Semester II = Jualan Hadiah? Masalah Produk atau Masalah Strategi? (02.08.08)

Semester II = Jualan Hadiah? Masalah Produk atau Masalah Strategi?

 

Perhatikan di TV sekarang, banyak iklan produk yang menjanjikan hadiah langsung. Ada Tango, Sunsilk, Green Sand, NU Green Tea, Coca Cola, Woods dan masih banyak lagi. Hadiahnya sendiri selain ditujukan ke Konsumen juga ditujukan ke Grosirnya. Hmm.. fenomena ini selalu terjadi dan mulai sangat aktif saat memasuki Semester II, dimana pada periode ini adalah masa evaluasi hasil dari performance Brand diawal semester lalu.

 

Hasilnya? Setiap memasuki awal semester II kita akan sering melihat aktivitas brand yang lebih mengarah ke hard selling. Mulai dari undian sampai dengan hadiah-hadiah langsung. Tujuannya? Sales! Yap Ngejar Sales yang masih jauh.. karena apapun yang dilakukan dalam aktivitas Marketing, hasil akhirnya adalah Sales. Karena tujuan dari Marketing adalah meningkatkan sales. Konsep dasarnya kira-kira begini, Organic Sales adalah Sales dasar tanpa ada aktivitas Marketing, dan Jika dilakukan Marketing Activities maka seharusnya menghasilkan sales incremental atau yang disebut dengan Sales Target.

 

Is there anything wrong? Or it just parts of the strategy?

 

Okay, memang strategi marketing minimal terdiri atas 4P-Product, Price, Promotion and Place. Tapi satu hal juga yang mungkin bisa dipertimbangkan adalah melalui kegiatan Marketing seharusnya kita bisa membangun Brand Image yang memiliki value yang besar sehingga bisa men shifting kita punya power of product from price based to brand based. Melalui kekuatan Marketing juga kita bisa memiliki Brand yang membuat orang membeli atas persepsi bukan atas godaan harga. Pendek kata, we create demand by Brand not by Promotion Price.

 

Anyway, ya itu memang sebuah kondisi ideal. Saya memang salah satu atau mungkin satu-satunya ya hehehehe yang melihat Brand sebagai ultimate solution to increase sales without joining the gift club or discount club. Increasing sales by promotion price or gift is an emergency plan.. Yayaya again mungkin kita bisa bilang itu adalah part of loyalty program or part of retention program or part of brand building or anything u can name it. Tapi kalo emang Loyalti Program kenapa mesti nyuruh mereka membeli sebanyak mungkin ya?

 

Why Brand should become the Solution?

Strategi saat membangun sebuah produk itu dimulai dengan mencari Needs, kemudian kita buatkan produknya trus kita cari segmentasi & target market kita dan kita lengkapi dengan sebuah positioning yang membuat produk kita tidak membabi buta namun bisa menjadi solusi dari needs dari orang-orang yang kita targetkan. Ditambah dengan memberikan sebuah Brand maka kita seperi memberikan “bookmark” dipersepsi mereka.

 

Product yang punya kualitas sesuai/sebanding dengan Price yang kita berikan akan membuat Perceived Value yang tinggi dan ini akan berimbas dengan tingkat kepuasan yang tinggi dan (again) ini akan membuat nilai Brand Image Value kita meningkat. Hasilnya? Jika kita tambah dengan Konsistensi dan Inovasi maka akan melahirkan Loyalitas. Nah Loyalitas inilah yang akan membuat kita sustainable dan growth terus dimasa mendatang.

 

Kok Kualitas?? Hey.. Mulanya memang Produk kita harus bisa memenuhi Needs mereka, tidak hanya basic needs tapi juga harus ada fitur-fitur (USP) yang akan menjadi benteng retention kita. Nah jika kita sudah bisa bereskan sisi Kualitas Produk, maka Pricing adalah penentuan kedua trus place adalah target eksekusi untuk membuat produk kita dekat dengan para target market kita sambil kita terus giat promosiin produk kita dengan mendeliver Brand kita.

 

Berkaca dari hal diatas, maka kegiatan-kegiatan yang bersifat gimmick akan dilakukan dalam kerangka Loyalitas bukan sebagai tumpuan peningkatan sales. Dan dalam rangka akuisisi pelanggan competitor akan dilakukan secara targeted tidak membabi buta.

 

Huff… secara realita memang apa yang saya tulis diatas seperti mimpi (mungkin..) karena berat dilakukan, mulai memang tuntutan perusahaan yang tinggi akan sales, belum lagi soal ratio budget marketing, trus soal sabar atau tidaknya kita menghadapi serangan harga dan hadiah dari competitor.. dan masih banyak lagi kendala yang harus kita hadapi sebagai seorang marketer.

 

Telor Ayam, Terasi, Gula kita berikan Brand hingga kita bisa mengangkatnya dari “kasta” komoditas yang sangat ditentukan harga. Tapi kenapa kita punya Brand sekarang kita sibukkan bermain dengan hadiah-hadiah serta iming-iming jutaan rupiah yang mengajak orang membeli lebih banyak produk kita? Kenapa kita tidak Tanya ke mereka lagi, apa yang membuat mereka mau meningkatkan produk usage? Sehingga kita bisa educate mereka seperti yang dilakukan Pepsodent dengan mengajak orang menyikat gigi bukan lagi saat mandi tapi setiap sehabis makan. Atau seperti Rinso dengan mengajarkan bahwa berkotor-kotor itu baik dan ga usah takut dengan noda, karena itu urusan Rinso?

 

Hmm so what you think guys?

 

Semester II = Jualan Hadiah? Masalah Produk atau Masalah Strategi?

Midnight Shopping : Sales Booster or Cost Booster? (31.07.08)

Midnight Shopping : Sales Booster or Cost Booster?

 

Tanggal 19 s/d 22 July 2008 Senayan City menggelar Senayan City Salebration & Midnight Phenomenal. Dimana Senayan City memberikan diskon sampai dengan 80% untuk customer yang berbelanja di 180 tenant mereka pada jam 21.00 hingga 24.00 malam. Acara ini sendiri bukan yang pertama kali diadakan di Indonesia, tahun 2005 tepatnya hari Minggu tanggal 3 July Hypermart Lippo Karawaci membuka tokonya 24 jam, dan masih ditahun yang sama pada tanggal 15 s/d 18 December, Debenhams Plasa Indonesia juga mengadakan Midnight Shopping dimana kegiatan ini menjadi awal dari Kegiatan regular pada tahun-tahun beriktunya 2006, 2007 sampai dengan 2008 yang menggandeng Senayan City.

 

Secara Nasional, acara seperti ini lazim dilakukan secara seasonal. Seperti saat akan memasuki hari Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Dan Secara International, Midnight Shopping juga lazim dilakukan. Wall Mart, Gap, Mervyns, KB Toys Inc, Secara umum para retailer di Amerika melakukannya pada setiap hari Jum’at yang dikenal dengan Black Friday, nama tersebut diambil dari istilah dimana para retailer mulai mendapatkan profit pada hari Jum’at.

 

Kapan sih disebut Midnight Shopping?

Mengenai waktu kapan disebut sebagai Midnight Shopping, sangat bervariasi antar retailer. Debenhams menghitungnya mulai dari jam 9 malam keatas, Wal Mart mulai dari jam 5 Subuh. Tidak ada aturan baku memang ttg jam buka ini, namun secara informal, yang disebut Midnight Shopping  adalah diluar jam buka regular Mall yang rata-rata mulai dari jam 10 pagi sampai dengan 10 malam.

 

Okay sekarang kita bahas Why They Do That?

Di Artikel saya ttg Strategy Discount para Retailer dijelaskan ttg konsep dasar Salesnya Retail yaitu Basket Size dan Transaksi. Tujuan utama dari acara ini jelas adalah Sales! Yap Sales Booster. Retail adalah business yang really-really focus on sales. Semua yang dilakukan harus menghasilkan sales. Semua hal diukur dengan sales. Sales yang mana? Tentu saja sales yang menguntungkan masa jual rugi hehehehe.

Konsep dasarnya kira-kira begini: Jika pada jam buka normal (12 jam) mereka bisa menghasilkan sales sebesar Rp. X /Jam. Nah Kalo diperpanjang hingga 4 jam kedepan maka harusnya akan menghasilkan minimal Rp X/Jam dikali jumlah jam tambahan buka. Jadi Midnight Shopping itu seperti jam tambahan untuk meningkatkan sales.

 

Hmmm perhitungan Diatas adalah perhitungan Idealnya, pada Realitanya mereka harus mempertimbangkan beberapa constraints, diantaranya:

1. Mal hanya buka sampai dengan jam 10 malam

Artinya jika buka diatas jam tersebut maka seluruh fasilitas umum sudah dimatikan kecuali yang dekat dengan store. AC, Toilet, Lampu Koridor absolutely Down J. Ini akan menjadi barrier karena akan mempersulit para customer yang akan datang dan pulang. Kecuali Storenya berada di basement, Ground Level atau minimal 60% tenant lain di mall tersebut ikut serta.

 

2. Store Operational Fixed Cost

Mau buka 1 jam ataupun 12 jam, biaya operasional store bersifat tetap. Contoh: Tetap harus bayar AC, tetap harus bayar listrik dan tentu saja tetap harus bayar gaji pegawai malah dalam beberapa case seringkali malah harus menambah biaya lembur karyawan atau menambah karyawan sementara. Dan ini masih diluar biaya yang terkait dengan Material Sales Promotion seperti banner, store direction dan iklan Koran jika ada.

 

3. Sales Incentives

Nah ini juga jadi hambatan yang harus dipertimbangkan. Mengundang orang datang malam-malam itu perlu daya tarik. Lah buat apa datang malam-malam kalo harganya sama dengan belanja regular? Pemberian Incentives jelas akan berpengaruh pada penurunan profit. Artinya akan berpengaruh besar pada point no 2 diatas.

Secara kasar perhitungan targetnya adalah  menggunakan asumsi berikut, Jika jumlah yang bertransaksi Tetap, maka harusnya Basket Sizenya meningkat + ditambah dengan datangnya New Customer dan jika ditotal seluruhnya akan menghasilkan rata-rata sales/jam yang lebih besar dari persentase Incentives yang diberikan agar hasilnya tidak hanya bisa menutup operational Cost tapi juga menghasilkan profit yang besar. Ratio Cost to Incremental Sales menjadi salah satu indicator keberhasilan program ini.

 

Nah, jika tadi dari sisi retailer, sekarang kenapa orang bersedia untuk bersusah payah datang pada acara Midnight Shopping?

Hmm dari beberapa komentar yang pernah datang ke acara tersebut, ada yang punya motivasi butuh, ada juga yang memang mencari diskon harga. Secara umum, dibawah ini adalah Key Driver orang bersedia datang?

1. Incentives

Incentives adalah factor utama orang bersedia datang ditengah malam untuk berbelanja. Semakin besar persentase insentivenya, jelas semakin menarik. Apalagi jika yang ditawarkan merupakan brand-brand terkenal.

 

2. Waktu

Pembayaran THR yang rata-rata seminggu sebelum hari H, membuat banyak orang yang tidak punya waktu untuk berbelanja secara maksimal. Program Midnight Shopping jelas sangat-sangat membantu mereka untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka pada waktu yang singkat.

 

3. Convenience

Tidak berdesak-desakan, tenang dalam memilih itu adalah salah satu driver orang berbelanja pada malam hari. Namun seiring dengan semakin suksesnya acara Midnight Shopping, driver ini sekarang bisa dibilang hampir hilang, gimana enggak ilang, wong jika semua orang pada memilih nunda belanja sampai dengan waktu mulainya program, bisa “brutal” itu orang-orang hehehehehe

 

Midnight Shopping jelas menguntungkan untuk kedua belah pihak. Retailer mendapatkan tambahan sales (sales booster) dan para customer mendapatkan Best Price untuk produk-produk yang dibutuhkannya. Namun seiring semakin seringnya acara ini dilakukan dan semakin banyaknya provider yang mengadakan acara ini, maka jelas apa yang sekarang mereka tawarkan akan menjadi Basic Needs bagi Customer dan akan menjadi Basic Requirements bagi para Retailer. Jika salah hitung dan tidak cermat melihat perubahan perilaku pasar, kegiatan ini punya resiko yang amat sangat besar, Cost Booster!

 

Midnight Shopping : Sales Booster or Cost Booster?