Harga itu Milik Siapa? Consumer atau Prinsipal? (30.09.08)

Harga itu Milik Siapa? Consumer atau Prinsipal?

 

Temen saya sewot saat tau baju yang dia beli minggu lalu seharga Rp.450.000,- , sekarang Cuma dihargai 50%nya saat bekunjung kembali ke store tempat dia beli. Saat ditanya ke supervisor storenya, mereka dengan enteng bilang “wah.. ma’af pak, ini sudah programnya” sebuah pernyataan yang secara tidak langsung bilang “itu adalah DL alias Derita Lu!”. Atau bisa lihat habit beberapa Ibu-ibu yang mulai berubah menjadi “pialang saham” alias pemantau harga barang. Kalo ditanya, kok belum belanja? “wah jangan, kita mesti liat Koran.. suka ada diskon gede mendadak. Lumayan.. bisa hemat. Abis kalo ga ditahan, bisa rugi ntar. Wong harganya suka berubah-berubah kok..”

 

Belum lagi kalo kita bicara tariff GSM yang berubahnya mungkin sudah masuk dalam tahap “seenak jidatnya!” Gimana nggak sewot, wong pas beli kemaren tuh kartu gara-gara dia bilang “telp 2 menit pertama dan gratis untuk 10 menit dimuka” eh sekarang berubah menjadi “telp 3 menit pertama dan gratis 15 menit dimuka” sekilas terlihat biasa saja dan terlihat konsumen diuntungkan. Namun pertanyaan basicnya adalah, saya kemarin beli kartu itu karena promosi yang pertama! Nah kalo saya ga suka dengan promosinya yang terbaru, apa saya harus ganti provider lain??

 

Harga memang salah satu dari komponen basic Marketing Mix (produk, place & promotion). Sebagai sebuah komponen strategi, maka Harga seringkali menjadi hot tools yang sering digunakan dalam Strategi Marketing. Kenapa? Selain memang cara yang termudah alias gampang, efeknya pun bisa dilihat seketika. Harga itu seperti bahasa universal, mudah dimengerti oleh Marketer, Top Management, Retailer, Distributor hingga (tentu saja) konsumen. Selain itu Harga juga menjadi semacam emergency plan jika Marketing Program tidak memuaskan atau jauh dari apa yang saya sebut dengan “salesman screaming!” yaitu paniknya orang sales mengisi stock akibat kampanye Marketing yang sangat berhasil.

 

Realitanya, soal harga memang sangat-sangat sensitive. Bagi Prinsipal ini menyangkut besaran net profit. Bagi consumer ini menyangkut besaran Cost. Dan hubungan bagi keduanya secara umum berbanding terbalik, walau tentu ada titik equilibrium yang bisa mengakomodasi kepentingan keduanya. Nah mengingat sensifitas harga, pertanyaannya adalah Harga itu Milik Siapa sih? Consumer atau Prinsipal?

 

Zoom in yuk!

 

Milik Prinsipal?

Yah..udah pasti milik principal dong nald. Wong mereka yang punya produk, gimana sih! hehehehe anyway let’s check this out. Bagi principal, harga itu merupakan:

1. Komponen Produksi

Basically, Harga merupakan komponen produksi. Dimana Harga menjadi representasi dari biaya produksi, biaya biaya distribusi hingga profit yang diinginkan perusahaan. Sebagai komponen Produksi, maka harga selalu bersifat positif ke Biaya dan Margin. Artinya, Harga tidak mungkin lebih rendah dari total biaya dan Margin karena jika lebih rendah artinya rugi hehehehhe.. Perubahan Harga hanya didasarkan atas perubahan komponen dasarnya, yaitu jika biaya produksi berubah, maka Harga juga berubah. Sehingga Harga sebagai komponen produksi cenderung stabil dan bersifat jangka panjang.

 

2. Komponen Pasar

Harga sebagai komponen Pasar. Pada bagian ini, sifat harga jadi sangat flexible. Dimana harga bisa meningkat dan turun tanpa harus dipengaruhi atau melihat factor-faktor biaya produksi. Artinya, harga bisa naik jauh lebih tinggi dari biaya produksi dan bisa juga turun lebih rendah dari biaya produksi. Loh kok bisa?? Iya karena pada bagian ini yang menentukan harga bukan lagi biaya produksi tapi Permitaan dan Penawaran barang tersebut. Karena pada tahap ini Harga merupakan komoditas dimana harga barang ditentukan atas hukum pasar yaitu Permintaan dan Penawaran. Saat permintaan tinggi dari consumer dan penawaran rendah, maka harga akan melambung tinggi. Begitu juga saat permintaan rendah dan penawaran tinggi, maka harga akan jatuh bebas hehehe. Ini bisa dilihat di komoditas seperti minyak, gula, beras.

 

3. Komponen Marketing

Pada bagian ini Harga sangat dipengaruhi oleh strategi Marketing. Dimana turun naiknya harga bukan semata-mata ditentukan oleh Produksi atau Pasar tapi ditentukan oleh si Marketer sebagai pembuat strategi. Sehingga harga bisa ditentukan jauh lebih rendah dari biaya produksi walaupun permintaan tinggi ataupun jauh lebih tinggi dari biaya produksi walaupun permintaan rendah. Loh kok bisa? Ya bisa karena disini Harga hanya merupakan bagian dari sebuah strategi Marketing. Perubahan Harga jadi hanya didasarkan oleh persaingan dengan objective utama untuk merebut pasar seluas mungkin.

 

Dari 3 komponen diatas, kita bisa melihat bagaimana luasnya dominasi principal atas harga. Dimana secara tidak langsung maupun langsung, atas nama salah satu dari 3 kepentingan diatas, Prinsipal bisa merubah harga sesuka hati tanpa harus meminta persetujuan dari consumer. Lihat saja, malah ada yang nulis “harga berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan” weleh..weleh..

 

Milik Consumer?

Secara umum dari sisi consumer sifat harga itu dibagi dua:

1. Harga Produk itu sendiri (Single Price)

Ini adalah harga yang melekat dibarang, dimana sebuah produk langsung punya nilai tanpa melihat after sales servicenya. Contoh: Harga Televisi adalah harga yang terpisah dengan harga service nya. Atau harga Wafer yang langsung merupakan harga produk tersebut. Disini, Consumer langsung membeli produk sesuai dengan harga yang tertera. Dan manfaat yang diterima consumer hanya terbatas pada produk nya.

 

2. Harga Keseluruhan (Bundling Price)

Disini, Harga merupakan salah satu factor dalam produk. Saat mereka membeli sebuah produk sudah termasuk dengan jasa, harga dan manfaat lainnya. Contoh: membeli sebuah starter pack provider GSM. Maka consumer itu membeli jaringan, fitur dan fasilitas termasuk dengan tariff. Karena sifatnya satu kesatuan dan saling mempengaruhi maka ini disebut dengan bundling produk.

 

Nah, untuk point yang pertama (single price), perubahan atas harga memang sangat berpengaruh untuk consumer namun Karena tidak punya switching cost, maka bagi consumer ini tidak terlalu masalah. Pendek kata, kalo tidak suka ya tinggal ganti yang lain aja. Simple bukan.

 

Namun untuk Point yang kedua (bundling price), ini yang sekarang bener-bener menjadi masalah. Bayangkan kalo salah satu bagian dari produk tersebut berubah, apakah masih merupakan produk yang sama yang dibeli consumer? Okay agar tidak terlalu kecepatan membahasnya, kita mundur dikit. Contoh: Ketika kita membeli paket TV berbayar, maka kita membeli kualitas siaran, jenis siaran yang ada didalamnya. Nah seperti kasus Astro, dimana banyak consumer subscribe karena ada EPL (English premier league) di Astro. Nah kalo sekarang tidak ada? Masa consumer disuruh berhenti begitu saja? Atau bisa juga dilihat pada kasus provider GSM sekarang. Dimana mereka gencar berganti tariff sesering mungkin. Contoh: Saya join ke Provider A karena mereka punya jaringan yang bagus serta tariff perdetik. Namun, tiba-tiba mereka mengganti tariff dengan program “sesukamu” . Nah saya tidak suka dengan tariff baru ini, apa yang harus saya lakukan? Ganti provider? Wong nomer saya sudah dimana-mana…

 

Nah terlepas dari banyak factor alasan yang bisa kemukakan dan dicari-cari, Kepemilikan Harga itu sebenernya kesiapa sih? Fair ga sih kita merubah harga sesuka hati kita tanpa bicara ke konsumen kita? Apalagi untuk produk-produk yang bersifat bundling price. Kompetisi harusnya membuat sebuah industri semakin efesien dan efektif dan untuk consumer kompetisi membuat perceived value dari sebuah produk yang dibelinya semakin tinggi. Bukan malah bermain dengan garis price tolerance dari consumer hingga ke melebihi batas tertingginya.

