Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools? (10.09.08)

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools?

 

Sekarang lagi demam Online Activity loh! Termasuk saya hehehe.. Lihat, apa aja sekarang dibawa online. Mulai foto lagi bengong ampe video presentasinya bill gates pas lagi kejakarta bisa dilihat secara online. Trus pada Rame-rame punya blog, social online page dan personal Web. Hmm… yap! ini yang disebut dengan Generasi Online! They Can’t live without internet. Apalagi sekarang habit ini didukung dengan infrastruktur Internet yang semakin merata dan murah.

 

Banyak situs-situs yang ngetop mulai dari facebook yang menyediakan social page hingga Ning yang menyediakan Social Web. Dari situs flickr yang berisi foto-foto hingga youtube yang terkenal sebagai video posting web. Belum lagi situs-situs yang bersifat forum bebas seperti kaskus hingga detik yang penuh dengan berita-berita actual yang diupdate secara hampir real time.

 

Ternyata fenomena diatas sangat dimanfaatkan dengan baik oleh para Marketer dengan menjadikannya sebagai media berkomunikasi dan berinteraksi via internet yang dikenal dengan Online Marketing (OM). Hasilnya? Wow ternyata sangat sukses sekali bahkan beberapa bisa dibilang sangat fenomenal! Hingga sang Guru Marketing dari Indonesia menyebutnya sebagai New Wave of Marketing. Hmm seru ya..

 

Ada 2 Pertanyaan yang coba kita explore..

 

1. Apakah Online Marketing adalah the Ultimate Strategy?

Pertanyaan ini muncul ketika beberapa praktisi begitu menggembor-gemborkan ttg OM ini hingga kita mendengar kata-kata “hari gini belum OM?”. Yap! Segitu bersemangatnya mereka menggaungkan ttg the power of Online Marketing (OM). Namun memang pernyataan mereka sendiri bukanlah tanpa dasar. Mereka adalah para praktisi dan consultant yang sudah membuktikan bagaimana Internet itu sangat powerful dalam mengangkat sebuah brand dan juga sangat dahsyat untuk menghancurkan sebuah brand.

 

Apalagi argument yang disampaikan sangat didukung dengan fakta bahwa generasi sekarang sudah mulai internet minded. Artinya mereka menjadikan virtual life itu menjadi aktifitas utama mereka. Dan jelas perubahan ini merupakan potensi besar buat para marketer. Bayangkan cukup bikin 1 web yang interaktif dengan modal sekitar 7jutaan sudah bisa mendatangkan traffic sampai dengan puluhan ribu dalam hitungan hari dan tentu saja setiap hari terus bertambah. Wow!!

 

Internet itu punya banyak sekali kelebihan, mulai dari jaringan tanpa batas, real time, interaktif, hingga audio visual communication. Tapi apakah dari semua fakta diatas kita bisa bilang OM adalah Ultimate Strategy? Trus Bagaimana dengan batasan interaksi yang disebut dengan real experience? Seperti experience mengendara motor (test drive), sentuhan tekstur kain hingga jabatan erat tangan antara customer service officer dengan pelanggan? Apakah ini bisa ditemukan atau digantikan pada OM?

 

Dan tidak semua produk juga bisa bergantung penuh dengan OM bukan?

Hmm Okay Let’s see the other question

 

2. Apakah Online Marketing adalah New Marketing Tools?

Secara umum saya berpendapat bahwa OM adalah salah satu channel komunikasi marketing. Seperti TV, Radio, Billboard, Spanduk, Koran, Majalah, eksebisi hingga Retail Store. Dimana setiap channel punya kelebihan dan punya kekurangan. Dan setiap channel ada yang cocok 100% untuk industri tertentu dan ada juga yang hanya berguna untuk media promosi saja. Dan tentu saja setiap channel tidak bisa berdiri sendiri tapi butuh support aktivitas promosi yang lain.

 

Jika kita melihat OM sebagai New Marketing Tools, artinya OM itu harus tetap didukung dengan strategi ATL & BTL yang lain. Kita tidak bisa menggantungkan seluruh strategi komunikasi kita hanya pada OM saja. Sebagai tambahan new perspektif bahwa komunikasi via internet masih belum 100% mandiri, coba pas pulang kerja nanti lewat jalan Rasuna Said, anda akan melihat Banner dari KapanLagi.com . Loh kok Online Web masih bikin Iklan? Hmm seru bukan? Karena memang, walau kita lihat di 5 kota besar yang namanya online generation itu sudah jamak, namun tetap masih banyak orang yang belum internet minded dan masih banyak juga yang hanya menjadikan internet sebagai salah satu alternative untuk mencari informasi.

 

Secara produk sendiri, ada produk atau industri yang produknya bersifat massal (FMCG) yang punya kecenderungan dibeli karena impulse buying. Mereka ini mungkin akan menjadikan OM hanya sebagai salah satu media untuk membangun brand, persepsi atau juga mereka gunakan untuk membangun database. Hingga pada kenyataanya mereka ternyata masih tetap membuat wobblers, gondola hingga BTL event. Kenapa? Karena impulse buying itu dipengaruhi oleh apa yang menarik dishelf saat consumer melakukan shooping.

 

Yap!, kita harus tetap mempertimbangkan factor customer behavior dan buying factor yang merupakan personality dari target market kita. Dimana jika kita back to basic, factor orang membeli itu sangat dipengaruhi oleh 4P (price, product, place and promotion) nah jika OM merupakan salah satu tools promosi maka kita bisa melakukan kegiatan yang lebih bervariasi dan lebih flexible tergantung dengan target market dan objective yang kita kejar. Dengan kata lain The Power of OM dipadukan dengan tool-tool marketing yang lain akan menjelma menjadi kekuatan komunikasi yang holistic dan integrated.

