Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih? (21.09.08)

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih?

 

Akhir-akhir ini marak promosi dengan model seperti ini : “Tarif Rp 0*” atau “Diskon 70%*” atau “Gunakan Kartu Kredit XXX anda dan dapatkan tambahan diskon 20%*”… Jangan pikir tanda bintang yang ada disamping angka itu adalah hiasan! Itu adalah tanda asterisk yang berarti bahwa promosi tersebut harus mengikuti Syarat dan Ketentuan (S&K) yang berlaku. Ups.. liat syaratnya dimana? Hahahaha ini lagi yang lebih seru. Yang namanya S&K itu ga pernah ada yang pendek jadi ga pernah ditulis. Ada yang terdiri dari beberapa paragraph hingga bisa setebal buku! Dan yang lebih seru lagi, ada yang mencantumkan no telp customer service mereka. Artinya, kalo mau tau S&K nya, ya telp kesini Tanya! Huff…

 

Ngurut dada emang liat tipe promosi begini. Pengalaman saya paling terbaru berkaitan dengan masalah S&K ini adalah saat bersama-sama memutuskan untuk berbuka puasa di sebuah restoran seafood yang terkenal di Ancol hanya karena tergoda dengan iklan di Billboard mereka “diskon 50%”. Hasilnya? Kecele abis, wong ternyata itu hanya berlaku Senin s/d Kamis aja. Padahal kita datang di hari Jum’at! Atau kalo anda masih kurang percaya ttg testimoni saya, bisa coba klik disini kemudian masukkan key word “syarat dan ketentuan berlaku” pada kolom cari. Hmm bukan main.. ada lebih dari 100 komplain yang berkaitan dengan S&K. Ini belum termasuk mereka yang menuliskan dimajalah atau Koran serta yang hanya diam dan tidak bicara atas kekecewaan yang mereka terima.

 

Ini ada apa sih? Bikin Promosi ini sebenernya buat siapa sih? Kalo buat consumer kenapa justru mereka menjadi pihak yang paling kecewa?

 

Hmmm bahas dikit yuk!

 

Niat Nyenengin Consumer ga sih?

Basically, fungsi Marketing adalah membangun sustainability dari profit via kepuasan consumer. Oleh karena itu apapun kegiatan brand harusnya bisa memuaskan para consumer.  Kita bikin event activation dengan gerak jalan, hasilnya? Consumer senang karena bisa berinteraksi dengan brand nya, hingga mereka berkomitmen untuk terus menggunakan brand kita. Pernahkah para Marketer mempertimbangkan efek yang dirasakan consumer saat mereka merasa “tertipu” dengan iklan promosi yang disampaikan?

 

Dengan dalih estetika iklan, maka banyak tulisan dan keterangan yang di skip alias di ignore. “Loh bang, tujuan iklan adalah membuat orang tertarik. Lah kalo iklannya aja njelimet trus siapa yang mau tertarik”. “You know nald, billboard itu Cuma dilihat kurang dari 10 detik, trus siapa yang punya waktu untuk ngeliatin semua tulisannya??” atau “Nald, kan ga mungkin kami bikin iklan secara detail ttg apa yang boleh dan yang tidak boleh, masa kami mesti tulis seluruh syarat-syaratnya…” atau “jelek lah iklannya kalo penuh dengan tulisan, itu kan ga atraktif..” atau “gpp sejauh ini gw bikin begitu, consumer gw fine-fine aja, buktinya malah gw punya share naik sampai dengan 5 juta user!”

 

Ck..ck..ck.. Be honest bro! don’t play a tricky ad to them, if you don’t respect your consumer bagaimana mungkin lu bisa mengharapkan mereka untuk mencintai produk lu sampe kapan pun. Banyak hal yang membuat para consumer menerima “penipuan” ini. Mulai dari emang ga punya pilihan, sampai dengan emang udah terlanjur beli atau datang.

 

Coba Lihat, Beberapa promosi memang terlihat memaksakan diri, seperti hanya punya limited produk namun iklan yang dibuat serasa punya produk yang melimpah. Hasilnya pas consumer datang, langsung kecele! Kenapa sih mesti memaksakan diri? Kenapa sih ga jujur aja? Atau memang value perusahaan anda tertulis “Dapatkan profit dengan menghalalkan segala cara”??? Come on guys.. kita paham tekanan share holder seringkali bikin kita lupa bahwa, share holder adalah salah satu stake holder dari brand kita. Selain mereka masih ada lagi yang disebut dengan Consumer atau Customer!.

