Entrasol vs Anlene vs HiLo = Sekedar Beda atau Memang Beda? (16.08.07)

Entrasol vs Anlene vs HiLo = Sekedar Beda atau Memang Beda?

Let’s see the content first before we share any comments J

No

Brand

Entrasol Gold

Anlene Actifit

HiLo Active

Varian

Coklat

Coklat

Coklat

185 gram

250 gram

250 gram

Price

 Rp  19.575

 Rp  18.400

 Rp18.650

Ingredients / gr

1

Lemak

3,5

3,5

3

2

SFA

1

 

 

3

MUFA

1,5

4

PUFA

1

5

Omega 3

160 mg

6

Omega 6

900 mg

7

Kolesterol

0

8

Karbohidrat

19

20

24

9

Laktosa

2,6

 

 

10

Serat

1,2

11

Protein

5

8

6

12

Mineral

1,9

 

 

13

Air

1,3

14

Vitamin A

500 IU

910 IU

1250 IU

15

Vitamin D3

100 IU

98 IU

 

16

Vitamin D

 

 

100 IU

17

Vitamin E

10 mg

5 mg

18

Vitamin C

60 mg

16 mg

15 mg

19

Vitamin B1 (Thiamin)

0,6

800 ng

 

20

Vitamin B2 (Riboflavin)

0,65

0,6 mg

21

Vitamin B6

0,85

900 ng

0,5 mg

22

Vitamin B12

1,2 ng

1,2 ng

1,5 mcg

23

Vitamin K

 

42 ng

 

24

Niasin

8

 

5

25

Asam Folat

1,8 ng

100 mcg

26

Biotin

15 ng

 

27

Kalsium

500 mg

510 mg

500 mg

28

Fosfor

260 mg

310 mg

160 mg

29

Magnesium

60 mg

53 mg

 

30

Seng

5,3 mg

1,5 mg

0,5 mcg

31

Selenium

17 ng

 

 

32

Natrium

120 mg

110 mg

190 mg

33

Klorida

125 mg

 

290 mg

34

Kalium

170 mg

520 mg

 

35

Iodium

 

26 ng

36

Kuprum

 

90 mcg

37

Glucosamine

25 mg

38

Chondroitine

6,25 mg

*Price based on Hypermart Kelapa Gading Struck 15/08/07

 Hmm rumit ya mau bandingin secara content, pasti sudah pada ga sabar buat bahas secara context which is lebih mudah dan lebih seru dibahas J

 Anyway let’s try to compare by consumer way, yap! Price!! Anlene is the winner 250gr dengan hanya Rp. 18.400. Tapi juga harus diingat bahwa Entrasol memberikan harga yang sebanding dengan banyaknya content yang diberikan. This is perceived value.

 Hmm, let’s check their Differentiation Statement and check the content:

Entrasol bilang Tulang & Jantung sama-sama penting : dia punya 500mg Klasium dan Omega 3 & 6 untuk Jantung

Anlene mencegah osteoporosis dengan kalsium tinggi : dia punya 510mg Kalsium (tertinggi)

HiLo untuk sendi dengan Glucosamine dan Chondorotin : dia juga punya 500mg Kalsium

Kalo dipetakan secara content maka bisa dibilang ‘Native Market’ adalah Anlene yang fokus pada Tulang dengan Kalsium tingginya. Sedangkan Entrasol dan HiLo mencoba membedakan diri dengan strategi differensiasi yaitu Jantung serta Sendi.

So jika melihat ini, apakah penambahan 1 atau 2 content membuat kita bisa menyatakan bahwa kita berbeda? Mengingat sebuah perbedaan (differensiasi) tidak hanya soal ada atau tidak content tersebut pada product lain, tapi juga signifikansi dari sebuah perbedaan yang mendorong consumer untuk memilih product kita dibanding product yang lain.

Lihat daftar content diatas, mereka sama-sama punya content yang tidak dimiliki oleh competitornya. Haruskah mereka menjadikan semua perbedaan itu sebagai faktor pembeda agar memang beda dan tidak hanya sekedar beda?

Apakah Claim Entrasol pada TVC nya dengan menyatakan bahwa Jantung dan Tulang itu sama penting atau Sendi Kaku mana Enak dari HiLo cukup kuat untuk menjadikan faktor pembeda dari si ”native market” Anlene yang bicara ttg Tulang (osteoporosis)?