 

Yang sekarang berkembang adalah para principal sepertinya berusaha “mengkandangkan” consumer dan kemudian “memerahnya” dengan tanpa melihat apa yang dirasakan oleh consumer. Ini bisa dilihat dengan praktik mempertinggi tingkat Switching Cost melalui berbagai retention program, kemudian bermain dengan harga sesuka hati. Idealnya, a Big sustainability Brand born from a crowd of Big and sustainability Consumer.

 

Harga itu Milik Siapa? Consumer atau Prinsipal?

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih? (21.09.08)

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih?

 

Akhir-akhir ini marak promosi dengan model seperti ini : “Tarif Rp 0*” atau “Diskon 70%*” atau “Gunakan Kartu Kredit XXX anda dan dapatkan tambahan diskon 20%*”… Jangan pikir tanda bintang yang ada disamping angka itu adalah hiasan! Itu adalah tanda asterisk yang berarti bahwa promosi tersebut harus mengikuti Syarat dan Ketentuan (S&K) yang berlaku. Ups.. liat syaratnya dimana? Hahahaha ini lagi yang lebih seru. Yang namanya S&K itu ga pernah ada yang pendek jadi ga pernah ditulis. Ada yang terdiri dari beberapa paragraph hingga bisa setebal buku! Dan yang lebih seru lagi, ada yang mencantumkan no telp customer service mereka. Artinya, kalo mau tau S&K nya, ya telp kesini Tanya! Huff…

 

Ngurut dada emang liat tipe promosi begini. Pengalaman saya paling terbaru berkaitan dengan masalah S&K ini adalah saat bersama-sama memutuskan untuk berbuka puasa di sebuah restoran seafood yang terkenal di Ancol hanya karena tergoda dengan iklan di Billboard mereka “diskon 50%”. Hasilnya? Kecele abis, wong ternyata itu hanya berlaku Senin s/d Kamis aja. Padahal kita datang di hari Jum’at! Atau kalo anda masih kurang percaya ttg testimoni saya, bisa coba klik disini kemudian masukkan key word “syarat dan ketentuan berlaku” pada kolom cari. Hmm bukan main.. ada lebih dari 100 komplain yang berkaitan dengan S&K. Ini belum termasuk mereka yang menuliskan dimajalah atau Koran serta yang hanya diam dan tidak bicara atas kekecewaan yang mereka terima.

 

Ini ada apa sih? Bikin Promosi ini sebenernya buat siapa sih? Kalo buat consumer kenapa justru mereka menjadi pihak yang paling kecewa?

 

Hmmm bahas dikit yuk!

 

Niat Nyenengin Consumer ga sih?

Basically, fungsi Marketing adalah membangun sustainability dari profit via kepuasan consumer. Oleh karena itu apapun kegiatan brand harusnya bisa memuaskan para consumer.  Kita bikin event activation dengan gerak jalan, hasilnya? Consumer senang karena bisa berinteraksi dengan brand nya, hingga mereka berkomitmen untuk terus menggunakan brand kita. Pernahkah para Marketer mempertimbangkan efek yang dirasakan consumer saat mereka merasa “tertipu” dengan iklan promosi yang disampaikan?

 

Dengan dalih estetika iklan, maka banyak tulisan dan keterangan yang di skip alias di ignore. “Loh bang, tujuan iklan adalah membuat orang tertarik. Lah kalo iklannya aja njelimet trus siapa yang mau tertarik”. “You know nald, billboard itu Cuma dilihat kurang dari 10 detik, trus siapa yang punya waktu untuk ngeliatin semua tulisannya??” atau “Nald, kan ga mungkin kami bikin iklan secara detail ttg apa yang boleh dan yang tidak boleh, masa kami mesti tulis seluruh syarat-syaratnya…” atau “jelek lah iklannya kalo penuh dengan tulisan, itu kan ga atraktif..” atau “gpp sejauh ini gw bikin begitu, consumer gw fine-fine aja, buktinya malah gw punya share naik sampai dengan 5 juta user!”

 

Ck..ck..ck.. Be honest bro! don’t play a tricky ad to them, if you don’t respect your consumer bagaimana mungkin lu bisa mengharapkan mereka untuk mencintai produk lu sampe kapan pun. Banyak hal yang membuat para consumer menerima “penipuan” ini. Mulai dari emang ga punya pilihan, sampai dengan emang udah terlanjur beli atau datang.