 

Hmm sebagai closing, Ingat selalu untuk menyesuaikan Strategi Promosi anda dengan Segmentasi, Target dan Positioning produk/brand anda. Agar bisa menghasilkan Strategi Marketing yang Efektif dan tentu saja yang Efesien.

 

Online Marketing : The Ultimate Strategy or New Marketing Tools?

Mie Sedaap & Supermi Adu Panjang Mie : What are you doing guys? What does it mean for us? (03.09.08)

Mie Sedaap & Supermi Adu Panjang Mie : What are you doing guys? What does it mean for us?

 

Jakarta 08 Juni 2008, di Depok Town Square Mie Sedaap membuktikan bahwa tepung mienya memang berkualitas dengan membuat mie terpanjang yang mencapai 300 meter. Namun hanya berselang 2 bulan kemudian tepatnya di Bandung tanggal 20 Agustus giliran Supermi yang membuat mie sepanjang 1.000 meter. Hasil ini secara otomatis memecahkan rekor Muri yang telah dibuat oleh Mie Sedaap. Apa sih tujuannya? Mereka berlomba untuk menunjukkan bahwa kualitas tepungnya lah yang lebih baik. Hmm than what next? Mau bikin mie sepanjang 2 kilo meter? Dan kemudian sepanjang 4 kilo meter? Atau sekalian aja bikin napak tilas dari Jakarta sampai Surabaya, itung-itung mengenang sejarah saat pembangunan jalan pantura jaman penjajahan dulu.

 

What are you doing guys?

Apa sih yang mau dicapai dengan adu kualitas tepung mie? Tahu nggak sih bahwa isu terbesar soal mie instant bukanlah soal kualitas tepung mie? Tapi soal lapisan lilin yang melapisi mie. Kalo tidak percaya, coba klik berita yang ini atau berita yang ini. Dan jika masih kurang, silahkan search saja menggunakan key word Lapisan Lilin Mie. Nah isu ini yang seharusnya menjadi prioritas untuk dilakukan counter attack. Karena isu ini jelas berakibat mengurangi tingkat konsumsi masyarakat atas mie instant secara langsung. Dan jika berhasil melakukan edukasi dengan benar, maka justru akan memperbesar market size yang jelas akan memperluas area kompetisi.

 

Strategi memamerkan kualitas produk memang merupakan salah satu cara kompetisi yang produktif sekali. Namun jika yang dipamerkan bersifat umum atau tidak unik atau mudah sekali ditiru maka itu sama sekali bukan strategi yang baik. Kenapa? Karena hanya akan menjadikan ajang balas-balasan yang pada akhirnya menghilangkan esensi dari kompetisi yang produktif.

 

Coba lihat, pasar ini belum mature bukan? Ditambah dengan isu lilin yang menurunkan tingkat konsumsi yang seharusnya bisa diredam agar bisa mendorong tingkat konsumsi kembali. Trus buat apa saling pukul kalo pasar masih luas? Buat apa menghabiskan energi untuk mengalahkan yang lain disaat masih banyak konsumen yang belum teredukasi? Kenapa tidak meniru Industri pasta gigi yang walaupun saat ini sudah susah mencari orang yang menggosok giginya tanpa menggunakan pasta gigi, mereka masih terus secara konsisten melakukan edukasi pada konsumen. Kenapa? Karena mereka tetap melihat pada sisi yang belum disentuh dan dijamah!

 

Zoom Out, look at the market, find out the blank spot than fill it. Develop your distribution network. Create New Education Program. Grow the Market Size, and your main task is to ensure that each percent of the growth points is yours!

 

What does it mean for us?

Sebagai konsumen, jujur aja neh. Kita tuh ga peduli siapa yang paling panjang ukuran mie nya. Karena ukuran panjang mie bukan key driver utama kita membeli. Tapi, pada Rasa dari mie itu sendiri. Kenapa sih kok ga malah sibuk bikin varian rasa yang macem-macem? Trus, berhubung dengan isu lilin yang sudah menjadi rahasia umum, tolong dong jelasin kekita, apakah isu itu benar atau tidak? Bikin kita tenang dong untuk mengkonsumsi mie.

 

Kita seneng makan mie, udahlah praktis, murah lagi. Tinggal tambah varian aja, hayo bikin Research dong, siapa tau ayam goreng bisa masuk dalam bungkus mie. Atau bisa masukin bakso bulat atau kalo perlu ada telor mata sapi dalam mie. Nah penemuan yang kayak gini yang kita perluin. Sehingga saat mau makan mie udah ga perlu beli lauk tambahan lagi.

 

Soal vitamin dan kualitas mie? Itu sudah wajib mas! Jadiin itu basic requirement (standard) kalian bikin mie. Jagalah Industri ini dengan baik. Lindungi konsumen agar market size nya terus membesar bukan malah menurun.

 

Cari tau the real needs dari si konsumen untuk bisa memberikan offering product yang sesuai dan bisa mengembangkan product yang lebih baik yang mampu melampaui ekspektasi konsumen.

 

Seperti kata sahabat saya Ricky Afrianto, seorang Senior Brand Manager dari brand susu kalsium yang sukses jadi market leader, bahwa memang sudah “tugasnya” challenger untuk melakukan apa saja agar berkembang dan mengalahkan leader, namun sudah menjadi tanggung jawab market leader untuk menjaga size industrinya, bukan malah terbawa arus untuk merusaknya. Dan tentu saja yang paling ideal adalah baik challenger maupun market leader harus berpikir untuk mengembangkan pasar dan berebut selisih perkembangan pasar tersebut. Terutama jika industrinya sendiri belum jenuh.

 

Mie Sedaap & Supermi Adu Panjang Mie : What are you doing guys? What does it mean for us?