 

Back to Very Basic Question, Buat siapa sih promosi yang lu buat sebenernya bro? Jangan-jangan hanya buat nyenengin lu doang neh? Consumer yang datang banyak, sales jadi meningkat dan target tercapai.. lu seneng, owner juga seneng. Naik Pangkat deh! Bukan main prestasi lu bro! That’s what your objective bro? Anyway.. Kalo lu emang punya keterbatasan, kenapa ga akalin saja keterbatasan kita dengan cara yang lebih elegan dg tidak mengorbankan para consumer tercinta kita?

 

Secara umum ada beberapa solusi yang bisa dilakukan saat kita ingin bikin promosi namun kita punya keterbatasan-keterbatasan.

 

1. Be genuine honest, Put The Limitation as Your Program Name

Kalo memang hanya berlaku senin s/d kamis, bikin nama package yang menggambarkan program itu, seperti Monday to Thursday Fiesta. Atau jika hanya berlaku untuk article tertentu, maka bisa ditulis Seafood Discount Festival. Atau jika dibatasi oleh waktu tertentu, maka bisa ditulis Midnight Caller Special Program – Free Talk & Free Sms. Dengan demikian keterbatasan kita berubah menjadi kekuatan dari promosi kita.

 

2. Support the program with Leaflet or Proper Poster

Punya syarat dan ketentuan yang njelimet? Ga masalah, anda hanya perlu menambah tools Leaflet dan Poster yang menjelaskan cara kerja program tersebut. Dan Wajib diberikan pada semua orang yang masuk ke toko anda atau tulis dikemasan anda. Jika kemasan tak memungkinkan, maka pastikan anda meletakkan penjelasan tersebut pada wobbler, standing frame atau kalo perlu bikin dikoran dengan jelas. Bukankah semakin paham mereka dengan program yang anda buat maka semakin baik?

 

3. Put The Participating Product in Your Ad!

Nah ini biasa dilakukan oleh para Hypermarket, dengan langsung menuliskan harga dan foto dari produk yang berpartisipasi. Wah.. mahal dong bos! Yap! Oleh karena itu pemilihan produk sangat kritikal. Namun hasilnya brand anda jadi terpercaya bukan? Wong jujur kok!

 

4. Explore All the Resources & Keep It Simple!

Dan yang paling akhir, coba lihat seluruh resources yang ada. Find out apa yang kita bisa berikan sebagai trade off atas limitation dari promosi kita? Masih punya voucher free service? Punya staff yang bisa melakukan free training? Ada fasilitas free delivery? Atau mungkin jika hanya On Net, berikan tambahan extra sms yang hanya makan kurang dari 1KB per kirim. Anything! That’s make your consumer happy without killing your self. Dan pastikan semua promosi yang anda buat simple dan sederhana hingga tidak perlu professor ahli matematika terlibat hanya untuk menghitung tarif promosi anda.

 

Sesuatu yang biasa menurut kita sebagai Marketer, seringkali masih merupakan hal yang luar biasa bagi Consumer kita. Suhu Marketing saya, bang Sumardy pernah bilang, “sebenernya Nald, lu yang bosen dengan programnya atau consumer lu yang bosen?” hehehhe sebuah ocehan sepele yang mengingatkan bahwa customer itu tetap berada dipiramida paling puncak. Jangan dianggap nomer dua apalagi disepelekan dengan promosi yang menjebak dan seperti menguji intelektualitas mereka.

 

So? Masih ingin menjadikan consumer anda seneng atau still wanna play?

 

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih?

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools? (10.09.08)

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools?

 

Sekarang lagi demam Online Activity loh! Termasuk saya hehehe.. Lihat, apa aja sekarang dibawa online. Mulai foto lagi bengong ampe video presentasinya bill gates pas lagi kejakarta bisa dilihat secara online. Trus pada Rame-rame punya blog, social online page dan personal Web. Hmm… yap! ini yang disebut dengan Generasi Online! They Can’t live without internet. Apalagi sekarang habit ini didukung dengan infrastruktur Internet yang semakin merata dan murah.

 

Banyak situs-situs yang ngetop mulai dari facebook yang menyediakan social page hingga Ning yang menyediakan Social Web. Dari situs flickr yang berisi foto-foto hingga youtube yang terkenal sebagai video posting web. Belum lagi situs-situs yang bersifat forum bebas seperti kaskus hingga detik yang penuh dengan berita-berita actual yang diupdate secara hampir real time.

 

Ternyata fenomena diatas sangat dimanfaatkan dengan baik oleh para Marketer dengan menjadikannya sebagai media berkomunikasi dan berinteraksi via internet yang dikenal dengan Online Marketing (OM). Hasilnya? Wow ternyata sangat sukses sekali bahkan beberapa bisa dibilang sangat fenomenal! Hingga sang Guru Marketing dari Indonesia menyebutnya sebagai New Wave of Marketing. Hmm seru ya..

