Building Brand vs Building Trust = Product Brand vs Company Brand ? (01.12.08)

Building Brand vs Building Trust = Product Brand vs Company Brand ?

company-brand-image2Hmm saya hari ini “sedikit” berdebat seru dengan temen saya, seorang traditional trader. Sedikit cerita ttg backgroundnya, beliau adalah penjual air minum isi ulang yang sempet juga unofficially “pegang” traditional night venuenya Sosro dan Coca Cola di Pekanbaru Riau. Coverage jualannya adalah tetangga-tetangganya disekitar rumah dengan radius kurang lebih 5 kilometeran untuk air minum isi ulang dan sekitar 15 kilometeran untuk night traditional venue seperti tukang nasi goreng, warung nasi dan kedai-kedai kopi malam.

Okay, here the story..

“kamu tau ga nald, para marketer itu sibuk building brand untuk jualan kesiapa sih? Consumer bukan?” ….. “jika consumer yang menjadi target mereka kenapa mereka perlu building brand?” …… “supaya bisa diingat karena banyaknya produk sejenis dilapangan bukan?”…….”hmm yang sebenernya, mereka itu berusaha untuk langsung mendapatkan kepercayaan dari semua consumer secara instant!”…. “cara termudah ya building brand”……….”aku lebih percaya dengan yang namanya trust!”………”no matter the brand is if I trust them than I will buy it!”. Butuh waktu lama memang, tapi hasilnya jauh lebih praktis dari pada saya Cuma bangun product brand saja.

Hmm sepertinya dia punya kepercayaan yang berbeda antara Product Brand dan Company Brand, Menarik bukan? “I believe the Company! Than the product’s brand” ups.. hmm Why? “The Trusty company will only deliver the trusty product!”. Contoh.. “aku jualan air sudah hampir 5 tahunan, dan selama itu aku sudah mengganti lebih dari 3 kali brand air minum isi ulang yang kujual dengan pelanggan yang terus bertambah, kenapa mereka tetap mau jadi pelanggan ku walau aku ganti-ganti brand air minumnya? Alasannya? Yap! Karena mereka percaya dengan ku! My Company Brand bikin semua brand produk yang kubawa jadi terpercaya. Mereka akan tetap percaya, walau brand air minum yang kubawa tidak jelas dan tidak pernah didengar, mereka tahu bahwa itu adalah air minum yang memenuhi standar kualitas ku.. yang mana mereka percaya dengan standar kualitas yang ku pilih”…… “so dari pada keluarkan uang untuk building product brand secara satu persatu, lebih baik building trust via company brand yang berkualitas”

Huff… Tenang… ini kalo mau didebat ga akan habisnya seperti telor dan ayam, mencari mana yang duluan. Hasilnya akan ada yang bilang telor dan ada juga yang akan bilang ayam. Tapi wise man said, No matter which one the first, the benefit is always be the first.

Company Brand = Trust?

Menganalisa cerita temen saya itu emang banyak benernya juga jika dilihat dari persepsi netral. Saya jadi ingat cerita senior saya, seorang Head of Marketing dari perusahaan kacang terbesar di Indonesia sekarang. Dimana dia cerita bagaimana banyak company sekarang sedang berusaha melakukan Company brand building. Oleh karena itu kita sering lihat iklan produknya yang selalu mencantumkan logo companynya secara jelas di tiap TVCnya. Konsepnya sama, jika company nya aja ga jelas bagaimana bisa percaya kalo produknya jelas? Hehehehe

Katanya, salah satu yang bikin suksesnya Activia adalah karena ada Brand Danone dibelakangnya, since di product yogurt, Activia bukanlah yang pertama, tapi yogurt yang ini punya Danone. Di Real estate, kita juga lihat Company Brand Agung Podomoro dan Summarecon. Rumahnya walau jauh, mahal dan macetnya minta ampun, tetap aja punya nilai lebih. Yaitu Trust! That’s why kita lihat Ms Evelyn – Marketing Director nya terus tampil di TV buat building the Company Brand (baca:Trust).

Pada sisi distribusi, kita bisa lihat bagaimana dengan mudahnya brand rokok baru menembus belantara tradisional market dengan mudah. Walau ada kemungkinan tekanan trade term, namun banyak hal dibantu nama besar si produsen yang sudah terbukti memiliki product-product berkualitas dan laris. Dalam banyak hal, company brand bener-bener sangat membantu kinerja para Salesman dilapangan. Jika Tanya kemereka, mungkin akan keluar jawaban yang hampir sama dengan rekan saya itu.

Challengenya jika benar Company Brand itu sama dengan Trust, lalu kenapa lebih sering kita melihat Company membangun Product Brand nya?

