Amild, Kembali Tagline Lama? Romantisme Masa Lalu, Take Back atau Desperate? (21.11.07)

Ngebahas ttg Amild semakin seru,

Kembali ke Tagline lama? Romantisme Masa Lalu, Take Back or Desperate??

 

Kenapa saya beropini 3 hal diatas? Karena menurut saya itu adalah kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

 

Romantisme Masa Lalu? Hmm Others Can Only Follow adalah masa jayanya Amild yang saat itu baru punya lawan Bentoel Mild, Starmild serta LA Lights. Sukses buat affirmasi sebagai market leader. Cara ini sebenarnya tidaklah salah ataupun merusak brand. Sometimes to be a Retro just like Dejavu. Remind us about our memories, trigger kembali masa-masa Indah bersama.. Pertanyaannya adalah this is a right time?

 

Take Back? Saat Kompetisi semakin keras dan semakin ketat. Follower (bisa dibaca sebagai challenger) mulai membangun New Rule of Game. Positioning semakin Blur. Enjoy Aja adalah kembalikan dari Kritisnya Tanya Kenapa. Amild yang identik dengan Musik dan Fun sekarang mulai “digerus” dengan Ekspresikan Aksimu yang lebih ringan untuk target market 18 s/d 25 alias para mahasiswa. Belum lagi competitor lawasnya juga mulai ngetop dengan Apa Obsesi mu yang bisa dibilang “lebih anak muda”. Secara Level Brand Amild mungkin bisa menganggap dirinya pada Emotional Branding. Pioneer, Market Leader dan Punya Loyal Smoker.

 

Namun satu hal yang mesti diingat New Smoker selalu tumbuh, fase Emotional ada pada para senior yang udah lama ngerokok Amild. That’s why Brand Legendaris kayak Djisamsoe harus rejuvinasi Brandnya ke lebih muda. Atau Bentoel biru menjadi “Sejati” dari pada I love the blue of Indonesia.

 

Opini Pribadi, Tanya Kenapa seperti sekolah S2, Keren, Hebat, Looks Smart and Prestisius but Ekslusif. Enjoy Aja, Apa Obsesi Muda dan Ekspresikan Aksimu lebih Ringan alias lebih S1 dan merakyat (jangan kaitkan dengan S2 dan S1 sebenarnya ya.. Cuma kiasan – Ma’af kalo ada yang tersinggung)

The Question is who is your biggest Market?

 

Dengan kembali ke Tag line lama harapannya adalah mengaffirmasi kembali brand pada perception war di smoker. Seperti ajakan atau himbauan untuk Stay with Amild and Love your Amild.

 

Desperate? Hmm ini mestinya relasional dengan keadaan trend sales sekarang. Apakah Turun atau tidak. Jika Tidak Turun dan cenderung naik maka tidak bisa dibilang Desperate tetapi lebih kepada Romantisme atau jika mulai terganggu berarti pada stage Take Back.

 

Pernah mungkin kita dikritik dengan kata-kata “..dulu ga perlu ada begini atau begitu sales kita bagus banget, kita adalah Market Leader tapi begitu mulai ganti ini dan itu kita jadi mulai berantakan..” Jika semua usaha kita mulai gagal dan bahkan semakin jelek, maka aksi seperti ini bisa jadi pilihan terdesak. Karena dipaksa oleh Para Orang Lama atau Karena pengen buktikan kalo itu juga ga efek dengan sales.

 

Kondisi kembali ke tagline lama pada fase ini sama dengan berjudi (jika tidak mau dibilang bunuh diri) karena Masa Lalu adalah masa lalu. Masa kini adalah Masa kini. Masa Depan adalah Masa Depan. Situasi dan Kondisinya ga sama

 

Anyway.. Lets see what happen, kita pernah belajar dari Amild dengan strateginya mengganti-ganti Tagline sebagai bagian penyesuaian diri.

 

Kembali Tagline Lama? Romantisme Masa Lalu, Take Back atau Desperate?

Agnes Monica & New Era = Endorser or Co Branding? (25.07.07)

Agnes Monica & New Era = Endorser or Co Branding?

 

Ingat Agnes Ingat New Era..

Itu slogan yang disampaikan oleh Agnes pada TVC New Era.

 

Saya sangat tertarik ngebahas ini mengingat biasanya para Endorser itu bertugas membentuk Mindset consumer untuk mengasosiasikan produk kita dengan si endorser. Dimana asosiasi tersebut bisa berupa Endorser itu sendiri ataupun nilai nilai yang tercermin dari si endorser.

 

Dalam case ini, Agnes ataupun si New Era langsung menyatakan secara terbuka dan jelas bahwa Ingat Agnes = Ingat New Era. Yap secara langsung! Bukan secara samar.

 

Apasih maksud iklan ini? Ingin mengasosiasikan Agnes dengan New Era? Atau menggabungkan Brand Value Agnes dengan Brand Value dari New Era?

 

Jika demikian, tergolong apa dong iklan ini? Agnes sebagai Endorser atau Agnes sebagai Mitra Co Branding?

 

Let’s check this out,

Kita banyak melihat para selebritis sebagai endorser. Mereka rata-rata sebagai pemberi referensi untuk membeli produk baik secara langsung “ Produk A dipake oleh Artis B” atau memancing imajinasi si consumer untuk mengaitkan Produk A dengan Artis B.

 

Kaitan ke Iklan tadi? Mohon koreksi saya jika saya salah, jika Brand Value dari si Endorser lebih Kecil dari Brand Value si Product, maka saya bisa bilang itu adalah endorser.

Tapi jika sama besar atau lebih, maka justru sebaliknya ini adalah Co Branding.

 

Kenapa? Produk-produk dengan Brand Value yang besar selalu menggunakan Endorser sebagai pelengkap komunikasinya. Dimana mereka lebih menonjolkan productnya (baik secara content maupun secara context), ini saya sebut sebagai Endorser.

Namun sebaliknya bagi produk dengan Brand Value lebih Kecil, mereka memanfaatkan si endorser sebagai pendongkrak nilai Brand mereka. Harapannya jelas, Awareness, Perception War and at The end is Sales. Ini saya sebut sebagai Co Branding, karena Brand Value dari si Endorser mendongkrak Brand Value si Produk.

 

So?

Ingat Agnes, Ingat New Era..

Agnes Monica & New Era = Endorser or Co Branding?