Rinso : Membersihkan Noda Dalam Sekali Cuci = Kemunduran, Inkonsistensi or New Strategy? (09.04.08)

Rinso : Membersihkan Noda Dalam Sekali Cuci = Kemunduran, Inkonsistensi or New Strategy?

 

Saya jadi ingat tahun lalu, saat menjadi salah satu juri The Most Impactful Event yang ditaja oleh Mix Magazine. Event Berani Kotor itu Baik dari Rinso muncul sebagai The Most Impactful Event.

 

Kita (para Juri) sepakat bahwa Rinso melangkah ke fase yang lebih tinggi, tidak lagi bicara dengan Basic Function – Membersihkan Noda, tapi sudah bicara ke Emotional dengan Berani Kotor itu baik. Tapi, melihat iklan Rinso yang baru-baru ini muncul dengan Tagline Membersihkan Noda Dalam Sekali Cuci, saya jadi ingat dengan masa-masa Rinso dulu yang terkenal dengan Tagline Rinso Membersihkan Paling Bersih.

 

What happening now? Kenapa Rinso Talking about Basic Function again?

Apakah ini hanya berlaku dalam varian ini saja? Atau masih merupakan bagian dari Kampanye Berani Kotor itu Baik? Atau ada Missing Link dalam Communication sebelumnya dimana keampuhan Rinso dalam membersihkan noda jadi dipertanyakan? Hmm.. Menarik Jika iya, Mungkinkah ini yang mendasari Attack muncul dengan Mencuci 10 tangan? Dimana peperangannya diambil alih oleh Surf dengan Mencuci 12 tangan?

 

Let’s a little bit focus now,

Setelah sukses mengedukasi pelanggan dengan Berani Kotor itu Baik, than what next? Back to basic again? Apakah memang itu siklusnya? Strategi apa yang sedang dibangun oleh Rinso?

 

Bisakah ini dibilang sebagai inkosistensi Rinso dalam membangun tahapan Brandnya? Atau bisa dibilang sebagai kemunduran dalam Life of Brand? Beberapa brand besar yang sudah masuk dalam tahap Emotional seperti 234, Harley Davidson tidak kembali bicara Basic Product. We Never Heard mereka bicara ttg Rasa yang lebih enak atau Motor Lebih Kencang atau Irit.

 

Jika kita lihat pesan Rinso pada tahun lalu, pesan Berani Kotor itu Baik seharusnya sudah secara implisit mengklaim bahwa Kotor bukan masalah buat Rinso. Apalagi ditambah dengan kata-kata pada TVC “ Urusan Kotor biar Rinso yang membersihkannya”. Dan pada iklan yang menggunakan anak2 memakai baju Spiderman juga sudah membicarakannya. Strategi Emotional yang dijalankan Rinso membuat ibu saya tetap membeli Rinso Matic 3KG seharga hampir 70ribu walau saat yang bersamaan deterjen sejenis lagi promo dengan harga hampir setengahnya. Padahal biasanya beliau sangat concern dengan harga. Beda 100 aja bisa pindah merek hahahahahahaha.

 

Pesan pada TVC baru ini, jika dilihat secara terpisah dengan tagline mereka sebelumnya juga merupakan Strategy yang lumrah dalam dunia per-Deterjenan (hehehe emang ada kata begini….). Basic Function dari Deterjen adalah membersihkan, semakin bersih semakin bagus, semakin cepat semakin baik. Terus-terusan perang dengan cara basic function berarti harus siap dengan R&D yang kuat. Dan berarti Life cycle sebuah produk tergantung dari seberapa cepat Basic Function yang baru ditemukan.

Emotional Function membuat produk keluar dari tekanan itu, sometimes people dont care that another deterjen work better than their deterjen. why? they buy the deterjen because they “love” the deterjen not just because it is the ultimate deterjen in the world.

 

Anyway.. Brand is just a person, the way you treat your self will reflect your personality. Your Personality will reflect your Quality.

 

Rinso : Membersihkan Noda Dalam Sekali Cuci = Kemunduran, Inkonsistensi or New Strategy?

Advertisements

4 comments on “Rinso : Membersihkan Noda Dalam Sekali Cuci = Kemunduran, Inkonsistensi or New Strategy? (09.04.08)

  1. liviyanski says:

    so?
    what do you think yourself?
    is it : going backwards, inconsistency, or new strategy?

    ps : maybe it’ll be better if you put a conclusion from your point of view in articles you wrote.

    Cheers.

    • Hi, Iya ingin nya bisa langsung kasih kesimpulan.. tapi lebih memilih untuk mendapatkan wisdom of crowd alias lets the reader decide, agar tulisan ini semakin rich dan semakin bermanfaat baik bagi saya dan temen2 semua 🙂 anyway really happy to have your comments 🙂 keep visiting and posting your comment!

  2. Rinaldijuw says:

    Nice point, but how emotional can a powdered-detergent be? Harley Davidson is a high-involvement product, by which consumers go through a considerably long process of decision making. But when you bring up Gulaku, suddenly it makes so much sense.. Nice post!

    • Hi bang Rinaldi,

      Ya, setiap product punya kemungkinan untuk dicintai sampai ke hati melewati batas-batas functional. seperti contoh gulaku, kapal api hingga rokok. secara teoritis tahapannya mind share + market share + heart share atau bahasa mudahnya diingat dibeli disayang. ketiganya jalan beriringan. Detergen juga bisa, rinso sudah berhasil diingat dan dibeli sekarang tinggal mengembangkan disayang, yang berarti harus cari sisi emotional yang bisa disentuh untuk jadikan itu. Seperti bagaimana manfaat rinso mengisi kehidupan kita. visualisasinya seperti saat baju hadiah dari ibunda yang selalu terjaga bersama kenangannya karena selalu dicuci dengan rinso. that’s my opinion, silahkan bang utk nambahin lagi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s