 

Ada 2 Pertanyaan yang coba kita explore..

 

1. Apakah Online Marketing adalah the Ultimate Strategy?

Pertanyaan ini muncul ketika beberapa praktisi begitu menggembor-gemborkan ttg OM ini hingga kita mendengar kata-kata “hari gini belum OM?”. Yap! Segitu bersemangatnya mereka menggaungkan ttg the power of Online Marketing (OM). Namun memang pernyataan mereka sendiri bukanlah tanpa dasar. Mereka adalah para praktisi dan consultant yang sudah membuktikan bagaimana Internet itu sangat powerful dalam mengangkat sebuah brand dan juga sangat dahsyat untuk menghancurkan sebuah brand.

 

Apalagi argument yang disampaikan sangat didukung dengan fakta bahwa generasi sekarang sudah mulai internet minded. Artinya mereka menjadikan virtual life itu menjadi aktifitas utama mereka. Dan jelas perubahan ini merupakan potensi besar buat para marketer. Bayangkan cukup bikin 1 web yang interaktif dengan modal sekitar 7jutaan sudah bisa mendatangkan traffic sampai dengan puluhan ribu dalam hitungan hari dan tentu saja setiap hari terus bertambah. Wow!!

 

Internet itu punya banyak sekali kelebihan, mulai dari jaringan tanpa batas, real time, interaktif, hingga audio visual communication. Tapi apakah dari semua fakta diatas kita bisa bilang OM adalah Ultimate Strategy? Trus Bagaimana dengan batasan interaksi yang disebut dengan real experience? Seperti experience mengendara motor (test drive), sentuhan tekstur kain hingga jabatan erat tangan antara customer service officer dengan pelanggan? Apakah ini bisa ditemukan atau digantikan pada OM?

 

Dan tidak semua produk juga bisa bergantung penuh dengan OM bukan?

Hmm Okay Let’s see the other question

 

2. Apakah Online Marketing adalah New Marketing Tools?

Secara umum saya berpendapat bahwa OM adalah salah satu channel komunikasi marketing. Seperti TV, Radio, Billboard, Spanduk, Koran, Majalah, eksebisi hingga Retail Store. Dimana setiap channel punya kelebihan dan punya kekurangan. Dan setiap channel ada yang cocok 100% untuk industri tertentu dan ada juga yang hanya berguna untuk media promosi saja. Dan tentu saja setiap channel tidak bisa berdiri sendiri tapi butuh support aktivitas promosi yang lain.

 

Jika kita melihat OM sebagai New Marketing Tools, artinya OM itu harus tetap didukung dengan strategi ATL & BTL yang lain. Kita tidak bisa menggantungkan seluruh strategi komunikasi kita hanya pada OM saja. Sebagai tambahan new perspektif bahwa komunikasi via internet masih belum 100% mandiri, coba pas pulang kerja nanti lewat jalan Rasuna Said, anda akan melihat Banner dari KapanLagi.com . Loh kok Online Web masih bikin Iklan? Hmm seru bukan? Karena memang, walau kita lihat di 5 kota besar yang namanya online generation itu sudah jamak, namun tetap masih banyak orang yang belum internet minded dan masih banyak juga yang hanya menjadikan internet sebagai salah satu alternative untuk mencari informasi.

 

Secara produk sendiri, ada produk atau industri yang produknya bersifat massal (FMCG) yang punya kecenderungan dibeli karena impulse buying. Mereka ini mungkin akan menjadikan OM hanya sebagai salah satu media untuk membangun brand, persepsi atau juga mereka gunakan untuk membangun database. Hingga pada kenyataanya mereka ternyata masih tetap membuat wobblers, gondola hingga BTL event. Kenapa? Karena impulse buying itu dipengaruhi oleh apa yang menarik dishelf saat consumer melakukan shooping.

 

Yap!, kita harus tetap mempertimbangkan factor customer behavior dan buying factor yang merupakan personality dari target market kita. Dimana jika kita back to basic, factor orang membeli itu sangat dipengaruhi oleh 4P (price, product, place and promotion) nah jika OM merupakan salah satu tools promosi maka kita bisa melakukan kegiatan yang lebih bervariasi dan lebih flexible tergantung dengan target market dan objective yang kita kejar. Dengan kata lain The Power of OM dipadukan dengan tool-tool marketing yang lain akan menjelma menjadi kekuatan komunikasi yang holistic dan integrated.

 

Hmm sebagai closing, Ingat selalu untuk menyesuaikan Strategi Promosi anda dengan Segmentasi, Target dan Positioning produk/brand anda. Agar bisa menghasilkan Strategi Marketing yang Efektif dan tentu saja yang Efesien.

 

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools?