Are You a Marketer? Your Job or Your Soul? (07.08.08)

Are You a Marketer? Your Job or Your Soul?

 

Marketing, ini adalah salah satu fungsi utama dalam organisasi selain Operasi, Finansial dan Sumber Daya Manusia. Secara fungsional Marketing akan mendorong perusahaan berkembang dan membesar. Pekerjaan dibidang Marketing memang sangat menantang, seorang Marketer (sebutan orang yang bekerja dibidang Marketing) harus punya kemampuan dasar untuk Analisa Pasar, Sensitif terhadap perubahan, Kreatif dan tipe pencari dan pencipta kesempatan. Ditambah lagi sekarang ada banyak ilmu tambahan yang bikin mereka mentereng, Master & PhD Lulusan Internasional. Sederet sertifikasi-sertifikasi & award-award bukti kesuksesan mentereng mereka lainnya. Hmmm really-really perfect indeed? But than Could you claim your self a Marketer?

 

Hmm let’s check this out, what is the different between Job and Soul?

 

Job,

Everything we do, we do it for responsibility as your job description. Why? Yes because you are being hired for that indeed?

 

Soul,

Setiap kali jantung ini berdetak, darah ini mengalir, nafas ini berhembus, dalam setiap kata, gerak, omongan mengalir sebuah DNA Marketer didalamnya. We talk and walk as a Marketer.

 

So kalo kita lihat analogi lainnya, seperti seorang yang jago melukis dengan Indah namun jika dilihat, lukisannya terasa “kering” tidak ada emosi disetiap goresannya. Walau Lukisannya terlihat sempurna jika dilihat secara dimensi tangible pada Lukisan tersebut. Mulai dari warna, pencahayaan bahkan kesempurnaan bentuk tapi satu hal yang tidak ada, Intagibles side! Lukisan itu tanpa jiwa atau emosi.

 

Atau kita juga bisa melihat secara realita, dimana seorang Marketer itu ikut dalam proses pembuatan proses New Product Launch, dari mulai saat penemuan Needs, penentuan Segmentasi, penentuan Target hingga penentuan Positioning. Kemudian masuk ke perencanaan program komunikasi 360 derajat (IMC).. At the end, Secara hasil, performance resultnya bukan main!!! Sukses besar bro!!! Award pun ditangan. Namun (again) kita tidak pernah kenal si Marketer (secara personal), saat diajak ngomong bilang itu kebetulan, saat berkunjung ke Channel, liat produknya ditumpuk dibawah diam aja, denger orang bercerita jelek soal brandnya juga diam aja. Kenapa? Karena semua yang dia lakukan adalah pekerjaan. Dia tidak merasa memiliki! No sense of Ownership!

 

Saya pernah punya pengalaman saat berkompetisi merebut venue dengan competitor besar saya, they have money, they have power, they are senior in this field, but only one thing they don’t have, they treat their venue as an account and we treat the channel as a family. Hasilnya, kita Cuma bayar 10% dari nilai yang ditawarkan competitor dengan isi kontrak yang sama!!! Hmm amazing bukan? That’s the Power of Relationship!

 

Penanya (P)   : Kerja di mana bang?

Marketer (M)  : Ooo saya di provider A

P                  : hmm no telponnya berapa bang?

M                 : Yang mana? Yang provider A atau B?

P                  : hmm loh kok malah punya  yang B juga bang?

M                : Loh, emangnya kenapa? Ada larangan emang? Masa mentang-mentang kerja di perusahaan A ga boleh pake yang B? Soalnya A itu GSM kalo mau murah ya pake yang B dong lebih irit hehehehe

Nah Lo, ini orang Jadi Ambassador waktu kerja doang neh? Hmmm.. Really Not act as an Ambassador!

 

Okay dari 3 ilustrasi diatas, Kita menemukan beberapa Key Point yang membedakan antara Marketer as a Job and Own it as a Soul!

1. Ownership

Rasa memiliki atas Brand/Produk yang kita punya. Analoginya seperti memiliki anak. Kita akan menjaga dia 24 jam! Dimana saja kapan saja. Jika kita lihat dia diperlakukan tidak baik, kita akan memperbaikinya. Saat kita dengar dia sedang dihina, kita akan membelanya. Rasa kepemilikan yang “mendarah daging” akan membuat semua eksekusi kita terasa lebih personal dan emosional. Ada aliran perasaan disana. Ada balutan Nada yang Indah didalamnya. Tidaknya hanya berupa eksekusi dari Marketing Plan tapi lebih kepada mengaktualisasikan Brand kita. Sentuhan dengan rasa memiliki yang besar akan menjadikan Brand kita lebih “bernyawa” dalam setiap langkahnya.

 

2. Relationship

Nah ini sangat penting terutama para Marketer yang biasa disinggasana emas dan berliannya. Saat kunjungan ke channel, mereka bisa membedakan saat pandangan kita yang menganggap mereka sebagai Account atau melihat sebagai Keluarga Besar Brand kita. Cara kita bicara, sentuhan dipundak, renyahnya tawa membuat shelf itu ga perlu harga! Dan yang pasti ini bukan strategi yang perlu kursus acting! Tapi sebuah rasa berhubungan sehangat persahabatan. Mereka sakit, kita juga akan sakit. Jika kita perlakukan mereka sebagai account, mereka akan anggap kita sebagai ATM. So they are human and you are a human too.. Even in Web.2.0 generation, Human Relationship is still needed.

 

3. Ambassador

Your Self is Your Brand Representation. In any aspect! If your positioning is “Honest, it’s Honey!” maka jadilah yang jujur dalam setiap aspek. Dari dealing dengan channel, not cheating with your friend, Why? Because It’s Impossible Your Brand will represent Honest, if you are a Liar indeed? How come a Liar could produce a Honest Honey?

Remember, If you are a Marketer, than you are public figures for your consumer, Watch your self like you watch your brand.

 

Hmm… yang ditulis diatas mungkin baru beberapa ciri yang dimiliki seorang Marketer jika itu adalah Jiwanya dan tentu saja masih banyak lagi yang membedakannya.

Satu quotes bagus, You Can Learn How To Sing but it Useless if You Could not Fell Your Song.

 

Are You a Marketer? Your Job or Your Soul?

Esia + Wings = The Giant Killer? (05.08.08)

Esia + Wings = The Giant Killer?

 

Lama-lama melihat sepak terjang Esia, mengingatkan kita dengan Wings. Yap, Jawara me-too yang sanggup bikin pusing para market Leader. Sebut saja, dari So Klin vs Rinso, si “fenomenal” Mie Sedaap vs Indomie (walau sekarang Indomie sudah mulai menggeser peperangan secara perlahan tapi pasti dengan menghadapkan Supermie untuk compete melawan Mie Sedaap), hingga Kecap Sedaap yang mulai menggerakkan kompetisi Kecap kearah yang semakin ketat.

 

Tipe Wings adalah menyerang langsung sang Market Leader dengan USP (unique selling proposition). Lihat bagaimana Mie Sedaap secara terbuka menggeser peperangan Mie dari Rasa ke Kriuk-kriuknya? Dan Saat strategi ini mulai turun pamor, mereka mulai menggesernya lagi ke Vitamin yang walau akhirnya tidak sesukses kriuk-kriuk, mengingat soal vitamin sudah bisa dibilang hampir kuno. Sekitar tahun 90an saat CNI –perusahaan MLM- berhasil booming dengan produknya Mie Sehati yang punya kekuatan pada Ginseng, Vitamin dan terkenal dengan tidak mudah melar. Anyway, terlepas dari strategi secara produk. Kemampuan Wings mendobrak hegemoni para market leader adalah sebuah pelajaran yang harusnya bisa dishare…

 

Okay, itu Wings. Sekarang kita lihat Esia. Provider CDMA yang berhasil “menata ulang” peraturan kompetisi Telekomunikasi Selular dengan hasil karyanya yang sampai sekarang jadi panutan, yap.. Talk Time. Sebuah jawaban atas keinginan banyak pelanggan selular di Indonesia yang hampir pasti kejepit oleh Mahalnya pulsa!. Walau, perang yang dilakukan ESIA seperti perang Busway vs Bus Kota. Karena yang diserang Esia adalah GSM bukan malah Flexy sang raja CDMA.