Hmm.. Yup, Kalo productnya belum ada, trus Company Brand nya dibangun pake apa? Hehehhee most of you will say like that. But it’s true, Lah kalo ga ada productnya apanya yang mau dipercaya? So sebenernya gimana sih proses Company Brand ini?

1. Lahir dan Berkembang bersama Product Brand

sampoerna1Ini yang umum terjadi, saat 234 dibangun oleh HM Sampoerna, ikut membawa nama HM Sampoerna menjadi brand yang tangguh. Sebegitu kuatnya Company Brand ini, hingga kegagalan Millenium, A International dan Exclusive pun tidak begitu dianggap oleh konsumen. Apalagi kesuksesan A-Mild yang fenomenal membuat Company Brand HM Sampoerna dihargai tinggi oleh Philip Moris Indonesia (PMI).

Kelahiran sebuah produk jelas akan mempunyai korelasi dengan si produsen. Dengan melihat kualitas produk maka kita akan mudah menggambarkan kualitas Companynya. Sehingga saat Brand Product tersebut dibangun dengan kuat otomatis Company Brandnya akan ikut menjadi kuat. Jadi pada saat ini kelahiran Company Brand bersamaan dengan Product Brand nya.

2. Company Brand Lahir duluan baru kemudian Product Brandnya

htc-logo1Tau Orginal Equipment Manufacturing (OEM)? Yap, produsen yang membuat product atas pesanan brand lain. High Tech Computer (HTC) sempat terkenal dikalangan produsen Smart Phone & PDA Phone hingga mereka mempercayakannya sebagai OEM, sebut saja seperti HP, Dell, Palm hingga Microsoft Pocket PC. Per July 2007 HTC resmi mengakuisisi Dopod dan focus mengembangkan product brandnya yang sekaligus company brandnya HTC.

Pada Case ini, brand HTC sebagai Company Brand sudah lebih dulu eksis dan dianggap sangat paham dalam membuat smart phone dan PDA berkualitas. Konsumen yang puas dengan kualitas Palm akan paham bahwa HTC adalah produsennya. Sehingga saat HTC me-launch their own product with their own brand, maka dengan mudah menembus belantara pasar smart phone dan PDA yang sudah lebih dulu dikuasai oleh Jawara sekelas Dell, HP hingga Palm.

3. Product Brand Lahir duluan baru kemudian Company Brandnya

garuda-food1Yap ini sekarang banyak sekali terjadi, seperti Garuda Food yang semakin rajin membangun Company Brandnya setelah product mereka tidak hanya Kacang namun juga sudah merambah ke Food dan Beverages. Mayora yang sampai sekarang masih terus konsisten membangun Company Brandnya dengan tagline “Satu Lagi dari Mayora”. Di Telekomunikasi kita bisa lihat bagaimana Telkomsel dengan “dari Telkomsel” dan Indosat dengan “Punya Indosat” terus menerus dikembangkan dan dijalankan komunikasinya bersamaan dengan komunikasi product brand nya.

Hmm.. semakin agresifnya para produsen membangun company brand memang diperlukan, mengingat ada banyak benefit yang mereka dapatkan, diantaranya:

1. Certification of Credibility = Loyalitas

Kekuatan Company Brand mendorong terciptanya persepsi dikonsumen bahwa product yang dia konsumsi merupakan product yang memiliki kualitas si produsen. Seperti yang teman saya bilang diatas, if u have credibility, maka mereka akan loyal dengan kita bukan dengan brand kita.

2. Penetration Lubricant = Trust

Sebagai pelumas dalam setiap langkah penetrasi yang dilakukan oleh siprodusen. Para distributor, reseller hingga traditional outlet punya kepercayaan bahwa brand apa saja dari produsen ini, akan mudah dijual oleh mereka. Ini tentu sangat memudahkan bukan?

3. Powerful Company Brand = Partnership

Semakin kuat company brandnya akan membuka pintu partnership yang lebar baik untuk new supplier, new area hingga new government. Secara umum ini akan membantu menurunkan biaya kelevel Efficient dan Effective serta mempertinggi entry barrier saat new competitor mau masuk ke category ini.

So What do you think guys?

Building Brand vs Building Trust = Product Brand vs Company Brand?

Become Generic Brand : Musibah? Atau Anugerah? (04.11.08)

Become Generic Brand : Musibah? Atau Anugerah?

 

bakso-krikil“bang saya bakso ama teh botol nya..” eh yang dateng bakso dan teh brand lain. Atau kita juga sempat denger gimana para cewe remaja bercerita ttg bagusnya Softex yang mereka gunakan, padahal yang mereka maksud adalah pembalut brand lain. Atau jika kita di Pekanbaru-Riau, kita akan dengar orang menyebut sepeda motornya dengan Honda. Walau sebenernya mereka menggunakan brand lain. Ini realita dimana sebuah brand memiliki tingkat asosiasi yang tinggi tidak hanya pada produknya namun juga terhadap kategorinya. Cool man!