If the content just a basic and context is the important so how big your context that you could offer with your small content?

Anyway, that’s our skill as marketer. Menjual semua yang menurut kita bisa dijual. Tapi saya melihat bahwa untuk menurunkan resistensi consumer swicthing ke another product butuh lebih dari Sekedar Beda. 

Dan yang jelas, Differensiasi merupakan USP kita yang benar-benar akan menjadi the power to win the competition. So ini tidak bisa hanya Sekedar Beda, Differensiasi = Memang Beda!

So, Entrasol vs Anlene vs HiLo = Sekedar Beda atau Memang Beda?

Tung Desem Waringin & 100 juta = Nyebar Uang itu (lebih) Efektif? (29.05.08)

Tung Desem Waringin & 100 juta = Nyebar Uang itu (lebih) Efektif?

 

Dibawah ini adalah kutipan dari berita di Detik.com hari ini. Dengan Bapak Diki M Sidik, Staf Humas Tung Desem Waringin:

 

“…Diki menjelaskan, aksi Tung itu merupakan perumpamaan dari strategi marketing. Tung hendak menunjukkan banyaknya promosi yang sia-sia untuk memasarkan produknya.
“Banyak terjadi marketing sekarang seperti membuang uang di gunung berapi, tidak berbekas. Kalau orang pasang iklan, tidak bisa diukur berapa hasil dari iklan itu. Seperti baliho misalnya, itu kan buang uang saja,” beber Diki.

Maka, lanjut dia, dibuatlah semacam perumpamaan. Daripada uang dibuang, lebih baik dibagikan saja ke masyarakat..”

 

 

Let’s Discuss it:

First, Sebagaimana dengan case-case sebelumnya, suka atau tidak suka posting email ini mungkin menambah efek WOM dari program Nyebar Uang. Anyway, let’s see from Marketing side.

 

Kutipan diatas belum jelas arahnya, mengingat bukunya juga belum keluar. Namun kata-kata…. “Banyak terjadi marketing sekarang seperti membuang uang di gunung berapi, tidak berbekas. Kalau orang pasang iklan, tidak bisa diukur berapa hasil dari iklan itu. Seperti baliho misalnya, itu kan buang uang saja”… Mungkin bisa menjadi bahan evaluasi kita bersama dan yang menjadi pertanyaan pada subject posting ini.

 

Apakah Nyebar Uang itu (lebih) efektif? Jika dikaitkan dengan ukuran, apakah itu lebih terukur dari pasang iklan? Apakah ada korelasi antara Peningkatan Penjualan Buku dengan Penyebaran Uang? Dan jika dihitung total biaya dibagi total sales buku nanti akan lebih baik ratio cost/unitnya?

 

Semua kegiatan yang besifat spekatakuler, unik, nyeleneh dan out of box mayoritas objectivenya adalah mendapatkan perhatian. Alias berusaha stand out from the crowd secara instant!. Efektif? Yap efektif buat mendapatkan awareness. Pertanyaannya apakah relate to product? Tergantung buat siapa buku itu ditulis? Berapa harga ecerannya? Karena, Semua kegiatan Marketing harus relate dengan STPnya (segmentation, Targeting and Positioning). Jika tidak, maka seperti marketing tanpa arah dan yang pada akhirnya akan menghasilkan ineffective/waste of marketing program.

 

Perhatian atau Awareness itu sendiri, baru merupakan 1 step/proses sebelum sampai ke tahap Engagement alias Beli. Masih ada step-step berikutnya yang harus dilalui. Walau ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan Brand (brand Value&Image). Jika brand nya kuat maka begitu Launch langsung terjadi action beli. Tapi jika tidak? maka paling tidak akan ada phase sebelum itu terjadi, termasuk nungguin cerita orang yang dah beli buku itu.

 

Kegiatan Marketing itu bukan seperti masak Mie Instant, yang tinggal dibuka bungkusnya dan direbus baru dimakan. Kegiatan Marketing itu seperti Memasak Makanan Lengkap. Sebelum dimasak, diingat dulu siapa yang akan makan, sehingga tau apa yang akan dimasak, berapa banyak yang dimasak dan apa saja yang akan dihidangkan sebagai pendamping masakannya. Walau objective akhirnya sama yaitu Makan yang kenyang.

 

So? Apakah menyebar uang itu (lebih) efektif?

 

 

Tung Desem Waringin & 100 juta = Nyebar Uang itu (lebih) Efektif?