apakah yang akan dipakai oleh Mie Sedaap? Apakah Price? Dengan mengajarkan para penjual menjual lebih murah? Atau dengan mengandalkan Rasa?

 

Semoga kali ini Indomie tidak tutup mata dan terlambat bertindak. Kecepatan beraksi dan ketepatan bertindak adalah cara jitu memukul market Leader. Let’s see how the competition will go..

 

Mie Sedaap vs Indomie : Warung Sedaap vs Warung Indomie