 

Kalo kita bicara ttg tujuan melakukan promosi, Pembentukan Persepsi adalah yang utama. Semua kegiatan Promosi baik ATL maupun BTL pada akhirnya adalah untuk menguasai Mind Perception dari consumer. Harapannya tentu saja agar saat consumer berpikir akan sebuah kebutuhannya mereka langsung ingat pada brand kita sebagai solusinya. Hmm beruntung bukan? apalagi jika produk yang menjadi solusinya terdiri dari ratusan bahkan ribuan brand. Tapi kalo kita lihat kejadian diatas, maka apa tujuan dari yang diinginkan bisa tercapai? Apakah kegiatan promosi kita jadi berguna? Bayangkan orang yang bermain ke tempat bermain tidak bisa membedakan apakah mereka lagi datang ke Timezone atau ketempat bermain lain? Hiks….

 

Hmm.. kita analisa satu persatu yuk!

 

Generic Brand = Musibah?

Kok bisa dibilang musibah? Bukankah menjadi generic berarti kita sebenarnya sudah sukses membentuk asosiasi produk ke brand kita? Menjadi Generik Itu merupakan level tertinggi dari awareness bukan? Ehm.. let’s flash back sedikit. Tujuan kita bikin awareness apa? Okay, membentuk persepsi. Untuk apa kita membentuk persepsi? At the end agar produk kita dibeli bukan? Atau ada yang tujuan berpromosi hanya buat terkenal aja? dan kalo dibeli syukur ga dibeli juga ga apa-apa? Atau bahasa kerennya, “biar tekor asal nyohor” hehehehe

 

Kasus situasi seperti diatas bisa menjadi hipotesa bahwa menjadi terkenal saja tidak cukup. Pertanyaannya adalah Kenapa sih mereka ingat brand nya tapi ga peduli apakah mereka dikasih brand tersebut atau tidak?

 

Secara umum ada beberapa factor:

1.      Mudah di Subtitusi

Dimana produk kita termasuk produk yang sangat mudah disubtitusi. Seperti pada case minuman. Kita mungkin bisa menyebut teh botol, namun saat diberikan teh brand lain kita tidak akan menolak. Kenapa? Karena secara fungsi basic teh yang lain juga bisa untuk menemani makan. Dan teh botol belum bisa menjadi standard kelengkapan makan mereka. Atau singkatnya karena basic value dari teh botol = teh penggantinya. Jika Basic value sebuah produk tidak terlalu jauh dari produk penggantinya, maka tingkat subtitusinya akan semakin tinggi.

 

2.      Identitas Brand yang Rendah

Banyak orang bilang Brand dan Logo yang menjadi TOM (Top of Mind) saja cukup. Realitanya, bisa dilihat pada case Timezone. Terkenal sebagai operator tempat bermain terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Namun jika kita Tanya pada anak-anak dan orang tua yang baru saja bermain ke tempat kompetitornya, mereka seringkali menyebut kalo mereka baru saja dari Timezone. Selama tidak ada factor pembeda yang significant (identitas yang kuat dan jelas) maka akan sangat sulit bagi consumer untuk membedakan apakah mereka berada ditempat Brand A atau Brand B.

 

3.      Top of Mind (TOM) but Low of Presence (LOP)

Ini case yang terjadi di case Aqua. Mereka adalah brand air mineral terpercaya. Lihat banyak orang bertahan untuk tetap menyediakan Aqua dirumahnya. Dan rela mengantri di Hypermarket untuk membeli 1 galon Aqua. Karena apa? Karena kualitasnya. Tapi saat mereka mulai makan dan kesulitan mencari Aqua. Mereka akhirnya dipaksa untuk mencari brand lain atau produk lain. Berbeda dengan case teh botol, para consumer yang Aqua minded, mungkin tidak jadi membeli brand mineral lain apalagi jika tidak dikenalnya namun malah mungkin menukarnya dengan Teh botol atau juice. Aqua sukses menjadi TOM namun sayang tidak diikuti dengan kemampuan penyebaran yang merata terutama di Moment of Truth Place seperti food court atau restoran.

 

4.      Previously are too Dominant

Hmm.. ini adalah kebalikan dari point ke empat. Kita bisa lihat pada case Honda, sebelumnya mereka adalah dominator pasar motor. Saking dominannya maka bisa dilihat disetiap bengkel motor rata-rata yang diservis adalah Honda. Dan jika ada yang pake brand selain Honda, bukannya terlihat keren malah terlihat aneh. Akibatnya, asosiasi terhadap produk ini menjadi sangat tinggi. Mereka saling merekomendasikan dan berbicara atas brand yang sama berulang-ulang untuk produk yang sama. Terlalu dominant akan membuat brand kita menjadi Generik. Apalagi saat produk kita sudah tidak dominant lagi menguasai key driver membeli. Akibatnya akan banyak yang membeli brand lain namun masih tetap menyebut brand kita sebagai sebutan atas produk tersebut.

 

5.      Being The First

xerox_docucolor250_1Ini adalah adalah alasan klasik dari generic. Semua dari kita akan bilang, bahwa semua penyebab diatas karena mereka yang pertama. Walau itu tidak sepenuhnya benar. Lihat Xerox, tidak ada yang menjadikannya sebagai asosiasi mesin fotocopy bukan? Walau hampir semua orang tau Xerox itu adalah mesin fotocopy. Hmm atau bisa lihat Ford & Benz, mereka adalah penemu mobil namun tidak menjadi asosiasi atas mobil bukan? Atau lihat Satelindo, mereka adalah yang pertama. Namun juga tidak menjadi asosiasi bukan. Jadi bisa disimpulkan, jika menjadi yang pertama dan memiliki salah satu dari 4 faktor diatas maka kemungkinan menjadi generic akan semakin besar.

 

Okay itu baru satu Argumen ttg Generik, coba kita lihat sisi lainnya.

 

Generic Brand = Anugerah?

Contoh casenya apa ya? Jujur saja, mungkin karena pengetahuan saya yang sangat kurang sekali, saya harus berpikir lama sekali untuk menemukan brand yang mendapatkan keuntungan karena menjadi generic. Hmm how about Indomie? Yap! Brand untuk mie instant dalam kemasan. Pernah lihat ada yang pesen Indomie trus dikasih brand lain? Ups.. mungkin rekan-rekan akan bilang “yah tentu saja karena penjualnya hanya menjual indomie saja”. Tapi jika kita bandingkan dengan case diatas, bahkan penjualnya pun tetap menjual Indomie. Indomie bahkan bisa dibilang menjadi representasi dari kualitas. Jika jual mie pake telor Rp.5.000,- dengan Indomie akan dibilang murah. Tapi jika dengan harga yang sama dengan brand lain? Bisa dianggap pengen cepet kaya hahahaha (padahal harga mereka tidak jauh berbeda)

 

Kenapa dalam case Indomie mereka bisa dibilang anugerah? Bayangkan, para competitornya harus berusaha memberikan asosiasi yang baru pada mie instant dalam kemasan. Asosiasi ini sangat kuat sekali, tidak hanya pada produknya tapi juga atas referensi kualitasnya. Makanya tidak heran, walau katanya Mie Sedaap sukses memakan pasar Indomie, namun mereka tidak berhasil menggeser Indomie dari warung-warung mie. Psst.. bahkan tukang mie deket kos-kosan saya sudah tidak berminat membelinya kembali hehehehe…

 

Generik Brand akan menjadi Anugerah jika bisa melakukan kebalikan dari 4 faktor diatas (generic brand = musibah?). Tanpa kekuatan diatas, maka kita hanya akan menjadi generik brand tanpa kemampuan mendrive sales. Secara umum Generik Brand agar bisa menjadi Anugerah adalah:

 

1.      Punya Tingkat Retensi yang tinggi

Retensi timbul dari semakin tinggi atau berbedanya basic value dari Produk tersebut. Semakin tinggi maka tingkat retensi akan semakin tinggi juga.

 

2.      Identitas Brand yang Jelas dan Tegas

Brand, Logo atau apa saja yang menjadi identitas dari brand harus terlihat jelas dan stand out. Tampilkan Unique Selling Preposition (USP) dengan sangat-sangat jelas dan punya gap yang jauh dengan competitor.

 

3.      Top of Mind (TOM) and High of Presence (HOP)

fanta20anggur202Ini adalah kunci Coca Cola mengalahkan Pepsi. Mereka punya TOM dan HOP yang sama kuatnya. That’s why kita jarang sekali menemukan Pepsi di food court bukan? Dan itu sebabnya salah satu strategi Pepsi adalah membeli Moment of Truth mereka sendiri dengan membeli jaringan fast food sendiri.

 

4.      Previously Dominant and Keep Maintain it

Jika punya kemampuan mendominasi, maka dominasilah secara maksimal. Mulai dari keberadaan sampai key driver consumer untuk memilih produk tersebut. It’s hard but possible.

 

5.      Being The Sustainable

Menjadi yang pertama bukanlah yang utama, yang penting adalah menjadi yang bisa bertahan. Tidak hanya bertahan hidup namun juga bertahan dari pendatang-pendatang baru. Agar tidak terjadi case seperti Kymco, menjadi yang pertama mendatangkan otomatis skuter malah dicaplok Yamaha dengan tag line Otomatis Duluan hehehhee.

 

So? What do you think guys?

 

Become Generic Brand : Musibah? Atau Anugerah?