 

Coba Lihat, Beberapa promosi memang terlihat memaksakan diri, seperti hanya punya limited produk namun iklan yang dibuat serasa punya produk yang melimpah. Hasilnya pas consumer datang, langsung kecele! Kenapa sih mesti memaksakan diri? Kenapa sih ga jujur aja? Atau memang value perusahaan anda tertulis “Dapatkan profit dengan menghalalkan segala cara”??? Come on guys.. kita paham tekanan share holder seringkali bikin kita lupa bahwa, share holder adalah salah satu stake holder dari brand kita. Selain mereka masih ada lagi yang disebut dengan Consumer atau Customer!.

 

Back to Very Basic Question, Buat siapa sih promosi yang lu buat sebenernya bro? Jangan-jangan hanya buat nyenengin lu doang neh? Consumer yang datang banyak, sales jadi meningkat dan target tercapai.. lu seneng, owner juga seneng. Naik Pangkat deh! Bukan main prestasi lu bro! That’s what your objective bro? Anyway.. Kalo lu emang punya keterbatasan, kenapa ga akalin saja keterbatasan kita dengan cara yang lebih elegan dg tidak mengorbankan para consumer tercinta kita?

 

Secara umum ada beberapa solusi yang bisa dilakukan saat kita ingin bikin promosi namun kita punya keterbatasan-keterbatasan.

 

1. Be genuine honest, Put The Limitation as Your Program Name

Kalo memang hanya berlaku senin s/d kamis, bikin nama package yang menggambarkan program itu, seperti Monday to Thursday Fiesta. Atau jika hanya berlaku untuk article tertentu, maka bisa ditulis Seafood Discount Festival. Atau jika dibatasi oleh waktu tertentu, maka bisa ditulis Midnight Caller Special Program – Free Talk & Free Sms. Dengan demikian keterbatasan kita berubah menjadi kekuatan dari promosi kita.

 

2. Support the program with Leaflet or Proper Poster

Punya syarat dan ketentuan yang njelimet? Ga masalah, anda hanya perlu menambah tools Leaflet dan Poster yang menjelaskan cara kerja program tersebut. Dan Wajib diberikan pada semua orang yang masuk ke toko anda atau tulis dikemasan anda. Jika kemasan tak memungkinkan, maka pastikan anda meletakkan penjelasan tersebut pada wobbler, standing frame atau kalo perlu bikin dikoran dengan jelas. Bukankah semakin paham mereka dengan program yang anda buat maka semakin baik?

 

3. Put The Participating Product in Your Ad!

Nah ini biasa dilakukan oleh para Hypermarket, dengan langsung menuliskan harga dan foto dari produk yang berpartisipasi. Wah.. mahal dong bos! Yap! Oleh karena itu pemilihan produk sangat kritikal. Namun hasilnya brand anda jadi terpercaya bukan? Wong jujur kok!

 

4. Explore All the Resources & Keep It Simple!

Dan yang paling akhir, coba lihat seluruh resources yang ada. Find out apa yang kita bisa berikan sebagai trade off atas limitation dari promosi kita? Masih punya voucher free service? Punya staff yang bisa melakukan free training? Ada fasilitas free delivery? Atau mungkin jika hanya On Net, berikan tambahan extra sms yang hanya makan kurang dari 1KB per kirim. Anything! That’s make your consumer happy without killing your self. Dan pastikan semua promosi yang anda buat simple dan sederhana hingga tidak perlu professor ahli matematika terlibat hanya untuk menghitung tarif promosi anda.

 

Sesuatu yang biasa menurut kita sebagai Marketer, seringkali masih merupakan hal yang luar biasa bagi Consumer kita. Suhu Marketing saya, bang Sumardy pernah bilang, “sebenernya Nald, lu yang bosen dengan programnya atau consumer lu yang bosen?” hehehhe sebuah ocehan sepele yang mengingatkan bahwa customer itu tetap berada dipiramida paling puncak. Jangan dianggap nomer dua apalagi disepelekan dengan promosi yang menjebak dan seperti menguji intelektualitas mereka.

 

So? Masih ingin menjadikan consumer anda seneng atau still wanna play?

 

Terms and Condition Applied = Niat Nyenengin Consumer ga sih?