 

Namun sebuah kejutan akhirnya terjadi, Wifone menantang Telkom. Secara Langsung Bro! Yap, Dengan jelas Wifone bilang bahwa “susah mengontrol Telpon Rumah?”, Serangan yang dilancarkan Wifone ini memang sangat mengena dan tepat sasaran, hingga langsung dijawab Telkom dengan menunjukkan susahnya cari sinyal lebih baik pake telp rumah. Hmm disini serunya perang menentukan mana yang lebih penting, murah atau sinyal?

 

Anyway, Apasih yang mereka lakukan? Ini pendapat saya:

1. Set New Rule!

Ini adalah Core dari strategi mereka, menciptakan Aturan Kompetisi Baru. Kenapa? Inilah yang membedakan antara Follower dan Challenger, Follower punya mental mengikuti sedangkan Challenger punya mental pemenang. Challenger punya tujuan untuk Menang dan dia tau untuk memenangkan kompetisi, Kemenangan tidak bisa diraih dengan “berkelahi” di medan yang sudah dikuasai oleh si Leader, tapi harus dengan menarik Leader ke medan yang kita ciptakan sendiri untuk memukul sang Leader.

Aturan baru itu harus yang significant dan merupakan area kunci dari kompetisi. Biasanya adalah area yang belum pernah disentuh atau/dan titik lemah dari sang Market Leader.

Aturan itu bisa dalam bentuk spesifikasi produk, fitur layanan atau extra benefit. Dan yang pasti merupakan Main Key Driver dari Consumer untuk memilih atau menggunakan produk tersebut baik saat ini mau yang akan datang (invention)

 

2. Well Prepared!

Mau perang dengan Market Leader? Jangan lakukan kalo anda belum siap! Baik secara non financial apalagi secara financial. Kenapa? Karena perang ini akan sangat panjang dan dahsyat!

Segala aspek harus sudah dipersiapkan. Simple aja, 4P kita harus sudah siap! Product siap secara USP, Place siap secara availability dan continuity, Price siap buat di stretching serta Promosi siap buat ambil alih perhatian dan menciptakan persepsi baru.

Dan semua itu butuh dukungan secara non financial, mulai mental, komitmen, konsistensi hingga durability dari para CEO sampai OB. Financial? Itu pasti! Mau adu kuat ya harus kuat modal. Kalo tidak akan seperti lilin. Dibiarin nyala aja mati sendiri hehehehhe

 

3. Continuous Innovation

Inovasi ini perlu terus dikembangkan, kenapa? Karena kunci dari kompetisi adalah seberapa jauh kita bisa menjaga Gap keunggulan kita dari Competitor, atau yang saya sebut dengan Leader Point  (LP), titik dimana kita harus terus berinovasi untuk dapat menjaga agar Total Competition Point (CP) kita selalu berada diatas Total Competitor Competition Point (CCP)

 

Atau secara singkat bisa diilustrasikan dengan

LP = ΣCP – ΣCCP

LP = Leading Point

CP = Competition Point

CCP = Competitor Competition Point

Dimana LP > 0

 

Semakin besar nilai LP semakin tinggi Gap Range kita. Dan berarti semakin mungkin kita terus menjaga hegemoni kita atas dominasi kita.

  

Apakah kita punya 3 point diatas? Jika ya, maka kita siap berperang dan menjadi the Giant Killer!

 

Esia + Wings = The Giant Killer?